twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Senin, 28 November 2011

Mantanmu Adalah Anumu -- Catatan Jomblo Galau




SEKILAS BUKU INI

“Dulu sudah aku bilangin, Ndik, kamu itu harus konsisten melas, sebab itu karakter kuatmu! Sekarang malah bergaya ustadz ya nggak cocok… nggak dapet feel-nya, jadi berasa hambar tho?”
***
Nah, itulah sepenggal kalimat yang menggambarkan kekuatan pribadi seorang Endik Koeswoyo yang bergelar si Jomblo Melas. Penulis beberapa novel serius maupun humor ini datang kembali dengan segudang catatan pribadinya seputar keseharian manusia. Tentang jomblo, tentang wanita, tentang hidup, tentang kesepian, tentang kesederhanaan, dan tentang jomblo lagi.
Lho?
Iya, tapi, di samping beberapa curhatannya seputar aktivitas MELASISME, masih banyak catatan lainnya kok yang nggak ada sangkut pautnya dengan kejombloan dan bla bla bla itu.
Nah, mau tahu semuanya? Tinggal sambar aja buku ringan yang super menghibur ini!! Menarik, renyah, empuk, segar, gurih, dan enak tenaaannn alias naknaaannn….

Dunia Ini Hambar bagi Aku yang Jomblo…Uhuk-Uhuk…

Kok ketika lihat si Ana hatiku dag, dig, dug, ya?
Kok kalau lihat si Ani, hatiku bergetar kayak ponsel, ya?
Kok kalau lihat si anu hatiku cenat-cenut gini, ya?
Kok kalau lihat si ini aku jadi bingung gini, ya?
Kok kalau lihat si Anto aku biasa aja ya?
Kok…
Judul: Catatan Jomblo Galau
Penulis: Endik Koeswoyo

Mana janji manismu, mencintaiku sampai mati

Kini engkaupun pergi saat ku terpuruk sendiri

Akulah Sang Mantan...

Akulah Sang Mantan…

Mantan, atau seseorang pernah ada di hati, seseorang yang pernah kita cintai setulus hati dan tiba-tiba entah karena apa kita atau dia memilih untuk menyudahi sebuah hubungan. Itulah pengertian singkat mantan, walau sebenarnya masih ada banyak mantan lagi, Mantan Bupati, Mantan Kapolda, Mantan Penjahat, Mantan Kyai dll. Karena mantan, tentu saja sudah 2nd alias bekas. Bekasnya siapa? Ya bekasnya yang dulu jadi mantannya itu. Hehehhe…Asal jangan mantan Orang Arab aja… loh? Heh? Maksudnya?

Mantanmu adalah anumu, anu itu adalah harimau. Jadi mantanmu adalah Harimaumu yang siap menerkammu, mecabik-cabik tubuh dan hatimu jika kamu tidak mampu mengendalikan emosimu. Ah masak iya? Iyalah masak ya iya dong? Mau tau? Buktikan saja langsung, buka pesbuk, lalu liat aktifitas mantanmu di sana. Hatimu akan tiba-tiba menangis seperih-perihnya jika dia sudah lebih dulu punya pacar baru dan men-guplod foto mesranya dengan pacar barumu. Dia sudah menjadi harimau paling ganas seantero jagad, minimalnya seantero Indonesia Raya dan Sekitarnya kecuali Timor-Timor. Dia yang dulu kita puja menjadi begitu menyesakkan dada pada akhirnya.

So? Kalau punya mantan, segera lupakan saja. Biarkan dia dengan kehidupannya. Lupakan dia dan tenangkan diri, cari pasangan baru aja. Lupakan semua kenangan indah dengannya dan ingat kenangan pahit dengannya akan membuat kita lebih bisa cepat melupakannya. Jangan sekali-kali membuka pesbuknya jika belum punya pengganti karena dia akan menjadi harimau paling ganas ketika kamu melihat tampangnya di foto yang narsisnya kelebihan. Sekali putus? Jangan balik lagi deh karena kamu akan putus nyambung putus nyambung dan itu menyakitkan. Percaya deh, banyak kok yang sudah membuktikan hal itu. Makanya kalau mau putus pikir-pikir dulu, malukan kalau mau balik Kucing? Kucing aja jarang mau balik arah. Iya tow?

“Kenapa nangis?” sapaku pelan sambil menepuk bahunya.

“Ini, mantanku udah punya pacar baru!” sambil nunjuk foto mesra mantanya.

“Loh ya jangan dilihat biar ga sedih,” saranku.

“Gitu ya?” tanyanya dengan wajah paling jelek yang pernah aku lihat. Tau sendirikan wanita itu paling jelek dikala dia memangis. Jelek sejelek jeleknya wanita di dunia ini adalah ketika dia sedang nangis sampe ingusnya keluar ke mana-mana. Hiiii….jijai…lebih jelek dari Mak Lampir yang suka makan lemper itu deh pokoknya.

Tapi gimana lagi? sebagai orang yang pernah kita cintai, Sang Mantan itu punya pengaruh terhadap apa yang kita lakukan saat ini. Percaya atau tidak, butuh waktu seumur hidup untuk melupakan Sang Mantan. Inget janji manisnya, nangis. Inget gandengan tangan mesra di pantai nangis. Inget disuapin saat ngutang bakso eh nangis juga. Inget telpon malam-malam, nagis juga. Inget bubuk bareng, ehhhh… nangis terus bunuh diri. Haduh…salah siapa hayooo?

Mengingat mantan itu bagaikan kena serangan asam akut. Tapi jangan takut, ada obat mujarab untuk mengatasi jika kena serangan Asma akut. Beli kalpanak 2 botol, gosok dikit tuh dada pakau kain yang kasar atau kerik saja pakai uang logam. Tuang kalpanak di dada yang sudah di kerik sampe merah-merah… rasakan perihnya deh…. Selamat mencoba aja… di jamit sakit hati akan hilang pelan-pelan.

Kalau punya mantan emang sebaiknya jangan dipantau, lupakan saja. Biarkan mantanmu menjadi Harimau jinak di kandangnya. Jangan kau ganggu lagi dia dengan melihat status pesbuknya setiap menit. Forget, forget dan lupakan. Nikmati hidupmu tanpa banyang-bayang mantanmu karena dia bisa jadi akan menjadi harimau paling ganas yang siap mencabik-cabik hatimu secabik-cabiknya sampai kamu kesakitan dan menangis tersedu hingga kamu menjadi manusia paling jelek karena tangismu yang sudah jelek elek itu. Yang lalu biarlah berlalu karena hidup terus berjalan tanpa bisa kembali ke masa lalu. Mari menatap kedepan saja, sekali saja liat kebelakang, jangan terlalu sering. Ingat anunya saja jangan ingat yang lainnya… Ok? Ok Deh….

== Catatan Jomblo Galau == Segera Terbit 2011

Salam Budaya:@endikkoeswoyoMari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 27 November 2011

Prabu Jayabhaya



Cover Buku: Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara
Tahun Terbit: 2009
Waktu Riset dan Penulisa: Antara Tahun 2004-2009

Prabu Jayabhaya dan Ramalannya yang melegenda
Entah kenapa hari ini tiba-tiba saya membaca buku yang pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu, buku ini berjudul Kisah legendaris raja-Raja Nusantara...
Dalam Buku itu ada satu Bab yang saya baca berulag-ulang, berikut ini adalah Bab VIII- Tentang Jayabhaya, ramalan demi ramalan itu seakan menjadi sebuah kisah nyata di Jaman sekarang.


BAB VIII. Prabu Jayabhaya
KERAJAAN KADIRI



Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157 Masehi. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang tahun 1135 Masehi, prasasti Talan 1136 Masehi, dan prasasti Jepun 1144 Masehi, serta Kakawin Bharatayuddha 1157 Masehi. Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya ‘Kadiri menang’. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala . Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri. Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Kurawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157 Masehi.
Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul Ling wai tai ta tahun 1178 Masehi. Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II sekitar tahun 1044 Masehi yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.
Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 Masehi atas nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui, sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan. Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang tahun 1135 Masehi, yaitu Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang. Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178 Masehi, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.
Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa. Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.
Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.
Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang. Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya. Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat. Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.
Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.

Ramalan Jayabaya

1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda)
2. Tanah Jawa kalungan wesi (Pulau Jawa berkalung besi)
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang (Perahu berlayar di ruang angkasa)
4. Kali ilang kedhunge (Sungai kehilangan lubuk)
5. Pasar ilang kumandhang (Pasar kehilangan suara)
6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak (Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat)
7. Bumi saya suwe saya mengkeret (Bumi semakin lama semakin mengerut)
8. Sekilan bumi dipajeki (Sejengkal tanah dikenai pajak)
9. Jaran doyan mangan sambel (Kuda suka makan sambal)
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang (Orang perempuan berpakaian lelaki)
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman (Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik)
12. Akeh janji ora ditetepi (Banyak janji tidak ditepati)
13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe (Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri) * Manungsa padha seneng nyalah (Orang-orang saling lempar kesalahan)
14. Ora ngendahake hukum Allah (Tak peduli akan hukum Allah)
15. Barang jahat diangkat-angkat (Yang jahat dijunjung-junjung)
16. Barang suci dibenci (Yang suci (justru) dibenci)
17. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit (Banyak orang hanya mementingkan uang)
18. Lali kamanungsan (Lupa jati kemanusiaan)
19. Lali kabecikan (Lupa hikmah kebaikan)
20. Lali sanak lali kadang (Lupa sanak lupa saudara)
21. Akeh bapa lali anak (Banyak ayah lupa anak)
22. Akeh anak wani nglawan ibu (Banyak anak berani melawan ibu)
23. Nantang bapa (Menantang ayah)
24. Sedulur padha cidra (Sudara dan saudara saling khianat)
25. Kulawarga padha curiga (keluarga saling curiga)
26. Kanca dadi mungsuh (Kawan menjadi lawan)
27. Akeh manungsa lali asale (Banyak orang lupa asal-usul)
28. Ukuman Ratu ora adil (Hukuman Raja tidak adil)
29. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil (Banyak pejabat jahat dan ganjil)
30. Akeh kelakuan sing ganjil (Banyak ulah-tabiat ganjil)
31. Wong apik-apik padha kapencil (Orang yang baik justru tersisih)
32. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin (Banyak orang kerja halal justru malu)
33. Luwih utama ngapusi (Lebih mengutamakan menipu)
34. Wegah nyambut gawe (Malas menunaikan kerja)
35. Kepingin urip mewah (Inginnya hidup mewah)
36. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka (Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka)
37. Wong bener thenger-thenger (Si benar termangu-mangu)
38. Wong salah bungah (Si salah gembira ria)
39. Wong apik ditampik-tampik (Si baik ditolak ditampik)
40. Wong jahat munggah pangkat (Si jahat naik pangkat)
41. Wong agung kasinggung (Yang mulia dilecehkan)
42. Wong ala kapuja (Yang jahat dipuji-puji)
43. Wong wadon ilang kawirangane (Perempuan hilang malu)
44. Wong lanang ilang kaprawirane (Laki-laki hilang perwira/kejantanan/harga diri)
45. Akeh wong lanang ora duwe bojo (Banyak laki-laki tak mau beristri)
46. Akeh wong wadon ora setya marang bojone (Banyak perempuan ingkar pada suami)
47. Akeh ibu padha ngedol anake (Banyak ibu menjual anak)
48. Akeh wong wadon ngedol awake (Banyak perempuan menjual diri)
49. Akeh wong ijol bebojo (Banyak orang tukar pasangan/selingkuh)
50. Wong wadon nunggang jaran (Perempuan menunggang kuda)
51. Wong lanang linggih plangki (Laki-laki naik tandu)
52. Randha seuang loro (Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen)
53. Prawan seaga lima (Lima perawan lima picis)
54. Dhudha pincang laku sembilan uang (Duda pincang laku sembilan uang)
55. Akeh wong ngedol ngelmu (Banyak orang berdagang ilmu)
56. Akeh wong ngaku-aku (Banyak orang mengaku diri)
57. Njabane putih njerone dhadhu (Di luar putih di dalam jingga)
58. Ngakune suci, nanging sucine palsu (Mengaku suci, tapi palsu belaka)
59. Akeh bujuk akeh lojo (Banyak tipu banyak muslihat)
60. Akeh udan salah mangsa (Banyak hujan salah musim)
61. Akeh prawan tuwa (Banyak perawan tua)
62. Akeh randha nglairake anak (Banyak janda melahirkan bayi)
63. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne (Banyak anak lahir mencari bapaknya)
64. Agama akeh sing nantang (Agama banyak ditentang)
65. Prikamanungsan saya ilang (Perikemanusiaan semakin hilang)
66. Omah suci dibenci (Rumah suci dijauhi)
67. Omah ala saya dipuja (Rumah maksiat makin dipuja)
68. Wong wadon lacur ing ngendi-endi (Di mana-mana perempuan lacur)
69. Akeh laknat (Banyak kutukan)
70. Akeh pengkianat (Banyak pengkhianat)
71. Anak mangan bapak (Anak makan bapak)
72. Sedulur mangan sedulur (Saudara makan saudara)
73. Kanca dadi mungsuh (Kawan menjadi lawan)
74. Guru disatru (Guru dimusuhi)
75. Tangga padha curiga (Tetangga saling curiga)
76. Kana-kene saya angkara murka (Angkara murka semakin menjadi-jadi)
77. Sing weruh kebubuhan (Barangsiapa tahu terkena beban)
78. Sing ora weruh ketutuh (Sedang yang tak tahu disalahkan)
79. Besuk yen ana peperangan (Kelak jika terjadi perang)
80. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor (Datang dari timur, barat, selatan, dan utara)
81. Akeh wong becik saya sengsara (Banyak orang baik makin sengsara)
82. Wong jahat saya seneng (Sedang yang jahat makin bahagia)
83. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul (Ketika itu burung gagak dibilang bangau)
84. Wong salah dianggep bener (Orang salah dipandang benar)
85. Pengkhianat nikmat (Pengkhianat nikmat)
86. Durjana saya sempurna (Durjana semakin sempurna)
87. Wong jahat munggah pangkat (Orang jahat naik pangkat)
88. Wong lugu kebelenggu (Orang yang lugu dibelenggu)
89. Wong mulya dikunjara (Orang yang mulia dipenjara)
90. Sing curang garang (Yang curang berkuasa)
91. Sing jujur kojur (Yang jujur sengsara)
92. Pedagang akeh sing keplarang (Pedagang banyak yang tenggelam)
93. Wong main akeh sing ndadi (Penjudi banyak merajalela)
94. Akeh barang haram (Banyak barang haram)
95. Akeh anak haram (Banyak anak haram)
96. Wong wadon nglamar wong lanang (Perempuan melamar laki-laki)
97. Wong lanang ngasorake drajate dhewe (Laki-laki memperhina derajat sendiri)
98. Akeh barang-barang mlebu luang (Banyak barang terbuang-buang)
99. Akeh wong kaliren lan wuda (Banyak orang lapar dan telanjang)
100. Wong tuku ngglenik sing dodol (Pembeli membujuk penjual)
101. Sing dodol akal okol (Si penjual bermain siasat)
102. Wong golek pangan kaya gabah diinteri (Mencari rizki ibarat gabah ditampi)
103. Sing kebat kliwat (Siapa tangkas lepas)
104. Sing telah sambat (Siapa terlanjur menggerutu)
105. Sing gedhe kesasar (Si besar tersasar)
106. Sing cilik kepleset (Si kecil terpeleset)
107. Sing anggak ketunggak (Si congkak terbentur)
108. Sing wedi mati (Si takut mati)
109. Sing nekat mbrekat (Si nekat mendapat berkat)
110. Sing jerih ketindhih (Si hati kecil tertindih)
111. Sing ngawur makmur (Yang ngawur makmur)
112. Sing ngati-ati ngrintih (Yang berhati-hati merintih)
113. Sing ngedan keduman (Yang main gila menerima bagian)
114. Sing waras nggagas (Yang sehat pikiran berpikir)
115. Wong tani ditaleni (Si tani diikat)
116. Wong dora ura-ura (Si bohong menyanyi-nyanyi)
117. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane (Raja ingkar janji, hilang wibawanya)
118. Bupati dadi rakyat (Pegawai tinggi menjadi rakyat)
119. Wong cilik dadi priyayi (Rakyat kecil jadi priyayi)
120. Sing mendele dadi gedhe (Yang curang jadi besar)
121. Sing jujur kojur (Yang jujur celaka)
122. Akeh omah ing ndhuwur jaran (Banyak rumah di punggung kuda)
123. Wong mangan wong (Orang makan sesamanya)
124. Anak lali bapak (Anak lupa bapa)
125. Wong tuwa lali tuwane (Orang tua lupa ketuaan mereka)
126. Pedagang adol barang saya laris (Jualan pedagang semakin laris)
127. Bandhane saya ludhes (Namun harta mereka makin habis)
128. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan (Banyak orang mati lapar di samping makanan)
129. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara (Banyak orang berharta tapi hidup sengsara)
130. Sing edan bisa dandan (Yang gila bisa bersolek)
131. Sing bengkong bisa nggalang gedhong (Si bengkok membangun mahligai)
132. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil (Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih)
133. Ana peperangan ing njero (Terjadi perang di dalam)
134. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham (Terjadi karena para pembesar banyak salah faham)
135. Durjana saya ngambra-ambra (Kejahatan makin merajalela)
136. Penjahat saya tambah (Penjahat makin banyak)
137. Wong apik saya sengsara (Yang baik makin sengsara)
138. Akeh wong mati jalaran saka peperangan (Banyak orang mati karena perang)
139. Kebingungan lan kobongan (Karena bingung dan kebakaran)
140. Wong bener saya thenger-thenger (Si benar makin tertegun)
141. Wong salah saya bungah-bungah (Si salah makin sorak sorai)
142. Akeh bandha musna ora karuan lungane (Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe Banyak harta hilang entah ke mana, Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa)
143. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram (Banyak barang haram, banyak anak haram)
144. Bejane sing lali, bejane sing eling (Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar)
145. Nanging sauntung-untunge sing lali (Tapi betapapun beruntung si lupa)
146. Isih untung sing waspada (Masih lebih beruntung si waspada)
147. Angkara murka saya ndadi (Angkara murka semakin menjadi)
148. Kana-kene saya bingung (Di sana-sini makin bingung)
149. Pedagang akeh alangane (Pedagang banyak rintangan)
150. Akeh buruh nantang juragan (Banyak buruh melawan majikan)
151. Juragan dadi umpan (Majikan menjadi umpan)
152. Sing suwarane seru oleh pengaruh (Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh)
153. Wong pinter diingar-ingar (Si pandai direcoki)
154. Wong ala diuja (Si jahat dimanjakan)
155. Wong ngerti mangan ati (Orang yang mengerti makan hati)
156. Bandha dadi memala (Hartabenda menjadi penyakit)
157. Pangkat dadi pemikat (Pangkat menjadi pemukau)
158. Sing sawenang-wenang rumangsa menang (Yang sewenang-wenang merasa menang)
159. Sing ngalah rumangsa kabeh salah (Yang mengalah merasa serba salah)
160. Ana Bupati saka wong sing asor imane (Ada raja berasal orang beriman rendah)
161. Patihe kepala judhi (Maha menterinya benggol judi)
162. Wong sing atine suci dibenci (Yang berhati suci dibenci)
163. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat (Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa)
164. Pemerasan saya ndadra (Pemerasan merajalela)
165. Maling lungguh wetenge mblenduk (Pencuri duduk berperut gendut)
166. Pitik angrem saduwure pikulan (Ayam mengeram di atas pikulan)
167. Maling wani nantang sing duwe omah (Pencuri menantang si empunya rumah)
168. Begal pada ndhugal (Penyamun semakin kurang ajar)
169. Rampok padha keplok-keplok (Perampok semua bersorak-sorai)
170. Wong momong mitenah sing diemong (Si pengasuh memfitnah yang diasuh)
171. Wong jaga nyolong sing dijaga (Si penjaga mencuri yang dijaga)
172. Wong njamin njaluk dijamin (Si penjamin minta dijamin)
173. Akeh wong mendem donga (Banyak orang mabuk doa)
174. Kana-kene rebutan unggul (Di mana-mana berebut menang)
175. Angkara murka ngombro-ombro (Angkara murka menjadi-jadi)
176. Agama ditantang (Agama ditantang)
177. Akeh wong angkara murka (Banyak orang angkara murka)
178. Nggedhekake duraka (Membesar-besarkan durhaka)
179. Ukum agama dilanggar (Hukum agama dilanggar)
180. Prikamanungsan di-iles-iles (Perikemanusiaan diinjak-injak)
181. Kasusilan ditinggal (Tata susila diabaikan)
182. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi (Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi)
183. Wong cilik akeh sing kepencil (Rakyat kecil banyak tersingkir)
184. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil (Karena menjadi kurban si jahat si laknat)
185. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit (Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit)
186. Lan duwe prajurit (Dan punya prajurit)
187. Negarane ambane saprawolon (Lebar negeri seperdelapan dunia)
188. Tukang mangan suap saya ndadra (Pemakan suap semakin merajalela)
189. Wong jahat ditampa (Orang jahat diterima)
190. Wong suci dibenci (Orang suci dibenci)
191. Timah dianggep perak (Timah dianggap perak)
192. Emas diarani tembaga (Emas dibilang tembaga)
193. Dandang dikandakake kuntul (Gagak disebut bangau)
194. Wong dosa sentosa (Orang berdosa sentosa)
195. Wong cilik disalahake (Rakyat jelata dipersalahkan)
196. Wong nganggur kesungkur (Si penganggur tersungkur)
197. Wong sregep krungkep (Si tekun terjerembab)
198. Wong nyengit kesengit (Orang busuk hati dibenci)
199. Buruh mangluh (Buruh menangis)
200. Wong sugih krasa wedi (Orang kaya ketakutan)
201. Wong wedi dadi priyayi (Orang takut jadi priyayi)
202. Senenge wong jahat (Berbahagialah si jahat)
203. Susahe wong cilik (Bersusahlah rakyat kecil)
204. Akeh wong dakwa dinakwa (Banyak orang saling tuduh)
205. Tindake manungsa saya kuciwa (Ulah manusia semakin tercela)
206. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi (Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai)
207. Wong Jawa kari separo (Orang Jawa tinggal separo)
208. Landa-Cina kari sejodho (Belanda-Cina tinggal sepasang)
209. Akeh wong ijir, akeh wong cethil (Banyak orang kikir, banyak orang bakhil)
210. Sing eman ora keduman (Si hemat tidak mendapat bagian)
211. Sing keduman ora eman (Yang mendapat bagian tidak berhemat)
212. Akeh wong mbambung (Banyak orang berulah dungu)
213. Akeh wong limbung (Banyak orang limbung)
214. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka (Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman)

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya , dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama. Pada tahun 1222 Masehi Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri. Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.


Diambil Dari Naskah Asli Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara(sebelum masuk editor)

Salam Budaya:@endikkoeswoyoMari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Rabu, 23 November 2011

THE JOMBLO MELAS

“Dulu sudah aku bilangin, Ndik, kamu itu harus konsisten melas sebab itu karakter kuatmu! Sekarang malah bergaya ustad ya nggak cocok...ga dapet feelnya jadi berasa hambar to?”

Begitulah ucap Edi Alkhiles sahabatku yang kaya raya, yang rekeningnya menggelembung segunung Galungggung tapi dia tetap rendah hati dan mau menerimaku yang melas ini di ruangan khusus perusahaannya. Tak peduli celana dekilku, tak peduli aroma kecut keringatku, tak pedulu bau bacin dari pakaian kotor yang aku bawa dengan tas kresek bekas bungkus ikan asin ini. Ruangan ber AC dengan permadani ARAB yang dibelinya langsung dari ALADIN ketika dia Umroh untuk yang ke 99 kalinya. Nah loh? Padahal aku mengenalnya dulu, dulu sebelum rekeningnya tiba-tiba saja sudah tidak terhitung dia itu melas juga ternyata. Masih aku ingat dia tinggal di rumah kecil di sebuah gang, aku tidak tau pasti apakah rumah itu ngontrak atau minjem, yang jelas aku bertemu dengannya di teras rumah yang dipaksakan untuk jadi kantor, ya sekitar 7 tahun yang lalu, aku anggap Edi Alkhiles itu bukan apa-apa. Eh ujuk-ujuk sudah punya ruangan sendiri yang pake AC dan permadani ARAB yang dibelinya dari ALADIN… Belum lagi karyawannya sudah nyebar dari Sabang Sampai Merauke kecuali Timur-Timur. “Hebat…” batinku sambil membuka sebungkus Marlboro merah yang sudah disediakan untukku.

“Yang penting, dalam bekerja itu SEMKUR,” katanya mengawali pembicaraan.

“Apa itu SEMKUR?” aku mengerutkan dahi.

“Semangat dan Syukur,” katanya.

“OH…. SEMUR….,” kataku.

“Loh? SEMKUR kok jadi SEMUR,” dia mengerutkan dahi juga.

“Semangat, senyum dan syukur,” kataku.

Aku duduk di kursi empuk di sudut ruangannya, kuangkat kakiku sebelah, kuletakkan sebelah tanganku pada sandaran kursi, angkuh. Benar-benar akuhnya diriku dengan pose itu, sumpah. Buru-buru aku menurunkan kaki dan tanganku, duduk mengempit kedua tanganku di antara paha, melas gitu deh. Wajahku tiba-tiba berubah melas dengan tiba-tiba ketika dia mendekat, duduk di kursi tepat di depanku. Mungkin aura milyiader itu membuatku tiba-tiba sedikit takut dengannya. Eh padahal siapa sih dia itu?

“Bla…bla…bla…bla…,” obrolan kalimat demi kalimatnya mulai meluncur.

“Ya… Pak… Ya Pak… Njih…,” begitu saja sedekah komentarku.

Tujuanku datang kali ini sebernarnya membawa visi dan misi yang cukup berat bagi hatiku, ya aku ingin curhat sebenarnya. Mencurahkan isi hatiku padanya, pada sahabat lamaku itu. Oh ya dalam hal ini sabahat lama yang aku maksud adalah orang yang aku kenal sedikit beberapa tahun lalu kami akrab kembali setelah ada teknologi BBM. Di sanalah kami nggerumpi biasanya, lewat benda kecil canggih buatan luar negeri itu. Lewat BBM itulah aku sering mencurahkan isi hatiku yang gundah gulana padanya, entah kenapa juga aku curhat padanya, mungkin karena aku suka solusi konyolnya.

“Duh Pak, dadaku nyesek banget neh,” kataku.

“Kenapa lagi Mas?” sahutnya prihatin.

“Biasalah, soal hati,” kataku singkat malu-malu.

“Oh… bunuh diri aja, tuh nelen lombok sekilo,” solusinya.

“Wah masalahnya Lombok lagi mahal Pak, sekilo sekarang 90 ribu,” ucapku tulus.

“Ya sudah beli saja 10 kg, nanti uangnya aku kasih. Kalau sudah mati cerita ya, gimana rasanya bunuh diri,” lanjutnya.

“Njih Pak, iya… iya…” kataku lirih menerima solusinya.

Aku kembali duduk, diam membisu mematung kayak tugu usang berlumut yang roboh kunduran Truk pengangkut cabe. Hatiku benar-benar remuk redam oleh apa itu yang namanya cinta. Wajahku menjadi begitu kupret, jelek dan menjemukan dipandang. Lebih dari 10 menit aku mematung.

“Hmmm… bentar mas,”

Pria setengah muda yang aku katakana cukup ganteng itu melangkah, medekati mejanya. Duduk sejenak di kursi empuknya yang bisa naik turun dan muter-muter itu. Tangannya disembunyikan di balik meja, seakan merapal mantra. Aku berharap dia memberikanku segelas air kembang yang sudah di jampi-jampi dan dimantrai olehnya. Tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah amplop.

“Ini buat beli lombok,” disodorkannya amplop itu padaku.

“Begitu?” tanyaku kaget.

“Ya… ya… pulanglah, mampir pasar beli sepuluh kilo ya,” katanya dengan senyum. Tak lupa tangan kanannya menepuk bahuku.

“Iya,” aku mengangguk pelan.

“Jomblo bukan berati tak lagi kawan!” dia menepuk bahuku.

Gila… setelah aku keluar dari ruangannya, aku membuka amplop itu, benar-benar cukup untuk beli Lombok satu kilo. Satu juta guys yang dia berikan padaku. Alhamdulillah, bisa buat hidup sebulan kedepan deh! Eit, curhat saja digaji sejuta, apalagi kalau kerja? Nah lo…

Melas, sebuah kalimat yang sering kita dengar. Melas identik dengan buluk, kucel, dekil bau dan lain-lain. Eit jangan salah, ternyata melas itu adalah sebuah aliran ilmu baru… namanya MELASISME di mana aliran ini merupakan sebuah gerakan memelaskan diri guna mendapatkan kebahagian yang memuncak sampai ubun-ubun. Berbeda dengan teori-teori para pakar Psikolog kayak Max Wertheimer, Carl Rogers, apalagi dengan teor iSigmund Freud tentang Konsep Id, Ego, dan Superego .Beda, beda banget deh pokoknya. Melas merupakan sebuah sikap sederhana yang ditampilkan golongan MELAISME guna mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan sesuatu dengan kesadaran dan keiklasan yang mutlak dan telak. Melas bukanlah dekil, bau, atau kucel. Melasisme itu lebih kepada perilaku dan sikap serta tutur bahasa yang memang dibuat semelas mungkin sehingga orang lain tertarik lalu mau mengiklaskan dirinya untuk berbuat sesuatu kepada si melas itu.

Karakter melas bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, ketika kamu tidak pernah merasakan sebuah rasa sakit yang sesakit-sakitnya, jika kamu tidak pernah putus cinta seputus-putusnya, jika kamu tidak pernah menangis hidupmu senangis-nangisnya niscaya kamu tidak akan bisa menjadi manusia dengan karakter melas.

Menjadi melas itu lebih baik ketimbang menjadi congkak dan angkuh. Menjadi melas itu lebih sederhana ketimbang menjadi orang yang sombong bin landen. Jika saja aku datang, masuk keruangannya dengan sombong, ketika tidak segera aku turunkan kaki dan tangaku lalu mengempitnya aku yakin tidak akan dapat uang satu juta itu. Mungkin kecil baginya, tapi besar bagiku. Dan sejak itu, aku memilih untuk menjadi Jomblo Melas, tersenyum kecil lalu mengangguk pelan ketika di ajak bicara. Tersenyum kecil lalu mengiyakan ketika lawan bicaraku bicaraku bicara. Tidak pernah aku melontarkan debat kusir ala kuda, cukup di iyakan saja sambil sesekali melontarkan kalimat melas yang menohok. So? Melaskan dirimu semelas melasnya, jangan menyombongkan dirimu sesombong, sombongnya karena didalam kemelasan itu ada kekuatan dasyat…





Ambon Manise

Pagi selepas Subuh pada bulan Mei 2011

FROM==NOTE== FACEBOOK

Salam Budaya:@endikkoeswoyoMari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN