PELUKAN TERAKHIR
Cerpen oleh Endik Koeswoyo
Bagi orang-orang kota, laut adalah tempat membuang penat. Namun bagi Jagad Hariwangsa dan Larasati Sekararum, laut di pesisir Pantai Serang, Blitar Selatan, adalah halaman rumah, napas, dan juga medan perang yang saban hari merenggut kewarasan mereka.
Sore itu, angin laut bertiup membawa aroma garam dan solar. Larasati berjongkok di atas tanah berpasir yang mulai labil, tangannya yang lentik namun kapalan sibuk memadatkan tanah di sekeliling bibit pohon cemara udang. Di sebelahnya, Jagad menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya yang legam terbakar matahari. Pria itu menancapkan sebatang bambu sebagai penyangga bibit, lalu mengikatnya perlahan dengan tali rami.
"Bertani padi atau jagung itu adalah bonus, Laras," gumam Jagad, suaranya berat dan menenangkan, mengalahkan deru ombak di kejauhan. "Tapi menanam untuk menumbuhkan pohon dan mengembalikan hutan pesisir yang gundul ini, adalah prioritas utama kita. Kalau sabuk hijau ini mati, desa kita bakal tinggal nama di atas peta."
Larasati menatap wajah kekasihnya itu. Dada bidang Jagad naik turun seiring napasnya yang teratur. Di mata Larasati, Jagad bukan sekadar pemuda desa biasa; ia adalah benteng terakhir dari tanah kelahirannya. Larasati mengulurkan tangannya, mengusap noda lumpur hitam di pipi Jagad dengan ibu jarinya yang lembut.
"Aku tahu, Kang Jagad," bisik Larasati, senyumnya mengembang tipis, memancarkan kecantikan alami perempuan pesisir yang tak butuh bedak tebal. "Selama Kang Jagad yang menanam, aku yang akan menyiramnya. Sampai cemara ini tumbuh tinggi, sampai rambut kita memutih, sampai anak-cucu kita nanti bisa berteduh di bawahnya tanpa takut terseret ombak."
Jagad meraih tangan Larasati, mengecup telapak tangan perempuan itu yang berbau tanah dan air laut. Cincin rotan sederhana melingkar di jari manis Larasati, sebuah janji dari Jagad bahwa setelah musim tanam ini usai, ia akan membawa Larasati ke pelaminan.
Namun, romantisme senja itu dirusak oleh suara menderu yang menggetarkan dada.
Dari arah timur, raungan mesin diesel raksasa memecah langit pesisir. Sebuah kapal tongkang penyedot pasir besi berbendera asing membuang sauh di perairan dangkal. Pipa-pipa baja berdiameter sebesar pelukan orang dewasa diturunkan seperti tentakel gurita raksasa, menusuk dasar pantai, dan mulai menyedot perut bumi tanpa ampun.
Itulah monster yang dikendalikan oleh Ndoro Cokro Joyoningrat, seorang taipan serakah yang berlindung di balik izin tambang fiktif. Selama tiga tahun terakhir, Ndoro Cokro secara harfiah telah "menghapus dunia" milik warga Serang. Miliaran ton pasir besi disedot siang dan malam. Garis pantai mundur hingga lima puluh meter. Gumuk pasir pelindung desa amblas menjadi palung buatan. Pohon-pohon kelapa tumbang tertelan abrasi yang diciptakan oleh keserakahan sang Ndoro.
"Maju lagi mereka, Kang," suara Larasati bergetar, cengkeramannya pada lengan Jagad mengerat. Ketakutan tergambar jelas di matanya. "Kemarin batasnya masih di muara. Sekarang mereka sudah mendekati area pembibitan kita."
Jagad berdiri, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol. Matanya memancarkan amarah yang mendidih. "Ndoro Cokro benar-benar mau menenggelamkan Serang. Kalau gumuk pasir terakhir di depan kedai kopi kita ini disedot juga, air laut akan langsung masuk merendam rumah-rumah warga saat pasang purnama besok."
Malam harinya, di beranda sebuah kedai kopi kayu yang temaram oleh lampu teplok, Jagad dan Larasati duduk berhadapan. Segelas kopi robusta panas mengepul di antara mereka, namun tak ada yang berniat menyentuhnya.
Jagad mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari saku celana komprangnya dan meletakkannya di atas meja.
"Ini apa, Kang?" tanya Larasati cemas.
"Bukti," jawab Jagad pelan namun tajam. "Dua minggu ini, tiap malam aku mengendap-endap ke kantor bedeng proyek mereka. Aku menyalin data koordinat pengerukan rahasia mereka. Mereka menyedot pasir di luar area izin, memanipulasi AMDAL, dan menyuap pejabat provinsi. Bukti transfernya ada di sini. Besok pagi, aku akan bawa ini ke kantor WALHI di Surabaya."
Jantung Larasati seolah berhenti berdetak. Ia tahu persis siapa Ndoro Cokro. Bulan lalu, seorang nelayan yang protes karena jaringnya hancur ditabrak tongkang, ditemukan cacat seumur hidup dengan kaki remuk. Katanya tertimpa mesin kapal, tapi semua warga tahu itu ulah Sengkel, algojo bayaran Ndoro Cokro yang terkenal bengis tak berotak.
"Kang... jangan," Larasati meraih tangan Jagad, air matanya mulai menetes, membasahi pipinya yang mulus. "Biar orang lain saja yang lapor. Kita lari saja dari sini, Kang. Kita cari hidup di kota. Jadi kuli panggul pun aku rela, asalkan kita tetap sama-sama. Aku takut kehilangan kamu."
Jagad menatap kedua bola mata Larasati yang memerah. Hatinya teriris melihat perempuan yang paling ia cintai menangis ketakutan karenanya. Ia pindah duduk ke sebelah Larasati, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. Larasati menenggelamkan wajahnya di dada Jagad, menangis sesenggukan.
"Laras, dengerin Akang," bisik Jagad sambil membelai rambut hitam legam Larasati. "Cinta itu bukan cuma soal lari berdua mencari selamat. Cinta itu juga soal menjaga tempat di mana kenangan kita tumbuh. Di pantai ini kita pertama kali bertemu. Di gumuk pasir ini aku melamarmu. Kalau kita lari, kita membiarkan kenangan kita, masa lalu ayah-ibu kita, ditelan lautan gara-gara bedebah macam Cokro. Aku nggak akan biarkan peta desa kita dihapus dari bumi."
Larasati memeluk Jagad semakin erat. Pelukan itu terasa begitu hangat, seolah mereka sedang membagikan sisa nyawa satu sama lain. Malam itu, di bawah temaram kedai kopi dan deburan ombak yang mencekam, mereka menyatukan jiwa. Tidak ada janji yang diucapkan, karena tekad di dalam pelukan itu sudah lebih kuat dari sumpah apa pun.
Namun, alam dan keserakahan manusia sering kali bersekongkol menciptakan tragedi di waktu yang paling tidak tepat.
Puncak pasang purnama tiba bersamaan dengan badai pancaroba pada tengah malam. Angin mengamuk sejadi-jadinya, menerbangkan atap-atap daun rumbia dan menumbangkan pohon-pohon lapuk. Hujan turun laksana tirai tebal yang membutakan mata. Air laut pasang dengan ketinggian mengerikan, menghantam pesisir dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Di tengah badai itu, Ndoro Cokro melihat kesempatan emas. Ia memerintahkan Sengkel dan puluhan preman bertato untuk menghancurkan gumuk pasir penahan desa malam itu juga. Dengan alasan "bencana alam", mereka menggunakan dua ekskavator untuk mengeruk pembatas alami tersebut, membiarkan air laut menerjang masuk menghancurkan area pembibitan cemara milik Jagad dan menenggelamkan desa, agar nantinya lahan itu diklaim sebagai laut lepas dan bisa dikeruk habis secara legal.
Jagad terbangun oleh suara gemuruh air yang tak wajar. Ia berlari keluar dari gubuknya, dan matanya membelalak ngeri. Air laut sudah setinggi lutut, berwarna hitam pekat bercampur lumpur, menerjang masuk ke arah desa. Di ujung pantai, diterangi oleh lampu tembak dari ekskavator, ia melihat Sengkel sedang memerintahkan operator mesin untuk membongkar gumuk pasir terakhir.
"Biadab!" teriak Jagad.
Tanpa memedulikan badai, Jagad berlari menerjang air laut yang mengamuk, menuju kebun pembibitan cemaranya—yang juga merupakan tempat ia menyembunyikan flashdisk bukti kejahatan di dalam sebuah kotak kaleng kedap air yang ia kubur di bawah pohon induk.
Dari kejauhan, Larasati yang terbangun karena banjir menyadari Jagad tidak ada di gubuknya. Firasat buruk menghantam dadanya. Ia mengenakan mantel plastik tipis dan berlari menyusul Jagad menembus badai, meneriakkan nama kekasihnya yang suaranya langsung tertelan oleh petir.
Setibanya di area pembibitan, hati Jagad hancur lebur. Ribuan bibit cemara udang yang ia tanam berbulan-bulan dengan keringat dan cinta, kini tercerabut dari akarnya, mengambang di atas air laut yang keruh, tersapu oleh rakusnya ekskavator Sengkel.
Jagad berlari menuju pohon induk, menggali pasir yang sudah terendam air dengan kedua tangannya secara kalap, hingga jari-jarinya berdarah terkena karang tajam. Ia menemukan kaleng itu! Flashdisk itu aman.
Namun, lampu tembak ekskavator tiba-tiba menyorot tajam ke arahnya. Sengkel, dengan tubuh gempal dan sebilah parang panjang berkilat di tangannya, melompat turun dari gundukan pasir. Lima preman lain menyusul di belakangnya.
"Wah, wah... Pahlawan kesiangan kita rupanya lagi main lumpur!" teriak Sengkel mengalahkan deru badai. Matanya menyipit melihat kaleng di tangan Jagad. "Serahkan barang itu, Jagad! Ndoro Cokro tahu kamu sering kelayapan di kantor proyek. Kasihkan baik-baik, atau malam ini mayatmu jadi pakan hiu!"
"Langkahilah dulu mayatku, Sengkel!" raung Jagad. Ia memasukkan kaleng itu ke dalam saku celananya yang diikat kencang, lalu mencabut sebatang linggis berkarat yang biasa ia pakai untuk memecah karang.
Pertarungan tak seimbang itu pun pecah.
Di bawah guyuran hujan yang seperti cambuk dan air laut yang semakin tinggi merendam hingga sepinggang, Jagad bertarung bak banteng terluka. Ia mengayunkan linggisnya, mematahkan lengan salah satu preman, lalu menendang dada preman lainnya hingga terjerembap ke dalam ombak.
Namun, kalah jumlah dan tenaga, pertahanan Jagad perlahan goyah. Sebuah pukulan balok kayu menghantam tengkuknya, disusul tendangan keras ke perutnya. Jagad jatuh berlutut di dalam air laut yang sedingin es.
"Kang Jagaaaaaad!!!"
Jeritan melengking Larasati memecah udara. Perempuan itu berlari menerjang ombak, tak peduli kebaya dan kainnya sobek tersangkut ranting. Ia mencoba menerobos barisan preman untuk memeluk kekasihnya, tapi lengan kekar Sengkel menepisnya hingga Larasati terlempar jatuh ke atas karang dengan dahi berdarah.
"Laras!!" Jagad meraung, melihat kekasihnya terluka membuat amarahnya meledak melampaui batas fisiknya.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Jagad melompat menerjang Sengkel. Linggisnya berhasil menghantam rahang sang algojo hingga gigi pria itu rontok dan darah menyembur ke udara. Namun, dalam pergumulan jarak dekat itu, tangan kiri Sengkel yang memegang parang secara membabi buta menusuk perut Jagad.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Suara koyakan daging terdengar mengerikan. Jagad membeku. Matanya mendelik. Linggis di tangannya terlepas, jatuh tenggelam ke dasar air. Darah segar menyembur deras dari perutnya, mewarnai air laut di sekelilingnya menjadi merah pekat.
Sengkel mencabut parangnya dengan tawa keji, lalu menendang tubuh Jagad hingga pemuda itu ambruk ke dalam pelukan ombak. Karena air pasang semakin mengganas dan ekskavator mulai tenggelam, Sengkel dan anak buahnya buru-buru melarikan diri, meninggalkan Jagad yang meregang nyawa.
Larasati merangkak dengan panik, mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Ia menarik tubuh Jagad yang perlahan mulai tenggelam. Ia memangku kepala pria itu di pangkuannya. Hujan badai turun seolah langit sedang menangisi tragedi di pesisir Blitar malam itu.
"Kang... Kang Jagad... bertahan, Kang... tolong, jangan tinggalin aku..." Larasati menjerit histeris, air matanya bercampur dengan air hujan dan darah yang mengalir dari tubuh Jagad. Tangan Larasati yang gemetar menekan perut Jagad, mencoba menghentikan pendarahan yang mustahil disumbat.
Jagad tersenyum tipis. Wajahnya sepucat kapas. Bibirnya bergetar menahan sakit yang luar biasa. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah, menyentuh pipi Larasati dengan sangat lembut, sama seperti yang ia lakukan sore tadi saat menanam cemara.
"La... ras..." suara Jagad sangat pelan, nyaris hanya berupa embusan napas. Ia merogoh saku celananya yang basah kuyup, lalu mengeluarkan kotak kaleng kecil itu dan menyelipkannya ke tangan Larasati. "Bawa ini... lari... selamatkan desa kita..."
