CERPEN : SURAT DARI VERSI DIRIKU
Bagi Prawira Suta, hidup itu ibarat main judi dadu di pasar malam; sudah tahu bakal kalah, tapi tetap saja nekat pasang taruhan karena tergiur suara speaker yang koar-koar soal hadiah mesin cuci. Prawira—yang namanya berarti "perwira yang unggul"—nyatanya lebih sering unggul dalam urusan telat bayar cicilan motor dan ahli dalam bidang mencari alasan untuk bolos kerja.
Prawira bekerja sebagai administrasi di kantor kelurahan yang kipas anginnya lebih sering berbunyi ngik-ngok daripada mengeluarkan angin. Hidupnya datar, sedatar aspal yang baru digilas stum, sampai suatu pagi sebuah amplop cokelat kusam tergeletak di atas meja kerjanya.
Tanpa prangko. Tanpa alamat pengirim. Hanya ada tulisan: "Kanggo Prawira Suta, Sing Isih Bodho." (Untuk Prawira Suta, Yang Masih Bodoh).
"Lha dalah, ini siapa yang berani ngatain aku bodoh? Kurang ajar!" gerutu Prawira sambil merobek amplop itu dengan emosi tingkat kecamatan.
Di dalamnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat... akrab. Sangat mirip dengan tulisan Prawira kalau lagi buru-buru mau pulang jumatan.
"Wira, ini aku. Kamu versi tiga puluh tahun ke depan yang sekarang giginya tinggal dua dan lututnya sudah minta ganti oli. Jangan kaget, dunia memang sudah gila. Pesanku cuma satu: Hari ini, jam dua siang nanti, jangan lewat depan rumah Pak Haji Somad. Ada 'kejutan' yang bakal bikin hidupmu ambyar."
Prawira tertawa sampai batuk. "Halah, ini pasti kerjaan si Jono yang mau ngerjain aku. Pak Haji Somad kan orang baik, paling kejutannya cuma disuruh mampir makan opor ayam."
Prawira mengabaikan surat itu. Baginya, masa depan itu urusan nanti, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya dapat kopi gratis di kantin. Namun, dasar manusia punya rasa penasaran yang lebih besar daripada rasa takutnya, tepat jam dua siang, kaki Prawira malah melangkah menuju depan rumah Pak Haji Somad.
"Cuma mau membuktikan kalau surat ini bohong," batinnya sambil bergaya ala detektif di film-film televisi.
Saat ia lewat, Pak Haji Somad sedang menyiram tanaman. Beliau menyapa dengan ramah. "Eh, Mas Wira. Tumben lewat sini?"
"Inggih, Pak Haji. Cuma mau cari angin."
Tepat saat itu, seekor kucing kampung yang sedang dikejar anjing gila melompat ke arah pot bunga mahal milik istri Pak Haji. Pot itu jatuh, pecah berantakan, dan tanahnya nyiprat ke baju koko putih Pak Haji yang baru saja mau dipakai pengajian. Di waktu yang bersamaan, anak Pak Haji yang paling galak keluar rumah dan melihat Prawira berdiri tepat di depan pot yang pecah itu.
Hasilnya? Prawira dituduh merusak pot, kena omel satu jam, dan ujung-ujungnya disuruh ganti rugi lima ratus ribu karena pot itu katanya antik dari zaman Belanda.
"Sialan! Surat itu benar!" umpat Prawira saat pulang dengan dompet yang mendadak kempes.
Besoknya, surat kedua datang.
"Wira, kowe pancen ngeyel. Sudah kubilang jangan lewat sana malah nekat. Sekarang dengerin: Besok jangan beli nomor buntut 45. Yang keluar itu 89. Tapi lebih baik jangan judi, Mas. Uang judimu itu lebih berkah kalau buat beli beras ibumu."
Prawira merenung. Dia mencoba mengetes lagi. Dia tidak beli nomor 45, tapi dia nekat beli nomor 89. Dan... tembus! Prawira menang besar. Dia merasa seperti raja kecil di desanya.
"Wah, ini bukan surat peringatan, ini surat kekayaan!" seru Prawira kegirangan.
Tapi, Gusti Allah mboten sare. Kemenangan judi itu membawa petaka. Prawira jadi sombong, dia mulai sering mabuk-mabukan di warung remang-remang, kerjaannya di kantor terbengkalai, dan dia mulai meremehkan nasihat ibunya.
Surat ketiga datang, kali ini kertasnya agak basah, seolah terkena tetesan air mata.
"Wira, selamat ya sudah jadi orang kaya baru. Tapi tahu nggak? Gara-gara uang judi itu, ibumu jatuh sakit karena sedih melihat kelakuanmu, dan kamu nggak ada di rumah saat beliau butuh dibawa ke puskesmas. Uangmu habis buat bayar denda karena kamu menabrak pagar rumah orang saat mabuk. Ingat Wira, 'Sapa nandur bakal ngundhuh'. Kamu sedang menanam duri di jalanmu sendiri."
Prawira gemetar. Dia lari pulang. Benar saja, ibunya sedang terbaring lemah dengan wajah pucat. Prawira menangis sesenggukan di kaki ibunya. Dia sadar, surat-surat dari "dirinya di masa depan" itu bukan untuk menjadikannya sakti atau kaya, tapi untuk memperingatkannya agar tidak kehilangan hati nurani.
"Ibu, maafkan Wira..." rintihnya.
Ibu Prawira hanya mengelus rambut anaknya. "Nduk, urip iku dudu soal pinter milih dalan sing kepenak, nanging bener milih dalan sing lurus. (Hidup itu bukan soal pintar memilih jalan yang enak, tapi benar memilih jalan yang lurus)."
Malam itu, Prawira mengambil semua sisa uang judinya. Dia memberikannya ke panti asuhan dan sebagian untuk biaya berobat ibunya. Dia membakar semua surat-surat misterius itu.
"Aku nggak butuh tahu masa depan," gumam Prawira. "Kalau aku tahu semua kesalahanku sebelum itu terjadi, aku nggak akan pernah belajar jadi manusia yang lebih baik."
Tiba-tiba, di dasar tumpukan surat yang hampir jadi abu, ada satu carik kertas kecil yang belum terbakar. Isinya hanya satu kalimat:
"Nah, gitu dong. Akhirnya kamu pinteran dikit. Salam dari aku yang sekarang giginya mulai tumbuh satu lagi lewat behel. Semangat, Mas!"
Prawira tersenyum satir. Dia mematikan api, lalu masuk ke rumah untuk membuatkan teh hangat buat ibunya. Dia tidak lagi peduli siapa yang mengirim surat itu, apakah itu keajaiban waktu atau hanya imajinasinya yang sedang lelah. Yang dia tahu, hidup yang paling indah adalah hidup yang dijalani dengan waspada, tanpa perlu tahu apa yang ada di balik tikungan esok hari.
Sebab, sepandai-pandainya kita membaca surat dari masa depan, kita tidak akan pernah bisa membaca rencana Tuhan yang jauh lebih rahasia.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Sing wis kelakon, lakonono. Sing durung kelakon, entenono. Sing lagi lakon, eling lan waspodo.”
(Yang sudah terjadi, jalanilah. Yang belum terjadi, tunggulah. Yang sedang terjadi, ingatlah dan waspadalah.)



.gif)

Posting Komentar untuk "CERPEN Endik Koeswoyo : SURAT DARI VERSI DIRIKU"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...