SKETSA DI ATAS DEBU Cerpen oleh Endik Koeswoyo



SKETSA DI ATAS DEBU

Cerpen oleh Endik Koeswoyo

Di depan Alun-Alun Blitar, tepat di bawah bayangan pohon beringin yang lebih sering jadi tempat kencing sembarangan daripada tempat bertapa, duduklah seorang pria bernama Genthong. Nama aslinya mungkin lebih ningrat, tapi karena perutnya membuncit akibat terlalu banyak menenggak air keran dan jarang makan nasi, warga sekitar sepakat memanggilnya Genthong.

Genthong adalah seorang pelukis. Tapi jangan bayangkan pelukis necis yang pameran di galeri Jakarta dengan segelas wine di tangan. Genthong adalah pelukis trotoar yang kuasnya terbuat dari bulu ekor kuda lumping sisa pertunjukan keliling, dan palet warnanya adalah campuran cat kiloan dengan minyak goreng jelantah.

Genthong punya satu kutukan—atau mungkin berkah yang salah alamat. Dia tidak bisa melukis wajah orang yang ada di depannya. Kalau kamu minta dilukis, dan wajahmu sedang kinclong-kinclongnya karena habis perawatan skincare mahal, Genthong tetap akan menghasilkan lukisan wajahmu dua puluh tahun mendatang. Keriput, kantung mata sebesar dompet rentenir, dan tatapan mata yang sudah bosan hidup.

"Gusti! Iki fotoku opo foto ibukku?!" teriak seorang ibu-ibu sosialita kampung yang baru saja menyerahkan uang sepuluh ribu.

Genthong hanya nyengir, memperlihatkan giginya yang tinggal dua dan warnanya mirip jagung bakar. "Itu masa depan, Bu. Anggap saja peringatan dini supaya mulai rajin sedekah sebelum wajah Ibu mirip kerupuk kaleng kelamaan di warung."

Gara-gara itu, Genthong jarang punya pelanggan. Siapa juga yang mau bayar sepuluh ribu cuma buat dihina oleh masa depannya sendiri?

Namun, ada satu orang yang tidak pernah takut. Namanya Sekar. Gadis itu bekerja di minimarket seberang jalan. Setiap jam lima sore, sebelum sif kerjanya selesai, Sekar selalu mampir membawakan segelas kopi plastik hangat—yang seringkali adalah sisa promo "beli satu gratis satu" yang tidak laku.

"Mbah Genthong, kopinya. Biar otaknya nggak kering kayak aspal JLS," sapa Sekar sambil meletakkan gelas kopi di samping kanvas kosong Genthong.

Genthong menatap Sekar. Gadis itu cantik, dengan lesung pipit yang menurut Genthong lebih berbahaya daripada tikungan tajam di Kademangan. Tapi anehnya, setiap kali Genthong mencoba mengangkat kuas untuk menggambar Sekar, tangannya mendadak kaku seperti terkena serangan rematik mendadak.

"Kenapa, Mbah? Takut ya lihat aku jadi nenek-nenek?" canda Sekar.

"Nggak, Nduk. Masalahnya, aku nggak yakin masa depanmu itu punya tempat di kanvas butut ini," gumam Genthong sambil menyeruput kopinya yang lebih banyak rasa gula daripada rasa kopi.

Satu bulan berlalu. Blitar sedang panas-panasnya, tipe panas yang membuat orang bisa menggoreng telur di atas kap mobil dinas bupati. Sekar tetap rutin membawakan kopi. Dan Genthong tetap rutin menolak melukisnya. Bagi warga sekitar, ini adalah komedi gratis. Seorang gelandangan jenius yang naksir pelayan minimarket, tapi terlalu gengsi buat bikin sketsa gratisan.

"Mbah, besok aku terakhir kerja. Aku mau pulang ke dusun atas di Bakung. Mau kawin sama anak juragan kambing pilihan bapak," ucap Sekar sore itu. Nadanya datar, tapi matanya menyiratkan rasa pahit yang lebih pekat dari kopi Genthong.

Genthong terdiam. Ia menatap Sekar lama sekali. Ia tahu, di balik wajah ayu itu, ada jiwa yang sedang diseret paksa menuju pelaminan yang tidak diinginkan.

"Ya sudah. Sini, Nduk. Duduk yang manis. Sebelum kamu jadi milik juragan kambing, biar tak gambar wajahmu. Kenang-kenangan buat aspal jalanan ini," ucap Genthong akhirnya.

Sekar tersenyum, lesung pipitnya muncul untuk terakhir kalinya. Ia duduk tegak di atas kursi plastik yang kakinya sudah pincang satu. Genthong mulai menari. Kuas bulu kudanya bergerak liar. Ia mencampur warna merah bata dengan putih kapur. Ia tidak melihat Sekar, ia menatap langit Blitar yang mulai berubah jingga keunguan.

Tiga puluh menit berlalu. Keringat membasahi kaos oblong Genthong yang bertuliskan "Pilih Nomor 1: Sejahtera untuk Semua".

"Sudah, Nduk. Jangan dilihat sekarang. Bawa pulang, buka kalau kamu sudah sampai rumah," pesan Genthong sambil menyerahkan kanvas yang masih basah itu, dibungkus koran bekas yang memuat berita harga cabai naik.

Sekar mengangguk, memeluk lukisan itu, dan melangkah pergi menembus keramaian Alun-Alun.

Malam harinya, di bawah lampu kamar yang temaram di Desa Bakung, Sekar membuka bungkusan koran itu dengan tangan gemetar. Ia membayangkan dirinya akan melihat wajah wanita paruh baya berusia empat puluh tahunan yang mungkin sudah kusam karena asap dapur dan bau prengus kambing.

Namun, saat bungkusan itu terbuka, Sekar menjerit tertahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan.

Di atas kanvas itu, Genthong tidak melukis wanita paruh baya. Ia melukis seorang bayi merah yang sedang menangis kencang. Bayi itu digambar dengan sangat detail—setiap gurat kemerahan di kulitnya, tali pusar yang baru dipotong, dan mata yang masih terpejam erat. Di pojok bawah lukisan, Genthong menuliskan tanggal dengan tinta hitam: 14 Maret 2026.

"Mbah Genthong sudah gila..." bisik Sekar. "Ini kan foto bayi? Apa hubungannya sama masa depanku?"

Keesokan paginya, gemparlah Alun-Alun Blitar. Genthong si pelukis gila ditemukan meninggal dunia dalam posisi duduk bersandar di pohon beringin, masih memegang kuasnya. Di depannya, ada satu tulisan di aspal yang dibuat pakai kapur tulis: “Tugas saya selesai. Masa depan sudah lahir.”

Di saat yang hampir bersamaan, di Rumah Sakit Mardi Waluyo, tepat di seberang jalan tempat Genthong biasa mangkal, seorang ibu muda baru saja melahirkan bayi perempuan yang sehat. Ayah dari bayi itu adalah seorang polisi yang sedang menangani jenazah Genthong di trotoar.

Seorang jurnalis lokal yang sedang meliput kematian Genthong—Galeh, yang juga teman Genthong—tak sengaja melihat foto bayi di ponsel polisi tersebut. Ia tertegun. Wajah bayi itu identik dengan lukisan bayi yang ada di laporan ponsel polisi tersebut.

Galeh menatap jenazah Genthong, lalu menatap minimarket yang kini tutup karena berduka. Ia teringat sesuatu. Ia mengecek arsip berita lama di laptopnya.

Dua puluh tahun yang lalu, tepat pada tanggal 14 Maret 2006, telah terjadi kecelakaan maut di depan Alun-Alun Blitar. Seorang gadis kecil berumur tujuh tahun tewas tertabrak truk pengangkut pasir saat menyeberang jalan untuk membelikan ayahnya segelas kopi. Nama gadis itu adalah Sekar. Ayahnya? Seorang pelukis yang kemudian menjadi gila karena depresi dan menghabiskan sisa hidupnya di trotoar.

Galeh gemetar. Jadi, selama ini siapa yang membawakan kopi untuk Genthong setiap sore?

Ternyata, Sekar yang selama ini menemani Genthong adalah sisa-sisa memori dan rasa cinta yang menjelma menjadi nyata bagi mata tua Genthong. Genthong menolak melukis Sekar karena ia tahu Sekar tidak punya masa depan—Sekar sudah mati dua puluh tahun lalu.

Dan lukisan bayi itu? Itu adalah cara alam semesta memberi tahu Genthong bahwa jiwa anaknya sudah kembali ke dunia, lahir kembali di rumah sakit yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat ia mengembuskan napas terakhir.

Di trotoar Alun-Alun Blitar, segelas kopi plastik sisa kemarin masih berdiri di sana. Isinya sudah dingin, tapi asap tipis seolah masih mengepul dari dalamnya, membawa aroma robusta dan rindu yang akhirnya tuntas dibayar oleh waktu.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Wektu kuwi mung saderma muter, sing ilang bakal bali kanthi wujud sing beda. Aja nangisi masa lalu sing wis dadi lebu, merga ing saben tangis bayi sing nembe lair, ana pangarep-arep anyar sing sejatine jawaban saka donga-donga sing biyen tau mbok ucapake.”

(Waktu itu hanya sekadar berputar, yang hilang akan kembali dengan wujud yang berbeda. Jangan tangisi masa lalu yang sudah jadi debu, karena di setiap tangis bayi yang baru lahir, ada harapan baru yang sejatinya jawaban dari doa-doa yang dulu pernah kamu ucapkan.)


Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "SKETSA DI ATAS DEBU Cerpen oleh Endik Koeswoyo"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress