twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Kamis, 13 Desember 2007

Untuk Dek Ratih



“Kenapa kamu? Tiap hari kerjanya duduk aja di atas genteng? Jatuh mampus! Eh udah gitu senyam-senyum kayak orang gila!”
***

Aku masih ingat ucapan sabatanku itu. Aku juga tau kalau sekarang seperti orang gila. Duduk sendiri di taman halaman samping. Menikmati can da sepasang burung –yang entah apa namanya-. Malam harinya, aku memilih duduk di tersa depan, melihat langit sambil menunggu dengar nada sambung prinadi yang tidak diangakat-angakat oleh pemiliknya di ujung nan jauh di sana.

Angin malam tadi membuatku gerah dan tidak bisa tidur. Hari sudah pagi ketika aku baru pulang dari warnet. Jenuh, jengkel karena komputer itu lama sekali loding-nya. Pekerjaan harus dikirim malam ini juga. Huh dasar! Friendster, ya...teman-teman bisuku disana hanya tertawa, tersenyum melihatku yang super BT. Kenapa? Kenapa kalian sahabat mayaku? Ayolah kasih saran temanmu ini. Aku ingin hidup normal dan bisa tertawa seperti layaknya kalian yang punya banayk teman dan keluarga yang utuh. Aku? Aku sendiri lupa wajah Ibuku kalau tidak melihat fotonya, apalagi Bapakku! Aku sangat-sangat lupa, bagaiamana tidak, ketika aku bertemu dengan bapak, daya otak ingatku telah menurun tajam, sudah terbagi dengan lintingan ganja, berbotol-botol alkohol dan ribuan batang rokok. Singkatnya aku telah gede gitu dech ketika ketemu bapak. Udah lulus smp 2tahun. Gila nggak keluargaku? Oh tidak, keluargaku sebenarnya sangat bahagia. Wakakakakakakkak....he...he....hick...hick...

Ah...kembali pada Dek Ratih
Ratih? Ratih siapa?

Aku juga tidak tau batang hidungnya, aku juga tidak pernah melihat sebening apa matanya. Aku belum pernah mencium seharum apa aroma tubuhnya, atau malah dia hanya kuntilanak yang menyamar sebagai dewi malam aku juga tidak pernah. Yang jelas dia mengaku bernama Ratih. Seorang gadis yang -usianya juga aku tidak tau- mengaku sedang melakukan Koas (semacam ujian untuk mendapatkan gelar dokter kali ya?) di pinggiran kota Bantul. Entah angin mana ketika aku berada di warnet, aku melohat-lihat puluhan manusia, gadis-gadis cantik disana. Aku jadi bingung, tapi yang jelas, malam itu aku menemukan sebaris angka-angka terjajar rapi. Keisengan laki-lakiku muncul. Kutekan nomer itu lalu terdengarlah sebuah lagu di ujung sana. Dengan cepat aku mematikannya.
Ya...pagi tiba, lalu aku pulang setelah keisenganku berlalu. Kamar pengap dengan bau asap rokok menyengat kini menjadi tempatku. Rumah kontrakan ini sunyi, penghuni lainnya telah terlelap dalam mimpi. Aku alau merebahkan diri dikasur. Memandang langit-langit yang penuh bercak basah kebocoran atapnya. Benda kecil unik kesayanganku itu berdering. Aku lalu mengangkatnya...biasalah basa-basi.
“Hallo...selamat pagi...”ucapku sedikit gemetar takut si pemilik suara marah.
“Hallo siapa nich?” ucap suara itu agak judes-judes ketus.
Aku menyebutkan namaku.
“Oh...kamu tau dari mana nomerku?” tanyanya lagi semakin sengak.
“Di ‘fs’ tapi aku juga bingung kamu yang mana. Aku buka-buka ‘fs’ trus ketemu. Cuma iseng sich tadi. Eh malah kamu telpon sekarang. Maaf ya.” Ucapku memberikan sebuah penjelasan.
”Iya...ya udah...”
“Eh tunggu bentar, kamu siapa?” sahutku cepat.
“Ratih....”
“Ratih di mana?”
“Eh...kamu temenku ya? Mau ngerjain akukan? Ya udah dech!”
Tut...tut...tut....
Putus sudah obrolan itu. Ah tidak, aku tidak seperti yang dituduhkannya. Aku harus memberi penjelasan kalau aku bukan temannya. Ketekan tombol ‘call’ setelah menemukan nomer panggilan masuk.
“Hallo Mbak Ratih, maaf sekali ya, aku bukan temenmu. Serius aku ga’ sengaja menemuakan nomer ini.”
Dari obrolan pagi itulah aku menjadi seperti sekarang ini. Terseyum sendiri, sedih sendiri, bangga sendiri, pokoknya semua berkecamuk jadi satu.
Tapi kenapa?
Aku bercerita panjang lebar mengenai diriku padanya. Tentang aku, semuanya aku ceritakan dengan pebuh kejujuran. Dari siapa aku hingga masa laluku yang pahit. Bodohnya aku tidak begitu bertanya banyak padanya malam itu. Malah aku yang selalu disodori pertanyaan. Aneh...suaranya yang sedikit judes-judes, sengak itu mampu memukau untuk terbang kelangit tinggi. Kauh melayang entah sampai kemana. Begini...aku memang jarang berbicara dengan wanita yang tidak aku kenal secara langsung, tapi dengannya aku seakan terhipnotis dan aku meneceritakan semuanya. Tentang mantan keluarga kecilku yang hancur, tentang anakku yang kini tinggal dengan ibunya, dan tentang manntan istriku yang kini telah mempunyai suami baru dan anak baru. Semuanya aku ceritakan. Semuanya....
Baru kali ini juga ada yang percaya dengan kehidupanku yang konyol itu (kalau aku tidak ‘gr’. Rasa inngintau remaja membuat obrolankami ngelantur kemasalah yang sedikit rabu. Seks! SEXS. Irulah yangterjadi malam-malam berikutnya. Dia si gadis dengan suara unik itu menelponku ketika malam tiba. Menanyakan tentang masalah-masalah seputar seks. Bercanda, tertawa bangkan ngakak bersama. Kami spertinya sudah snagat dekat dan akrab.
Suatu malam, ketika aku sedang rapat dia menelponku. Sekitar jam 11 malam.
“Hallo, kamu di mana?” sapanya malam itu.
“Ehm...aku masih di cafe, rapat sama temen-temen. Mau bikin sinetron komedi untuk tv lokal.”
“Ya...udah, cepet pulang, masuk kamar! Aku telpon setengah jam lagi.”
“Iya dech...”sahutku pelan.
Setengah jam kemudian dia memang menelponku. Tapi aku masih belum pulang, aku masih bersama dengan teman-teman. Di tempat yang sama.
“Hallo...kamu dimana? Berisik banget!?”
“Masih ditempat yang sama.”
Dia diam sejenak.
“Ya udaj dech! Kita ga usah telpon-telponan lagi.”
Tut.....tut....
Aku menatik nafas panjang.
Sesaat kemudian sebuah sms kuterima.
“Mulai sekarang kamu jangan telpon aku lagi. Lupakan semua tentang pertemanan kita. Hapus nomerku, dan jangan pernah menelponku lagi.”
Sejak sms itu aku baca, Ratih tidak pernah mau mengangkat nomerku. Bahkan ketika aku memakai nomer temen-temenku. Sungguh, keedihan itu sangat aku rasakan. Sahabat, teman, atau siapapun ratih. Hanya dia yang bisa membuatku bahagia. Hanya dia.
Hampir sebulan aku selalu memikirkan tentang Ratih, Ratih dan selalu saja Ratih yang muncul. Candanya, tawanya, suaranya yang menghipnotis, jujur, terus terang dan apa adanya. Sungguh suara itu membuatku gila. Bulan puasa tiba, lalu aku tidak pernah mencoba untuk menghubunginya lagi.
Ini puasa terakhirku, walau sebenarnya aku termasuk kedalam golongan yang bebarannya bukan hari ini. Besok juga masih ada takbir. Tapi aku pernah membaca dalam sebuah buku, diharamkan berpuasa setelah mendengar takbir berkumanadang. Kalau tidak salah intinya seperti itu. Ah...itu hanya perbedaan yang sengaja dibuat menurut, dan itu tidak penting dalam kisah ini. Yang penting, pagi ini, seiring gema takbir aku teringat lagi sebuah Nama di ponselku ‘Ratih Kedokteran UGM’. Pagi, jam 04:43.
“Sepohon kayu daunnya rimbun...”
Laguitu yang kudengar...
“Hallo siapa ini?” sahutnya dengan ketus.
“Ini aku, seseorang yang selalu mengharapkan suramu.”
“Hallo sayang....muach...muach....miss you apa kabar? Kok ga perneh nelpon? Udah ngasih THT sama Tegar?”
Aku tersenyum kecil sambil geleng-geleng. Dasar gadis yang aneh.
“Kabarku baik, aku di Jogja ga mudik kok. Kamu?”
“Baik! Maaf lahir batin ya sayang...trus ga bisa ketemu Tegar donk? Emang ga kengen?”
Aku hanya mampu menelan ludah mendengar kata-kata itu terucap lagi. Dia masihingat cerita tentang Tegar putraku itu.
“Kamu di mana?” tanyaku.
“Aku di Medan ketempat nenek. Kok kamu bisa menghilang begitu lama sech? Maaf ya smsku yang dulu.”
“Iya, ga apa-apa kok.”
“Serius maaf ya...maaf...”
Sejak pagi itu, aku seakan menemukan sebuah angin segar dalam hidupku. Dia, Ratih kutemukan kembali. Suarnya yang indah kuengar lagi pagi ini. Obrolan panjang itu terputus oleh adzan subuh.
Lalu sederet kalimat sms memenuhi handphonku.
24/10 09:51
Met lbrn ya, gw sayang ma lu..Gw lg dirumah kumpul ma keluarga
24/10 12:02
Lg ngapain syng, jngn lp shalat dhuzur ya, abiz itu mkn. Jg ksehatan ya
25/10 10:40
Lg ngapain syngku. Met b’aktifitas yah
25/10 19:31
Lg ngapain kekasihku, uda dpt inspirasi blum tuk novelnya. Kirimin novel km dounk!
25/10 22:26
Lg ngpain+dmn syng? Km pake flexyya, harga hpnya brapa?Cdma yg bgs apa? Tolong rekomendasinya ya syng, met istirahat y cintaku.Jgn bgadang, slm buat tegar
25/10 10:47
Cr info hp cdma y syng? Kpn gw dpt infonya..jgn bgadang. Jg kshtn

Hanya saja siapa dia sebenarnya? Aneh, unik, suaranya memukauku. Kini aku hanya bisa tersenyum mengaharap sms datang, mengharap dia telpon (karena kalau aku yang telpon tidak diangkat). Aku juga bingung kenapa. Dari hati kecilku, dia benar-benar seorang perempuan yang sangat mempunyai daya tarik dari suaranya.
***
“Kamu jatuh cinta dengan seorang gadis yang tidak jelas bentuknya?” tanya seorang sahabtaku pagi itu.
“Iya,...” sahutku pelan.
“Lamu tergila-gila dengan Ratih hanya lewak obrolan dan sms di hanphone?”
“Iya...”
“Kamu jadi gila seperti ini hanya gara-gara dia?”
“Iya.”
“Kamu?”
“Iya, iya, iya. Apapaun yang kamu tanyakan mengenai Ratih aku hanya bisa menjawabnya ‘Iya’. Kamu harus tau...langit itu itu tinggi dan kamu tidak akan pernah bisa mencaainya. Hanya saja kamu masih bisa bermimpi untuk terbang setinggilangit.”
“Ah....sok puitis loe! Kalau dia jelek? Kalau dia tifak seperi bayanganmu? Kalau dia bukan calon dokter? Kalau dia bukan gadis baik-baik?
“Itulah yang harus kamu tau kawan. Siapapun dia, atau apapun dia. Mau Dokter, mau pelacur, mau nenek-nenek, mau hantu sekalipun. Aku masih berhak untuk jatuh cinta padanya. Cinta itu mistis kawan. Hanya bisa di mengerti oleh cinta itu sendiri.”
Ya...angin pagi yangtak sejuk lagi mengentarkan senyumku untuk kesekian kalinya ketika aku melihat benda kecilku ini. 25 kali panggilan keluar. Dengan nomer yang sama. Aku sadar, Ratih masih sangat misterius dalam diriku. Pagi ini saja 12 kali panggilanku tidak diangkatnya satupun. Padahal sms terakhir yang aku terima tertulis seperti ini;a memukauku.dupku. dia,di ponselku Ratih Kedokteran UGM. istriku yang kini telah
26/10 02:56
Bo2 lah syng. Jgn bgadang. jg kshatan. Sori bgt tlat bls sms km,uda shalat?
Jam5bangunin adek tuk sholat subuhya,thx bgtnya
Sore ini...26/10/2006 5 kali smsku tak satupun yang dibalasnya...hanya saja, rasa ingin selalu mendengar suaranya masih ammpu mengalahkan rasa lapar diprutku yang belum makan dari tadi pagi. Hari ini, aku telah benar-benar gila oleh persaan yang aku ciptakan sendiri.
Untuk Dek Ratihku sayang...aku mohon...jangan sembunyikan dirimu darku. Ijinkanlah aku menjabat tanganmu sekali saja. Aku hanya ingin bilang kalau aku sayang kamu. Sekali saja, setelah itu bila kamu ingin aku akan segera pergi dari hidupmu. Sekali saja Dek Ratih...Sekali saja....bisikkan kata sayang itu didekat telingaku, agar aku bisa menyimpannya untuk selamanya dalam hati kecilku...hingga aku bisa terbang kelangit tinggi dan melihatmu bahagia dari sana...sekali lagi, aku mohon datanglah padaku sekali saja, sebelum malaikat maut menjemputku dan mengantarku kelangit tinggi...
The End
jogja ketika aku sendiri diantara gema takbir
ga mudik kali ya?

1 komentar:

  1. mMm paragraph terakhirnya bener2...duh menyentuh hati dech. Untuk Dek Ratih is the second best cerpen in Detak dalam Detik E-Novel

    BalasHapus

Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN