WAKTU YANG TERKUNCI
Cerpen oleh Endik Koeswoyo
Bagi dunia luar, kalender telah menunjukkan tahun yang serba digital. Manusia telah berbicara dengan kecerdasan buatan, mobil melaju tanpa sopir, dan informasi mengalir lebih cepat dari kedipan mata. Namun, jika Anda secara tak sengaja tersesat melintasi hutan jati paling lebat di perbatasan Blitar Selatan dan menemukan Desa Watu Lawang, Anda akan merasa kalender Anda telah dirampas dan ditarik paksa mundur ke tahun 1998.
Di Watu Lawang, jalan aspal adalah mitos. Listrik hanya menyala dari jam enam sore hingga jam sembilan malam melalui generator tua milik desa. Tidak ada tiang telepon, tidak ada parabola, dan yang paling mengerikan: tidak ada sinyal seluler sekecil apa pun.
Bukan karena letak geografisnya yang terlarang, melainkan karena Ki Lurah Sosro Menggolo.
Sosro Menggolo telah menjabat sebagai Kepala Desa Watu Lawang selama hampir tiga dekade tanpa pernah tersentuh pemilu yang jujur. Dengan kumis baplang, tubuh tambun berbalut baju safari, dan tongkat komando dari kayu galih asem, ia mengunci desa itu dari peradaban. Ia menyebarkan doktrin bahwa dunia luar penuh dengan kemaksiatan, penipuan, dan kehancuran moral. Setiap pemuda yang merantau dilarang pulang membawa smartphone. Barang siapa ketahuan membawa ponsel atau radio pemancar, algojo desa akan menghancurkannya di tengah alun-alun, diiringi hukuman cambuk rotan.
Namun, di balik jubah "pelindung moral" itu, Sosro menyembunyikan kebusukan yang tak terbayangkan. Dana desa senilai miliaran rupiah setiap tahunnya lenyap ke kantong pribadinya. Hutan lindung di balik bukit gundul dibalak secara ilegal, kayunya diselundupkan ke luar kota saat tengah malam. Warga dibiarkan bodoh, buta huruf, dan bergantung padanya layaknya hamba sahaya pada raja tiran, agar tidak ada satu pun yang tahu cara melapor ke bupati atau kepolisian.
Di tengah penjara waktu itulah, cinta yang murni mencoba bernapas.
Daniswara adalah seorang pemuda desa yang sempat lolos merantau ke Malang untuk kuliah dengan sembunyi-sembunyi, sebelum akhirnya terpaksa pulang karena ibunya sakit keras. Kini, ia menjadi satu-satunya guru honorer di SD inpres Watu Lawang yang atapnya bocor. Di mata Sosro, Daniswara hanyalah pemuda penurut yang bodoh. Sosro tidak tahu bahwa di dasar ransel kanvas lusuh milik Daniswara, tersembunyi sebuah laptop usang dan sebuah antena pemancar rakitan.
Daniswara tidak sendiri dalam pemberontakan sunyinya. Ia memiliki Sekar Kedhaton.
Sekar adalah kembang desa Watu Lawang. Wajahnya ayu menenangkan, dengan kulit kuning langsat dan sepasang mata bulat yang selalu menyiratkan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan. Rambutnya yang panjang hitam selalu dikepang dua, menyentuh pundak kebayanya yang pudar karena sering dicuci.
Sore itu, di dalam sebuah gua karst yang tersembunyi di balik semak berduri Bukit Tumpak, Daniswara dan Sekar duduk bersisian. Gua itu adalah surga rahasia mereka. Hanya di tempat berpenerangan lampu teplok inilah, mereka bisa menjadi manusia merdeka.
Daniswara memangku laptopnya. Layarnya menyala, memutar sebuah video dokumenter luring tentang hiruk-pikuk ibu kota, gedung-gedung pencakar langit, dan mahasiswa yang sedang berorasi menyuarakan keadilan. Sekar menatap layar itu tanpa berkedip. Matanya berkaca-kaca.
"Dunia di luar sana luas sekali ya, Kang Danis," bisik Sekar, suaranya bergetar penuh ketakjuban. "Orang-orang bisa bicara bebas. Perempuan bisa sekolah tinggi, nggak cuma dikawinkan paksa buat bayar utang bapaknya."
Daniswara menoleh, menatap lekat wajah gadis di sampingnya. Ia mengangkat tangannya, merapikan anak rambut yang jatuh di dahi Sekar. Sentuhan itu membuat napas Sekar tertahan sejenak. Ada aliran listrik yang hangat mengalir di antara mereka, getaran cinta yang tumbuh dari rahasia yang sama.
"Kamu pantas melihat dunia itu, Nduk," ucap Daniswara lembut. "Otakmu cerdas. Kalau saja kamu lahir di kota, kamu pasti sudah jadi dokter atau insinyur, bukan cuma membatik dan mencangkul di ladang kering."
Sekar menunduk. Tiba-tiba sebutir air mata jatuh ke atas punggung tangan Daniswara.
"Tapi mimpiku cuma bakal jadi abu, Kang," isak Sekar tertahan. "Tadi pagi... Ki Lurah Sosro Menggolo datang ke gubuk Bapak. Bapakku punya utang pupuk lima juta ke koperasinya Ki Lurah. Karena Bapak nggak bisa bayar, Ki Lurah minta... minta aku jadi istri ketiganya bulan depan sebagai pelunasan."
Dada Daniswara seolah ditikam belati beracun. Rahangnya mengeras seketika. Mengambil kebebasan warga desa adalah satu hal, tapi menyentuh Sekar Kedhaton—perempuan yang jiwa dan raganya telah ia cintai dalam diam selama bertahun-tahun—adalah garis batas yang tak bisa ditoleransi.
"Bajingan tua itu," desis Daniswara, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Sekar memeluk lengan Daniswara erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu pemuda itu. "Bawa aku lari, Kang. Bawa aku lari dari desa ini malam ini juga. Kita jalan kaki lewati hutan nggak apa-apa. Aku rela hidup melarat asal sama Kang Danis. Aku lebih baik mati daripada disentuh Ki Sosro."
Daniswara membalas pelukan Sekar, mendekap gadis itu ke dalam dadanya. Aroma melati dari rambut Sekar memenuhi paru-parunya, memberinya keberanian yang selama ini ia tahan.
"Kalau kita lari berdua, Nduk, algojo Ki Sosro bakal memburu kita pakai anjing pelacak. Bapakmu bakal disiksa. Dan warga desa ini bakal terus jadi budak selamanya," Daniswara menangkup wajah Sekar, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Kita nggak akan lari. Kita yang akan menghancurkan kerajaannya. Malam ini juga."
Sekar menatap Daniswara dengan bingung. "Caranya, Kang?"
Daniswara menunjuk laptopnya dan sebuah antena rakitan dari wajan seng yang ia sembunyikan di sudut gua. "Aku punya semua data korupsi dana desa, foto-foto pembalakan liar, dan rekaman percakapan Ki Sosro dengan mafia kayu. Semuanya sudah kususun jadi satu file. Di puncak Bukit Tumpak ini, kalau malam hari saat cuaca cerah, angin selatan terkadang membawa sinyal internet 4G yang bocor dari kabupaten sebelah. Sangat lemah, tapi cukup untuk mengirim email ke Kejaksaan Tinggi dan redaksi berita nasional."
Mata Sekar membelalak. Itu adalah misi bunuh diri. Jika ketahuan, nyawa Daniswara taruhannya.
"Aku akan ikut, Kang," kata Sekar mantap, tak ada lagi keraguan di matanya. "Kalau malam ini adalah malam terakhir kita, aku mau kita berjuang sama-sama."
Tengah malam tiba bersamaan dengan kabut tebal yang menyelimuti Watu Lawang.
Daniswara dan Sekar merayap mendaki tebing Bukit Tumpak yang curam. Tanah gamping yang licin membuat kaki mereka beberapa kali terperosok, merobek kulit hingga berdarah, namun tak ada satu pun yang mengeluh. Tangan mereka saling menggenggam kuat, mentransfer kekuatan.
Sesampainya di puncak bukit yang terbuka, angin malam berembus sangat kencang, menusuk tulang. Daniswara segera merangkai wajan bolic-nya, mengarahkannya tepat ke arah utara tempat kerlap-kerlip lampu kota di kabupaten tetangga terlihat seperti bintang jatuh yang sangat jauh.
Sekar memangku laptop itu. Tangannya gemetar menahan dingin. Layar laptop memancarkan cahaya biru ke wajahnya yang tegang.
"Ada sinyal, Kang! Satu bar! Tulisannya EDGE!" bisik Sekar setengah berteriak.
"Buka emailnya, Nduk. Attach file-nya sekarang. Tekan Send!" instruksi Daniswara sambil menahan tiang antena sekuat tenaga agar tidak tergeser oleh angin.
Sekar menekan tombol. Sebuah loading bar berwarna hijau muncul di layar. Bergerak sangat lambat.
10%... 15%...
Namun, nasib buruk memiliki penciumannya sendiri.
Di bawah bukit, Sura Dirja, algojo utama Ki Sosro yang sedang berpatroli mengawasi pembalakan liar, melihat pantulan cahaya biru dari puncak Bukit Tumpak. Di desa yang gelap gulita, cahaya laptop itu seterang mercusuar.
"Ada penyusup di puncak! Bawa obor dan celurit! Kejar!" raung Sura Dirja memecah keheningan malam.
Daniswara menoleh ke bawah. Jantungnya berdegup kencang melihat puluhan titik api obor mulai merayap naik ke arah mereka dengan cepat. Suara gonggongan anjing pelacak terdengar mengerikan.
"Kang... mereka datang!" Sekar panik, air mata mulai menggenang di pelupuknya. Loading bar baru menunjukkan angka 45%. File itu terlalu besar untuk sinyal yang sangat lemah.
"Fokus ke layarnya, Sekar! Jangan dilepas! Biar aku yang hadapi mereka!" Daniswara mencabut sebatang ranting jati yang tebal, bersiap menghadapi maut.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Sura Dirja dan lima anak buahnya untuk mencapai puncak. Wajah bengis Sura diterangi cahaya obor. Matanya melotot melihat Daniswara dan Sekar, serta benda asing yang memancarkan cahaya biru di pangkuan gadis itu.
"Oh, jadi Pak Guru Daniswara ini pengkhianatnya?! Mau manggil polisi pakai kotak sihir itu, hah?!" teriak Sura Dirja sambil mengayunkan celuritnya. "Bunuh gurunya! Bawa perempuannya hidup-hidup ke ranjang Ki Lurah!"
Tiga preman menerjang maju. Daniswara mengayunkan tongkat kayunya dengan kalap. Ia berhasil memukul rahang satu preman hingga terkapar, lalu menendang perut preman kedua. Namun, seorang preman lain berhasil menyabetkan celurit ke betis Daniswara.
Darah menyembur. Daniswara menjerit tertahan, jatuh berlutut di atas tanah berbatu.
"Kang Danis!!!" Sekar menjerit histeris. Ia ingin berlari menolong, tapi ia ingat pesan Daniswara. Matanya kembali menatap layar. 88%... 92%...
Sura Dirja tertawa kejam. Ia melangkah mendekati Daniswara yang sudah tak berdaya, mengangkat celuritnya tinggi-tinggi, bersiap memenggal kepala guru muda itu.
Melihat kekasihnya akan dihabisi, insting cinta Sekar mengambil alih. Ia meletakkan laptop itu di tanah. Dengan kecepatan penuh, gadis desa itu melompat, menerjang tubuh Sura Dirja dengan tangan kosong. Sura yang tak menyangka akan diserang perempuan kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke belakang. Celuritnya terlempar.
"Lonte sialan!" umpat Sura bangkit dengan marah. Ia menampar wajah Sekar dengan punggung tangannya yang besar hingga gadis itu terpelanting menghantam batu karang. Ujung bibir Sekar pecah, darah segar menetes.
Daniswara meraung marah melihat Sekar disakiti. Ia memaksakan diri berdiri dengan satu kaki, menerjang Sura Dirja dan menggigit telinga algojo itu hingga putus. Sura menjerit kesakitan, memukul tengkuk Daniswara berulang kali dengan gagang obor hingga pemuda itu ambruk tak sadarkan diri.
"Hancurkan kotak sihir itu!" perintah Sura sambil memegangi telinganya yang berdarah.
Seorang preman mengangkat batu besar, bersiap menghancurkan laptop tersebut.
Sekar merangkak dengan sisa tenaganya, memeluk laptop itu dengan tubuhnya sendiri sebagai tameng. Ia menatap layar untuk terakhir kalinya.
99%... 100%. EMAIL SENT SUCCESSFULLY.
Sekar tersenyum. Sebuah senyuman kelegaan yang luar biasa cantik, sedetik sebelum batu besar itu menghantam bahunya, dan sepatu bot Sura Dirja menginjak laptop tersebut hingga remuk berkeping-keping. Dunia Sekar berubah gelap gulita.
Ki Lurah Sosro Menggolo mengira malam itu ia telah menang. Ia mengira dengan menghancurkan laptop itu dan menyekap Daniswara di gudang pupuk, rahasianya aman selamanya. Ia merencanakan pernikahan paksanya dengan Sekar tiga hari lagi.
Namun, ia tidak tahu bagaimana internet bekerja. Ia tidak tahu bahwa file yang telah terkirim itu telah bersarang di puluhan meja redaksi dan layar ponsel para penegak hukum di ibu kota provinsi.
Tiga hari kemudian, tepat di pagi hari saat janur kuning sedang dipasang di depan rumah Ki Sosro, iring-iringan kendaraan Rantis Brimob, mobil Kejaksaan, dan belasan stasiun televisi nasional menyerbu masuk ke Desa Watu Lawang.
Tidak ada yang bisa berkutik. Sura Dirja ditangkap saat mencoba kabur ke hutan. Sosro Menggolo diseret keluar dari pendopo rumah mewahnya dengan tangan terborgol dan mengenakan kaus kutang, wajah tiraninya luntur menjadi ketakutan seorang pengecut. Seluruh gudang kayu ilegalnya digerebek, brankas uangnya disita.
Warga desa keluar dari rumah-rumah mereka, menatap takjub pada "orang-orang dari masa depan" yang datang menyelamatkan mereka.
Di depan Puskesmas darurat yang didirikan aparat, Daniswara duduk di atas kursi roda, kaki kanannya digips akibat tebasan celurit. Wajahnya penuh luka lebam, namun matanya memancarkan cahaya kemenangan.
Dari ambang pintu, Sekar Kedhaton berjalan keluar dengan lengan yang dibalut perban. Gadis itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca, berlari kecil menghampiri Daniswara. Ia bersimpuh di depan kursi roda pemuda itu, memeluk pinggangnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di pangkuan kekasih yang telah mengorbankan nyawa demi kebebasannya.
Daniswara mengusap rambut Sekar dengan lembut, mengecup puncak kepalanya.
"Kita berhasil, Nduk," bisik Daniswara dengan air mata yang akhirnya tumpah. "Waktu di desa ini sudah berjalan lagi. Dunia luar menunggumu. Kamu bisa sekolah sekarang."
Sekar mendongak, menatap mata Daniswara dengan cinta yang sangat dalam, yang tak akan bisa diukur oleh satuan waktu apa pun. "Aku nggak butuh dunia luar, Kang. Duniaku ada di sini, di sampingmu."
Hari itu, sepasang kekasih itu menyaksikan sejarah. Dari kejauhan, terlihat truk-truk milik perusahaan telekomunikasi mulai berdatangan membawa tiang-tiang besi raksasa. Tower sinyal pertama sedang dibangun di Watu Lawang. Penjara tahun 1998 itu akhirnya runtuh, bukan oleh gempa bumi, melainkan oleh kekuatan sebuah file yang dikirimkan oleh sepasang kekasih dengan cinta dan pengorbanan di atas puncak bukit yang dingin.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Sapa sing nyoba ngunci lakune jaman kanggo nutupi kebusukane dhewe, bakal mati ketindhih roda peradaban. Nanging katresnan lan ilmu kuwi kaya banyu, sanajan dibendung nganggo watu karang sing paling gedhe, tetep bakal nemokake dalan kanggo mbedhah lan nggawa pepadhang.”
(Siapa yang mencoba mengunci jalannya zaman untuk menutupi kebusukannya sendiri, akan mati tertindih roda peradaban. Namun cinta dan ilmu itu seperti air, meskipun dibendung menggunakan batu karang yang paling besar, tetap akan menemukan jalan untuk menjebol dan membawa cahaya.)



.gif)

Posting Komentar untuk "WAKTU YANG TERKUNCI Cerpen oleh Endik Koeswoyo"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...