CERPEN : RUMAH YANG MENOLAK PEMILIKNYA
Bagi Arga Bagaskara—seorang arsitek muda yang wajahnya lebih mirip tukang pasang baja ringan tapi seleranya setinggi langit—hidup adalah soal estetika. Nama "Arga" berarti gunung, dan "Bagaskara" berarti matahari. Harapannya, dia bisa jadi matahari yang menyinari puncak gunung. Kenyataannya? Dia cuma jadi lampu teplok yang sumbunya sudah hampir habis di tengah badai ekonomi.
Arga baru saja memenangkan "lotre" nasib. Dia berhasil membeli sebuah rumah tua di pinggiran desa Wana Asri. Harganya? Murah bukan main. Saking murahnya, Arga curiga jangan-jangan sertifikatnya ditulis di balik bungkus nasi kucing.
"Mas Arga, rumah ini itu wingit. Bukan karena ada hantunya yang hobi minta pulsa, tapi rumah ini itu punya 'watak'. Omah iki ora gelem dikuwasani," ujar Pak RT setempat, seorang pria yang kumisnya melengkung ke bawah seolah menanggung beban hutang negara.
Arga tertawa sinis. Sebagai penganut paham modernisme yang menganggap hantu itu cuma masalah kurang gizi atau salah urat saraf, dia menepuk dada. "Pak RT, saya ini arsitek. Saya bisa mengubah kandang ayam jadi istana. Rumah itu benda mati. Benda mati kok punya watak? Itu namanya halusinasi berjamaah."
Pak RT cuma geleng-geleng kepala sambil menyeruput kopi pahitnya. "Yo wis, Mas. Sing ati-ati. Wong sombong iku panggonane ora neng omah, nanging neng kuburan sing sempit." (Ya sudah, Mas. Yang hati-hati. Orang sombong itu tempatnya bukan di rumah, tapi di kuburan yang sempit).
Rumah itu diberi nama oleh penduduk sekitar: Wisma Segara Waru. Arsitekturnya perpaduan kolonial yang angkuh dan Jawa yang mistis. Kayu jatinya hitam legam, seolah-olah kayu itu tidak diserut, tapi tumbuh sendiri membentuk dinding.
Malam pertama, Arga membawa koper dan ambisinya. Dia sudah membayangkan renovasi besar-besaran. Tembok kayu itu akan dicat warna terracotta, lantai tegelnya akan diganti marmer Italia, dan taman depannya akan dipasang lampu-lampu estetik biar bisa buat konten TikTok.
Namun, Wisma Segara Waru punya rencana lain.
Saat Arga hendak memasukkan kunci ke lubang pintu, kunci itu tiba-tiba membengkok. Bukan patah, tapi meliuk seperti keris yang kepanasan. Arga melongo.
"Mungkin kunci ini buatan China yang KW super," gumamnya. Dia mencoba mendobrak pintu. Anehnya, pintu kayu itu terasa empuk seperti pipi bayi. Arga terpental ke belakang, jatuh terjungkal ke semak-semak mawar.
Dia mencoba lagi lewat jendela. Saat kakinya sudah masuk satu, jendela itu tiba-tiba menutup dengan kecepatan kilat, nyaris menjepit "aset berharga" miliknya. Arga melompat mundur sambil istighfar meskipun dia jarang shalat.
Akhirnya, dia berhasil masuk lewat pintu belakang yang entah kenapa terbuka sendiri seolah sedang menguap bosan.
Di dalam rumah, hawanya tidak dingin, tapi "judes". Setiap kali Arga menyentuh dinding, terasa ada getaran kecil yang mirip sengatan listrik silet. Dia mencoba menyalakan lampu, tapi bohlamnya langsung meledak, menyipratkan kaca ke arah dahinya.
"Oalah, rumah ini minta diajak kenalan lewat jalur kekerasan ya?" seru Arga emosi.
Dia mengeluarkan martil. Dia ingin menjebol satu sekat kayu yang menurutnya menghalangi sirkulasi udara. Tapi, saat martil itu diayunkan, gagangnya patah. Kepala martilnya terbang dan menghantam jempol kaki Arga sendiri.
"ADUUUH! Jangkrik! Omah opo preman iki?!" teriak Arga sambil jingkat-jingkat menahan perih.
Malam itu, Arga terpaksa tidur di lantai ruang tamu tanpa alas. Dia merasa seperti sedang tidur di atas punggung buaya yang sedang pura-pura mati. Setiap jam, posisi Arga bergeser sendiri. Dia tidur di ruang tamu, bangun-bangun sudah di teras depan, lengkap dengan kopernya yang tertumpuk rapi di atas perutnya.
Seolah-olah rumah itu sedang menyapu sampah, dan sampahnya adalah Arga.
Seminggu berlalu, Arga makin kurus. Dia tidak bisa masak karena kompornya selalu mati sendiri. Dia tidak bisa mandi karena air showernya selalu berubah jadi lumpur tiap kali dia pakai sabun. Dia merasa seperti sedang dikos-kosan oleh hantu yang paling pelit sedunia.
Puncaknya adalah saat Arga membawa mandor dan tukang bangunan untuk mulai membongkar atap.
"Mas Arga, saya nggak berani," kata Pak Kumis, sang mandor, wajahnya pucat.
"Kenapa? Takut hantu?"
"Bukan. Tadi saya mau naik tangga, tangganya tiba-tiba jadi licin kayak dilumuri minyak goreng seliter. Terus, alat serut saya tiba-tiba dimakan sama rayap dalam waktu lima detik sampai ludes!"
Arga menggeram. Dia mengambil linggis, lari ke tengah ruangan, dan berteriak, "Hei, Rumah! Aku ini tuanmu! Aku beli kamu pakai uang halal—ya sedikit ada uang proyek yang kutilap, tapi kan sudah jadi uang! Kamu harus nurut sama aku!"
Seketika, bumi berguncang. Bukan gempa bumi, tapi rumah itu yang "menggigil" marah. Lantai tegelnya terangkat, membentuk gelombang yang melemparkan Arga dan para tukangnya keluar lewat pintu depan yang terbuka lebar-lebar.
Brakkk!
Pintu menutup rapat. Dan yang bikin Arga hampir gila: terdengar suara klik—pintu itu mengunci diri dari dalam.
Arga duduk di tanah, pakaiannya compang-camping, rambutnya penuh debu rengat. Dia menatap Wisma Segara Waru yang berdiri dengan angkuhnya di bawah sinar matahari sore. Rumah itu tampak berkilau, seolah baru saja mandi setelah membuang kotoran.
Pak RT datang menghampiri sambil membawa bungkusan nasi berkat. "Gimana, Mas Arga? Sudah bisa 'menaklukkan' benda mati?"
Arga menunduk. Kesombongannya rontok seperti genteng rumah murahan. "Kenapa dia nggak mau saya tinggali, Pak? Saya kan mau bikin dia bagus."
Pak RT duduk di samping Arga, membuka nasi berkatnya. "Mas, omah iku dudu mung tumpukan kayu karo boto. Omah iku wadahing roso. (Rumah itu bukan hanya tumpukan kayu dan bata. Rumah itu wadah rasa). Wisma ini nggak butuh diperbaiki wajahnya, dia butuh dihormati jiwanya. Kamu datang ke sini mau 'menguasai', bukan mau 'menghuni'. Kamu mau pamer, bukan mau pulang."
Arga terdiam. Dia ingat, selama ini dia memang hanya memikirkan seberapa besar untung yang dia dapat kalau rumah ini dia renovasi lalu dia jual lagi dengan harga selangit. Dia tidak pernah bertanya, apakah rumah ini butuh cat baru, atau hanya butuh seseorang yang mau duduk diam di terasnya sambil menikmati sore tanpa memikirkan konten media sosial.
"Terus saya harus gimana, Pak? Uang saya sudah habis buat beli ini."
Pak RT menyodorkan sepotong tempe goreng. "Coba kamu minta izin. Nyuwun sewu. Jangan bawa linggis, bawa sapu. Jangan bawa ego, bawa hati. Wong urip iku mung mampir ngombe, tapi kalau tempat minumnya kamu rusak, kamu bakal kehausan selamanya."
Sore itu, Arga tidak lagi mencoba mendobrak pintu. Dia berjalan pelan ke arah teras, meletakkan martil dan linggisnya jauh-jauh. Dia berlutut di depan pintu kayu hitam itu.
"Nyuwun sewu... Wisma Segara Waru. Maafkan saya yang lancang. Saya tidak akan mengubahmu jadi istana palsu. Saya hanya ingin punya tempat untuk pulang. Tolong, biarkan saya menyapu debumu saja."
Suasana mendadak hening. Angin gunung berhembus lembut, membawa aroma bunga waru yang manis. Secara perlahan, suara klik terdengar lagi. Pintu depan terbuka sedikit, menyisakan celah kecil yang mengundang.
Arga masuk. Kali ini, tidak ada bohlam meledak. Tidak ada lantai yang bergetar. Dia melihat debu di mana-mana. Dia mengambil sapu lidi tua di pojokan.
Dia mulai menyapu. Pelan-pelan. Dia tidak lagi memikirkan marmer Italia atau lampu estetik. Dia hanya ingin rumah ini bersih. Dan anehnya, setiap kali sapunya menyentuh lantai, dia merasa rumah itu seolah sedang mendengkur puas.
Arga Bagaskara, sang arsitek sombong, akhirnya mengerti: rumah terbaik bukanlah yang paling mewah, tapi yang paling bisa menerima siapa kita saat semua topeng kita lepas.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Omah dudu mung kanggo mampir turu, nanging kanggo nanting raga lan nentremke jiwo.”
(Rumah bukan hanya untuk mampir tidur, tapi untuk menakar raga dan menenteramkan jiwa.)


.gif)

Posting Komentar untuk "CERPEN : RUMAH YANG MENOLAK PEMILIKNYA - Oleh Endik Koeswoyo"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...