PELET SALAH ALAMAT - Cerepen Romantis Komedi Mistis oleh: Endik Koeswoyo




Jomblo di Ujung Tanduk - Mamat (25) menatap pantulan wajahnya di layar ponsel yang retak seribu. Biasa saja. Hidung standar, mata standar, dompet... di bawah standar. Satu-satunya yang luar biasa dari Mamat adalah tingkat kehaluannya.

Dia sedang stalking Instagram Story Karina, primadona kampus sekaligus influencer lokal dengan pengikut 50K. Di layar, Karina sedang membuat konten "A Day in My Life" yang isinya cuma ketawa-ketiwi cantik di kafe mahal.

"Karina itu ibarat bidadari yang turun dari kayangan, tapi Google Maps-nya error jadi nyasar di Depok," gumam Mamat pada cicak di dinding kamar kosnya.

Cicak itu hanya berdecak, seolah mengejek nasib Mamat yang sudah jomblo sejak Lahir Masehi.

Putus asa adalah bahan bakar paling efektif untuk tindakan bodoh. Malam itu, didorong oleh rasa iri melihat teman sekamarnya yang gonta-ganti pacar setiap minggu, Mamat membuka situs dark web lokal (sebenarnya cuma forum jual beli barang antik yang mencurigakan di halaman 10 pencarian Google).

Matanya tertumbuk pada sebuah iklan dengan font merah menyala dan latar belakang gambar keris berapi:

"SOLUSI CINTA INSTAN: PELET ASMARA 'SEMAR MESEM V.4.0' (Kearifan Lokal Berbasis Teknologi). GARANSI JODOH ATAU UANG KEMBALI (S&K Berlaku: Setelah potong admin 80%)."

Tanpa pikir panjang—karena memang sedang tidak punya pikiran jernih—Mamat menekan tombol "Beli Sekarang" menggunakan sisa saldo dompet digitalnya.

Tiga hari kemudian, paket itu tiba. Dibungkus plastik hitam berlapis lakban cokelat, kotaknya berbau campuran antara dupa dan parfum melati murah. Isinya: sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah muda yang agak glittery, dan secarik kertas instruksi yang ditulis tangan dengan huruf cakar ayam.

INTRUKSI PEMAKAIAN:

1. Target harus dalam radius 5 meter.

2. Oleskan minyak di jempol, lalu tiup ke arah target sambil baca mantra: 'Hong wilaheng, target keno pelet, jadi lengket kayak perangko, gak bisa minggat. Kun fayakun!'

3. PENTING: Jangan sampai salah sasaran. Resiko ditanggung penumpang.

"Oke. Simpel. Besok, Karina akan jadi milikku," Mamat tersenyum licik di depan cermin, berlatih meniup jempolnya dengan gaya cool.

Hari eksekusi tiba. Kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis sedang ramai. Karina duduk di meja sudut, dikelilingi tiga cowok perlente yang berebut membayarkan siomay-nya.

Mamat mengintai dari balik tiang beton, jantungnya berdegup seperti musik house di klub malam murah. Dia sudah mengoleskan minyak "Semar Mesem V.4.0" di jempol kanannya. Baunya menyengat, seperti campuran bunga kuburan dan bubble gum.

Jaraknya pas, lima meter. Mamat menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian (dan tenaga dalam). Dia mulai merapal mantra dalam hati.

"Hong wilaheng, target keno pelet..."

Mamat memajukan bibirnya, siap meniup.

Tiba-tiba, seorang mahasiswa yang lewat di depannya menjatuhkan nampan berisi soto ayam panas. PRANG! Uap panas soto itu menyambar hidung Mamat.

Refleks tubuh mengambil alih. Hidung Mamat gatal luar biasa.

"HAA... HAAA... HAAAA-CHIIIMMM!!!"

Bukan tiupan cool yang keluar, melainkan ledakan bersin dahsyat. Jempol Mamat yang berminyak pelet tersentak ke kanan, mengubah arah lintasan "energi cinta" secara drastis.

Energi tak kasat mata itu melesat melewati Karina, melewati tukang siomay, dan menghantam telak sosok yang baru saja muncul dari pintu samping kantin.

Bu Broto (55).

Ibu kos Mamat. Janda kaya raya pemilik lima pintu kontrakan, yang terkenal dengan daster batiknya, roll rambut yang tak pernah lepas, dan tagihan listrik yang mencekik leher. Dia datang ke kampus untuk menagih tunggakan kos Mamat yang sudah telat dua minggu.

Waktu seakan berhenti.

Bu Broto, yang tadinya memasang wajah garang siap menerkam, tiba-tiba terpaku. Matanya mengerjap-ngerjap. Pupil matanya melebar. Dia menatap Mamat yang masih mengusap hidung pasca-bersin.

Mamat menatap balik dengan horor. "Mampus."

Perlahan, senyum merekah di wajah Bu Broto. Bukan senyum sinis seperti biasa, tapi senyum malu-malu kucing. Dia membetulkan letak roll rambutnya dengan gerakan manja.

"Mas Mamat..." suara Bu Broto berubah, dari oktaf tinggi yang memekakkan telinga menjadi desahan manja yang bikin merinding bulu kuduk. "Kok... hari ini kamu kelihatan... bercahaya ya?"

Mamat mundur selangkah, menabrak gerobak bakso. "Bu... Bu Broto? Ibu sehat? Mau nagih kosan kan? Saya bayar besok, Bu! Sumpah!"

Bu Broto mengibaskan tangannya. "Ah, Mas Mamat bisa aja. Soal uang kosan mah gampang. Yang penting itu... hati kamu. Masih kosong kan kayak kamar nomor 3?"

Karina menoleh, melihat pemandangan absurd itu dengan jijik. Mamat ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.

Mamat pikir mimpi buruknya berakhir di kantin. Ternyata, itu baru prolog.

Sore harinya di kosan, Mamat sedang mencoba mencari "antivirus" pelet di Google dengan kata kunci panik: cara membatalkan pelet salah alamat urgent, doa menghadapi ibu kos yang agresif.

TOK! TOK! TOK!

"Mas Mamatooo... Sayanggg... Buka dong pintunya."

Itu suara Bu Broto. Tapi nadanya seperti ABG yang sedang kasmaran.

Dengan tangan gemetar, Mamat membuka pintu sedikit. Bu Broto berdiri di sana. Dasternya sudah berganti dengan dress merah menyala yang agak kekecilan. Roll rambutnya sudah hilang, diganti dengan tatanan rambut sasak tinggi ala biduan dangdut tahun 90-an. Make-upnya tebal, dan baunya... bau minyak pelet yang sama persis dengan yang dipakai Mamat.

"Nih, Ibu bawain opor ayam spesial buat pangeran Ibu," Bu Broto menyodorkan rantang dengan kedipan mata genit. "Dimakan ya, biar kuat menghadapi kenyataan kalau kita memang jodoh."

"Bu... sadar, Bu. Istighfar. Saya ini Mamat, anak kos Ibu yang nunggak listrik," Mamat berusaha menyadarkan.

"Justru itu! Kalau kita nikah, kan kamu nggak perlu bayar kos lagi. Malah Ibu kasih uang jajan. Gimana? Win-win solution kan?" Bu Broto maju selangkah, mencoba menyentuh pipi Mamat.

Mamat menjerit tertahan dan membanting pintu. Dia mendengar Bu Broto terkikik geli di luar. "Ih, Mas Mamat mainnya jual mahal. Ibu suka deh yang menantang gini. Tunggu nanti malam ya, Ibu mau bacain puisi cinta di depan jendela kamu."

Mamat merosot di balik pintu. Dia menatap botol minyak pelet di tangannya. Dia ingin mendapatkan cinta sejati, tapi malah mendapatkan teror psikologis dari juragan kontrakan.

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari Karina. Jantung Mamat mau copot. Apa Karina akhirnya sadar akan eksistensinya?

Dia membuka pesan itu.

Karina: Eh, tadi di kantin lo sama nyokap lo ya? Gaul banget nyokap lo dandanannya. Salam ya.

Mamat melempar ponselnya ke kasur. Dia menatap langit-langit kamar. Di luar, terdengar Bu Broto mulai menyanyikan lagu "Kemesraan" dengan suara fals yang penuh penghayatan.

Malam ini akan menjadi malam yang sangat, sangat panjang bagi Mamat.

Pukul 02.00 dini hari. Suara nyanyian Bu Broto akhirnya berhenti, berganti dengan suara dengkuran yang getarannya terasa sampai ke tulang rusuk Mamat.

Mamat mengintip dari lubang kunci. Bu Broto tertidur pulas di depan pintu kamarnya beralaskan tikar pandan, memeluk guling yang ditempeli foto Mamat (entah dapat dari mana, sepertinya hasil crop foto KTP fotokopian). Persis seperti penjaga makam setia, tapi versi horor romantis.

"Gue harus keluar. Gue harus cari dukun sialan itu," bisik Mamat.

Lewat pintu depan? Mustahil. Itu sama saja membangunkan Singa Betina yang sedang birahi. Satu-satunya jalan keluar adalah jendela kecil di kamar mandi umum yang tembus ke gang sempit.

Dengan gerakan lambat ala Mission Impossible—tapi versi kearifan lokal menggunakan sarung sebagai tali—Mamat memanjat. Saat mendarat di gang becek, dia terpeleset kulit pisang (klise, tapi efektif buat komedi). GEDEBUK!

"Meong!" Kucing oren Bu Broto yang juga kena pelet menatapnya dari atas tembok. Tatapannya penuh cinta.

"Sssst! Jangan berisik, Meng! Kita putus!" bisik Mamat panik sambil lari terbirit-birit sebelum si kucing membangunkan majikannya.

Mamat memesan ojol. Tujuannya adalah alamat pengirim paket pelet itu yang tertera di resi: "Warung Internet & Spiritual Solution - Cyber Dukun 88, Tebet."


Mamat sampai di sebuah ruko yang dipenuhi asap wangi beraroma cheesecake. Ternyata tempat itu adalah Vape Store yang merangkap warnet game online.

Di meja kasir, duduk seorang pria kurus, rambut dicat silver, memakai kaos band metal tapi kalungnya tasbih digital. Dia sedang meracik liquid vape sambil live TikTok.

"Ki... Ki Suroso?" tanya Mamat ragu sambil menunjukkan botol pelet kosong.

Pria itu menoleh. "Sstt! Di sini panggil gue Ki Joko Vape. Kenapa? Review produk? Kalau manjur jangan lupa bintang lima, Gan."

"Manjur ndasmu!" Mamat menggebrak meja (pelan, takut kualat). "Ini salah sasaran, Ki! Kena ibu kos saya! Sekarang dia agresif banget, saya takut diperkosa secara batin dan dompet!"

Ki Joko Vape menyesap vapenya, lalu menghembuskan asap membentuk cincin-cincin kecil. Dia mengambil iPad Pro-nya, membuka aplikasi primbon.excel.

"Coba saya cek log activity-nya... Wah, parah ini, Bro. Lu bersin pas uploading mantra ya? Sinyalnya jadi corrupt. Energinya bouncing ke entitas terdekat dengan aura dominan."

"Ya, Bu Broto emang dominan banget, Ki! Galaknya kayak Firaun!" seru Mamat frustrasi. "Tolong balikin normal, Ki. Saya bayar deh. Pakai paylater bisa?"

Ki Joko menggeleng dramatis. "Nggak semudah itu, Ferguso. Pelet Semar Mesem V.4.0 itu sistemnya auto-lock. Sekali kena, dia bakal subscribe seumur hidup."

Mamat lemas. Lututnya menyentuh lantai keramik warnet yang dingin. "Terus nasib saya gimana? Masa saya harus jadi bapak tiri temen seangkatan saya?"

"Ada satu cara..." Ki Joko menatap tajam. "Cara manual. Unsubscribe paksa."

"Caranya?" mata Mamat berbinar.

"Lu harus bikin dia ilfil (hilang feeling). Lu harus bikin dia benci sama lu, semurni-murninya benci, sampai dia sendiri yang ngucapin kata: 'AKU JIJIK SAMA KAMU!' tiga kali berturut-turut di bawah hujan."

Mamat melongo. "Cuma itu?"

"Cuma itu. Tapi inget, Bro. Efek samping pelet ini bikin target buta logika. Tai kucing rasa cokelat. Lu ngupil aja bakal kelihatan estetik di mata dia. Good luck."

Mamat pulang dengan misi baru: Menjadi Cowok Paling Menyebalkan Sedunia.

Pagi harinya, Bu Broto sudah menunggu di depan kamar dengan nampan sarapan: Nasi goreng bentuk hati (warna merah karena kebanyakan angkak).

"Pagi, Mas Mamat Cayanggg..." sapa Bu Broto.

Mamat memulai aksinya. Dia keluar kamar hanya memakai celana kolor bolong dan kaos dalam yang sudah kuning di bagian ketiak. Rambutnya sengaja diacak-acak seperti sarang tawon, dan dia menempelkan nasi kering di pipinya. Dia juga sengaja tidak sikat gigi selama 12 jam.

"Minggir, Bu. Saya mau kentut," kata Mamat dingin, lalu dia mengangkat satu kaki dan memaksakan suara kentut (lewat mulut, karena kentut beneran susah dikontrol). PROT!

Reaksi Bu Broto?

Dia malah menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca terharu.

"Ya ampun... Mas Mamat adalah kita banget. Jujur, apa adanya, natural... Suara kentutnya maskulin banget, beda sama almarhum suami Ibu yang fals. Ibu makin cinta deh." Bu Broto memeluk lengan Mamat yang bau keringat.

Mamat menepuk jidat. Misi gagal total.

Dia mencoba level 2. Siang harinya, saat Bu Broto sedang arisan ibu-ibu komplek di teras, Mamat keluar membawa sampah basah yang baunya busuk. Dia sengaja menumpahkan sampah itu di depan tamu-tamu Bu Broto.

"Ups. Tumpah. Bersihin gih," kata Mamat kasar, berharap Bu Broto malu dan marah.

Ibu-ibu arisan melongo. "Jeng Broto? Itu anak kosan berani banget nyuruh-nyuruh?"

Bu Broto malah tersenyum bangga. "Kalian nggak ngerti seni. Dia itu lagi cosplay jadi aktivis lingkungan yang memberontak pada kemapanan. Duh, jiwa rebel-nya itu lho... sexy."

Mamat berlari masuk kamar, menangis di pojokan. "Ki Joko Vapèèè!!! Gimana cara bikin dia ilfil kalau gue nafas aja dianggap seni???"

Tiba-tiba, sebuah ide gila (dan berbahaya) muncul di kepala Mamat. Satu-satunya hal yang dibenci Bu Broto melebihi telat bayar kos adalah: Hantu Masa Lalu.

Bu Broto benci banget sama mantan suaminya yang selingkuh dengan penyanyi dangdut. Kalau Mamat bisa mengubah penampilannya menjadi mirip mantan suami Bu Broto yang dibenci itu... mungkin, hanya mungkin, peletnya bisa luntur.

Tapi masalahnya, Mamat butuh foto si mantan suami. Dan foto itu tersimpan di tempat paling keramat: Kamar Tidur Utama Bu Broto.


Mamat berhasil menyusup ke kamar Bu Broto saat sang juragan sedang luluran di kamar mandi. Dengan napas tertahan, Mamat menemukan "harta karun" di lemari paling bawah: Satu setelan baju safari warna kuning gading, celana cutbrai, sabuk kulit ular imitasi, dan peci hitam yang sudah agak jamuran. Ini adalah baju kebesaran Pak Sastro (mantan suami Bu Broto) saat dulu menggoda biduan dangdut.

Mamat memakainya. Dia juga menggambar kumis tebal melintang dengan spidol permanen dan memakai kacamata hitam riben murah.

"Gila. Gue lebih mirip tukang obat di pasar malam daripada Pak Sastro," gumam Mamat.

Sesuai instruksi Ki Joko Vape, Mamat harus menunggu hujan. Dan seakan semesta mendukung penderitaannya, langit Depok yang galau tiba-tiba menurunkan hujan deras disertai petir.

Inilah saatnya. Showtime.


Mamat berdiri di tengah halaman kosan, basah kuyup. Dia berteriak memanggil nama keramat itu.

"SRIII!!! SRI WAHYUNI BROTO!!!"

Pintu utama terbuka. Bu Broto keluar, masih memakai handuk di kepala ala turban. Matanya yang terkena pelet langsung berbinar melihat sosok di halaman.

"Mas Mamat? Kok ujan-ujanan... eh?"

Langkah Bu Broto terhenti. Matanya menyipit. Efek pelet "Cinta Buta" di otaknya sedang bertarung hebat dengan memori visual "Kebencian Abadi". Sosok di depannya adalah Mamat (yang dia cintai karena pelet) tapi berwujud Pak Sastro (bajingan tengik yang dia benci setengah mati).

Sistem syaraf Bu Broto mengalami korsleting.

"Kamu..." suara Bu Broto bergetar. "Kenapa kamu pake baju Si Buaya Darat itu?!"

Mamat memasang pose paling menyebalkan. Dia berkacak pinggang, lalu meniru gaya bicara Pak Sastro yang sengak.

"Sri! Dengerin aku! Aku nggak pernah cinta sama kamu! Masakanmu hambar! Dastermu bau bawang! Dan kucingmu itu jelek kayak tikus got!"

DHUARRR! Petir menyambar pohon mangga tetangga sebagai efek dramatis.

Wajah Bu Broto memerah padam. Urat lehernya menonjol. Hawa panas menguar dari tubuhnya, mengalahkan dinginnya hujan. Pelet di tubuhnya mulai luntur, digantikan oleh murka dendam kesumat masa lalu.

"Kurang ajar..." desis Bu Broto. Dia mengambil sapu lidi yang tergeletak di teras.

"Ayo Sri! Katakan!" teriak Mamat putus asa. "Katakan kalau kamu jijik sama aku!"

Bu Broto menerjang maju, mengayunkan sapu lidi seperti pendekar silat mabuk. PLAK! Pukulannya mendarat telak di pantat Mamat.

"DASAR LAKI-LAKI TIDAK TAHU DIUNTUNG! AKU BENCI! AKU MUAK! AKU JIJIK SAMA KAMU!!!"

Tiga kali. Kata ajaib itu terucap.

Angin kencang berhembus. Bu Broto tiba-tiba mematung. Matanya berkedip cepat, seolah baru bangun dari hipnotis. Dia melihat sekeliling, bingung. Lalu dia melihat Mamat yang basah kuyup, berkumis spidol, memakai baju mantannya, dan memegang pantat yang perih.

"Mas Mamat?" suara Bu Broto kembali normal (cempreng dan galak). "Ngapain kamu pake baju mantan suami saya? Maling ya?!"

Mamat sujud syukur di atas paving block yang becek. "Alhamdulillah! Ibu udah sadar! Ibu udah nggak cinta lagi sama saya!"

"Cinta?! Idih, amit-amit jabang bayi! Muka kayak kanebo kering gitu siapa yang mau cinta! Bayar kosan sana! Kalau enggak, baju ini saya sita buat lap pel!"

Mamat tertawa bahagia meski dimaki. Dia bebas. Dia selamat.

Keesokan harinya, Mamat merasa seperti terlahir kembali. Dia berjalan ke kampus dengan percaya diri. Pelet sudah hilang, utang kosan... yah, masih ada, tapi setidaknya dia tidak perlu menikah dengan ibu kos.

Di gerbang kampus, keajaiban terjadi. Karina, sang pujaan hati, berdiri di sana. Dia menatap Mamat.

"Mamat, kan?" panggil Karina.

Jantung Mamat berhenti. "I-iya, Kar?"

Karina berjalan mendekat. Wajahnya tersipu malu. "Gue liat lho kejadian kemaren sore. Gue kebetulan lewat depan kosan lo pas ujan-ujanan."

"Mampus," batin Mamat. "Hancur imej gue."

Tapi Karina malah tersenyum manis. "Sumpah, itu so sweet banget. Lo rela dimaki-maki, rela ujan-ujanan, cuma demi balikin mood ibu kos lo kan? Lo pasti lagi bikin konten eksperimen sosial tentang respect ke orang tua kan? Gue terharu banget. Cowok yang sayang sama ibu-ibu itu... sexy."

Mamat melongo. Logika cewek cantik memang sulit dipahami. Tapi dia tidak peduli. Ini kesempatan emas!

"Ehh... iya! Bener banget, Kar. Itu demi konten... eh, kemanusiaan," jawab Mamat gagah.

Karina mendekat, jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Mamat bisa mencium aroma parfum mahal Karina.

"Gue suka cowok yang humble dan unik kayak lo," bisik Karina. Dia memejamkan mata, memajukan wajahnya.

Mamat memejamkan mata. Akhirnya. Ciuman pertama!

Tiba-tiba...

HATCHIIIIMMM!!!

Karina bersin tepat di wajah Mamat. Cipratan droplet membasahi wajah Mamat.

Mamat membuka mata, kaget. "Eh, sorry, lo flu Kar?"

Karina membuka matanya. Tapi ada yang aneh. Pupil matanya melebar. Senyum manisnya berubah menjadi senyum yang sangat familiar. Senyum genit yang mengerikan.

Karina mencolek dagu Mamat.

"Duh, Mas Mamat..." suara Karina berubah. Bukan suara merdunya yang biasa, tapi logatnya tiba-tiba medok Jawa Timuran, persis suara Bu Broto. "Kok gemes banget sih? Jadi pengen nagih... nagih janji suci kita."

Mamat mundur teratur. "Kar? Lo kenapa?"

Dari belakang Mamat, muncul Bu Broto yang berlari-lari kecil dengan wajah panik.

"Mas Mamat! Mas Mamat! Gawat!" teriak Bu Broto.

"Kenapa lagi, Bu?!"

"Tadi Ki Joko Vape nelpon! Katanya dia salah kirim barang! Itu bukan Minyak Pelet Semar Mesem!"

"Terus itu apa?!"

"Itu 'VIRUS CINTA JANDA V.Beta'! Itu virus uji coba biologis! Nularnya lewat droplet atau bersin! Siapa pun yang bersin di depan kamu setelah virusnya aktif, jiwanya bakal ketempelan database karakter saya!"

Mamat menoleh ke Karina perlahan.

Karina (dengan jiwa Bu Broto) sedang membetulkan rambutnya, lalu tiba-tiba berteriak ke satpam kampus dengan galak. "HEH PAK! ITU PAGER DITUTUP! LISTRIK MAHAL TAU! JANGAN BOROS!"

Lalu Karina menatap Mamat lagi, tersenyum manja. "Mas Mamat, nanti malem temenin Mama Karina kerokan ya? Masuk angin nih."

Di belakang Karina, tiga mahasiswi cantik lainnya yang kebetulan lewat juga tiba-tiba bersin berjamaah. HATCHIM! HATCHIM! HATCHIM!

Ketiga mahasiswi itu serentak menoleh ke Mamat, mata mereka berbinar genit.

"Mas Mamatoo..." koor mereka bersamaan, dengan nada manja yang sama persis.

Mamat berdiri di tengah kerumunan bidadari kampus yang kini semuanya berjiwa ibu kos galak.

Mamat menatap langit, lalu berteriak.

"KI JOKO VAPEEEEEE JANC****KKKK!!!!"

Layar menggelap. Terdengar suara notifikasi WA: Ting! Pesan dari Ki Joko: "Gan, sorry, antivirusnya belum rilis. Tunggu update tahun depan ya. Bintang limanya ditunggu!"

- SEKIAN -






Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "PELET SALAH ALAMAT - Cerepen Romantis Komedi Mistis oleh: Endik Koeswoyo "

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress