twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Senin, 29 Maret 2010

Sebilah Sayab Bidadari



Judul: Sebilah Sayab Bidadari.
Memorilibia 7,9 SR. Kumpulan Cerpen dan Puisi mengenang Gempa 7,9 SR Sumatra Barat.
Penerbit: Pustaka Fahima
Penulis: Dwi Januanto Nugroho, Nursalam AR, Fira Basuki, Abdullah Khusairi, Dyra Hadi, Nuril Annissa, Igoy el Fitra, Dea Anugrah, Benny Arnas, Asep Sambodja, Irawan Aji, Zelfeni Wimra, Timra Madana Pitri, Mariska Anggraini, Endik Koeswoyo, Yandigsa, Muhammad Sholihin, Raudhatul Usnami, Karina Anggara, Irawan Senda, Sulfiza Ariska, Akhyar Fuadi, Zandika Alexander, Silfia Hanani, Feryanto Heady, Darwis Ramadhan, Galuh Parantri, Arif Puji G. Luckty Giyan Sukarno, Bejo Halumajaro, Pamungkas WH, Gayatri Parikesit, Monica Petra Karunia, Sulistyawati, Rahmad Ibrahim, Haerul Ibrahim, Haerul Said, Addiarahman, Salman Aristo, Dewi "dee" Lestari, Muhammad Nasir, Muhammad Zikri.
ISBN: 978-979-1355-64-3
Harga: Rp. 40.000,-
Sebuah Proyek Amal Untuk Korban Gempa


PROLOG
Meraut Larik-larik Kisah di Balik Gempa

“Untuk apa lagi prosa diproduksi? Ketika dunia sesungguhnya telah menjelma menjadi prosa. Ketika logika hidup, imaji publik, atau peristiwa-peristiwa rutin sudah begitu prosaik.”
--Radhar Panca Dahana: 2005 --1

“Ini adalah malam ketika hukum alam berkeliaran dengan matanya menyinarkan balas dendam. Langit pucat dan dingin. Air mata terus mengalir seperti sungai yang tak mau dikeringkan. Jeritan alam melolong bagaikan serigala kelaparan di waktu malam.”
--Sindhunata: 2007 --2

Antologi ini ibarat anyaman dari bambu, yang diraut oleh tangan-tangan telaten. Tangan-tangan yang tidak hanya menarikan kata-kata, tapi juga melukis rasa yang membara, terkoyak-koyak rengkah dari ratapan yang meraung di sepanjang malam di patahan sesar semangka, Minangkabau. Menyala bagaikan bohlam yang bersinar remang-remang di bawah parlak pada tanah gempa. Tangan-tangan ini digerakkan oleh rasa bersigesak dari histeris tangis, dramaturgis, dan romantisme yang terhampar dari luluh puing-puing tanah andalas, yang retak.
Di sini, sangat terasa larik-larik kalimatnya yang diraut dari kisah dari tanah gempa, aroma yang menarikan pelbagai sesak. Bagaikan mendaki ke puncak Gunung Merapi. Di puncak itu akan dirasakan udara-udara pengharapan yang menipis. Namun ketika mata dilayangkan, panjang, melihat alamnya yang masih hijau, kembali nafas pulih dalam genta-genta harapan yang masih berbunyi dari langit. Walau sebagian tepi alamnya retak-retak, akibat geliat bumi yang terjaga dari tidur panjangnya. Lempeng-lempeng itu, rengkah. Memuntahkan banyak kisah. Menjadi larik-larik yang dramatis. Menjadi narasi bisu, ketika tangis menggelantung di ufuk jingga keperak-perakan pada rembang petang. Telah menjadi benang-benang yang direntangkan kepada langit. Membawa sejuta doa kepada Tuhan, yang menampar ciptaan-Nya, dengan tamparan penuh hikmah. Ini kemudian yang dijadikan larik-larik cerita pendek dan puisi oleh tangan-tangan yang selalu menarikan kata-kata. Mereka yang menulis dalam antologi ini.
Dari tanah gempa, narasi-narasi menjadi cerita. Dari tanah gempa, tangis menjadi prosa. Dari rengkah tanah itu, harapan mencuatkan kata-kata puitika. Bagaikan sebilah sayap bidadari. Sayap yang dikepakkan, menjadi sebilah duka. Dari desiran sayap itu, ada sejuta bidadari menarikan hikmah. Bagaikan tarian dalam semerbak doa, pada hamparan melati putih di atas pusara yang masih basah. Rerangkai cerita dan puitika dalam antologi “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter”, menjadi telinga yang dilekatkan pada bumi, mendengarkan hikmah yang bergetar dan denyut pesan dari tanah gempa. Lalu dijadikan narasi bisu. Tidak sekadar ekspresi kata, tapi telah menjadi ekspresi hati ketika getar dan ditingkahi gegar, bergoncang.
Hanya hati putih, yang bisa mengukir duka, menjadi lukisan cantik. Secantik mata Monalisa. Membuat mata tak bisa lepas mengeja garis-garis teks bertinta hitam di carik-carik kertas putih ini. Rangkaian cerita pendek dengan topangan puitika ini, akan menjadi memorilibia di rentang zaman. Ia akan menjadi kamar, tempat manusia berkaca dari bandul peristiwa. Menjadi ruang, di mana sepasang mata akan selalu berkaca-kaca ketika memori diputar kembali oleh lorong-lorong peristiwa, melewati labirin-labirin duka.
Antologi ini tidak sekadar untuk menggalang dana kemanusiaan dari royaltinya. Tapi juga menjadi monumen peristiwa di atas gempa yang berkekuatan 7,9 Scala Richter, di sana, di bumi Minangkabau. Bagi penulis yang berhimpun dalam antologi ini, merapatkan jari, lalu menarikan kata hati. Kertas-kertas ini menjadi kanvas, tempat melukis haru yang tumbuh dari butir-butir air mata. Kemudian mengharapkan tumbuh menjadi harapan, yang meningkahi ufuk Sumatera Barat. Ya, lihatlah langit Sumatera Barat masih hijau. Di sana malaikat masih melukis rahmat. Masih ada sejuta senyum bidadari yang mengintip di balik awan ketika melihat bocah-bocah bermain di atas rerumputan, penuh embun, mengejar capung di pagi dan petang hari. Walau phobia atas getar bumi, mengusili mereka, lalu terbirit-birit, menyeruduk ketiak umi dan mandeh mereka. Namun semangat untuk pulih tidak akan pernah dipatahkan oleh gentar dan akan menjadi tunas-tunas hidup yang masih terus tumbuh. Dan mereka yang bertahan adalah bukti, tunas itu masih tumbuh.
Membaca antologi ini, seperti mengeja puing-puing yang masih berserakan di atas bumi yang oleng. Bagaikan merapal mantra. Ia menjadi pengsarahan ketika kisi-kisi hidup berhenti sejenak, tergagap melihat ratanya tiang-tiang kehidupan dengan tanah. Membaca antologi ini, seperti memetik kecapi di tengah malam, ketika hati gelisah dilumat gegar menyaksikan ratapan anak-anak, manusia kehilangan peraduannya. Seperti cecetan burung tandahasih, yang kehilangan pasangan hidupnya. Maka bacalah, agar meraut hikmah dari kisah-kisah dituangkan dari curup tanah gempa yang kami namai “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter.

Pada Rembang Petang
Di Uripsumoharjo, 21 November 2009

1. Dari Kumcer Radhar Panca Dahana (2005), Cerita-cerita Negeri Asap, Jakarta: Kompas, hal. ix
2. Dikutip dari Sindhunata (2007), Anak Bajang Mengiring Angin, Jakarta: Gramedia, hal. 71


Rapalan Terima Kasih

“Gerrrrrrrrrrrrrrrrrrr…”
Bumi berguncang, tanah menari bagaikan seekor naga yang baru saja terbangun dari tidurnya. Melontarkan tanah dan lumut di batang badannya. Berhamburan meningkahi udara, dengan raungan dari inti bumi yang bergerak, bersigesak. Di rembang petang 30/S/2009, tanah Minangkabau, meraungkan getar 7,9 scala richter. Menjadi lonceng bagi para laron, mengarak bantuan; uang, obat-obatan, dan selimut serta pakaian. Lalu mereka dirikan sarang, berbentuk rumah-rumah darurat dari terpal yang berwarna warni. Sementara dari arah Jambi, di jalan Lintas Sumatera, raung sirene ambulance mengoyak tudung malam dan menyentil hati untuk melakukan sesuatu. Hendak menjadi laron ataukah yang lainnya. Meramu bala bantuan kemanusiaan.
Jedah dari getar 7,9 scala richter itu.
Pergulatan mencuat. Akankah menjadi laron, mengusungi tenaga membawa keranda atau menjadi lebah, hanya meneteskan sedikit madu, tapi sama-sama menjadi obat laiknya kepakan sayap para laron yang menjadi payung teduh. Ya, akhirnya diputuskan untuk meramu kata dari penulis-penulis di Nusantara. Lalu mencoba menghubungi sastrawan yang tercenung di pusara tanah gempa.
“Bang, kita akan menyusun antologi 7,9 Scala Richter. Dan royaltinya kita himpun buat dana kemanusiaan. Bisakah, abang menyumbangkan selarik cerpen atau puisi?”
“Kami ini adalah korban. Tapi biarlah akan saya sisihkan nyali untuk menuliskan ratap hati.”
Kira-kira demikian Abdullah Khusairi merespon permintaan seorang pengurus JPI (Jaringan Penulis Indonesia), ketika itu berada di Sumatera Barat. Sedikit jedah, pada tanggal 31 September 2009, Iggoy el-Fitra, cerpenis dan wartawan di Padang, turut bersedia menyumbangkan cerpennya. Walau ia jerih dalam perburuan mencari kabar-kabar yang terus membumbung, meningkahi udara di retak-retak tanah. Namun ekspresi hatilah yang mendorongnya turut berbagi kisah.
Besar dan teramat membantu adalah kebesaran hati Bapak Bambang Alfath, direktur kelompok Penerbit Pustaka Fahima, menyatakan siap membantu menerbitkan antologi ini. Seperti kepakan sayap bidadari, “Baik, kita akan bantu. Dan semoga ini mengurangi penderitaan saudara-saudara kita di sana.” Demikian bunyi send short message dari Bapak Bambang Alfath. Ada juga siraman semangat dari Endik Koeswoyo, bagaikan oase di tengah gurun, send short messagenya mencuatkan harapan untuk menghimpun penulis-penulis di seantero Nusantara, “JPI (Jaringan Penulis Indonesia) siap mengalang penulis. Akan kita coba hubungi Fira Basuki, dan Dewi “Dee” Lestari.” Dari titik ini kemudian, undangan terbuka ditorehkan di dunia maya, lewat Facebook. Hasilnya, bagaikan memanen padi dari tanah yang subur. Puluhan penulis mengirim cerpen dan puisi lewat email kepada JPI. Berbagai macam genre, ekspresi kata-kata berbuhul menjadi satu “Untuk mereka yang di Sumatera Barat”. Mereka-mereka ini adalah Dwi Januanto Nugroho, Nursalam AR, Fira Basuki, Abdullah Khusairi, Dyra Hadi, Nuril Annissa, Iggoy el Fitra, Dea Anugrah, Benny Arnas, Asep Sambodja, Irawan Aji, Zelfeni Wimra, Timra Madana Pitri, Mariska Anggraini, Endik Koeswoyo, Yandigsa, Muhammad Sholihin, Raudhatul Usnami, Karina Anggara, Irawan Senda, Sulfiza Ariska, Akhyar Fuadi, Zadika Alexander, Silfia Hanani, Feryanto Heady, Darwis Ramadhan, Galuh Parantri, Arif Puji G, Luckty Giyan Sukarno, Bejo Halumajaro, Pamungkas WH, Gayatri Parikesit, Monica Petra Karunia, Sulistyawati, Rahmad Ibrahim, Haerul Said, Addiarahman, Salman Aristo, Dewi ‘Dee’ Lestari. Muhammad Nasir, Muhammad Zikri. Apalagi kata yang tersisa untuk dirapalkan pada mereka, melainkan selarik kata “terima kasih”, semoga ini menjadi jenjang-jenjang amal jariyah bagi mereka, penulis.
Rapalan terima kasih pada mereka yang berada di belakang layar penerbitan “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter”. Mas Dean Syah, yang bersedia mengeja satu per satu kalimat dari naskah ini. Mas Aryamuslim, seorang ilustrator yang bersusah payah menjarah ide tata letak antologi ini. Dan yang tak kalah berharga dan penting adalah Bapak Budi, barangkali bergulat dengan malam, mencari ide atas desain cover antologi ini. Juga pada mereka, para karyawan dan segenap kru kelompok penerbit Pustaka Fahima, yang berkerja dengan hati. Tanpa mereka, tanpa tetes peluh, maka tidak akan mungkin cerita dan puisi ini menjadi buku yang cantik dan layak pembaca geluti.
Pada masyarakat Sumatera Barat, tak ada kata yang layak dirapalkan melainkan doa “Tabahlah. Mari kita sama-sama bergandengan tangan menjarah harapan yang masih menyembul di balik-balik celah langit. Kami, juga dunia masih akan terus menjadi saudaramu, tak akan putus oleh lintasan SARA ataupun rentang jarak.” Mereka yang menjadi korban, doa senantiasa dirapalkan “Semoga para malaikat membawa keranda-keranda syahid pada-Mu dan kalian.” Tak luput, tak terbilang terima kasih pada hal dan mereka yang menjadi inspirasi bagi para penulis untuk menarikan cerita dan puisi. Matur suwun. Kepada para pembaca yang budiman, tanpa kalian apalah arti karya ini. Tanpa kalian tak akan berguna larik-larik ini menjadi obat peluruh sakit di tanah gempa. Dengan sepuluh jari kami haturkan terima kasih, tiada tara.
Terakhir sebagai ekspresi paling utama, kepada Allah ’Azza wa Jalla, kami mohon ampun. Semoga tetaplah dijinakkan bumi ini, dengan lembut kasih-Nya. “Dan pada-Mu, kami titipkan hidup dan curahkan pinta. Rawatlah kami seperti rembulan yang merawat malam. Aliri kami dengan rahmatmu. Seperti sungai yang mengaliri samudera. Dan ini semua, kami haturkan pada-Mu. Ya..rabbana ’izzah wa maula. Inilah rapalan terima kasih untuk semua pihak tanpa kecuali. Semoga menjadi amal, yang mendekatkan pada Allah. Amin.

EM. Sholihin

Catatan: Bagi Semua Penulis yang terlibat dalam penulisan ini akan mendapatkan Buku Sebilah Sayab Bidadari. Silahkan Menghubungi M. Sholikin silahkan menghubungi LINK di FB berikut ini: http://www.facebook.com/profile.php?v=photos&so=0&id=1052062341#!/note.php?note_id=408906859611&comments atau fia email Mshoy84@yahoo.com

Bagi penulis yang di Kota Yogyakarta silahkan langsung mengambil di Pustaka Fahima: Jl. Munggur No 7 Yogyakarta. 0274 - 58537

Di Harapkan Untuk Semua Penulis Yang Terlibat, menjadikan Cover Buku Sebilah Sayab Bidadari untuk Foto Profile selama 1 bulan, terhitung sejak 1. April hingga 1 Mei 2010 untuk membantu promosi


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakar
ta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Bersedia Membaca, tuliskan komentar anda dan saya akan berkunjung ke blog anda...

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN