CERPEN : PEMUDA BURUK RUPA
Bagus Anjasmara—nama yang sangat berat untuk seorang pria yang kerjanya cuma jadi figuran spesialis orang pingsan di sinetron azab. Tapi Bagus punya satu kebanggaan: wajahnya. Dia merasa wajahnya adalah perpaduan antara bintang Korea dan penjual jamu yang sangat tampan.
Suatu pagi, Bagus terbangun dan langsung lari ke depan cermin.
"Ganteng," gumamnya.
Dia keluar rumah, niatnya mau beli bubur ayam sambil pamer rahang tegasnya. Di tukang bubur, dia melihat pemandangan aneh. Si tukang bubur—namanya Mang Oleh—sedang sibuk menuang kuah. Saat menoleh, Bagus melompat mundur.
"Mang Oleh?!"
"Iya, Gus. Kenapa?"
"Wajah sampeyan..."
"Kenapa? Ganteng ya?"
Wajah Mang Oleh persis Bagus. Rahangnya, matanya, sampai tahi lalat di cuping hidungnya. Sama persis.
"Kok wajah kita sama?" tanya Bagus gemetar.
"Lha, mangga. Ini buburnya."
Bagus lari ke pangkalan ojek. Di sana ada tiga orang tukang ojek yang sedang main catur. Begitu mereka menoleh, Bagus hampir pingsan. Semuanya punya wajah Bagus. Seperti melihat cermin yang pecah jadi tiga.
"Mau ngojek, Gus?" tanya salah satu tukang ojek dengan wajah Bagus.
"Sampeyan siapa?!"
"Aku Jarot."
"Tapi wajahmu... wajahku!"
"Halah, narsis kamu. Ini tren, Gus," sahut Jarot santai.
Bagus lari ke kantor agensi artisnya di kota. Dia harus lapor. Dia masuk ke ruangan manajernya, Mbak Sita.
"Mbak! Gawat!"
Mbak Sita menoleh dari balik laptopnya. Dan benar saja. Wajah Mbak Sita yang biasanya tirus ber-makeup, sekarang berubah jadi wajah Bagus versi pakai lipstik.
"Ada apa, Gus?" tanya Mbak Sita.
"Mbak... wajah Mbak..."
"Kenapa? Mirip kamu?"
"Iya!"
"Bagus dong. Kan kamu artis andalan kita."
"Tapi ini nggak masuk akal!"
"Gus, dengerin," Mbak Sita berdiri, "Dunia bosan sama keberagaman. Orang-orang ingin satu standar ketampanan. Dan kebetulan, wajahmu yang terpilih."
"Maksudnya?"
"Tadi malam ada update dari pusat."
"Pusat mana?!"
"Pusat selera. Sekarang semua orang di dunia wajahnya sama. Biar nggak ada lagi diskriminasi kecantikan."
Bagus keluar dari kantor dengan langkah gontai. Di jalan, dia melihat polantas berwajah Bagus sedang menilang sopir truk berwajah Bagus. Dia melihat pengemis berwajah Bagus sedang minta sedekah pada wanita sosialita berwajah Bagus.
"Gila! Aku nggak mau!" teriak Bagus di tengah trotoar.
Tiba-tiba, seorang kakek-kakek yang sedang menyapu jalan menghampirinya. Wajah si kakek juga wajah Bagus, tapi keriput.
"Kenapa, Le?" tanya si kakek.
"Kek, kenapa semua jadi saya?"
"Dulu kamu pengen terkenal, kan?"
"Iya, tapi nggak begini!"
"Kamu pengen semua orang melihat wajahmu, kan?"
"Iya, tapi sebagai idola! Bukan sebagai standar massal!"
Kakek itu tertawa. Suaranya serak. "Le, wong urip iku aja dadi pengiloning liyan." (Orang hidup itu jangan jadi cermin bagi orang lain).
"Maksudnya?"
"Kalau semua orang jadi kamu, maka kamu sudah tidak ada. Kamu hilang dalam kerumunan."
"Saya mau wajah saya kembali unik!"
"Caranya gampang."
"Gimana?"
"Berhenti narsis. Berhenti merasa paling cakep."
Bagus terdiam. Dia ingat setiap jam dia selfie minimal dua puluh kali. Dia ingat dia pernah menghina temannya yang wajahnya "pas-pasan".
"Terus, saya harus gimana?"
"Pakai topeng."
"Topeng?"
"Iya. Topeng kebaikan. Bukan topeng bedak."
Bagus memejamkan mata. Dia merasa malu. Sangat malu. Saat dia membuka mata, dia melihat ke arah kaca jendela sebuah toko.
Wajah di dalam kaca itu bukan lagi wajah "Bagus Anjasmara" yang sombong. Tapi wajah seorang pria biasa. Sangat biasa. Dan saat dia melihat sekeliling, orang-orang sudah kembali ke wajah aslinya masing-masing.
Mang Oleh kembali jadi Mang Oleh. Mbak Sita kembali jadi Mbak Sita.
"Lho, sudah normal?" tanya Bagus pada diri sendiri.
Dia melihat ke arah kakek penyapu jalan tadi. Si kakek sudah hilang. Yang tersisa cuma sapu lidi dan selembar kertas kecil di tanah.
“Ganteng kuwi mung kulit, sing awet kuwi ati.” (Ganteng itu cuma kulit, yang awet itu hati).
Bagus tersenyum. Dia mengambil sapu lidi itu dan mulai membantu menyapu jalan. Dia tidak lagi peduli apakah orang melihat wajahnya atau tidak. Karena sekarang dia tahu, menjadi "sama" dengan orang lain itu mengerikan, tapi menjadi "berbeda" karena merasa lebih hebat itu jauh lebih menyedihkan.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Sapa sing kakehan ndelok pengilon, bakal lali karo rupa asline batin.”
(Siapa yang terlalu banyak melihat cermin, bakal lupa dengan rupa asli batinnya.)



.gif)

Posting Komentar untuk "Pemuda Buruk Rupa - Cerpen Oleh Endik Koeswoyo"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...