"Nggak, Kang! Aku nggak mau desa ini kalau nggak ada kamu! Kita harus ke puskesmas sekarang!" Larasati memeluk tubuh Jagad semakin erat, menyatukan kening mereka. Ia bisa merasakan detak jantung Jagad yang semakin melemah.
"Bertani... adalah bonus... tapi menumbuhkan pohon... adalah prioritas..." Jagad mengigaukan prinsip hidupnya dengan napas yang putus-putus. Matanya menatap tepat ke dalam mata Larasati yang berlinang air mata. "Aku... akan selalu hidup... di setiap pohon cemara... yang kamu tanam... Laras... Aku... tresno... karo kowe..."
Tangan Jagad yang membelai pipi Larasati perlahan melemah, lalu jatuh terkulai ke dalam genangan air laut. Dadanya berhenti bergerak. Mata pemuda pejuang pesisir itu tertutup untuk selamanya, di tengah pelukan wanita yang paling ia cintai, disaksikan oleh laut yang sedang mengamuk.
"KANG JAGAAAAAADDD!!!"
Jeritan Larasati membelah malam yang badai. Ia memeluk erat jasad kekasihnya yang kini telah dingin. Ia menangis meraung-raung, menciumi wajah Jagad yang pucat, menolak melepaskan tubuh itu meski ombak laut perlahan mulai menelan daratan di sekitar mereka. Dunia Larasati telah dihapus malam itu, bukan oleh mesin penyedot pasir besi, melainkan oleh hilangnya nyawa belahan jiwanya.
Enam bulan telah berlalu sejak malam badai berdarah di Pantai Serang.
Berita pembunuhan Jagad Hariwangsa dan penyerahan bukti flashdisk oleh Larasati memicu gempa bumi politik di ibu kota. Fakta-fakta yang tak terbantahkan soal kerusakan ekologi dan aliran suap ke berbagai pejabat membuat Mabes Polri dan KPK turun tangan langsung. Ndoro Cokro Joyoningrat, Sengkel, dan puluhan pejabat korup diseret ke meja hijau dan divonis hukuman seumur hidup.
Semua izin tambang pasir besi di pesisir Blitar Selatan dicabut secara permanen. Alat-alat berat disita.
Sore itu, di bekas area pembibitan yang kini mulai mengering dan ditumbuhi rumput laut, Larasati berjongkok sendirian. Ia mengenakan kebaya hitam yang sederhana. Di jari manisnya, cincin rotan pemberian Jagad masih melingkar dengan indah.
Larasati memadatkan tanah berpasir di sekeliling bibit cemara udang yang baru. Ia menyiramnya dengan air tawar dari kendi tanah liat. Di sekelilingnya, ratusan bibit cemara laut lainnya mulai berdiri tegak, membentuk sabuk hijau muda yang menantang angin samudra.
Larasati menatap ke arah lautan lepas. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan luka abadi namun memancarkan kekuatan yang tak tertembus. Angin laut berembus, membelai rambut dan pipinya dengan lembut, seolah Jagad sedang memeluknya dari dimensi yang berbeda.
Ndoro Cokro mungkin pernah mencoba menghapus dunia mereka dari peta, tapi ia lupa satu hal: pria serakah hanya bisa menghancurkan tanah, namun cinta yang sejati akan selalu menemukan cara untuk menumbuhkan akarnya kembali, merawat kehidupan, dan memastikan bahwa laut tidak akan pernah bisa menelan kenangan orang-orang yang berjuang.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Bandha lan kuwasa iku mung titipan sing bisa ilang kesapu ombak sak kedhepan mata. Nanging katresnan sejati lan budi pekerti sing becik marang alam, bakal tuwuh dadi oyot sing kuwat, njaga urip lan martabat manungsa sanajan ragane wis dadi awu. Sapa sing ngrusak alam demi wetenge dhewe, bakal ditelan dening bumine dhewe.”
(Harta dan kekuasaan itu hanya titipan yang bisa hilang tersapu ombak dalam sekejap mata. Namun cinta sejati dan budi pekerti yang baik terhadap alam, akan tumbuh menjadi akar yang kuat, menjaga kehidupan dan martabat manusia meskipun raganya sudah menjadi abu. Siapa yang merusak alam demi perutnya sendiri, akan ditelan oleh buminya sendiri.)



.gif)

Posting Komentar untuk "PELUKAN TERAKHIR Cerpen oleh Endik Koeswoyo"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...