CERPEN : ORANG YANG MENCURI UMUR
Darma Gandul—namanya terdengar gagah tapi nasibnya ringkih. Darma adalah seorang kolektor barang antik yang juga kolektor kerutan di dahi. Dia sangat benci jadi tua. Baginya, uban itu seperti rayap yang memakan kayu jati; harus dibasmi atau kamu akan roboh.
Suatu malam, Darma menemukan sebuah jam pasir di pasar loak bawah tanah desa Wana Keling. Jam itu tidak berisi pasir, tapi asap berwarna merah marun yang bergerak seperti cacing.
"Ini apa, Mbah?" tanya Darma pada penjualnya, seorang kakek yang kulitnya sudah keriput seperti kerupuk kulit yang kelamaan di rendam air.
"Itu Pencabut Nyawa Cilik, Mas," jawab si Mbah santai.
"Maksudnya?"
"Tinggal putar ke kiri di depan orang yang lagi tidur."
"Terus?"
"Umur mereka pindah ke sampeyan setahun. Tapi ya ada harganya."
"Uang?"
"Bukan. Nurani."
Darma tertawa. "Nurani nggak bisa bikin saya awet muda, Mbah. Saya beli!"
Malam itu juga, Darma mencoba pada asisten rumah tangganya, Bono, yang sedang tidur mendengkur di paviliun. Darma memutar jam pasir itu. Sret... Asap merah itu masuk ke hidung Darma. Seketika, pegal-pegal di punggung Darma hilang. Kerutan di matanya memudar.
Besok paginya, Bono bangun dengan punggung bungkuk.
"Aduh, Mas Darma... kok saya mendadak encok ya?" tanya Bono sambil memegang pinggang.
"Faktor usia itu, Bon. Kamu kurang olahraga," jawab Darma santai sambil ngaca. Wajahnya kinclong seperti habis facial emas.
"Tapi saya kan baru dua puluh tahun, Mas?"
"Yah, nasibmu saja yang boros umur."
Darma ketagihan. Dia mulai "berburu" umur. Dia pergi ke pasar, pura-pura menyapa orang yang sedang tidur di mushola, lalu sret! Satu tahun lagi didapat. Dia pergi ke panti asuhan, melihat anak-anak kecil, lalu sret!
Wajah Darma sekarang seperti remaja umur tujuh belas tahun, tapi matanya dingin seperti sumur tua.
Suatu hari, Darma bertemu dengan Setyawati, seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman rumahnya di pinggir hutan. Setyawati tampak sangat damai, meski kulitnya penuh kerutan.
"Permisi, Bu. Kok kelihatan bahagia sekali?" tanya Darma, suaranya cempreng khas remaja puber.
Setyawati menoleh. "Kenapa nggak bahagia, Le? Urip iku mung mampir ngrasakke tuwa. (Hidup itu cuma mampir merasakan tua)."
"Tua itu jelek, Bu. Sakit-sakitan."
"Tua itu tandanya kita sudah banyak makan garam dunia, Le. Kamu sendiri... kok wajahnya kayak plastik?"
Darma tersinggung. "Ini wajah mahal! Saya bisa hidup seribu tahun!"
"Buat apa?"
"Ya buat menikmati dunia!"
"Dunia itu membosankan kalau temannya cuma dirimu sendiri," sahut Setyawati pelan.
Malamnya, Darma merasa ada yang aneh. Dadanya sesak. Dia melihat ke cermin. Wajahnya memang muda, tapi rambutnya mulai rontok segenggam demi segenggam. Ternyata, mencuri umur orang lain berarti mencuri penyakit mereka juga.
Dia lari kembali ke pasar loak. Dia mencari si Mbah penjual jam pasir.
"Mbah! Kenapa rambut saya rontok?! Saya kan sudah curi umur atlet lari!" teriak Darma.
Si Mbah lagi asyik makan kacang rebus. "Lha, si atlet itu kan memang punya gen botak, Mas. Sampeyan curi umurnya, ya bonus botaknya."
"Saya mau kembalikan!"
"Nggak bisa. Barang sing wis dipangan ora iso dadi sego meneh." (Barang yang sudah dimakan tidak bisa jadi nasi lagi).
"Terus saya harus gimana?"
"Cari orang yang mau kasih umurnya secara sukarela."
"Siapa yang mau mati buat saya?!"
"Coba tanya ibumu."
Darma terdiam. Dia pulang ke rumah. Dia melihat ibunya yang sudah sangat renta, sedang duduk di kursi goyang sambil memegang tasbih.
"Ibu..." panggil Darma.
Ibunya menoleh, matanya lamur. "Siapa ya? Mas Darma ya?"
"Iya, Bu. Ini Darma."
"Kok suaramu kayak anak kecil lagi, Le? Kamu sakit?"
Darma melihat jam pasir di kantongnya. Dia bisa memutar jam itu sekarang. Dia bisa mengambil sisa umur ibunya agar dia tetap hidup gagah. Tangannya sudah memegang jam itu.
"Ibu... Ibu sayang Darma?"
"Sayang banget, Le. Sampai Ibu pengen cepat-cepat mati biar semua jatah umur Ibu bisa buat kamu saja."
Tangan Darma gemetar. Dia teringat petuah gurunya dulu: “Urip iku dudu pira dawane langkahmu, nanging pira becike tilasmu.” (Hidup itu bukan berapa panjang langkahmu, tapi berapa baik jejakmu).
Darma melihat wajah ibunya yang tulus. Dia merasa sangat kotor. Dia merasa seperti tikus yang mencuri nasi di piring orang suci.
Prakkk!
Darma membanting jam pasir itu ke lantai jati rumahnya. Asap merah keluar, berputar-putar, lalu kembali terbang ke arah jendela, kembali ke pemilik-pemilik aslinya di seluruh desa.
Seketika, tubuh Darma bergetar hebat. Wajah remajanya melayu. Rambutnya memutih seketika. Kulitnya mengendur. Dalam hitungan detik, Darma berubah menjadi pria tua yang sebenarnya. Lebih tua dari usia aslinya.
"Aduh... punggungku..." rintih Darma.
Ibunya tersenyum, lalu memegang tangan Darma yang kasar. "Nah, sekarang kita sama-sama tua, Le. Ayok, kita ngeteh bareng. Mumpung gulanya masih ada."
Darma menangis. Dia merasa sangat lelah, tapi hatinya enteng. Ternyata, menjadi tua bersama orang yang disayangi jauh lebih nikmat daripada menjadi muda abadi di tengah tumpukan dosa.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Sapa sing mburu dunya, bakal kelangan rasa. Sapa sing nrimo ing pandum, bakal nemu ayem.”
(Siapa yang mengejar dunia, akan kehilangan rasa. Siapa yang menerima pemberian Tuhan, akan menemukan kedamaian.)


.gif)

Posting Komentar untuk "CERPEN Endik Koeswoyo: ORANG YANG MENCURI UMUR"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...