SURAT CINTA DARI ALAM KUBUR Cerpen oleh Endik Koeswoyo



SURAT CINTA DARI ALAM KUBUR

Cerpen oleh Endik Koeswoyo

Senja jatuh perlahan di ufuk pesisir Pantai Serang, Blitar Selatan, menyisakan semburat jingga yang memantul di atas ombak. Di sudut teras Kedai Dikasih Kopi, aroma robusta yang baru diseduh menguar, berbaur dengan asinnya angin laut.

Di salah satu meja kayu jati menghadap pantai, Galeh duduk terpaku menatap layar laptopnya yang dipenuhi deretan angka, foto-foto udara, dan salinan dokumen rahasia. Jari-jarinya bergerak cepat, mengetik dengan ritme orang yang sedang dikejar waktu.

"Mas, kopinya nanti dingin," sebuah suara lembut menghentikan ketukan jemari Galeh.

Kinasih, perempuan dengan senyum teduh dan rambut sebahu yang diikat rapi, meletakkan secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng hangat di atas meja. Di jari manis tangan kirinya, melingkar sebuah cincin perak sederhana. Bulan depan, tepat di malam purnama, cincin itu rencananya akan berpindah ke jari manis tangan kanannya dalam sebuah akad nikah yang sudah mereka impikan bertahun-tahun.

Galeh mendongak. Gurat kelelahan di bawah matanya seolah sirna begitu menatap wajah Kinasih. Ia menutup laptopnya setengah, lalu meraih tangan perempuan itu, mencium punggung tangannya dengan takzim.

"Maaf ya, Dek. Liputan investigasi ini bikin aku jadi jarang nemenin kamu fitting baju pengantin," ucap Galeh lirih. Matanya menyiratkan rasa bersalah yang dalam.

Kinasih duduk di hadapan tunangannya. Ia membelai rahang Galeh yang ditumbuhi rambut-rambut halus. "Aku nggak masalah fitting sendirian, Mas. Tapi aku takut. Dua hari ini ada mobil Hilux hitam tanpa pelat nomor bolak-balik lewat depan rumah dinasku di SD. Kamu nulis apa sih, Mas? Sampai segitunya?"

Galeh menghela napas panjang. Ia menatap lautan yang mulai menggelap. Sebagai jurnalis investigasi independen di Blitar, Galeh tahu ia sedang bermain api. Bukan sekadar api, melainkan neraka.

"Juragan Rekso," bisik Galeh, menyebut nama penguasa tambang pasir besi ilegal terbesar di pesisir Blitar Selatan. "Penambangan dia bukan cuma merusak ekosistem penyu dan bikin abrasi yang ngancam rumah nelayan, Dek. Dia nyuap aparat dari level polsek sampai kabupaten. Aku punya data aliran dananya. Bukti transfer, foto tongkang ilegal, rekaman suara bekingannya. Semua lengkap."

Wajah Kinasih pucat pasi. Ia tahu betul siapa Juragan Rekso. Pria itu ibarat malaikat maut bagi siapa saja yang berani mengganggu bisnisnya. Tiga tahun lalu, seorang aktivis lingkungan lokal ditemukan tewas tenggelam dengan kaki terikat batu cor. Polisi menutup kasusnya sebagai kecelakaan memancing.

"Mas... kita mau nikah lho," suara Kinasih bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuknya. "Batalin aja liputannya. Serahin ke orang pusat di Jakarta. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku cuma mau kita hidup tenang, buka warung kecil, besarin anak-anak kita nanti. Uang dan kebenaran nggak akan ada gunanya kalau kamu mati, Mas."

Galeh menatap mata perempuan yang paling ia cintai di dunia itu. Hatinya teriris. Ia meraih kedua pundak Kinasih.

"Kinasih, dengerin aku. Kalau aku berhenti sekarang, seratus kepala keluarga nelayan di pesisir ini bakal kehilangan rumah mereka bulan depan karena abrasi buatan Rekso. Tapi aku janji sama kamu, ini liputan bahayaku yang terakhir. Setelah draf ini terkirim ke redaksi nasional malam ini, aku janji bakal berhenti. Kita fokus ngurus undangan. Oke?"

Galeh tersenyum, senyum paling hangat yang selalu berhasil meruntuhkan kecemasan Kinasih. Perempuan itu akhirnya mengangguk, memeluk dada bidang calon suaminya erat-erat. Ia menghirup aroma tubuh Galeh dalam-dalam, berharap aroma itu akan terus menemaninya sampai tua. Kinasih tidak pernah tahu, bahwa pelukan di teras Kedai Dikasih Kopi sore itu, adalah pelukan terakhir mereka di dunia fana.

Tengah malam itu, hujan badai mengguyur Blitar Selatan.

Telepon di kamar kos Kinasih berdering nyaring pada pukul dua dini hari. Suara di seberang sana adalah suara parau seorang perwira polisi. Mengabarkan sebuah berita yang menghancurkan semesta Kinasih berkeping-keping.

Galeh ditemukan tewas di dasar jurang Jalur Lintas Selatan. Motor bebeknya ringsek. Laporan resmi kepolisian menyebutkan Galeh menjadi korban tabrak lari truk tronton akibat jalanan licin.

Namun, ketika Kinasih memeluk jenazah Galeh di kamar mayat RSUD Mardi Waluyo, ia melihat kenyataan yang jauh lebih brutal. Wajah Galeh lebam, kuku jari telunjuk kanannya copot, dan ada bekas cekikan kawat di lehernya. Itu bukan kecelakaan. Itu adalah eksekusi. Laptop dan ponsel Galeh pun raib tak berbekas dari lokasi kejadian.

Dunia Kinasih runtuh. Hari-hari menjelang pernikahannya berubah menjadi persiapan tahlilan. Kebaya putih yang sudah dipesan kini digantikan oleh setelan hitam yang berbau duka. Selama tujuh hari tujuh malam, Kinasih seperti mayat hidup. Ia tidak makan, tidak bicara, matanya bengkak kehabisan air mata. Hukum telah dibeli oleh Juragan Rekso. Polisi menutup kasus itu dalam waktu tiga hari. Kematian Galeh hanya menjadi angka statistik kecelakaan lalu lintas.

Malam ketujuh setelah kepergian Galeh, hujan rintik-rintik kembali turun membasahi bumi. Tahlilan baru saja bubar. Kinasih duduk sendirian di kamarnya, menatap selembar undangan pernikahan yang belum sempat disebar. Nama Galeh & Kinasih tercetak indah dengan tinta emas. Kinasih memeluk undangan itu di dadanya, menangis tanpa suara hingga napasnya sesak.

Tepat pada pukul 23:59 WIB, sebuah notifikasi berbunyi dari laptop Kinasih yang menyala di atas meja belajar.

Kinasih mengusap air matanya. Dengan gontai ia berjalan mendekati meja. Di layar, sebuah email masuk. Pengirimnya membuat jantung Kinasih seolah berhenti berdetak.

Dari: Galeh Pramoedya (galeh.investigasi@gmail.com)

Subjek: Untuk Kinasihku, Cintaku, Nyawaku.

Tangan Kinasih bergetar hebat saat mengklik email tersebut. Ia tahu Galeh sangat melek teknologi keamanan digital. Email itu adalah Dead Man’s Switch—sebuah pesan terjadwal yang secara otomatis akan terkirim ke alamat email Kinasih jika Galeh tidak login ke server pribadinya selama lebih dari tujuh hari berturut-turut.

Di layar yang berpendar kebiruan, Kinasih membaca kata demi kata yang ditinggalkan belahan jiwanya.

Kinasih, cintaku...

Jika kamu membaca email ini, berarti aku telah gagal menepati janjiku padamu sore itu. Berarti badanku sudah tidak ada lagi di sampingmu, dan aku tidak bisa memakaikan cincin pernikahan di jari manismu bulan depan. Maafkan aku, Sayang. Maafkan laki-laki bodoh yang lebih memilih mengejar kebenaran daripada memelukmu di sisa umurnya.

Jangan menangis terlalu lama. Jangan salahkan dirimu. Orang-orang Juragan Rekso pasti telah menemukan draf laporanku sebelum aku menyelesaikannya. Mereka mungkin mengira dengan membunuhku dan merampas laptopku, semua bukti itu ikut terkubur. >

Tapi mereka salah, Dek. Mereka tidak tahu bahwa kebenaran, sama seperti cintaku padamu, tidak akan pernah bisa dibunuh.

Di bagian bawah email ini, ada sebuah tautan rahasia menuju penyimpanan awan (cloud) yang servernya ada di luar negeri. Di dalamnya berisi semua data mentah, video drone, foto buku tabungan, dan rekaman penyadapan Juragan Rekso dengan bupati dan kapolres. Semua yang kubutuhkan untuk menghancurkan kerajaan iblis mereka ada di sana.

Kinasih, aku tahu ini egois. Aku tahu aku meninggalkanmu dalam kesedihan yang paling dalam, dan sekarang aku malah membebanimu dengan rahasia ini. Kamu punya dua pilihan, Sayang. Kamu bisa menghapus email ini sekarang juga, melupakan semuanya, dan melanjutkan hidupmu dengan tenang. Aku tidak akan marah. Aku akan tetap mencintaimu dari alam keabadian.

Tapi, jika hatimu meronta melihat ketidakadilan... jika kamu ingin memastikan kematianku tidak sia-sia, dan pasir pantai Blitar tidak terus-menerus dihisap darahnya... kirimkan tautan ini ke daftar kontak wartawan nasional dan LSM yang sudah aku lampirkan di bawah. Mereka akan melindungimu.

Aku mencintaimu, Kinasih. Sangat mencintaimu. Setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah surga yang bocor ke dunia. Jangan pernah merasa sendirian. Kapan pun kamu merindukanku, pejamkan matamu, dan rasakan hembusan angin laut di Pantai Serang. Di situlah aku akan selalu memelukmu.

Selamanya milikmu,

Galeh.

Air mata Kinasih tumpah membasahi keyboard laptopnya. Dadanya terasa mau pecah membaca rentetan kalimat itu. Ia bisa membayangkan wajah Galeh, senyumnya, tekadnya saat mengetik pesan ini, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk demi cintanya pada kemanusiaan dan cintanya pada Kinasih.

Ketakutan yang selama tujuh hari ini mencekik Kinasih, mendadak menguap entah ke mana. Kesedihannya bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat, lebih murni, dan lebih mematikan: sebuah cinta yang menolak untuk dibungkam.

Juragan Rekso mungkin telah meremukkan tulang-tulang Galeh, tapi ia telah membangunkan seekor singa betina yang terluka.

Kinasih mengusap air matanya dengan punggung tangan. Wajahnya mengeras. Tatapannya menjadi setajam belati. Ia mengunduh seluruh data dari tautan cloud tersebut. Bermiliar-miliar byte data bukti korupsi, pemerasan, dan kerusakan lingkungan terpampang nyata di layarnya.

Tanpa ragu sedetik pun, Kinasih menekan tombol Forward. Ia memasukkan ratusan alamat email rahasia milik jurnalis investigasi nasional, stasiun TV kabel independen, petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, hingga aktivis lingkungan internasional.

Ia tidak hanya mengirimkannya lewat email. Kinasih membuat akun anonim di Twitter dan mengunggah video kompilasi kerusakan tambang dan rekaman suara suap tersebut dengan tagar yang langsung memantik algoritma.

"Selamat malam, Juragan Rekso," bisik Kinasih ke arah layar, jarinya menekan tombol ENTER. "Ini kado pernikahan dari suamiku."

Ledakan itu tidak terjadi secara fisik, melainkan secara digital.

Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam, Blitar Selatan menjadi sorotan nasional. Tagar #UsutTambangBlitar dan #KeadilanUntukGaleh memuncaki trending topic. Bukti-bukti yang tak bisa dibantah itu memaksa Mabes Polri turun tangan langsung, mengambil alih kasus dari kepolisian daerah yang sudah dibeli.

Pagi itu, Kinasih berdiri di tebing karang Pantai Serang. Angin laut menerpa wajahnya. Di kejauhan, ia melihat iring-iringan mobil Rantis Brimob dan mobil tahanan Kejaksaan Agung bergerak menuju lokasi tambang Juragan Rekso. Pria kejam itu, beserta belasan oknum pejabat yang melindunginya, diseret keluar dengan tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye. Kerajaan bisnis kotornya runtuh rata dengan tanah dalam hitungan hari.

Kinasih memejamkan matanya. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin laut membelai wajahnya, persis seperti yang Galeh tulis di suratnya. Ia bisa merasakan pelukan hangat yang tak kasatmata itu mendekapnya dari belakang.

Cinta sejati ternyata tidak pernah benar-benar mati bersama membusuknya jasad. Cinta sejati menembus ruang, waktu, dan batas-batas kematian. Di tangan orang yang tepat, cinta adalah senjata yang paling mematikan bagi keserakahan.

Kinasih membuka matanya, menatap lautan lepas dengan senyum tipis. Di jari manis kanannya, kini melingkar cincin pernikahan yang ia pasangkan sendiri pagi itu.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Tresna sing tulus kuwi dudu mung babagan ngucap janji ing wayah bungah, nanging babagan wani nerusake perjuangan nalika raga wis pisah. Bandha lan kuwasa wong culas ora bakal bisa ngalahake kekuwatane ati sing obah merga rasa tresna lan keadilan.”

(Cinta yang tulus itu bukan hanya tentang mengucapkan janji di saat bahagia, tapi tentang berani meneruskan perjuangan ketika raga sudah berpisah. Harta dan kekuasaan orang curang tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan hati yang bergerak karena cinta dan keadilan.)


Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "SURAT CINTA DARI ALAM KUBUR Cerpen oleh Endik Koeswoyo"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress