CERPEN : ORANG YANG TIDAK PERNAH ADA - Oleh Endik Koeswoyo


CERPEN : ORANG YANG TIDAK PERNAH ADA

Bagi Kirana Larasati, hidup di Jakarta itu ibarat mencoba makan bubur panas pakai sumpit; ribet, melelahkan, dan seringkali berakhir dengan lidah yang melepuh. Kirana—yang namanya berarti "cahaya yang indah"—sebenarnya lebih sering merasa seperti bohlam lima watt yang sudah berkedip-kedip mau mati di pojokan gudang.

Suatu sore, saat Jakarta sedang hobi-hobinya pamer kemacetan yang bikin malaikat pencatat amal pun ikut stres, Kirana membongkar sebuah kardus tua di apartemennya. Kardus itu berisi sisa-sisa masa lalu yang baunya lebih menyengat daripada janji kampanye: bau kertas usang, kamper, dan sedikit aroma apek kegagalan.

Di dasar kardus, ia menemukan sebuah foto polaroid yang warnanya sudah mulai menguning, mirip gigi perokok berat. Di foto itu, Kirana kecil yang giginya masih ompong dua di depan sedang tertawa lebar. Di sampingnya, ada seorang anak laki-laki yang merangkul bahunya. Anak itu memakai kaos bergambar Satria Baja Hitam dan punya tahi lalat di bawah mata kirinya.

"Lho, ini kan Bumi," gumam Kirana. Senyumnya mengembang.

Bumi Ranupane. Nama yang sejuk seperti danau di kaki Gunung Semeru. Dia adalah sahabat masa kecil Kirana, kakak laki-laki yang tidak sedarah, orang yang mengajari Kirana cara memanjat pohon mangga tetangga tanpa ketahuan anjing penjaganya.

Kirana membawa foto itu saat pulang kampung ke desa Suko Sewu di Jawa Timur. Dia ingin bernostalgia, atau mungkin sekadar memamerkan pada Bumi kalau sekarang dia sudah jadi wanita karir sukses yang makannya salad, bukan lagi tebu colongan.

"Bu, ingat Bumi nggak? Ini fotonya waktu kita main di sungai bawah pohon beringin," tanya Kirana pada ibunya yang sedang sibuk memilah beras.

Ibunya berhenti. Matanya menyipit menatap foto itu, lalu menatap Kirana dengan tatapan yang biasa dipakai untuk melihat orang yang baru saja mengaku kalau dia adalah titisan Nyi Roro Kidul.

"Bumi siapa, nduk? Ini kan fotomu sendirian. Kamu itu dulu anak tunggal yang saking setianya sama kesepian sampai mainnya sama bayangan sendiri," jawab ibunya enteng.

Kirana tersedak wedang jahenya. "Lho, ini di foto ada orangnya, Bu! Ini Bumi! Dia yang rumahnya di pojok gang yang ada pohon sawo-nya!"

Ibunya meletakkan tampah beras, lalu memegang dahi Kirana. "Nggak panas kok. Nduk, rumah pojok gang itu sudah kosong sejak zaman penjajahan Jepang. Nggak pernah ada orang namanya Bumi tinggal di situ. Jangan-jangan kamu kebanyakan makan micin di Jakarta?"

Kirana mulai merasa dunianya miring. Ia keliling desa. Ia tanya Pak Carik, tanya tukang bakso langganan, sampai tanya mbah-mbah yang kerjaannya cuma duduk di pos ronda sambil nunggu ajal. Jawabannya seragam: Tidak ada yang namanya Bumi Ranupane.

"Mas, sampeyan ingat Bumi nggak? Yang dulu sering balapan lari sama saya?" tanya Kirana pada Suryo, teman sekolahnya dulu yang sekarang sudah jadi bapak-bapak berperut buncit.

Suryo tertawa sampai udelnya mau copot. "Kirana, Kirana... Kamu itu dari dulu memang agak asli (aneh). Kamu itu dulu di sekolah kalau istirahat duduk sendirian, bicara sendiri, ketawa sendiri. Kita semua maklum, mungkin itu efek kamu terlalu pintar atau memang kurang sesajen."

Kirana lari ke rumah pojok gang itu. Rumahnya roboh, ditumbuhi semak belukar yang tingginya sudah menyalip harapan hidup rakyat kecil. Ia melihat ke foto itu lagi. Di foto, Bumi jelas-jelas ada. Nyata. Rambutnya berantakan, dan dia memegang es mambo warna merah.

"Gusti... apa aku ini gila?" rintih Kirana.

Ia merasa seperti sebuah titik yang dihapus dari sebuah kalimat, tapi titik itu masih merasa dirinya ada. Urip iku mung mampir ngguyu, tapi kalau cuma kamu yang tertawa sementara orang lain melihatmu menangis, itu namanya gangguan jiwa.

Malamnya, Kirana duduk di bawah pohon beringin tua di pinggir sungai. Tempat favorit mereka dulu. Ia menatap foto itu dengan benci. Ia ingin merobeknya, tapi tangannya gemetar.

Tiba-tiba, semilir angin membawa aroma minyak kayu putih—aroma khas Bumi kalau sedang masuk angin.

"Cah ayu, kenapa mukamu ditekuk kayak cucian nggak disetrika?"

Kirana melonjak. Di sampingnya, duduk seorang pria dewasa. Wajahnya persis seperti anak di foto itu, lengkap dengan tahi lalat di bawah mata. Dia memakai kaos Satria Baja Hitam yang sudah kekecilan.

"Bumi?!" teriak Kirana.

Pria itu tersenyum sedih. "Iya, ini aku. Tapi tenang, aku nggak akan minta bayar utang masa kecil."

"Kenapa nggak ada yang ingat kamu? Ibu, Suryo, bahkan catatan sipil nggak punya namamu! Kamu hantu?"

Bumi terkekeh, suara tawanya seperti gesekan daun kering. "Bukan hantu, Kirana. Aku ini adalah 'Sisa'. Kamu tahu kan, dalam setiap cerita hidup manusia, ada tokoh yang tugasnya cuma jadi penyangga? Begitu tokoh utamanya sudah kuat, penyangganya ditarik kembali oleh alam."

"Maksudmu?"

"Elingo, nduk. Waktu kamu umur tujuh tahun, kamu jatuh ke sungai ini saat banjir bandang. Kamu hampir mati. Kamu merasa ada tangan yang menarikmu ke tepian, kan?"

Kirana terdiam. Memorinya berputar. Ya, dia ingat rasa dingin itu, dan dia ingat Bumi yang menariknya sekuat tenaga sampai Bumi sendiri terseret arus.

"Kamu yang menyelamatkanku, Bum. Tapi setelah itu kita masih main bareng sampai SMA!"

Bumi menggeleng pelan. "Itu cuma caramu bertahan hidup, Kirana. Pikiranmu menciptakan aku supaya kamu nggak merasa sendirian menanggung rasa bersalah karena aku hilang ditelan air. Kamu menciptakan aku begitu nyata, sampai alam semesta 'meminjamkan' wujudku untukmu. Tapi sekarang, kamu sudah besar. Kamu sudah punya cahaya sendiri."

"Tapi foto ini?" Kirana menunjukkan polaroid itu.

Bumi menyentuh foto itu. Pelan-pelan, sosok anak laki-laki di samping Kirana memudar. Hilang. Meninggalkan Kirana kecil yang merangkul udara kosong.

"Foto itu cuma kertas, Kirana. Yang penting itu rasanya. Wong urip iku bakal ilang, nanging tresno lan becik iku ora bakal ilang soko ati. (Orang hidup itu bakal hilang, tapi cinta dan kebaikan tidak akan hilang dari hati)."

Bumi berdiri. Sosoknya mulai transparan seperti asap rokok di tengah angin kencang.

"Jangan cari aku di ingatan orang lain, Kirana. Cari aku di setiap kali kamu merasa berani. Aku ada di situ."

Dan puf. Bumi hilang. Yang tersisa cuma aroma minyak kayu putih dan suara jangkrik yang mendadak berhenti bunyi karena sungkan.

Kirana duduk sendirian di bawah beringin. Dia menangis, tapi kali ini hatinya tidak terasa sesak. Dia sadar, ada orang-orang dalam hidup kita yang dikirim Tuhan bukan untuk tinggal selamanya, tapi hanya untuk memastikan kita tidak tenggelam saat arus sedang deras-derasnya.

Dia pulang ke rumah, melihat ibunya yang masih sibuk dengan berasnya. Kirana memeluk ibunya dari belakang.

"Lho, kenapa ini? Manja banget," protes ibunya.

"Nggak apa-apa, Bu. Cuma mau bilang, kalau Kirana sudah nggak sendirian lagi."

Istri Pak RT yang lewat di depan rumah cuma bisa mbatin, "Oalah, cah Jakarta itu kalau pulang kampung emang suka rada-rada drama."

Kirana tersenyum. Biar saja orang bilang Bumi tidak pernah ada. Bagi Kirana, Bumi adalah bagian dari tanah tempatnya berpijak dan air yang pernah membasuh lukanya. Karena pada akhirnya, keberadaan seseorang tidak ditentukan oleh KTP, tapi oleh seberapa dalam ia menanam rindu di hati orang lain.


Pertuah Jawa Hari Ini:

“Sing ora ono dudu berarti ilang, nanging mung pindah nggon neng njerone dodo.”

(Yang tidak ada bukan berarti hilang, tapi hanya pindah tempat ke dalam dada.)



Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "CERPEN : ORANG YANG TIDAK PERNAH ADA - Oleh Endik Koeswoyo"

Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 






SimpleWordPress