CERPEN 1: HARI TERAKHIR YANG TIDAK PERNAH TERJADI
Dunia itu ibarat dadu di tangan bandar judi yang sedang mabuk ciu; tidak pernah bisa ditebak kapan angka enam muncul, dan kapan kita bakal bangkrut sampai harus gadai celana dalam. Bagi Banyu Bening, hidupnya bukan lagi dadu, tapi kaset kusut yang pitanya ditarik paksa keluar lalu diputar ulang di tape jadul merk Polytron.
Banyu Bening—namanya sejuk, seolah bapak-ibunya dulu berharap anaknya bakal jadi sumber mata air yang menyegarkan dahaga penduduk desa Giri Wana. Tapi nyatanya? Nasib Banyu lebih mirip air comberan yang mampet di selokan pasar. Butek dan bau apek kenangan.
Setiap pagi, tepat pukul 05.15, saat ayam jago milik Pak RT baru saja mau latihan vokal tapi malah batuk karena polusi asap pembakaran sampah, Banyu terbangun. Ia selalu mencium aroma yang sama: bau sabun mandi Lux varian mawar yang bercampur dengan aroma nasi goreng gosong.
“Mas, tangi! Iki wis awan, mengko selak dipangan uler bibite,” suara itu lembut, tapi bagi Banyu, itu adalah lonceng kematian yang diputar ulang untuk ke-365 kalinya.
Di sampingnya, Sasmita Raras berdiri dengan handuk melilit kepala. Cantik. Ayunya koyo dewi seko kahyangan, tapi sayangnya, ini dewi yang beberapa jam lagi bakal jadi almarhumah kalau Banyu tidak melakukan sesuatu. Sasmita adalah tipikal istri yang kalau senyum bisa bikin utang pinjol terasa lunas seketika, tapi kalau sudah ngomel, lambene koyo knalpot RX-King.
“Mita...” Banyu bergumam, matanya berkaca-kaca. Ia ingin memeluk istrinya erat-erat, tapi ia tahu, kalau ia terlalu lama memeluk, jadwal "kematian" bisa bergeser ke skenario yang lebih buruk.
Banyu ingat betul, versi asli dari hari ini adalah tanggal 14 Kasada. Hari itu, mereka berdua ke lereng gunung untuk menanam bibit pohon mahoni. Lalu blarrr! Tanah longsor datang tanpa permisi, seperti penagih utang koperasi yang datang di tanggal satu. Sasmita hilang ditelan bumi, sementara Banyu cuma lecet di jempol kaki. Adil? Tentu tidak. Gusti Allah memang Maha Adil, tapi takdir seringkali punya selera humor yang gelap.
“Mita, hari ini jangan ke lereng ya? Di rumah saja. Kita nonton sinetron Ikatan Cinta yang episodenya sudah ribuan itu saja,” bujuk Banyu.
Sasmita mengernyit. “Lha dalah! Mas Banyu iki opo ora waras? Bibit itu harus ditanam hari ini, besok sudah layu. Wong urip iku kudu obah, Mas. Yen ora obah, mengko dadi rongsokan.” (Orang hidup itu harus bergerak, kalau tidak nanti jadi rongsokan).
Banyu menghela napas. Dia sudah mencoba skenario ini berkali-kali. Pernah suatu hari ia mengunci Sasmita di kamar mandi. Hasilnya? Sasmita terpeleset sabun, kepalanya kena pinggiran bak mandi, mati di tempat. Pernah juga ia ajak Sasmita kondangan ke desa sebelah supaya tidak ke lereng. Apa yang terjadi? Bus yang mereka tumpangi masuk jurang. Sasmita mati lagi, Banyu selamat lagi (cuma patah gigi depan).
Banyu sadar, takdir itu ibarat jarik (kain batik). Semakin kau tarik ujung yang satu untuk menutupi lubang, maka ujung yang lain akan tersingkap. Sluman slumun slamet itu ternyata ada syarat dan ketentuannya, mirip promo belanja online.
Siang itu, di iterasi yang ke-366, Banyu mencoba taktik baru. Ia pura-pura sakit perut hebat. Mules sak pore.
“Aduh, Mita! Perutku kayak diaduk-aduk pakai mesin semen! Aduh!” Banyu berguling-guling di lantai tanah rumahnya.
Sasmita panik. “Oalah Mas, makanya kalau makan sambal itu jangan satu cobek dihabiskan sendiri! Sithik-sithik wae, sing penting rasane.”
Rencana berhasil. Sasmita tidak ke lereng. Dia sibuk mengerik punggung Banyu pakai koin seribuan. Banyu merasa menang. Dia melihat jam dinding—pukul 14.00. Waktu biasanya longsor terjadi. Di luar sana, hujan turun deras sekali. Suaranya seperti ribuan prajurit yang sedang melempar tombak ke atap seng.
“Mas, aku ambilkan air hangat ya ke dapur,” kata Sasmita.
Banyu tersenyum lebar. Yes! Selamat! batinnya.
Tapi baru saja Sasmita melangkah ke dapur, terdengar suara krak! yang sangat keras. Bukan dari lereng gunung, tapi dari atap rumah mereka sendiri. Ternyata, karena hujan terlalu lebat, pohon kelapa di samping rumah yang sudah tua dan rapuh itu tumbang tepat mengenai dapur.
Banyu lari sekencang mungkin. Tapi ia terlambat. Sasmita tertimpa blandar kayu jati. Matanya masih menatap Banyu, tapi nyawanya sudah minggat duluan.
Banyu jatuh terduduk. Air matanya mengalir, tapi rasanya asin bukan main. Ia merasa seperti badut yang sedang melawak di depan tuhan yang sedang bosan.
“Gusti...” rintihnya. “Kenapa Sasmita harus mati terus? Apa dia punya cicilan nyawa yang belum lunas?”
Tiba-tiba, dunia di sekitar Banyu mulai memudar. Warna-warna menjadi abu-abu. Suara hujan menjadi dengungan statis radio rusak. Dan ia terbangun lagi.
05.15. Bau sabun mawar. Bau nasi goreng gosong.
“Mas, tangi!”
Banyu tidak bergerak. Ia menatap langit-langit kamar yang penuh sarang laba-laba. Ia teringat petuah simbahnya dulu: “Urip iku mung mampir ngombe, nanging ojo lali mbayar.” (Hidup itu cuma mampir minum, tapi jangan lupa bayar).
Dia baru sadar. Selama ini dia mencoba "mencuri" minuman gratis dari takdir tanpa mau membayar harganya. Dia egois. Dia ingin Sasmita hidup, tapi dia tidak peduli kalau alam semesta harus jungkir balik karenanya.
Iterasi kali ini, Banyu bersikap tenang. Sangat tenang sampai Sasmita heran.
“Mas, kamu nggak sakit?” tanya Sasmita sambil menyiapkan bibit mahoni.
“Enggak, Mit. Ayo, kita ke lereng sekarang. Biar aku yang bawa bibitnya yang berat.”
Sasmita tersenyum. “Nah, gitu lho. Lanang iku kudu rosa.”
Sepanjang jalan menuju lereng, Banyu mengajak Sasmita bicara tentang banyak hal. Tentang impian mereka punya anak, tentang harga pupuk yang naik lebih cepat dari kecepatan cahaya, sampai tentang gosip Bu RT yang katanya pasang susuk biar awet muda.
Banyu menikmati setiap detik. Dia mencium bau tanah, dia mendengarkan kicauan burung kutilang, dia menggenggam tangan Sasmita yang kasar karena sering mencuci. Dia sadar, keindahan itu bukan pada "selamanya", tapi pada "saat ini". Witing tresno jalaran soko kulino, tapi kalau tidak hati-hati, witing tresno malah dadi lara.
Sesampainya di lereng, langit mulai menghitam. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon seperti tangan raksasa yang melambai selamat tinggal.
“Mita,” panggil Banyu saat mereka mulai menggali tanah.
“Opo, Mas?”
“Aku sayang kamu. Benar-benar sayang. Lebih dari sayangku sama motor Supra-ku yang sudah lunas itu.”
Sasmita tertawa. “Tumben, Mas. Ojo nggombal, selak udan.”
Lalu, getaran itu datang. Getaran yang sangat akrab di telinga Banyu. Suara gemuruh dari puncak gunung, seperti raungan naga yang sedang sakit gigi. Tanah di bawah kaki mereka mulai bergerak.
Kali ini, Banyu tidak lari. Dia tidak mencoba mendorong Sasmita ke arah yang berbeda. Dia hanya menarik Sasmita ke dalam pelukannya.
“Mas, longsor, Mas! Mlayu!” Sasmita panik, mencoba melepaskan diri.
“Nggak usah mlayu, Mit. Kita di sini saja. Berdua,” bisik Banyu tepat di telinga istrinya.
Sasmita menatap mata Banyu. Di sana, dia tidak melihat ketakutan. Dia melihat kedamaian yang aneh. Seolah-olah Banyu sudah tahu apa yang akan terjadi dan dia sudah setuju dengan itu.
“Mas...” suara Sasmita mengecil.
“Pasrah, Mit. Pasrah.”
Tanah longsor itu datang dengan kecepatan yang mengerikan. Menelan pepohonan, menelan bebatuan, dan akhirnya menelan dua manusia kecil yang sedang berpelukan itu.
Banyu menutup matanya. Dia merasa tubuhnya dihimpit oleh beban berton-ton tanah. Sakit? Luar biasa sakit. Tapi ada rasa lega yang aneh. Dia merasa akhirnya "kaset" itu akan berhenti berputar. Dia sudah membayar harganya.
Keheningan total.
Banyu menunggu cahaya putih, atau malaikat yang membawa buku catatan, atau mungkin simbahnya yang menunggu di gerbang surga sambil merokok lintingan.
Tapi yang ia dengar adalah suara alarm jam beker.
Tit... tit... tit...
Banyu membuka mata. Ia gemetar. Dia melihat sekeliling. Dia berada di sebuah ruangan serba putih yang luas. Tidak ada Sasmita. Tidak ada bau sabun mawar. Tidak ada lereng gunung.
Di depannya, duduk seorang pria paruh baya mengenakan kaos oblong bergambar Wayang Gatotkaca dan sarung kotak-kotak. Pria itu sedang asyik menyeruput kopi kental dari cangkir seng yang sudah mengelupas catnya.
“Lho, sudah sadar, Mas?” tanya pria itu santai.
“Saya... saya di mana? Mana Sasmita? Saya sudah mati kan?” Banyu bingung tujuh keliling.
Pria itu tertawa sampai giginya yang kuning kelihatan. “Mati itu urusan gampang, Mas Banyu. Tapi menghargai waktu itu yang susah. Sampeyan itu sudah terjebak di simulasi 'Penyesalan Tingkat Wahid' selama satu tahun di dunia nyata. Di sini baru sejam sih.”
Banyu melongo. “Simulasi?”
“Iya. Sampeyan itu depresi berat setelah istri sampeyan meninggal setahun yang lalu. Terus sampeyan ikut program terapi 'Re-Live'. Gunanya supaya sampeyan sadar kalau mengubah masa lalu itu nggak ada gunanya. Sing wis yo wis. Gusti paring dalan, menungso sing liwat.” (Yang sudah ya sudah. Tuhan memberi jalan, manusia yang lewat).
Pria itu berdiri, menepuk bahu Banyu. “Sasmita sudah tenang di sana. Dia nggak butuh diselamatkan berkali-kali di pikiran sampeyan. Dia cuma butuh sampeyan mengikhlaskan dia supaya dia nggak 'mampet' di pintu akhirat gara-gara sampeyan tarik-tarik terus ekor bajunya.”
Banyu terdiam. Air matanya jatuh lagi. Kali ini tidak asin, tapi hangat.
“Jadi... hari ini tanggal berapa?”
“15 Kasada. Setahun setelah kejadian. Hari ini cerah, Mas. Cocok buat ziarah ke makam, bawa bunga mawar, jangan bawa bibit mahoni lagi. Kasihan tanahnya, sudah penuh.”
Banyu berdiri. Tubuhnya terasa ringan, seolah beban bumi yang tadi menghimpitnya sudah hilang. Dia berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan ruangan putih itu.
Di ambang pintu, dia menoleh ke belakang. “Terima kasih, Pak.”
Pria bersarung itu cuma melambai sambil menyalakan rokoknya. “Sama-sama. Ingat, Mas... Ojo lali dongo. Gusti mboten sare, mung kito sing sering lali melek.” (Jangan lupa doa. Tuhan tidak tidur, cuma kita yang sering lupa bangun).
Banyu melangkah keluar. Matahari pagi itu terasa sangat hangat di kulitnya. Untuk pertama kalinya dalam setahun, dia tidak mencium bau nasi goreng gosong. Dia mencium bau kebebasan.
Sasmita tidak pernah hidup kembali. Tapi di hati Banyu, hari terakhir itu akhirnya benar-benar terjadi. Dan setelah hari terakhir, selalu ada hari baru.
Pertuah Jawa Hari Ini:
“Sabar iku lire momot kuwat nandhang sakining coba lan pandhadharaning urip.”
(Sabar itu artinya memuat kekuatan untuk menghadapi segala cobaan dan ujian hidup.)


.gif)

Posting Komentar untuk "CERPEN : HARI TERAKHIR YANG TIDAK PERNAH TERJADI - OLEH Endik Koeswoyo"
Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...