DESA WISATA DALAM BALIHO - cerpen oleh Endik Koeswoyo



DESA WISATA DALAM BALIHO - cerpen oleh Endik Koeswoyo


Premis: Proyek ambisius "Desa Wisata" bernilai miliaran rupiah telah resmi dicairkan dan diresmikan di atas kertas, padahal di dunia nyata, desa itu hanyalah bukit kapur gersang yang keindahannya murni hasil editan Photoshop di sebuah baliho raksasa.

Angin kering membawa debu kapur berputar-putar di atas perbukitan gersang Kecamatan Bakung, Blitar Selatan. Di tengah lahan tandus yang hanya ditumbuhi semak berduri itu, berdiri sebuah baliho raksasa berukuran 4x6 meter.

Gambarnya sangat memukau: Kawasan Ekowisata Tirta Teja. Di baliho itu tampak deretan gazebo estetik, danau buatan dengan perahu bebek, dan warga desa yang tersenyum bahagia memakai baju adat. Di pojok kanan bawah, terpampang wajah tersenyum Herman, Kepala Dinas Pariwisata, lengkap dengan peci hitamnya.

Di bawah baliho raksasa itulah Herman kini berdiri, berlindung dari terik matahari bersama Bowo, kontraktor pemenang tender sekaligus ahli desain grafis kepercayaannya.

"Hebat kamu, Wo! Editan Photoshop-mu mulus banget. Danau buatan yang kamu tempel di proposal itu kelihatan kayak asli. Orang kementerian di Jakarta sana mana tahu kalau ini aslinya cuma tempat buang hajat wedhus (kambing)!" Herman tertawa terbahak-bahak sambil menepuk perut buncitnya.

Bowo ikut terkekeh, mengisap rokok mild-nya dalam-dalam. "Zaman sekarang, Pak, pejabat pusat itu meriksanya lewat layar laptop. Saya pakai video drone dari desa wisata di Bali, terus saya ganti color grading-nya, saya masukin koordinat GPS bukit Bakung ini. Beres! Anggaran lima miliar cair bersih ke rekening perusahaan fiktif kita."

"Mantap! Besok dua miliarnya kamu transfer ke rekening istri mudaku. Sisanya buat kamu sama tim auditor kabupaten yang sudah kita suap," ucap Herman puas. Ia memandangi bukit gersang di depannya. Tidak ada danau. Tidak ada gazebo. Yang ada hanya Mbah Suro, kakek tua bertelanjang dada yang sedang menggembalakan tiga ekor kambing kurus yang sibuk mengunyah daun kering.

Bagi Herman, Desa Tirta Teja adalah mahakarya korupsi abad ini. Desa yang hidup seutuhnya di dalam lukisan digital, namun menghasilkan uang nyata.

Namun, tawa mereka terhenti ketika debu tebal mengepul dari arah jalan makadam di bawah bukit. Tiga mobil Toyota Innova hitam berpelat merah dari luar daerah melaju kencang dan berhenti tepat di depan baliho raksasa tersebut.

Herman mengernyitkan dahi. "Siapa itu, Wo? Tim auditor kabupaten kan janjinya baru datang minggu depan buat foto formalitas?"

Bowo menelan ludah, wajahnya mendadak pucat. Beberapa pria tegap mengenakan rompi cokelat bertuliskan "Kejaksaan Agung" turun dari mobil. Salah satu dari mereka, seorang pria paruh baya berkacamata, membawa sebuah iPad dan setumpuk tebal proposal.

"Bapak Herman?" sapa pria berkacamata itu dengan nada dingin.

"I-iya, Pak. Betul. Ada yang bisa dibantu?" suara Herman mendadak bergetar. Wibawanya runtuh seketika.

"Kami dari tim Satgas Khusus Kejaksaan. Kami sedang mencocokkan laporan proyek Desa Wisata Tirta Teja dengan citra satelit terbaru dari LAPAN yang kebetulan lewat di atas Blitar Selatan dua hari lalu," pria itu mengetuk layar iPad-nya, lalu memandang berkeliling. Matanya menyapu semak berduri, tanah kapur yang retak, dan kambing kurus Mbah Suro. "Di proposal Anda, ada danau seluas dua hektare dan fasilitas panggung hiburan yang sudah 100% rampung. Bisa tolong tunjukkan di mana danaunya, Pak Herman? Apa danaunya sedang menguap karena kemarau?"

Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur deras di dahi Herman. Bowo di sebelahnya sudah gemetar hebat sampai rokoknya jatuh ke tanah. Mereka lupa, di era digital ini, teknologi bukan hanya bisa dipakai untuk menipu, tapi juga bisa dipakai untuk membongkar penipuan dari luar angkasa.

"I-itu, Pak... Anuu... Sedang tahap land clearing..." Herman mencoba berkilah, tapi suaranya tercekat.

Pria dari Kejaksaan itu tersenyum tipis, senyum yang lebih tajam dari pisau jagal. "Tidak perlu repot-repot menjelaskan di sini, Pak. Silakan jelaskan nanti di ruang interogasi. Bawa mereka."

Dua petugas langsung bergerak menyergap Herman dan Bowo, memborgol tangan mereka tanpa basa-basi.

Saat Herman diseret menuju mobil tahanan, Mbah Suro yang sedari tadi menonton sambil bersandar di tongkat gembalanya, menyahut dengan polosnya.

"Pak Pejabat! Balihone niki angsal kulo suwek mboten? Ajenge kulo damel payon kandang wedhus, ketoke kandel! (Pak Pejabat! Balihonya ini boleh saya robek tidak? Mau saya jadikan atap kandang kambing, sepertinya tebal!)"

Herman menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu dan hancur. Proyek impiannya lima miliar rupiah itu kini tereduksi menjadi selembar plastik terpal yang hanya berguna untuk melindungi kambing Mbah Suro dari terik matahari. Desa yang ia ciptakan di atas kertas itu telah mengantarnya masuk ke dalam jeruji besi bata yang sangat nyata.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Barang palsu senajan dibungkus nganggo dluwang emas, suwe-suwe bakal ketara bosoke. Sapa sing uripe mung nggedhekake citra nanging kothong atine, bakal ambruk ketindhih goroh sing digawe dhewe.”

(Barang palsu meskipun dibungkus menggunakan kertas emas, lama-lama akan kelihatan busuknya. Siapa yang hidupnya hanya membesarkan citra tapi kosong hatinya, akan runtuh tertindih kebohongan yang dibuatnya sendiri.)


Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "DESA WISATA DALAM BALIHO - cerpen oleh Endik Koeswoyo"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress