CERPEN : TAMU YANG TIDAK PERNAH PERGI - Oleh Endik Koeswoyo


CERPEN : TAMU YANG TIDAK PERNAH PERGI

Bagi Seta Digdaya, hidup itu harus presisi seperti ukuran kayu jati pesanan eksportir Jerman. Seta—yang namanya berarti "putih" dan "sakti"—adalah seorang tukang kayu di desa Wana Hening. Dia adalah tipe pria yang percaya bahwa garis hidup manusia sudah diserut rapi oleh Tuhan, dan tugas kita cuma memastikan tidak ada serpihan kayu yang menusuk jempol kaki.

Hidup Seta tenang. Istrinya, Arum Wangi, adalah wanita yang kebaikannya setara dengan gula jawa asli; manis dan nggak bikin eneg. Sampai suatu malam, saat hujan deras mengguyur desa sampai suara katak pun kalah saing dengan bunyi petir, seseorang mengetuk pintu rumah mereka.

Tok... tok... tok...

Ketukannya sopan, tapi punya frekuensi yang bikin perasaan jadi nggak enak, kayak dapet undangan kondangan dari mantan yang paling galak.

Seta membuka pintu. Di sana berdiri seorang pria paruh baya, basah kuyup, dengan wajah yang pucatnya mirip tahu putih direndam air semalam. Bahunya terluka, darahnya lumer bercampur air hujan.

"Nyuwun sewu, Mas... boleh saya numpang berteduh? Saya habis kecelakaan di tanjakan sana," kata orang asing itu suaranya serak.

Sebagai orang Jawa yang dididik dengan doktrin “Tamu iku mulyo” (Tamu itu mulia), Seta tidak punya pilihan. Kalau dia menolak, dia takut dikutuk jadi pohon jati yang dimakan rayap.

"Monggo, Pak. Masuk dulu. Arum, ambilkan handuk dan obat merah!" seru Seta.

Orang asing itu mengaku namanya Guno. Sederhana. Artinya "berguna". Malam itu dia diobati, diberi makan nasi anget dengan sambal terasi, dan dipinjami sarung kotak-kotak milik Seta yang warnanya sudah pudar.

"Besok kalau sudah terang, saya antar Bapak ke terminal," kata Seta sebelum tidur. Guno cuma tersenyum tipis, jenis senyum yang kalau di film-film horor biasanya jadi pertanda kalau pemeran utamanya bakal apes.

Keesokan harinya, Seta bangun pukul 05.00 pagi. Dia mencium aroma kopi yang sangat harum dari dapur. Dia pikir itu Arum. Tapi saat dia ke dapur, dia melihat Guno sedang asyik menggoreng mendoan dengan gerakan yang sangat luwes, seolah dia sudah memegang wajan itu selama tiga puluh tahun.

"Pagi, Mas Seta. Kopinya sudah saya siapkan. Gulanya satu sendok saja kan, seperti kesukaan sampeyan?" tanya Guno santai.

Seta melongo. "Lho, Bapak kok tahu saya suka gula satu sendok?"

"Lho, masak lupa? Kan memang biasanya begitu," jawab Guno sambil tertawa kecil.

Seta merasa ada yang aneh. "Anu, Pak Guno... jadi berangkat ke terminal jam berapa?"

Guno berhenti membalik mendoan. Dia menatap Seta dengan tatapan bingung yang sangat meyakinkan. "Terminal apa, Mas? Saya kan mau bantu Mas Seta di bengkel kayu hari ini. Masa Mas lupa, kita kan sudah janji mau garap lemari pesanan Pak Kades?"

Seta merasa kepalanya seperti baru saja dipukul pakai balok kayu kruing. "Janji? Pak Guno, sampeyan kan baru datang semalam!"

Tiba-tiba Arum masuk ke dapur. Dia mengusap bahu Guno dengan akrab. "Mas Seta ini mungkin masih mengantuk, Pak Guno. Jangan dimasukkan hati. Ayo sarapan dulu, nanti telat ke bengkelnya."

Seta merasa dunianya sedang diputar-putar pakai mesin amplas. Dia lari ke luar rumah. Di pos ronda, dia bertemu Pak RT.

"Pak RT! Itu ada orang asing di rumah saya! Namanya Guno!"

Pak RT menatap Seta sambil mengisap rokok klobotnya. "Guno? Maksudmu Pak Dhe Guno? Lha dia kan memang tinggal di rumahmu sejak dulu, Seta. Dia itu kan saudara jauh bapakmu yang ikut bantu-bantu. Kamu itu jangan kebanyakan menghirup bau pelitur, jadinya pusing kan?"

Seta terduduk di pinggir jalan. Dia merasa seperti sepotong kayu sisa yang tidak dianggap. Semua orang di desa—tukang sayur, anak-anak sekolah, sampai anjing penjaga pasar—semua menyapa Guno seolah pria itu adalah tokoh penting yang selalu ada di sana.

Guno mulai mengambil alih hidup Seta dengan cara yang sangat halus, sehalus hasil serutan kayu kualitas wahid.

Guno yang bicara dengan pelanggan. Guno yang mengatur keuangan. Bahkan, Guno yang membenajkan kerah baju Seta saat mau berangkat ke masjid.

"Sampeyan itu siapa sebenarnya?" tanya Seta suatu malam, saat Arum sudah tidur. Mereka duduk berdua di teras.

Guno menyeruput kopinya. "Aku ini sampeyan, Seta. Tapi versi yang lebih 'berguna'. Sesuai namaku."

"Maksudmu?"

"Sampeyan itu terlalu jujur, terlalu kaku. Bisnis kayumu mandeg. Istrimu bosan karena kamu jarang bicara. Aku datang untuk melengkapi. Lihat sekarang, pesanan lemari melimpah, Arum jadi sering tertawa. Apa yang salah?"

Seta merasa merinding. "Tapi ini hidupku! Rumahku! Istriku!"

Guno tersenyum satir. "Rumah itu cuma tumpukan bata, Seta. Istri itu titipan. Wong urip iku mung mampir ngguyu, tapi kalau kamu nggak bisa bikin orang tertawa, ya jangan salahkan kalau ada orang lain yang menggantikan posisimu."

Seta mulai merasa dirinya memudar. Secara fisik. Tangannya mulai terlihat transparan. Suaranya mulai jarang terdengar oleh orang lain. Saat dia bicara, orang-orang justru menoleh ke arah Guno, seolah Guno-lah yang sedang bicara.

Seta sadar, dia sedang "dihapus" oleh keramahannya sendiri. Dia memberi ruang pada tamu, tapi tamunya malah renovasi rumah dan mengganti kunci pintunya.

Puncaknya adalah saat perayaan satu tahun "kehadiran" Guno. Seluruh desa diundang makan-makan. Guno duduk di kursi utama, di samping Arum yang terlihat sangat bahagia. Seta? Seta hanya duduk di pojokan, menjadi bayangan yang bahkan tidak bisa memegang sendok.

“Gusti... menungso iku pancen aneh,” batin Seta. “Nek ono sing apik, sing asli malah dilali.” (Tuhan... manusia itu memang aneh. Kalau ada yang bagus, yang asli malah dilupakan).

Seta berdiri. Dia berjalan ke arah bengkel kayunya. Dia mengambil sebuah kapak tua yang sudah berkarat. Dia bukan mau membunuh Guno—karena kamu tidak bisa membunuh sesuatu yang sudah dianggap "nyata" oleh seluruh dunia.

Dia menghampiri Guno di tengah pesta. Guno melihatnya, senyumnya tetap merendah.

"Mau apa, Seta? Mau ikut makan?" tanya Guno. Tentu saja, hanya Seta yang bisa mendengar suaranya.

Seta tidak menjawab. Dia mengayunkan kapak itu... bukan ke arah Guno, tapi ke arah tiang utama rumahnya. Soko Guru.

Brakkk!

Tiang itu retak. Seluruh tamu berteriak panik.

"Seta! Kamu gila?!" teriak Guno, wajahnya mulai berubah, tidak lagi tenang.

"Rumah ini milikku, Guno. Kalau aku tidak bisa tinggal di sini sebagai pemilik, maka tidak akan ada yang bisa tinggal di sini sebagai tamu!" seru Seta. Suaranya mendadak menggelegar, membuat piring-piring pecah.

Seta terus menghantam tiang itu. Dia sadar, satu-satunya cara mengusir "kepalsuan" adalah dengan menghancurkan "panggungnya".

Seketika, bumi bergetar. Sosok Guno mulai retak-retak seperti cermin yang dipukul. Wajahnya lumer, kembali menjadi sosok pucat yang basah kuyup seperti saat dia pertama kali datang.

"Kamu... kamu lebih milih hancur daripada berbagi?" desis Guno.

"Aku lebih milih jadi debu yang asli daripada jadi istana yang palsu," jawab Seta mantap.

Tiba-tiba, jeder! Kilat menyambar.

Seta terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Dia berada di lantai teras rumahnya. Hujan masih deras. Dia melihat ke samping. Tidak ada pesta, tidak ada tamu. Hanya ada seorang pria paruh baya yang tergeletak pingsan di depan pintunya, dengan bahu yang terluka.

Itu Guno. Tamu itu baru saja sampai.

Seta menatap pria itu dengan ngeri. Dia memegang kapak yang memang biasanya tergeletak di teras. Arum keluar dari dalam rumah, mengucek matanya.

"Mas Seta? Itu siapa? Kasihan, ayo dibawa masuk, diobati..." kata Arum lembut.

Seta melihat istrinya, lalu melihat pria yang terluka itu. Dia teringat mimpinya—atau penglihatannya tadi. Dia tahu, kalau dia membuka pintu ini, hidupnya mungkin akan jadi lebih "baik" secara materi, tapi dia akan kehilangan dirinya sendiri.

Seta menarik nafas panjang. Dia mengambil dompetnya, mengeluarkan semua uang yang ada di sana, lalu menyelipkannya di saku pria yang pingsan itu. Dia mengambil handuk, menyelimuti pria itu, lalu dia memanggil tetangganya yang punya mobil bak terbuka.

"Kang! Tolong bawa orang ini ke rumah sakit di kota! Ini uangnya buat biaya. Cepat!"

"Lho, nggak dibawa masuk dulu ke rumahmu, Seta? Kan biasanya kamu paling semangat kalau ada tamu," tanya tetangganya heran.

Seta menggeleng mantap. Dia menutup pintu rumahnya rapat-rapat, menguncinya dengan dua putaran.

"Tamu itu mulia, Kang. Tapi kalau tamunya mau jadi tuan rumah, itu namanya kudeta. Aku lebih suka kopi buatanku sendiri, biarpun gulanya kadang kebanyakan."

Arum menatap suaminya bingung. Seta hanya tersenyum, memeluk istrinya erat-erat. Malam itu, dia tidak tidur. Dia menjaga pintunya, memastikan bahwa hanya mereka yang benar-benar "nyata" yang boleh ada di dalam sana.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa "berguna" kita bagi dunia, tapi seberapa "asli" kita di hadapan cermin sendiri.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Ojo gampang nampa tamu sing mung nggawa madu, amarga neng njerone madu mau bisa wae ana racun sing mateni jatidirimu.”

(Jangan mudah menerima tamu yang hanya membawa madu, karena di dalam madu itu bisa saja ada racun yang membunuh jati dirimu.)



Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "CERPEN : TAMU YANG TIDAK PERNAH PERGI - Oleh Endik Koeswoyo"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress