TUYUL SCBD - Cerpen Horor Komedi Satire oleh: Endik Koeswoyo



Bambang menatap nanar saldo ATM-nya di layar ponsel. Angkanya lebih mirip kode pos daripada biaya hidup: 12.500. Padahal ini baru tanggal 15. Di luar jendela kamar kosnya yang sempit di kawasan Karet, gedung-gedung pencakar langit SCBD (Sudirman Central Business District) berkelap-kelip sombong. Tempat dia bekerja, "HustleHub", ada di salah satu gedung itu. Ironis. Dia bekerja di pusat perputaran uang, tapi dompetnya sendiri mengalami kemarau panjang.

"Gila. Gue butuh passive income," gumam Bambang. "Yang bener-bener pasif. Gue diem, duit dateng."

Pandangannya tertumbuk pada sebuah paket kecil yang baru saja diantar kurir. Kotak kayu jati belanda dengan stiker fragile dan tulisan: "PESUGIHAN STARTUP KIT: TUYUL EDITION (LITE VERSION)".

Ya, Bambang nekat. Dia membelinya dari Dark Web lokal—sebuah forum Kaskus lama yang sudah mati suri. Harganya miring karena flash sale malam Jumat Kliwon.

Dengan tangan gemetar, Bambang membuka kotak itu. Asap kemenyang beraroma vanilla latte menyeruak. Di dalam kotak, sesosok makhluk kecil berkepala pelontos, berkulit abu-abu pucat, sedang duduk bersila sambil memegang... smartphone mainan?

Makhluk itu mendongak. Matanya besar, tapi tidak merah menyeramkan. Lebih terlihat seperti mata anak magang yang kurang tidur.

"Bambang ya?" suara makhluk itu cempreng tapi artikulasinya jelas. "Gue Ucup. Tuyul assign lo. By the way, sandi Wi-Fi kosan apaan? Gue perlu sinkronisasi data dulu sama pusat."

Bambang melongo. "Lu... Tuyul? Kok nggak nyolong? Malah minta Wi-Fi?"

Ucup berdiri, tingginya cuma selutut Bambang. Dia tidak memakai celana dalam putih polos seperti di film-film jadul, melainkan memakai diaper bermerek mahal. "Hello? Ini era 4.0, Mas. Kita kerjanya agile. Mana ada Tuyul keluyuran malem-malem doang. Itu mah old school."

"Oke, oke," Bambang berusaha menguasai diri. "Tugas lu simpel, Cup. Kantor gue. Lantai 13. Ruangan CEO gue, Pak Burhan. Di sana ada brankas fisik. Isinya cash operasional. Ambil."

Ucup menghela napas panjang, wajahnya langsung suntuk. "Lantai 13? Mas, sorry to say nih ya. Itu medannya berat. Energinya toxic banget. Gue bisa kena burnout kalau dipaksa kerja di sana."

"Heh! Lu tuyul apa anak magang Jaksel?!" bentak Bambang frustrasi. "Gue udah bayar mahar! Kerjain atau gue kasih rating bintang satu ke dukun lu!"

Mendengar ancaman rating, Ucup langsung sigap. "Siap, Mas. Tapi inget ya, sesuai SOP, gue nggak kerja lewat jam 5 sore. Work-life balance itu penting buat kesehatan mental lelembut."

Malam itu, Gedung Menara Prosperity tampak angker. Lampu-lampu sebagian besar sudah padam, kecuali di Lantai 13, tempat kantor "HustleHub" berada. Bambang menyelinap masuk menggunakan akses kartu karyawannya. Jantungnya berdegup kencang. Dia membawa tas ransel besar. Ucup duduk santai di pundaknya, mengunyah permen yupi.

"Sepi, Mas. Aman," bisik Ucup.

Mereka sampai di depan ruangan Pak Burhan. Pintunya terbuat dari kaca tebal buram. Di dalamnya, Pak Burhan menyimpan uang tunai hasil penghindaran pajak—rahasia umum di kantor itu.

"Masuk, Cup. Lewat celah pintu," perintah Bambang.

Ucup melompat turun. Dia merangkak, menembus pintu kaca seperti menembus asap. Bambang menunggu di luar, keringat dingin membasahi kemeja flanelnya.

Satu menit. Dua menit. Terdengar suara gaduh dari dalam. GUBRAK! MEONG!

"Meong?" Bambang bingung. Pak Burhan tidak pelihara kucing.

Tiba-tiba pintu kaca terbuka. Ucup terlempar keluar, menggelinding di lantai karpet. Dia bangkit dengan wajah pucat (lebih pucat dari biasanya).

"Mas! Cancel Mas! Abort mission!" teriak Ucup panik.

"Kenapa? Ada satpam?"

"Bukan! Di dalem ada Senior!"

Sebelum Bambang sempat bertanya, suhu ruangan mendadak turun drastis. Lampu lorong berkedip-kedip. Dari dalam ruangan Pak Burhan, muncul sosok tinggi besar, berbulu hitam lebat, dengan mata merah menyala. Sosok itu mengenakan seragam satpam yang kekecilan hingga kancingnya mau meledak, lengkap dengan lanyard ID Card bertuliskan: GENDERUWO - HEAD OF SPIRITUAL SECURITY.

Bambang ternganga. Kakinya lemas. "Mampus."

Si Genderuwo menatap Bambang, lalu menatap Ucup. Suaranya berat menggelegar seperti subwoofer rusak.

"HMM... ANAK BARU YA?"

Ucup bersembunyi di belakang kaki Bambang. "Iya, Om. Maaf, Om. Saya cuma jalanin jobdesc dari User saya ini." Ucup menunjuk Bambang.

Genderuwo itu menghela napas, asap keluar dari hidungnya. Tiba-tiba aura seramnya hilang. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan rokok klobot.

"Sama. Saya juga cuma jalanin jobdesc," kata si Genderuwo, nadanya tiba-tiba lelah. "Si Burhan itu... pelitnya minta ampun. Saya udah jaga brankas dia dua puluh tahun, sesajennya cuma dikasih kembang tujuh rupa yang udah layu. Mana THR kemaren cuma dikasih dupa curah."

Bambang memberanikan diri. "Lho? Bapak kerja buat Pak Burhan?"

"Kontrak mati, Mas," jawab Genderuwo itu sedih. "Namanya Pak Sumo. Dulu saya 'diikat' sama bapaknya Burhan. Sekarang diwariskan ke anaknya. Toxic management. Saya mau resign tapi ijazah ghaib saya ditahan dukun perusahaan."

Ucup memberanikan diri keluar dari persembunyian. "Wah, itu pelanggaran HAM (Hak Asasi Makhluk) tuh, Om! Bisa dilaporin ke Serikat Pekerja Alam Gaib."

Pak Sumo (si Genderuwo) mengangguk. "Makanya itu. Saya sebenernya udah males jaga duit dia. Kalian mau ambil? Ambil aja. Tapi bagi dua ya. Saya butuh modal buat buka angkringan di Alas Purwo."

Bambang dan Ucup saling pandang. Sebuah aliansi tak terduga terbentuk di Lantai 13.


Keesokan harinya, kantor "HustleHub" gempar. Brankas Pak Burhan kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda kerusakan paksa. CCTV hanya merekam pintu yang terbuka sendiri dan—anehnya—sebuah bayangan samar yang terlihat seperti Genderuwo sedang melakukan high-five dengan makhluk kecil botak.

Pak Burhan stres berat, rambutnya yang sudah tipis makin rontok. Dia tidak bisa lapor polisi karena itu uang ilegal. Dia juga tidak bisa marah ke karyawan karena ketakutan setengah mati mengira kantornya dikutuk.

Sementara itu, di sebuah warteg dekat kosan.

Bambang sedang makan enak: Nasi, ayam goreng, sayur lodeh, plus es teh manis. Di hadapannya, Ucup sedang asyik menghisap sari pati dari sepiring sate kambing (karena tuyul nggak makan dagingnya).

"Lumayan lah, Mas," kata Ucup sambil bersendawa. "Dapet segini bisa buat upgrade skill. Gue mau ikut bootcamp 'Coding for Spirits'. Biar besok-besok bisa nyolong Bitcoin, nggak perlu capek fisik."

Bambang tertawa kecil. "Terserah lu, Cup. Yang penting utang gue lunas. Terus Pak Sumo gimana?"

"Oh, Om Sumo happy. Tadi malem dia langsung cabut. Katanya mau pensiun dini, fokus jualan sate gagak."

Bambang tersenyum. Dia menatap gedung SCBD dari kejauhan. Ternyata, untuk bertahan hidup di hutan beton Jakarta, kadang kita tidak butuh kerja keras atau kepintaran semata. Kadang, kita cuma butuh sedikit bantuan dari teman yang 'beda frekuensi' dan solidaritas antar sesama budak korporat—baik yang napak tanah maupun yang melayang.

"Minggu depan kita sikat ruangan HRD ya, Mas?" tanya Ucup polos. "Gue denger mereka motong gaji karyawan buat 'dana sosial' tapi nggak pernah disalurin."

Bambang menyeringai. "Gas, Cup. Gas."

- SEKIAN -






Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk " TUYUL SCBD - Cerpen Horor Komedi Satire oleh: Endik Koeswoyo "

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress