twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Rabu, 27 Agustus 2014

NASIP PECI DI INDONESIA

NASIP PECI DI INDONESIA


"Salam Ddua Peci"  adalah sebuah salam yang masif dan terstruktur, taukan artinya? Yeah bener. Peci saat ini indentik dengan Prabowo-Hatta. Pasangan "gagal" atau yang belum berhasil menjadi presiden dan wakil presiden 2014. Kalah sama Jokowi -JK yang notabene tidak memakai peci dalam kampanyenya pada pilpres 2014 beberapa waktu yang lalu. So? Apa hubungannya Nasip Peci di Indonesia dengan Prabowo VS Jokowi?

Okelah, coba kita simak beberapa artikel tentang PECI berikut ini:

Peci, sejarahnya sangat kental dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia. Dalam hal ini, Bung Karno memang pelopor. Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa. Jika kita lihat gambar Wahidin dan Cipto memakai blangkon, itu sebelum 1920-an. Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa “inlander” (pribumi) tak boleh memakai baju eropa. Maka para siswa memakai blangkon dan sarung batik jika dari”Jawa”. Bagi yang datang dari Maluku atau Menado, misalnya, lain. Bagi siswa asal Manado atau Maluku, yang biasanya beragama Kristen, boleh memakai pakaian eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi. Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi-bagi penduduk dari segi asal-usul “etnis”dan “agama”. Maka banyak aktivis pergerakan nasional menolak memakai blangkon. Apalagi mereka umumnya bersemangat “kemajuan”, modernisasi. Jadi penolakan terhadap kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial “divide et impera” dan penolakan terhadap adat lama. Lalu apa gantinya?
Pada medio Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih pakai peci. Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang,dan ia memakai peci. Tapi ia sebenarnya takut diketawakan. Tapi ia berkata pada dirinya sendiri, kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru. Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap. Bung Karno berhenti sebentar. Ia bersembunyi di balik tukang sate. Setelah ragu sebentar, ia berkata kepada diri sendiri: “Ayo maju. Pakailah pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Lalu ia masuk ke ruang rapat. “Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata‐kata”, kata Bung Karno mengenangkan saat itu.

Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.” Peci, kata Bung Karno pula, “dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu”. Dan itu “asli kepunyaan rakyat kita. Menurut Bung Karno, kata “peci” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je”, kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya,peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”.

Sejak itu, Sukarno hampir selalu mengenakan peci hitam saat tampil di depan publik. Seperti yang dia lakukan saat membacakan pledoinya “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Landraad Bandung, 18 Agustus 1930. Dan peci kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk pemuda Non Muslim.


Maka tak mengherankan bila dari mana pun asalnya, agama apapun yang dianutnya, kaum pergerakan memakai peci. Kesimpulannya bawah sesungguhnya peci itu bukanlah sebuah simbol agama, tapi merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya. Saat ini Peci mulai ditinggalkan khususnya oleh generasi muda, dimana peci dianggap sebagai simbol politik, dimana pula para politikus "bususk" blusak-blusuk masuk gedung dewan dengan peci dan jas, kemudian masuk penjara karena korupsi juga memakai peci. Peci sebagai simbol pergerakan sudah terkikis habis, hancur digempur oleh budaya asal pakai. Para pemakai peci identik dengan politikus.

Suatu hari saya memakai peci, lalu foto selfie dan saya uplod ke path. Alhasil komentar yang muncul pertama kali, "mau nyaleg Mas?" oh My Gosh... begitulah komentar yang berjibun. padahal sejak jaman SD saya sudah suka pakai peci hitam. Dulu waktu kecil, peci itu bisa berfungsi buat tempat rambutan yang kami petik di kebun milik tetangga. Peci juga bisa buat menyimpan uang kertas lecek seratus rupiah warna merah. Nah, pernah lihat uang kertas seratus rupiah warha merah? Kalau anda sering menyimpan uang kertas seratus rupiah warna merah di peci, maka kehidupan anda adalah kehidupan masa kecil yang berbahagia. 

Peci adalah budaya yang dibangun oleh Soekarno, dan sebagai salah satu orang yang 'mengagumi Soekarno" saya akan tetap memakai peci, bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk sok-sokan, tetapi karena saya mencintai negara ini. 

Jika pada akhir artikel ini saya memasang beberapa foto saya memakai peci, ini adalah bentuk keseriusan saya. Peci adalah nasilosme bukan politikuisme. Peci adalah budaya, bukan embel-embel politik adu domba. Politik negeri ini sudah salah kaprah, oleh sebab itulah saya melanjutkan kuluiah mengambil jurusan Ilmu Politik di Universtias Bung Karno biar saya tau kenapa politik menjadi seperti ini? Politik memang seni untuk merebut kekuasaan, politik adalah alat dan sarana untuk berkusa, tetapi sebenarnya masih banyak dan masih sangat bisa politik itu menjadi politik yang bersih dan indah penuh seni didalamnya. Silent Movement dalam politik itu adalah seni, seni musik, seni peran (drama, film, teater) seni menulis dan seni lainnya.

Apakah nasip peci akan terkikis habis? Oh... tidak... masih banyak, bahkan masih jutaan manusia Indonesia yang memakai peci sebagai bentuk budaya dan seni, bukan sebagai  tudung agar terlihat alim laiknya para politikus itu. Selamat Malam.... Selamatkan Pecimu sebelum diklaim tetangga...
 Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo
Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo
 Image Endik Koeswoyo

Salam Budaya: @endikkoeswoyo Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...

KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN