MAHAR LIMA MENIT - cerpen oleh Endik Koeswoyo



MAHAR LIMA MENIT - cerpen oleh Endik Koeswoyo

Premis: Di dunia di mana umur bisa ditransfer lewat teknologi medis, seorang pemuda miskin melamar putri konglomerat Blitar. Maharnya: 30 tahun sisa umurnya. Namun, sang pemuda menyembunyikan rahasia medis yang membuat "hadiahnya" menjadi kutukan mematikan bagi sang mertua.

Di Blitar Selatan, semua orang tahu siapa Juragan Permadi. Dia adalah pemilik ribuan hektar tambak udang dan tambang pasir besi yang tangannya lebih dingin dari es batu. Tapi yang paling mengerikan bukan kekayaannya, melainkan fakta bahwa Permadi sudah berumur 95 tahun tapi tampak seperti pria 50 tahun yang masih sanggup mematahkan leher kuda. Rahasianya sederhana: Permadi sering membeli "umur" dari para buruhnya yang butuh uang cepat untuk bayar utang bank titil.

Lalu datanglah Bagas. Seorang pemuda yang cuma punya ijazah SMA, motor butut, dan keberanian gila untuk mencintai Larasati, putri tunggal Permadi yang kecantikannya lebih tersohor daripada Pantai Serang.

"Kamu mau menikahi anakku?" Permadi tertawa, suaranya parau seperti gesekan amplas di kayu jati. "Boleh. Tapi aku tidak butuh uangmu. Aku mau mahar yang sebanding dengan kecantikan Laras. Berikan aku 30 tahun sisa umurmu. Biar aku bisa hidup sampai umur 125 tahun dan melihat cucuku memimpin perusahaan ini."

Larasati menangis, bersimpuh di kaki ayahnya. "Bapak! Itu namanya membunuh Bagas secara halus! Jangan, Pak!"

Bagas justru tersenyum. Senyumnya sangat tenang, tipe senyum orang yang sudah tidak punya beban hidup. "Saya setuju, Ndoro Juragan. Demi Laras, jangankan 30 tahun, seluruh sisa hidup saya pun akan saya berikan kalau itu syaratnya."

Prosesi "Akad Mahar" itu dilakukan di pendopo utama rumah Permadi yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Tim medis dari kota sudah menyiapkan alat Life-Sync—sebuah mesin yang bisa menyedot energi vital dari sumsum tulang belakang dan mentransfernya ke subjek lain.

"Bagas... jangan..." bisik Larasati, tangannya gemetar memegang jemari Bagas.

"Tenang, Nduk. Lima menit setelah ini, semua bebanmu akan hilang," jawab Bagas pelan, sangat pelan hingga Larasati tidak sadar itu adalah kalimat perpisahan.

Penghulu memulai khutbah nikah. Begitu kalimat “Saya terima nikahnya...” selesai diucapkan, mesin Life-Sync berdengung kencang. Cahaya keemasan mengalir dari punggung Bagas menuju tubuh Permadi lewat kabel optik yang terhubung ke leher mereka.

Keajaiban—atau kengerian—terjadi seketika.

Kulit Bagas yang tadinya kencang mulai mengeriput. Rambut hitamnya berubah abu-abu, lalu memutih dan rontok. Punggungnya membungkuk. Giginya tanggal satu per satu. Dalam hitungan detik, Bagas berubah dari pemuda 25 tahun menjadi kakek-kakek 55 tahun yang ringkih.

Sebaliknya, Permadi meraung kegirangan. Keriput di wajahnya hilang. Otot-otot lengannya mengeras. Ia merasa seperti singa yang baru saja memakan jantung mangsanya. "Hahaha! Aku merasa hidup kembali! Aku akan menguasai Blitar seratus tahun lagi!"

Permadi berdiri dari kursinya, hendak memeluk Larasati. Namun, baru satu langkah, ia tiba-tiba berhenti. Matanya melotot. Wajahnya yang tadinya segar mendadak berubah menjadi biru gelap, lalu keunguan, seolah ada racun yang menyebar di pembuluh darahnya.

"Uhuk! Uhuk!" Permadi memegangi lehernya. Tubuhnya kejang-kejang. "Panas... dingin... apa ini?!"

Bagas, yang kini sudah menjadi orang tua renta, menatap mertuanya dengan tatapan paling dingin yang pernah ada. Ia meraih sebuah amplop kecil dari sakunya dan melemparkannya ke depan Permadi yang sedang meregang nyawa.

"Ndoro lupa mengecek rekam medis saya," bisik Bagas serak. "Dua hari lalu, saya divonis kanker stadium akhir yang sudah menyebar ke seluruh organ. Sisa umur saya menurut dokter... sebenarnya hanya tinggal lima menit lagi."

Permadi melongo. Di dalam dunia transfer umur, mesin tidak peduli pada kualitas sel, ia hanya menyedot kuantitas waktu. Permadi baru saja menyedot sisa hidup yang sudah busuk. Ia telah mentransfer "kematian" ke dalam tubuhnya sendiri.

BUMMM! Permadi ambruk. Jantungnya berhenti berdetak tepat di menit kelima setelah transfer selesai. Konglomerat yang paling rakus itu tewas di hari pernikahannya sendiri karena keserakahannya memakan "waktu" orang lain.

Bagas jatuh ke pelukan Larasati. Tubuhnya sangat lemah. "Laras... maafkan aku. Sekarang... kamu bebas. Semua aset bapakmu jatuh ke tanganmu. Jangan jadi seperti dia... Jangan pernah membeli waktu orang lain..."

Bagas menutup matanya. Ia mengembuskan napas terakhirnya sebagai seorang pahlawan renta di pelukan wanita yang ia cintai. Ia memberikan mahar berupa lima menit sisa hidupnya untuk menghancurkan keabadian seorang tiran.

Di luar, badai Pantai Serang tiba-tiba berhenti. Matahari sore muncul malu-malu di balik awan. Larasati menangis memeluk jasad suaminya yang terlihat sangat tua tapi sangat damai. Ia menyadari satu hal: Bagas tidak pernah kehilangan waktunya. Bagas justru baru saja membuat cintanya abadi dalam waktu lima menit yang paling berharga dalam sejarah kemanusiaan.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Sapa sing srakah pengen urip selawase kanthi cara ngrampas nyawane liyan, sejatine lagi ngundang pati menyang njero getihe dhewe. Wektu kuwi dudu barang dagangan sing bisa dituku nganggo bandha, merga ing pungkasane crita, sithik utawa akehe umurmu kuwi dudu hake manungsa, nanging kersane Gusti.”

(Siapa yang serakah ingin hidup selamanya dengan cara merampas nyawa orang lain, sejatinya sedang mengundang kematian ke dalam darahnya sendiri. Waktu itu bukan barang dagangan yang bisa dibeli dengan harta, karena di akhir cerita, sedikit atau banyaknya umurmu itu bukan hak manusia, melainkan kehendak Tuhan.)


Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "MAHAR LIMA MENIT - cerpen oleh Endik Koeswoyo"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress