twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Sabtu, 24 Desember 2016

INI BUKAN SOAL TELOLET, TAPI INI SOAL MENULIS

INI BUKAN SOAL TELOLET, TAPI INI SOAL MENULIS

Oleh : Endik Koeswoyo
 

Siapa yang tidak tau Om Telolet Om? Pertanyaan sederhana yang sudah pasti kita ketahui jawabannya. Telolet sudah menjadi viral di Indonesia dan dunia, mewabah kemana-mana bak sebuah virus. Ya begitulah saudaraku semuanya, bahagia itu memang sederhana, cukup teriak “Om Telolet Om” ketika bus lewat, lalu berbunyilah klakson bus, kemudian jingkrak-jingkak girang. Sangat-sangat sederhana bukan untuk bahagia itu? Tapi hati-hati jangan sampai mengganggu lalu lintas apalagi membahayakan diri sendiri bahkan orang lain. Demam telolet boleh, ikutan telolet juga boleh, tapi sekali lagi jangan sampai menggangu kelancaran lalu lintas apalagi sampai nekat menghadang bus beramai-ramai.

Tapi tulisan ini bukan akan membahas soal telolet, tetapi tulisan ini lebih kepada bagaimana menulis dan menulis. Mencari ide menulis memang katanya susah, sudah susah-susah menulis enggak tau mau diapakan. Dan sebenarnya hambatan calon penulis ketika tidak bisa menyelesaikan tulisannya itu karena mereka tidak tau, setelah selesai mau diapakan tulisan ini? Setelah selesai mau dijadikan apa tulisan ini? Setelah kata ‘SEKIAN’ atau ‘SELESAI’ menjadi akhir sebuah naskah siapa yang akan menerbitkan? Masalah itulah yang menjadi problem para calon penulis dan para penulis. Termasuk saya kadang kala juga begitu.

Akan tetapi saudara-saudara semua! Tenang saja, menulis atau belajar menulis itu seperti belajar menabung, apa yang kita tulis hari ini belum tentu menjadi sesuatu, belum tentu langsung menghasilakan hari ini juga. Menjadi penulis itu harus sabar, seperti sabarnya kita ketika menunggu bus lewat dan meminta telolet itu. Kadang sudah lama nunggu bus pas lewat Pak Sopir nggak mau bunyiin teloletnya, kesel juga sih rasanya, tapi kalau lama nunggu tetapi akhirnya bus yang lewat berbunyi telolet kita pasti girang bukan kepalang. Begitulah menulis, harus sabar dan nanti pasti akan ada hasilnya, nanti suatu kelak pada masanya yang kita tidak tau entah kapan, bisa jadi besok atau lusa.

Tidak jarang penulis menawarkan naskah ke sana kemari berhari-hari, berminggu-minggu bertahun-tahun tidak mendapatkan hasil, tetapi nantinya pasti akan mendapatkan hasilnya. Bahkan, dalam sebulan terakhir saya menulis hampir 15 sinopsis untuk film layar lebar, ketika menulis saya yakin dari tulisan-tulisan saya yang cukup banyak itu, pasti akan ada yang cocok, pasti akan ada produser yang mau. Dan hasilnya, dalam 2 bulan ini saya menulis belasan sinopsis, setiap pagi setelah subuh saya selalu menulis sinopsis, saya kirim ke produser atau sutradara, say amenulis saya kirim ke sutradara atau produser yang saya kenal, begitulah terus menerus tanpa lelah, dan hasilnya? Seperti menunggu bus sambil teriak telolet, saya mengirim sinopsis sambil teriak dalam hati “Om terima Om, terima sinopsis saya!” Dan alhasil dua dari sekian belas sinopsis saya diterima. Girang? Jungkir balik? Ngakak guling-guling? Atau jinkrak-jingkak? Ah silahkah saja anda membayangkan sendiri, bagaimana rasanya saat nunggu bus telelolet dan anda mendapatkan suara itu, bahagianya bukan kepalang.

So? Jadi? Terus? Lalu? Semua kembali kepada kita, siapa yang banyak menulis dialah yang memilik banyak tabungan. Siapa yang banyak menulis dialah yang akan dikenang sepanjang jaman. Siapa yang banyak menulis dialah yang paling berpeluang mendapatkan apa yang dia inginkan. Menulis itu sederhana, bahagai itu juga sederhana, yang sulit adalah konsisten dan tidak mudah menyerah. Dan pagi ini, 24 Desember 2016 artikel berjudul “Ini bukan soal telolet, tapi ini soal menulis” adalah artikel kedua yang saya tulis dalam misi gerakan menulis satu hari satu artikel. Gerakan ini saya harapkan akan menjadi pemacu teman, sahabat dan saudara saya yang ingin menjadi penulis. Tema apa saja bisa dijadikan ide dasar untuk menulis, tinggal mau apa tidak? Terakhir, sebuah parikan untuk anda, “Naik bus Puspa Indah dari Malang ke Jombang, yang lain sudah bisa menulis Indah situ bisa ngapain Bang?” ---- “Numpak bis Puspa Indah katene nang Jombang, duduk manis karo gebetan! Katene nulis ojok kakean alasan, duduk manis terus lakukan!”  


***

TENTANG PENULIS
Endik Koeswoyo, penulis novel, buku dan skenario, lahir di Jombang, saat ini tinggal di Jakarta. Twitter : @endikkoeswoyo Instagram : @endikkoeswoyo Facebook : Endik Koeswoyo 

Jumat, 23 Desember 2016

Om Menulis Om (Gerakan Satu Hari Satu Artikel)



Om Menulis Om
(Gerakan Satu Hari Satu Artikel)

Budaya menulis di Indonesia masih sangat rendah, dukungan pemerintah kepada penulis juga sangat kurang bahkan bisa dibilang tidak ada. Padahal, menulis itu sebuah pekerjaan yang sangat penting dan sangat di butuhkan. Sejarah bisa ditelusuri dan dipahami juga karena adanya bukti tertulis dalam prasasti-prasasti yang ditemukan. Budaya literasi di Indonesia sekali lagi belum memenuhi standar baik itu mutu, baik itu dukungan, baik itu kualitas, baik itu kwantitas dan sebagainya, dan sebagainya.
Negara lain, tidak udah disebuah sebagai negara maju, karena semua negara sama saja, tidak ada itu negara maju atau negara berkembang, semua negara punya cita-cita sama dan berlomba menjadi negara yang baik di mata rakyatnya dan di mata dunia. Kembali lagi kepada literasi, pemerintahan di negara lain banyak yang sudah memiliki lembaga yang khusus menangani masalah buku, penulis atau sebut saja sebagai literasi. Negara tetangga kita saja, memiliki dewan buku, kerjaan mereka jelas, membantu penulis-penulis untuk menciptakan buku-buku yang bagus. Buku bagus itu yang bagaimana? Buku bagus itu yang ditulis dengan hati senang, ditulis dengan tenang, artinya penulis mendapatkan dana riset, dana penelitian, uang kopi, uang listrik, uang makan dan tetek bengeknya, emang nulis nggak perlu biaya? Penulis itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, dalam menulis sebuah buku rata-rata penulis akan menghabiskan waktu sekitar 3 bulan, bahkan bisa 3 tahun, nah selama 3 bulan itu mereka makan apa kalau tidak ada support? Bagaimana hasil tulisan bisa bagus kalau masih mikirin makan? Bagaimana tulisan bisa berkualitas kalau untuk riset penulis harus  menyisihkan dan memetong uang jajan anak? Memangkas uang belanja istri? Mengurangi uang makan keluarga? Itu masalahnya.
Standar hidup penulis di Indonesia tidak tinggi-tinggi amat kok, penulis Indonesia ini hampir semuanya sederhana, standarnya juga simple, ketika penulis keluar rumah anak dan istri di rumah tersenyum, itu saja standarnya. Walapun profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup, tetapi banyak penulis yang berani mengambil keputusan dan sikap, sebagai penulis full time, tidak menjadikan penulis sebagai sampingan. Resikonya? Resikonya tidak ada asalkan bisa mengatur management, kapan penulis dapat uang, kapan penulis mengelola uang dan kapan penulis harus memikirkan untuk mendapatkan uang lagi dan lagi dari tulisannya. Simplenya begini, dari satu buku penulis harus memilik terget penghasilan, missal 1 buku akan menghasilkan 25 juta, maka silahkan saja dibagi berapa anda ingin digaji setiap bulannya? Anggap saja 5 juta/bulan cukup, maka 1 buku akan mencukupi kebutuhan selama 5 bulan. Kalau satu buku bisa menghasilkan 25 juta, bagaimana kalau satu buku hanya menghasilkan 3 juta saja? Maka rumusnya harus dibalik, menulislah 2 buku dalam sebulan, hehhee… bisa? Bisa saja kalau mau. Bisa tapi susah, tetapi kalau kita memiliki kemampuan menulis, maka sumber pendapatan kita bukan hanya dari buku, bisa dari cerpen atau opini di media cetak atau online. Bisa mendapatkan sumber dari situs-situs internet, bisa menjadi penulis lepas yang menulis artikel untuk online, bisa menjadi penulis bayangan, dan jangan lupa, industri menulis ada di dalam dunia televisi, iklan dan film, kalau penulis bisa masuk ke dalam dunia entertainment yang satu ini, bisa dijamin kehidupan atau keuangan akan mencukupi.
Jangan mengandalkan satu titik, fokus boleh hanya pada buku, tetapi cobalah merambah dunia literasi lainnya. Oh ya, apaan sih literasi itu? Ational Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai "kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.
UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang "multiple Effect" atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Pertanyaan lainnya, bagaimana mulai menulis? Kapan mulai menulis? Bagaimana caranya menulis? Ini adalah pertanyaan kuno, pertanyaan absurd yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Bagaimana memulai menulis? Baca bismillah duduk manis, mulailah menulis, tidak ada cara lain selain itu? Jawabnya tidak, duduk manis dan menulislah. Kapan mulai menulis? Sekarang, ya, jawabnya adalah sekarang tidak bisa menunggu besok atau entar. Cara menulis? Bisa di ketik, ditulis tangan, ditulis dengan handphone, ya begitulah caranya. Tulislah apa yang ingin anda tulis. Contoh sederhana memulai menulis adalah dengan yang dekat dengan kita, kucing kita mungkin, kursi kita mungkin, masakah ibu kita mungkin, gelas kesayangan kita mungkin, sepatu kita juga bisa. Itinya tulislah yang dekat dan sangat mudah untuk kita pahami. Belajar menulis artikel yang sederhana, mengulas produk-produk yang kita pakai sehari-hari adalah cara paling mudah mengasah kemampuan menulis. Untuk anda yang baru memulai, belajarlah menulis artikel atau opini tentang benda-benda di sekitar anda, benda yang bisa anda sentuh dan anda lihat, sehingga mudah membuat tulisan tentang benda itu, tinggal menulisnya dengan cara yang berbeda, suka-suka anda.
Dunia sudah serba modern, bukan saatnya kita berpangku tangan kemudian membisu asik dengan gadget masing-masing, dunia sudah modern jangan hanya menjadi pembaca ponsel, tetapi maafkan media online untuk menunjukkan karya tulis yan keren. Biasakan menulis 1 hari satu artikel pendek, kalau artikel itu temanya menyambung dalam 30 hari sudah bisa jadi sebuah buku. Simple saja, menulis 2 jam sehari sangat pas untuk siapa saja, tidak perlu lama-lama, tetapi jangan juga terlalu singkat. Isu-isu yang sedang ramai dibicarakan juga bisa dijadikan tema menarik tulisan kita.
Sebenarnya arah tulisan ini mau kemana? Tergantu anda mau membawa arahnya kemana. Yang jelas tulisan ini hanya sebuah opini singkat tentang budaya literasi di Indonesia yang masih sangat kurang. Jumlah buku yang diterbitkan setiap bulannya juga masih sangat kurang, dan lagi perpustakaan dan toko buku semakin sepi, tergerus peradaban modern katanya. Padahal buku adalah jendela dunia yang harus tetap bertahan dan harus dipertahankan. Kalau saja ada 100 penulis yang bisa bersatu menghasilkan karya-karya yang luar biasa, maka pergerakan buku di Indonesia pastilah akan menanjak. Hasilnya pasti akan sangat luar biasa, apalagi ada dukungan pemerintah. Dukungan yang bagaimana? Simple, missal penulis-penulis mengajukan ide atau outline tulisan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung jawab mengenai buku, kemudian jika ide atau outline itu memang layak diterbitkan, minimal pemerintah memberikan support dana kepada penulis, misal satu buku yang diajukan membutuhkan waktu 6 bulan, selama 6 bulan ini, penulis digaji pemerintah, dan pemerintah akan mendukung penerbit yang menerbitkan buku tersebut, didukung secara promosi salah satunya pasti akan menjadi buku yang bagus. Melihat negara tetangga, di sebelah kita, mereka sudah melakukan itu, naskah atau outline dari penulis diajukan ke dewan buku, kemudian dibaca oleh dewan buku, kalau naskah outline itu dinilai bagus, walaupun isinya mengkritik pemerintahan akan dibiayai, dari proses penelitian, penulis, penerbitan dan proses penjualan akan didanai oleh pemerintah, ini sangat menarik bukan?
Sudahlah, tidak usah bermimpi yang muluk-muluk, sekarang ini kita harus bergerak, mulailah menulis dengan menjadikan budaya membaca buku sebagai pilihan utama. Dengan banyak membaca kita akan bisa banyak menulis. 

---
TENTANG PENULIS
Endik Koeswoyo, penulis novel, buku dan skenario, lahir di Jombang saat ini tinggal di Jakarta. Twitter: @endikkoeswoyo Instagram : @endikkoeswoyo  Facebook : Endik Koeswoyo 

Rabu, 14 Desember 2016

Sampai Jumpa - Endank Soekamti (Sign Language Bisindo Video Lyric & Chord)



Lirik lagu: Sampai Jumpa Endank Soekamti




Datang akan pergi Lewat kan berlalu
Ada kan tiada Bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir Terbit kan tenggelam
 Pasang akan surut Bertemu akan berpisah

Heii Sampai jumpa dilain hari
Untuk kita Bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap Tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Dududu Dudududu
Datang akan pergi Lewat kan berlalu
Ada kan tiada Bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut Bertemu akan berpisah

Heii Sampai jumpa dilain hari
Untuk kita Bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap Tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Heii Sampai jumpa dilain hari
Untuk kita Bertemu lagi
 Ku relakan dirimu pergi
Meskipun Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap Tanpa dirimu
 Ku harap terbaik untukmu

Jumat, 02 Desember 2016

Ranting Dedanunan



RANTING DEDAUNAN
The Movie

Penulis: Endik Koeswoyo
Draf 2

Premise: Kehidupan Ranting (24 tahun) berubah ketika dia bertemu Darwis (27 tahun) saat melakukan riset untuk skripsinya di sebuah perkampungan nelayan.

SINOPSIS: 
Namanya Ranting, usianya 23 tahun, gadis cantik, manja dan antipati dengan dunia politik. Ranting yang kuliah jurusan Ekonomi, sedang menyelesaikan skripsi dengan judul “Nelayan, Pasar Bebas dan Kebijakan Pemerintah, dengan menggunakan Metodologi Analisis Ekonomi Deskriptif.”
Sebagai anak orang kaya, tidaklah sulit bagi Ranting untuk memilih tempat guna melakukan reisetnya. Melalui pembatu di rumahya, Ranting memutuskan pergi ke sebuah perkampungan Nelayan, dia memutuskan untuk menyelesaikan skipsinya di sana selama 2 bulan walau pada mulanya keinginan Ranting itu ditentang oleh kedua orang tuanya yang mengkhawatirkan kehidupan Ranting anak satu-satunya itu jika jauh dari orang tuanya, “Mama tidak setuju kalau kamu harus hidup di perkampungan Nelayan dan tidak pulang selama 2 bulan!” kata Bu Niar (55 th) Mamanya Ranting. Pak Munar (60 th)Papanya juga tidak sepaham, “Kamu itu manja, apa bisa kamu hidup disana? Lagian di kampung nggak ada perpustakaan, kamu bakal susah cari buku referensi buat skipsi kamu?” Ranting tetap ngotot dan ingin melakukan riset langsung ke lapangan, dia yakin mampu. Akhirnya Ranting berangkat, seorang diri.
Pak Munar yang mengkhawatirkan Ranting akhirnya mengutus Ronald (24 th), anak sahabat Pak Munar yang naksir sama Ranting dan satu kampus dengan Ranting. Ronald berangkat ke perkampungan Nelayan, tanpa sepengatahuan Ranting.
Di perkampungan Nelayan, Ranting kaget ketika bertemu dengan Ronald, “Loh kok kamu bisa ada disini?” tanya Ranting ke Ronald, Ronald hanya bilang dia juga menyelesaikan Skripsi tentang pemerintahan daerah dan kebijakan ekonomi mikro, judulnya hampir sama dan mereka bisa melakukan penelitian bareng, “Jodoh kali ya?” kata Ronald bercanda ke Ranting. Ranting senang, setidaknya dia mempunyai teman di kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota itu. Seiring berjalannya waktu, kedekatan Ranting dan Ronald semakin terasa, Ronald cowok baik dan perhatian, Ranting jadi makin simpati dan akhirnya mulai jatuh cinta dengan Ronald.
Gayung bersambut, Ronald yang telah lama jatuh hati pada Ranting akhirnya mempunyai kesempatan untuk emakin dekat dengan Ranting dan membuktikan cintanya pada Ranting. Banyak hal-hal kecil yang dilakukan Ronald mampu membuat Ranting semakin yakin kalau Ronald adalah cowok baik. Ronald begitu peduli dengan nasip para nelayan, Ronald juga dekat dengan anak-anak kecil di perkampungan itu. Bahkan dengan sabar Ronald memberikan bimbingan belajar pada anak-anak kecil, mengajarkannya banyak hal sebagai modal ketika mereka besar nanti. Bahkan suatu hari Ranting melihat Ronald yang sedang memperbaiki kapal milik nelayan.
Selain aktif dan dekat dengan warga kampung Nelayan, Ronald juga dengan sabar menemani Ranting melakukan riset di perkampungan itu. Bukan itu saja, Ronald sering kali memberikan surprise pada Ranting, mengajak Ranting naik kapal nelayan ke laut, bahkan memberikan kejutan pada Ranting dengan pesta bakar ikan bersama nelayan dtepi pantai. Begitu banyak hal romantis yang dibikin oleh Ronald, special untuk Ranting.
Bersama dengan Ronald, Ranting semakin mengerti tentang kehidupan yang sebenarnya, bagaimana kegelisahan seorang istri nelayan ketika malam hari tidak bisa tidur dan terus berdoa untuk suaminya yang melaut. Bagaimana perjuangan seorang nelayan yang bertaruh nyawa dilautan lepas, bisa saja kapal mereka tersapu badai dan takpernah bisa pulang. Bagaiman anak-anak harus jalan kaki dan naik angkot untuk kesekolah. Semua menyadarkan Ranting bahwa hidupnya selama ini yang penuh kemewahan dan membuatnya manja adalah sebah kesalahan yang harus diluruskan. Apalagi dengan mata kepala sendiri, Ranting melihat kesedihan seorang ibu muda dengan 2 putranya yang masih kecil ketika mendengar kabar suaminya hilang dan jasadnya tidak pernah diketemukan karena badai menenggelamkan perahu kecil miliknya. Ranting benar-benar sadar, hidup tidaklah mudah dan penuh perjuangan.
Suatu hari, Ranting secara tidak sengaja bertemu dengan Darwis, Ranting sepertinya pernah melihat wajah pemuda itu, Ranting baru sadar ketika Darwis menunjuk sebuah baliho kecil di pinggir jalan, ada foto Darwis di sana, rupanya Darwis adalah calon Bupati yang akan maju dalam pemilihan bulan depan. Sontak, Ranting jadi males sama Darwis, yang menurutnya sok kalem, sok baik, sok care dan sok peduli karena memang lagi mencari dukungan masyarakat, “najis” batin Ranting. Ranting langsung menghindar, ogah berteman dengan politikus, Ranting pikirannya negative banget ke Darwis. Tetapi ketika Ranting mencoba menghindari Darwis, dia malah beberapa kali bertemu dengan Darwis di perkampungan nelayan itu. 
Ranting bercerita pada Ronald tentang Darwis, Ranting yang pesimis dan antipati dengan politikus itu curhat banyak hal, menurutya politik itu kotor, disini dengan sabar Ronald memberikan bayak padangan tentang politik, tidak semua politikus kotor, pasti ada orang-orang baik yang tau baik dan benar. Namanya juga Ranting, tidak pernah mau percaya dengan politik karena dia beberapa kali melihat politikus yang memeras Papanya yang pengusaha sukses itu dengan berbacai macam cara.   
Pertemuan selanjutnya di sebuah angkot, Darwis langsung menyapa Ranting, tetapi Ranting malah nyekak Darwis, “emang harus ya calon Bupati naik angkot beginian? Biar rakyat simpati?” Darwis senyum, lalu jawab, ”Sejak SMA dulu, aku naik angkot yang sama, sopirnya juga sama,Pak Albar ini…” Ranting nggak percaya, saat itu Sopir nyeletuk, “Kalo saya jadi Mas Darwis saya juga bakalan naik angkot ini, la wong ndak pernah bayar!?” Darwis tertawa ke Pak Albar, usut punya usut Ranting baru sadar kalau Angkot yang selama ini dia tumpangi itu adalah salah satu usaha Bapaknya Darwis, juragan angkot. Saat itu ada penumpang anak-anak SMP, 3 orang baru saja naik angkot. Mereka langsung curhat ke Darwis, minta dibantuin ngerjain PR, Ranting makin penasaran, karena Darwis yang mau ke kota malah turun di pinggir jalan karena anak-anak itu maksa Darwis buat bantuin ngerjain PR Bahasa Ingris dulu. Darwis turun bareng anak-anak SMP itu. Ranting yang penasaran akhirnya menguntit Darwis.
Di sebuah halaman rumah kecil, Darwis membantu anak-anak mengerjakan PR, kasih penjelasan rumus-rumusnya, anak-anak antusias. Ranting yang membuntuti Darwis tanya ke seorang ibu, “Itu calon Bupati beneran Bu?” sambil nunjuk Darwis yang cukup jauh dari mereka. Ibu itu kasih penjelasan, “Oh… Mas Darwis? Iya, dia calon Bupati, tapi kayaknya ndak serius nyalonnya, ndak pernah kampanye,” Ranting makin penasaran, “Terus ngapain dia kesini kalau ndak kampanye?” Ibu jawab lagi, “Ya, dari dulu dia sering kesini, dia emang deket sama anak-anak kampung sini, bantuin anak-anak kampung, beliin buku, beberapa anak malah dikasih kartu angkot gratis,” kata Ibu itu lagi. “Sejak kapan dia kasih kartu angkot gratis itu?” taya Ranting masih penasaran, “Sejak kapan ya? Saya lupa neng, 5 atau 6 tahun lalu kayaknya, sejak anak saya SD,” Ranting makin heran dan makin penasaran.
Di rumah Kepala Dusun yang dia tinggali, Ranting penasaran dan mencoba mencari tau soal Darwis, Pak Kadus bilang kalau Darwis itu yang nyalonin sebenarnya masyarakat, dulu dia menolak tetapi karena dia dianggap cocok sebagai pemimpin ya kami paksa untuk maju, kata Pak Kadus. Ronald masih nggak yakin dengan Darwis, dia yakin semua orang di kampung ini pasti sudah di suap sama Darwis. Ranting ngajak Ronald ke kampung paling jauh, paling pinggiran di kota itu, sekalian jalan-jalan mereka mencari informasi terhadap darwis, disebuah warung kecil, Ranting heran, ketika ada beberapa orang kampung yang ladi di kampung itu antusias mendengarkan Darwis yang lagi berdialog dengan masyarakat di sebuah radio. Saking penasarannya, Ranting tanya ke penduduk, apa mereka kenal dengan Darwis yang di radio itu? Semua jawab kenal, bahkan dari kecil mereka kenal, Darwis sering main ke kampung ini, dulu Darwis itu anaknya nakal, suka menyelinap di dalam kapal nelayan ikut ke laut, tapi namanya juga anak-anak, biasalah… kata seorang warga. Ronald dan Ranting makin penasaran.
Ronald mulai menangkap gelagat aneh pada Ranting yang malah sibuk mencari informasi tentang Darwis, bukan informasi tentang sikipsinya yang sudah hampir selesai. Naluri Ronald mengatakan kalau Ranting mulai tertarik dengan Darwis. Ronald yang tidak mau kehilangan Ranting segera menyatakan isi hatinya ke Ranting, di tepi pantai pada suatu Sore Ronald meminang Ranting, mengajaknya menikah. Ranting bingung, dia belum siap untuk menikah, tetapi Ranting juga tidak menolak, hanya butuh waktu untuk memberikan sebuah jawaban pada Ronald.
Ronald berusaha menjauhkan Ranting dari Darwis, Ronald selalu mencari cara agar Rantng fokus pada skipsinya. Waktu terus berlalu, hubungan Ranting dan Ronald semakin dekat, mereka sama-sama melakukan penelitian di kampung itu, hingga satu hal mengejutkan mereka temukan, munculnya isu besar tentang rencana penambangan biji pasir besi di sekitar pantai, bahkan sudah muncul beberapa perwakilan perusahaan yang terus meyakikan warga. Warga mulai menolak dengan rencana penambangan biji pasir besi di wilayah mereka karena mereka takut lingkungan pantai tercemar dan mata pencaharian nelayan bisa hilang jika 60% wilayah pantai akan dijadikan area tambang. Ranting yang sudah begitu dekat dengan warga kampung nelayan itu mau tidak mau menjadi tempat keluh kesah karena dianggap orang kota yang punya ilmu dan pendidikan lebih, beberapa Warga meminta bantuan Rating sebagai juru bicara menghadapi utusan dari pihak pengusaha dan perwakilan beberapa pejabat daerah. Melihat kehidupan nelayan yang susah itu, Rating tergerak hatinya.
Ranting akhirnya mencari Darwis, pastilah Darwis bisa mengantarkan Ranting dan Ronald untuk bertemu dengan pejabat-pejabat di kota, sebenarnya Ronald menolak ketika Ranting mengajakkan bertemu dengan Darwis, tetapi Ranting memaksa, Darwis pasti bisa menjadi penghubung mereka dengan orang pemerintahan.
Darwis mengantarkan Ranting ke kota, menemui seorang pejabat di sana,dalam proses memperjuangkan nasib rayta kecil itu, Ranting muliasimpati ke Darwis, bahkan Ranting diam-diam jatuh hati pada Darwis. Bebeberapa hari kemudian, Darwis mempertemukan Ranting dengan pejabat di kota, lalu terjadilah dialog antara Ranting yang mewakili warga dan Sang Pejabat. Ranting gagal memperjuangkan warga desa dan malah dituduh anggota LSM yang sengaja mau mencari uang dengan mengatasnamakan lingkungan dan kemiskinan. Ranting sangat sedih, apalagi mengetahui kalau pejabat yang ditemuinya itu adalah donator utama dari Darwis.  
Ranting semakin membenci Darwis, karena dia merasa Darwis tidak peduli dengan rakyat kecil, Darwis meminta pengertian Ranting perihal permasalahan tersebut, tetapi Ranting sudah kecewa dengan Darwis. Darwis sebenarnya sudah memikirkan mengenai tambang itu sejak lama, dia terus mencari sulusi dengan beberapa temannya, hingga akhirnya Darwis dan beberapa pemuda menemui pejabat itu lagi. Pejabat mengancam Darwis, jika Darwis menentang proyek tambang pasir besi dipesisir pantai, Pejabaat itu tidak akan memberikan dukungan ke Darwis lagi, dukungan suara dari Partai juga dukungan materi yang selama ini dia kucurkan ke Darwis akan dihentikan.
Darwis memutuskan untuk tetap membela warga dan nelayan, alhasil Darwis tidak tidak lagi mendapat dukungan. Darwis berencana mundur dari pencalonan Bupati, dia dan beberapa temennya mulai melepaskan baliho-baliho dan spanduk yang ada.
Suatu hari, di sebuah Radio Ranting mendengar Darwis dengan memberikan keterangan pers soal pengunduran dirinya, karena dia menentang Mega Proyek penambangan pasir besi, mendengar informasi itu, Ranting terhenyak, Ranting, Ronald dan beberapa warga dengan naik angkot ramai-ramai mendatangi tempat Darwis sedang diwawancara, Ranting langsung memberikan dukungan ke Darwis, Darwis harus tetap maju sebagai calon Bupati, karena jika Darwis mundur, dia tidak akan punya kekuatan untuk membela warga nelayan. Ranting dan Warga meyakinakan Darwis, mereka akan mendukung Darwis. Apakah yang akan terjadi selanjutkan? Mampukah Darwis menang dan menjadi Bupati terpilih? Bagaimana dengan Ranting? Akankah dia kembali ke Jakarta setelah skipsinya selasai? Bagaimana dengan Ronald yang melihat kedekatan Ranting dan Darwis? SAKSIKAN dalam film dengan judul RANTING DEDAUAN… 



NOTE:
Sinopsis FILM LAYAR LEBAR ini BELUM diproduksi. Jika anda membutuhkan sinopsis untk film layar lebar atau film televisi silahkan menghubungi saya selaku penulis via email: endikkoeswoyo@gmail.com.

 


KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN