CERPEN : PESAN DARI NOMOR SENDIRI
Menjadi seorang detektif di kota kecil seperti Wanayasa itu ibarat menjadi wasit pertandingan catur antar manula di pos ronda; membosankan, penuh asap rokok, dan konfliknya paling jauh cuma soal siapa yang curang menggeser pion saat lawan sedang batuk.
Nama pria itu adalah Praba Wistara. "Praba" artinya cahaya, dan "Wistara" artinya pandai/luas. Orang tuanya berharap dia jadi mercusuar keadilan. Kenyataannya? Praba lebih sering menangani kasus kehilangan kambing yang ternyata cuma nyasar ke kebun jagung tetangga, atau kasus perselingkuhan yang buktinya cuma berupa chat "Sayang, sudah makan belum?" di WhatsApp.
Praba adalah tipe pria yang menganggap teknologi itu adalah titisan dajjal yang menyamar jadi saku celana. Baginya, hidup yang bener itu ya nerimo ing pandum, tapi kalau bisa ya pandum-nya yang banyak dan nggak pakai pajak.
Suatu malam, saat hujan sedang membasahi bumi Wanayasa dengan sisa-sisa amarah langit, ponsel Nokia jadul milik Praba bergetar hebat. Di layarnya muncul notifikasi pesan singkat (SMS).
Pengirim: +62 812-3456-7890 (Nomor Anda Sendiri)
Praba mengernyit. Dahinya berkerut mirip cucian yang lupa diperas. "Lha dalah, ini operator lagi mabuk jamur atau gimana? Kok nomor saya kirim pesan ke saya sendiri?"
Ia membuka pesan itu. Isinya singkat, padat, dan bikin bulu kuduknya berdiri seperti sedang upacara bendera:
"Jangan lewat jembatan Kali Lanang jam sepuluh malam ini. Kalau nekat, kembang tujuh rupa bakal jadi menu sarapanmu besok pagi. Salam, Dirimu."
Praba tertawa kecut. "Halah, paling ini kerjaan bocah-bocah warnet yang lagi iseng pakai aplikasi spoofing."
Ia meletakkan ponselnya dan kembali menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin dan pahit, sepahit kenangan bersama mantan. Namun, matanya tak sengaja melirik jam dinding. Pukul 21.45. Dan dia punya janji bertemu informan di seberang jembatan Kali Lanang pukul 22.00.
Sebagai detektif yang punya ego setinggi Gunung Merapi, Praba tidak mau dikalahkan oleh sebuah SMS misterius. “Wong jowo iku ora wedi mati, nanging wedi yen ora duwe ajine,” (Orang Jawa itu tidak takut mati, tapi takut kalau tidak punya harga diri), batinnya sambil menyambar jaket kulitnya yang baunya sudah mirip gudang beras.
Ia memacu motor bebeknya menuju jembatan Kali Lanang. Jembatan itu tua, berlumut, dan punya reputasi sebagai tempat favorit para makhluk halus untuk sekadar nongkrong atau cari jodoh.
Saat motornya mendekati mulut jembatan, ponselnya bergetar lagi. Pesan baru. Dari nomornya sendiri lagi.
"Sengkuni! Kamu memang keras kepala. Lihat ban depanmu sekarang!"
Praba refleks mengerem. Ia turun dan memeriksa ban motornya. Benar saja, ada sebuah paku karatan sebesar jari kelingking tertancap manis di sana. Ban itu kempes seketika, menghembuskan napas terakhirnya dengan suara desisan yang mengejek.
"Bajingan..." umpat Praba.
Tepat saat ia mengumpat, sebuah truk kontainer raksasa melaju kencang dari arah berlawanan. Truk itu kehilangan kendali di atas jembatan yang licin, menghantam pembatas, dan terjun bebas ke sungai Kali Lanang dengan suara dentuman yang sanggup membangunkan orang pingsan.
Kalau saja ban motor Praba tidak kempes, dia pasti sudah berada tepat di titik benturan itu. Dia pasti sudah jadi perkedel manusia di bawah ban truk tersebut.
Praba gemetar. Keringat dingin mengucur deras. Ia melihat ponselnya dengan tatapan ngeri. "Ini bukan SMS iseng. Ini... peringatan."
Malam-malam berikutnya berubah jadi neraka digital bagi Praba. Pesan-pesan itu terus datang.
"Besok jangan makan bakso di depan kantor. Dagingnya campuran tikus rumah dan tikus got. Diare seumur hidup itu nggak enak, Mas."
"Jangan beli saham perusahaan itu. Minggunya bakal bangkrut karena bosnya lari bawa uang janda."
Praba mengikuti semua instruksi itu dan hidupnya menjadi sangat aman. Terlalu aman sampai-sampai ia merasa seperti robot yang dikendalikan oleh operator gaib. Ia menjadi kaya karena investasi yang tepat, ia menjadi sehat karena menghindari makanan beracun.
Tapi, urip iku ora mung soal selamet, nanging soal ngrasakke. (Hidup itu bukan cuma soal selamat, tapi soal merasakan). Praba merasa kehilangan sensasi menjadi manusia yang berani mengambil risiko.
Puncaknya terjadi tiga hari kemudian. Sebuah pesan masuk pada pukul 03.00 pagi.
"Pukul 08.00 pagi ini, tangkap Pak Camat di kantornya. Dia baru saja menerima suap dari pengembang hutan lindung. Buktinya ada di dalam tas hitam di bawah mejanya. Ini kesempatanmu jadi pahlawan, Praba."
Praba termenung. Ini adalah kasus besar yang bisa melambungkan namanya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mengapa "dirinya di masa depan" begitu peduli padanya?
Ia mencoba membalas pesan itu. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
"Kenapa kamu membantuku?"
Satu menit. Lima menit. Ponselnya bergetar.
"Karena aku bosan melihatmu mati sia-sia. Tapi ingat, setiap kali takdir diubah, ada harga yang harus dibayar. Alam semesta itu punya buku akuntansi yang sangat teliti. Nek kowe sugih, bakal ono sing mlarat. Nek kowe urip, bakal ono sing mati."
Praba tertegun. Ia teringat petuah ayahnya: “Melo alur, nanging ojo keli.” (Ikuti arus, tapi jangan hanyut). Selama ini dia bukan mengikuti arus, dia sedang mencoba membendung sungai pakai tangan kosong.
Pagi itu, Praba tidak pergi ke kantor Camat. Ia malah pergi ke warung kopi Mbah Darmi. Ia memesan kopi dan gorengan yang minyaknya sudah dipakai sejak zaman kerajaan Majapahit. Dia sengaja makan bakso di pinggir jalan. Dia ingin menjadi "manusia" lagi, manusia yang bisa salah, bisa diare, dan bisa gagal.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar gila-gilaan. Puluhan pesan masuk dalam hitungan detik.
"BAHAYA! Kenapa kamu tidak ke sana?!"
"Kamu akan hancur!"
"Takdir aslimu akan menjemputmu sekarang!"
Praba tersenyum satir. Ia mengambil ponsel itu, lalu menjatuhkannya ke dalam gelas kopi hitamnya yang panas. Suara cesss terdengar, dan layar ponsel itu mati selamanya.
"Waktu itu ibarat keris, Mas," kata Praba pada tukang kopi di depannya yang bingung melihat aksi gila itu. "Kalau kamu terlalu sering mengasahnya untuk melihat masa depan, kelamaan kerisnya makin tipis dan akhirnya patah. Lebih baik tumpul tapi bisa buat motong bawang."
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam meluncur kencang dan berhenti di depan warung. Dua orang berbadan besar turun, wajahnya garang seolah-olah mereka baru saja kalah judi bola. Mereka adalah anak buah Pak Camat yang merasa terancam karena Praba mulai mengendus kasus mereka.
Praba berdiri, merapikan jaket kulitnya. Dia tahu dia mungkin akan dipukuli, atau bahkan lebih buruk. Tapi setidaknya, ini adalah keputusannya sendiri. Bukan keputusan dari sebuah kotak elektronik yang mengaku sebagai dirinya.
"Ayo," tantang Praba sambil nyengir. "Kita selesaikan ini pakai cara lama. Cara laki-laki, bukan cara operator seluler."
Malam itu, Praba berakhir di rumah sakit dengan mata lebam dan dua tulang rusuk yang retak. Tapi saat ia berbaring di bangsal yang baunya obat karbol, ia merasa sangat hidup.
Seorang suster masuk membawa barang-barangnya yang tersisa. "Mas Praba, ini ada titipan surat. Tadi ada orang misterius yang menaruhnya di meja resepsionis."
Praba membuka surat itu. Kertasnya wangi bunga kenanga. Di dalamnya hanya tertulis satu kalimat pendek dengan tulisan tangan yang sangat mirip dengan tulisannya sendiri:
"Selamat. Kamu akhirnya menang melawan ketakutanmu sendiri. Tapi ngomong-ngomong, biaya rumah sakit ini mahal lho. Makanya, lain kali jangan buang HP ke kopi."
Praba tertawa terbahak-bahak sampai rusuknya terasa mau copot. Memang benar, Gusti Allah mboten sare, tapi kadang-kadang Gusti Allah memang suka bercanda lewat cara-cara yang paling tidak masuk akal.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Wektu iku dudu barang sing iso dituku, nanging dudu barang sing kudu ditakuti. Lakonono opo sing ono ing ngarep mripatmu.”
(Waktu itu bukan barang yang bisa dibeli, tapi juga bukan barang yang harus ditakuti. Jalani apa yang ada di depan matamu.)


.gif)

Posting Komentar untuk "CERPEN : PESAN DARI NOMOR SENDIRI"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...