CERPEN Endik Koeswoyo : PULAU YANG TIDAK ADA DI PETA


CERPEN : PULAU YANG TIDAK ADA DI PETA

Bagi Samudra Alun, nama adalah beban yang lebih berat daripada cicilan mobil pajero yang telat tiga bulan. Namanya berarti "ombak di lautan luas", tapi nyatanya, Samudra adalah orang yang mabuk laut kalau cuma melihat air di bak mandi yang dikocok-kocok.

Samudra adalah seorang travel influencer papan atas di Jakarta. Kerjanya cuma dua: cari tempat bagus yang belum terjamah, lalu merusaknya dengan kedatangan ribuan pengikutnya yang hobi buang sampah sembarangan dan foto selfie pakai gaya dua jari.

Suatu hari, Samudra menyewa sebuah kapal kayu di pelabuhan kecil daerah pesisir Jawa. Dia ingin mencari konten yang "beda".

"Saya mau ke tempat yang belum pernah ada di Google Maps, Pak," kata Samudra pada sang nahkoda, seorang kakek tua bernama Mbah Segoro yang kulitnya sudah mirip kerupuk kulit saking seringnya terpapar garam.

Mbah Segoro menghisap rokok klobotnya, lalu meludah ke laut. "Mas, wong urip iku asline mung nggoleki dalan mulih. Kalau sampeyan cari jalan buat tersesat, laut itu punya banyak simpanan pulau yang tidak mau ditemukan."

"Halah, Mbah. Zaman sekarang itu nggak ada yang nggak bisa ditemukan satelit. Paling cuma masalah sinyal," bantah Samudra sambil sibuk membenahi gimbal kamera mahalnya.

Kapal pun melaju. Di atas kapal, ada juga Wulan Kirana, asisten Samudra yang cantiknya alami tapi otaknya sudah terkontaminasi filter Snapchat. Mereka berdua adalah duo dinamis yang percaya bahwa dunia ini diciptakan Tuhan hanya sebagai latar belakang foto mereka.

Setelah tiga jam berlayar, tiba-tiba kabut turun. Tebal, putih, dan baunya seperti kemenyan yang dibakar pakai bensin. GPS di ponsel Samudra mulai gila; panahnya berputar-putar seperti gasing yang sedang sakau.

"Mbah, ini kita di mana?" tanya Samudra mulai panik.

"Kita di tempat yang tidak ada," jawab Mbah Segoro tenang. "Pulau Sasmita Luwung."

Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul sebuah pulau. Indah sekali. Pasirnya seputih gigi artis yang habis veneer, airnya sebening niat tulus yang jarang ada di politik. Tapi ada yang aneh: tidak ada burung yang berkicau, tidak ada ombak yang berisik. Semuanya diam, seperti foto yang dipigura.

"Wah, ini gila! Hidden gem beneran ini!" teru Samudra. Dia langsung melompat ke pantai, kakinya yang pakai sepatu branded kotor kena pasir, tapi dia tidak peduli. "Wulan! Rekam! Mulai dari saya jalan di pinggir pantai ya!"

Wulan mulai merekam. Tapi saat dia melihat ke layar kamera, dia berteriak. "Mas Sam! Gambarnya... gambarnya nggak ada!"

Samudra melihat ke layar. Benar. Di layar hanya ada gambar pantai dan laut, tapi sosok Samudra tidak terekam. Kosong. Seolah-olah dia adalah makhluk halus yang tidak punya pantulan fisik.

"Kameramu rusak itu! Pakai HP!" seru Samudra.

Hasilnya sama. Di foto, Samudra dan Wulan tidak pernah ada.

Mereka mulai berjalan ke dalam pulau. Di sana, mereka menemukan sebuah perkampungan. Rumah-rumahnya terbuat dari karang yang disusun rapi. Penduduknya memakai kain putih, wajah mereka tenang, terlalu tenang sampai-sampai terlihat seperti orang yang sudah lupa caranya sedih.

"Nyuwun sewu, ini desa apa ya?" tanya Samudra pada seorang bapak-bapak yang sedang memilah kerang.

Bapak itu menatap Samudra. Matanya kosong, tidak ada pupilnya. "Ini bukan desa, Nak. Ini adalah tempat menunggu bagi mereka yang lupa siapa dirinya karena terlalu sibuk jadi orang lain."

Samudra merinding. "Maksudnya? Saya ini Samudra Alun, pengikut saya ada dua juta!"

Bapak itu tertawa, suaranya seperti deburan ombak di kejauhan. "Dua juta orang yang tidak mengenalmu? Di sini, angka itu tidak lebih berharga daripada satu butir pasir. Urip iku dudu soal pira sing ndelok, nanging sapa sing ngrasakake. (Hidup itu bukan soal berapa yang melihat, tapi siapa yang merasakan)."

Tiba-tiba, Samudra menyadari sesuatu yang mengerikan. Bajunya yang tadi berwarna-warni mulai memudar jadi putih. Rambutnya yang dicat ash grey kembali jadi hitam pekat. Bahkan tahi lalat di pipinya menghilang. Dia mulai kehilangan ciri khasnya.

"Wulan! Kita harus pergi! Pulau ini menghapus identitas kita!"

Mereka lari kembali ke pantai, tapi kapal Mbah Segoro sudah hilang. Di laut hanya ada kabut yang menertawakan mereka.

"Mas... aku lupa namaku siapa," isak Wulan. "Aku cuma ingat kalau aku harus... aku harus... posting sesuatu. Tapi apa?"

Itulah kutukan Pulau Sasmita Luwung. Barangsiapa yang datang ke sana hanya untuk pamer keindahan tanpa membawa hati yang tulus, maka pulau itu akan mengambil semua "topeng" yang mereka pakai sampai tidak tersisa apa-apa.

Mereka terjebak di sana selama berhari-hari. Tidak ada makanan, tapi mereka tidak lapar. Tidak ada air, tapi mereka tidak haus. Mereka hanya merasa kosong. Kosong sekosong-kosongnya. Samudra melihat ke arah air laut yang tenang. Di sana, dia melihat bayangannya sendiri. Tapi bayangan itu bukan dirinya yang pakai baju mahal, melainkan dirinya saat masih kecil di desa, sedang makan singkong rebus dengan wajah penuh coretan arang.

"Itu... itu aku yang asli," bisik Samudra.

Seketika dia sadar. Selama ini dia hidup untuk mata orang lain, bukan untuk hatinya sendiri. Dia adalah budak dari jempol-jempol asing di layar kaca. Wong urip iku mung mampir ngombe, tapi Samudra malah sibuk memotret gelasnya daripada meminum airnya.

Dia berlutut di pasir, menangis sejadi-jadinya. "Gusti... saya minta maaf. Saya cuma mau pulang. Saya nggak butuh pengikut, saya cuma butuh diingat sebagai manusia biasa."

Tiba-tiba, terdengar suara peluit kapal yang nyaring. Teeettt!

Kabut tersingkap. Kapal Mbah Segoro muncul lagi. Sang kakek berdiri di haluan sambil memegang rokok klobotnya yang belum habis.

"Sudah ketemu jalannya, Mas?" tanya Mbah Segoro.

Samudra dan Wulan langsung berenang menuju kapal seolah-olah dikejar setan kredit. Begitu sampai di atas kapal, Samudra melihat ponselnya. Layarnya pecah. Semua data fotonya hilang. Jutaan pengikutnya? Akunnya terhapus secara misterius.

"Semua hilang, Mbah..." kata Samudra lemas.

Mbah Segoro terkekeh. "Bagus. Yen ora ilang, kowe ora bakal ketemu. (Kalau tidak hilang, kamu tidak akan ketemu). Sekarang sampeyan punya kesempatan buat mulai hidup, bukan buat mulai upload."

Samudra menatap ke arah pulau yang perlahan menghilang ditelan kabut. Dia merasa ringan. Ternyata, tidak ada di peta dunia itu tidak masalah, selama kita masih ada di peta hati orang-orang yang benar-benar menyayangi kita.

"Wulan," panggil Samudra.

"Iya, Mas?"

"Namamu Wulan Kirana. Artinya bulan yang indah. Inget-inget itu, jangan ganti jadi 'Lala_Cutie' lagi ya."

Wulan tersenyum, kali ini senyumnya asli, tanpa perlu filter beauty tingkat sepuluh.

Kapal itu terus melaju kembali ke pelabuhan. Samudra Alun tidak pernah lagi mengunggah foto liburan. Dia lebih memilih jadi nelayan di desa, karena baginya, melihat matahari terbit dengan mata kepala sendiri jauh lebih nikmat daripada melihatnya lewat layar ponsel yang retak.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Aja mung mburu senenge mripat, nanging mburua tentreme ati. Merga mripat bisa diapusi, nanging ati ora bisa dilarani tanpa rasa.”

(Jangan hanya mengejar kesenangan mata, tapi kejarlah ketenteraman hati. Karena mata bisa ditipu, tapi hati tidak bisa disakiti tanpa rasa.)



Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "CERPEN Endik Koeswoyo : PULAU YANG TIDAK ADA DI PETA"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress