BISIKAN DARI LAUT
Cerpen oleh Endik Koeswoyo
Premis: Seorang ayah yang dililit utang mengeksploitasi anak kandungnya yang mengidap savant syndrome (autisme dengan kecerdasan observasi luar biasa) sebagai "dukun cilik" penyembuh. Ia menerjemahkan gumaman jujur sang anak menjadi wangsit gaib bernilai jutaan rupiah, hingga sebuah diagnosis palsu berujung pada hilangnya nyawa dan amukan massa yang membakar habis keserakahannya.
Deburan ombak Pantai Serang memecah karang, mengirimkan buih-buih putih yang menyapu pasir cokelat di pesisir Blitar Selatan. Di bawah terik matahari yang menyengat, Banyu, seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun, duduk berjongkok di batas air pasang. Tangannya yang mungil dan kotor oleh pasir sibuk memilah-milah potongan kayu laut—ranting-ranting driftwood yang terkikis halus oleh garam dan ombak.
Banyu tidak bermain seperti anak-anak nelayan lainnya yang berlarian mengejar kepiting. Ia menyusun kayu-kayu itu dalam barisan yang presisi, mengurutkannya dari warna yang paling terang hingga yang paling gelap, lalu mengukurnya dengan jengkal jari agar simetris sempurna. Banyu hidup di dunianya sendiri. Sebuah dunia yang sunyi dari percakapan, namun bising oleh detail, pola, dan ingatan visual yang tak pernah bisa dihapus oleh otaknya.
Di gubuk bambu yang berjarak lima puluh meter dari tempat Banyu berjongkok, Karsan menatap anak semata wayangnya itu dengan rahang mengeras. Karsan adalah pria paruh baya yang selalu merasa dunia berutang padanya. Dulu, ia mencoba peruntungan dengan mengumpulkan limbah kayu laut itu, mencucinya, dan merangkainya menjadi lampu hias estetik. Namun, kesabaran bukanlah keahlian Karsan. Saat lampu-lampunya tak kunjung laku di pasar seni, ia meminjam uang dari rentenir untuk modal sabung ayam, yang tentu saja berujung pada kebangkrutan total. Istrinya minggat meninggalkannya dua tahun lalu, tak tahan dengan tabiat Karsan dan kondisi Banyu yang tak pernah mau menatap mata siapa pun saat diajak bicara.
"Anak cacat, bisanya cuma nyusun sampah! Nggak bisa disuruh bantu ngarit rumput!" umpat Karsan sambil menenggak sisa kopi hitamnya yang sudah dingin. Utangnya pada rentenir sudah tembus dua puluh juta. Besok lusa, gubuk reotnya ini akan disita.
Namun, sore itu, roda nasib Karsan berputar ke arah yang mengerikan.
Bu Tejo, tetangga sebelah yang kaya raya berkat bisnis tambak udang, datang bertamu sambil menangis histeris. Gelang emas seberat dua puluh gram peninggalan almarhum ibunya hilang. Ia sudah menggeledah seluruh rumah dan memarahi semua pembantunya, tapi hasilnya nihil.
"Karsan! Kamu tadi pagi lewat depan rumahku kan? Kamu lihat ada orang mencurigakan masuk ke pekaranganku nggak?!" cecar Bu Tejo, matanya menatap Karsan dengan penuh curiga. Sebagai pengangguran banyak utang, Karsan adalah tersangka nomor satu di desa itu.
"Lho! Kok nuduh saya, Bu! Saya dari pagi cuma duduk di teras ini ngopi!" Karsan membela diri, nadanya meninggi.
Perdebatan mereka yang bising membuat Banyu yang baru saja kembali dari pantai merasa terganggu. Bocah itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, merintih pelan, lalu berjongkok di sudut ruangan. Matanya yang tak pernah fokus tiba-tiba menatap ke arah sepatu bot karet yang dipakai Bu Tejo.
"Kuning. Bulat. Jatuh. Celah bambu. Dekat karung pakan udang. Jam tujuh pagi. Burung gereja terbang," gumam Banyu cepat, nyaris seperti mesin yang membaca kode.
Bu Tejo terdiam. Karsan mengernyitkan dahi.
"Ngomong apa anakmu itu, San?"
"Biasa, Bu. Kumat gilanya," jawab Karsan asal.
Namun, Bu Tejo yang putus asa tiba-tiba teringat sesuatu. Jam tujuh pagi, ia memang sedang berdiri di dekat gudang pakan udang yang lantainya terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong. Saat itu ada burung gereja yang terbang mengagetkannya.
Tanpa mempedulikan Karsan, Bu Tejo berlari pulang. Setengah jam kemudian, ia kembali dengan napas ngos-ngosan, wajahnya pucat pasi, namun di tangannya tergenggam gelang emas yang hilang itu.
"Gusti Allah! Karsan! Anakmu ini... anakmu ini wali! Dia bisa melihat yang gaib!" Bu Tejo langsung bersujud di depan Banyu yang sedang sibuk menyusun kayu lautnya. Ia menyelipkan lima lembar uang seratus ribuan ke tangan Karsan. "Gelangnya benar-benar nyelip di celah lantai bambu di bawah karung pakan! Darimana Banyu tahu kalau bukan dibisiki malaikat?!"
Karsan menatap lima lembar uang merah di tangannya. Otak liciknya langsung bekerja, merangkai sebuah peluang bisnis yang jauh lebih menguntungkan daripada merakit lampu hias dari kayu busuk. Banyu tidak dibisiki malaikat. Banyu memiliki ingatan eidetik fotografis. Bocah itu merekam setiap detail visual yang ia lewati tanpa sengaja—kapan jatuhnya, di mana tempatnya, dan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi bagi warga desa yang percaya klenik, penjelasan medis tak akan laku dijual. Keajaiban gaiblah yang selalu diburu orang.
"Iya, Bu Tejo," Karsan mengubah intonasi suaranya menjadi berat dan berwibawa. "Sebenarnya sudah lama Banyu ini sering trance, ngobrol sama leluhur Pantai Selatan. Cuma saya rahasiakan. Tolong jangan bilang siapa-siapa."
Tentu saja, menyuruh Bu Tejo tutup mulut sama saja dengan menyiarkan berita lewat corong masjid.
Hanya dalam waktu tiga hari, gubuk Karsan berubah menjadi tempat ziarah. Orang-orang dari penjuru desa, bahkan dari kecamatan lain, datang berbondong-bondong. Mereka datang dengan berbagai masalah: mencari barang hilang, meminta nomor togel, hingga memohon kesembuhan penyakit misterius.
Karsan mendekorasi ruang tamunya. Ia membakar kemenyan dan dupa, menggelar karpet merah murahan, dan memakaikan Banyu sebuah jubah hitam kedodoran lengkap dengan blangkon.
Bagi Banyu, ruangan itu adalah neraka sensorik. Asap kemenyan membuat hidungnya perih. Suara bising orang-orang yang berebut masuk membuatnya pusing. Tatapan mata mereka yang penuh harap dan bau keringat yang bercampur aduk membuat Banyu terus-menerus menutup telinga dan menggoyangkan badannya ke depan dan ke belakang—sebuah mekanisme koping autistik untuk menenangkan diri dari overload sensorik.
Namun, bagi para pasien dan Karsan, goyangan badan Banyu itu diklaim sebagai proses "pemasukan roh suci".
"Lihat! Anak ajaibnya sudah mulai kemasukan! Rohnya sedang turun!" seru Karsan kepada kerumunan. Ia kemudian meletakkan sebuah baskom berisi air kembang di depan Banyu.
Seorang warga, Pak Narto, maju ke depan. Wajahnya kusut. "Mbah Banyu... eh, Nak Banyu. Sawah saya bulan ini diserang hama terus. Gimana solusinya?"
Banyu menatap ujung celana Pak Narto. Ada bercak lumpur kehitaman dengan bau spesifik yang dikenali Banyu dari ingatannya saat berjalan-jalan.
"Bau solar. Tumpah. Airnya hitam. Mati," gumam Banyu datar, menatap lantai. Kenyataannya, Banyu hanya mengingat bahwa ada jerigen solar milik traktor yang bocor dan merembes ke saluran irigasi sawah Narto, membunuh tanaman di sekitarnya.
Tapi Karsan, sang penerjemah yang serakah, langsung menepuk pundak Narto dengan gaya teatrikal. "Nah! Dengar itu? Tanahmu sudah dikutuk karena ada energi hitam pekat yang ditanam pesaingmu! Kamu harus siram air kembang dari baskom ini ke empat penjuru sawahmu setiap tengah malam! Mahar airnya lima ratus ribu!"
Narto mengangguk penuh syukur dan merogoh dompetnya tanpa ragu.
Dalam dua bulan, kehidupan Karsan berubah seratus delapan puluh derajat. Utang rentenirnya lunas. Gubuk bambunya dirobohkan dan diganti dengan rumah tembok permanen berlapis keramik mengilap. Di garasinya terparkir sebuah mobil MPV baru. Karsan memakai cincin akik bermata merah di setiap jarinya.
Namun, di balik kemewahan itu, tubuh kecil Banyu semakin kurus kering. Jam tidurnya dirampas. Karsan memaksanya "buka praktik" dari pagi hingga larut malam. Setiap kali Banyu menangis menolak, Karsan akan mengancam membuang semua koleksi kayu laut kesayangannya. Kayu-kayu itu adalah satu-satunya jangkar kewarasan Banyu di tengah dunia yang bising ini. Demi melindungi kayu-kayunya, Banyu terpaksa duduk di tengah asap kemenyan, bergumam tentang apa saja yang ia lihat, membiarkan ayahnya menenun kebohongan dari bibir kecilnya yang jujur.
Keserakahan selalu membutakan mata dari jurang kehancuran, hingga akhirnya Karsan melakukan kesalahan fatal.
Malam Jumat Kliwon itu, hujan turun dengan sangat deras. Seorang pria tambun digotong masuk ke ruang praktik Karsan oleh istri dan anak-anaknya. Pria itu adalah Juragan Mulyo, tengkulak beras terkaya di Blitar Selatan. Wajah Juragan Mulyo pucat pasi kekuningan, napasnya tersengal, dan ia memegangi perut bagian kanan bawahnya sambil mengerang kesakitan. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Pak Karsan! Tolong bapak saya!" jerit anak perempuan Mulyo sambil menangis. "Sudah dua hari muntah-muntah dan demam tinggi! Tadi mau dibawa ke RSUD Wlingi, tapi bapak maksa mau ke sini saja minta air doa Banyu! Tolong, Pak!"
Karsan melihat dompet kulit tebal yang menonjol di saku celana Mulyo. Matanya langsung hijau. Ini klien VIP. Kalau ia menyuruh Mulyo ke rumah sakit, uang itu akan jatuh ke laci kasir apotek, bukan ke kantongnya.
"Tenang! Jangan dibawa ke medis! Medis itu nggak ngerti penyakit gaib!" cegah Karsan dengan nada meyakinkan. Ia menarik Banyu yang sedang tertidur kelelahan di sudut ruangan, mendudukkannya paksa di depan Mulyo.
"Ayo, Nyuk! Lihat Juragan Mulyo! Bisikan apa yang kamu dengar?!" desak Karsan, mencubit pinggang Banyu dari belakang agar bocah itu terbangun.
Banyu membuka matanya yang sayu. Ia menatap perut Mulyo yang membengkak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah seekor kecoak yang mati terbalik di sudut ruangan akibat semprotan racun serangga tadi sore. Perut kecoak itu pecah dan mengeluarkan cairan kuning.
"Pecah. Kuning. Bau busuk. Berhenti bergerak," gumam Banyu polos, mendeskripsikan kecoak itu.
Karsan tersenyum lebar. Ia menoleh pada keluarga Mulyo dengan ekspresi sok suci. "Dengar itu?! Banyu bilang, ada santet berupa nanah kuning yang mau pecah di dalam perut Juragan! Kalau sampai dibawa ke dokter dan dibedah pisaunya, santetnya bakal menyebar ke seluruh tubuh dan dia langsung mati!"
Istri Mulyo menangis makin keras. "Terus gimana, Pak Karsan?!"
"Juragan Mulyo harus minum jamu racikan khusus dari saya. Ekstrak akar kayu laut dan doa. Pantangannya, jangan minum obat kimia apa pun selama tiga hari. Biarkan jamunya yang mengikat racun santet itu," Karsan memberikan sebuah botol berisi air keruh—yang sebenarnya hanya sisa teh basi yang dicampur tanah pekarangan. "Maharnya, lima juta rupiah. Penyakit seberat ini butuh energi gaib yang sangat besar."
Keluarga Mulyo tanpa pikir panjang langsung menghitung uang lima juta secara tunai, menyerahkannya pada Karsan, meminumkan air kotor itu ke mulut Mulyo, dan menggotongnya pulang menembus hujan.
Karsan menutup pintu rumah mewahnya, mencium tumpukan uang merah itu, dan tertawa penuh kemenangan. Ia tidak tahu, bahwa diagnosis buta yang ia ciptakan dari gumaman seorang anak autis tentang kecoak mati, baru saja memvonis mati seorang manusia.
Tiga hari kemudian, langit Blitar Selatan seolah runtuh.
Tepat pukul sembilan malam, suara raungan mesin puluhan motor dan pikap memecah keheningan desa. Ratusan pria membawa obor, celurit, dan balok kayu mengepung rumah mewah Karsan. Teriakan marah menggema mengalahkan suara deburan ombak di kejauhan.
"Kaluar kowe, Karsan! Dukun penipu! Pembunuh!" teriak seorang pemuda dari luar pagar. Itu adalah anak laki-laki Juragan Mulyo.
Karsan yang sedang menghitung uang di ruang tengah tersentak kaget. Ia mengintip dari balik gorden jendela. Darahnya berdesir hebat melihat ratusan massa dengan wajah beringas siap merobohkan pagar besinya.
Pintu rumah digedor dengan sangat kasar hingga engselnya nyaris jebol. Karsan tak punya pilihan selain membukanya sedikit dengan tangan gemetar.
"A-ada apa ini, Mas?! Kok bawa senjata segala?!" suara Karsan mencicit ketakutan.
Anak Juragan Mulyo maju, mencengkeram kerah baju Karsan, dan meludah tepat di wajahnya. "Bapakku mati sore tadi, Bajingan! Dokter rumah sakit bilang usus buntunya sudah pecah berhari-hari dan infeksi parah! Kalau saja malam itu kami langsung bawa ke RSUD bukannya ke tempatmu, nyawanya masih bisa diselamatkan! Kau bunuh bapakku pakai teh basi campur tanah, keparat!"
Karsan pucat pasi. Lututnya lemas seketika. "I-itu bukan salah saya! Banyu yang bilang! Anak saya yang dapat wangsit! Santetnya terlalu kuat!"
Mendengar Karsan masih berani menyalahkan anak kecilnya yang berkebutuhan khusus, kemarahan massa meledak tak terkendali.
Buuug! Sebuah balok kayu menghantam pelipis Karsan hingga ia tersungkur ke lantai berlumuran darah. Massa meringsek masuk. Mereka menghancurkan TV layar datar, memecahkan kaca jendela, dan menumpahkan bensin ke atas karpet ruang tamu. Mobil MPV baru di garasi dihancurkan kacanya dan dibakar.
Di tengah kekacauan yang mengerikan itu, Karsan merangkak mencari Banyu. Ia menemukan anak itu meringkuk di sudut kamarnya, menutupi kedua telinganya sambil menangis tanpa suara, memeluk erat sekeping kayu laut berbentuk lengkungan ombak.
Seseorang dari kerumunan, Pak Narto—yang sadar bahwa selama ini ia juga ditipu—menyeret Karsan keluar rumah menuju halaman. Beberapa warga yang masih punya akal sehat segera mengamankan Banyu, menggendong bocah yang tak berdosa itu menjauh dari lokasi, membawanya ke rumah Pak RT untuk diserahkan ke Dinas Sosial.
Karsan tertelungkup di atas tanah berdebu di halaman rumahnya. Matanya yang membengkak hanya bisa menatap nanar saat api melahap habis rumah mewahnya. Uang jutaan rupiah yang ia simpan di dalam lemari hangus menjadi abu beterbangan di udara.
Ia kehilangan segalanya. Hartanya, kebebasannya, dan satu-satunya harta berharga yang tak pernah ia syukuri: anak kandungnya sendiri. Karsan dipenjara bukan hanya karena kasus penipuan, tapi karena jeratan pasal kelalaian yang menyebabkan kematian.
Di dalam sel tahanan yang dingin dan sempit, tak ada lagi kemenyan atau uang ratusan ribu. Karsan hanya bisa menatap dinding yang kosong, dihantui oleh bayangan keserakahannya sendiri. Ia akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang tak terbantahkan. Tuhan tidak pernah membisikkan wahyu lewat kepolosan seorang anak untuk mencari kekayaan. Justru, Tuhan sedang membisikkan sebuah ujian, dan Karsan telah gagal dengan sangat hina karena memilih mendengarkan suara iblis di dalam dadanya sendiri.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Aja dadi wong tuwa sing tega ngadol getih lan eluhe anake dhewe mung kanggo nuruti hawa nepsu dunya. Bondo sing teka saka penderitaane bocah sing ora duwe dosa, bakal dadi geni neraka sing ngobong omahmu lan nglebur uripmu dadi awu.”
(Jangan menjadi orang tua yang tega menjual darah dan air mata anaknya sendiri hanya untuk menuruti hawa nafsu dunia. Harta yang datang dari penderitaan anak tak berdosa, akan menjadi api neraka yang membakar rumahmu dan melebur hidupmu menjadi abu.)



.gif)

Posting Komentar untuk "BISIKAN DARI LAUT Cerpen oleh Endik Koeswoyo"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...