twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Minggu, 29 Agustus 2010

Undangan terbuka "Ngobrol Bareng Jaringan Penulis Indonesia"

Sipat: Undangan terbuka
"Ngobrol Bareng Jaringan Penulis Indonesia"

Mengerti aksara dan kepenulisan membuat manusia, sadar atau tidak, mampu menyatu dengan realitas. Mempermudah manusia menukar informasi, mencawang pengetahuan dan menjalin komunikasi. Mengingat hal ini, Jaringan Penulis Indonesia, bermaksud memperkuat gerakan kepenulisan itu, agar keberaksaraan dan kepenulisan senantiasa dapat didorong agar tetap berlansung, tidak boleh berhenti.

Begitu banyak penulis yang merasa dirinya sendiri, laksana biduk tanpa nahkoda atau bahkan laiknya nahkoda tanpa kapal. Merasa sendiri, takbisa menemukan tempat untuk berbagi, ngerumpi, rasan-rasan soal karya terbaru, atau bahkan ke mana harus mengadu? Bagimana jika tiba-tiba ide itu mati begitu saja? Ke mana harus mengirim naskah? Penerbit manakah yang bagus dan menghargai penulisnya layaknya emas batangan yang harus dijaga dengan sepenuh hati?

Karena itu, kami bermaksud mengundang penulis, calon penulis serta siapun anda yang mencintai dunia tulis menulis yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya untuk bersilahturahmi, ngobrol bareng, sharing gagasan kepenulisan pada:

Hari/Tgl: Jum'at, 03-September-2010
Tempat: Jendelo Cafee, Toga Mas Affandi. Jl. Affandi, no.5 Yogyakarta.
Pukul: 20.00 wib - Selesai.
Tema Obrolan: Mencintai Keberaksraan: Mengokohkan Kreatifitas dan produktifitas Kepenulisan
Dress Code: Putih
Fasilatator: Endik Koeswoyo

Demikian undangan ini. Berharap dengan amat mendalam, agar kawan penulis di Yogyakarta dan sekitarnya dapat bergabung dalam acara ini.

Wassalam

Pengurus
Jaringan Penulis Indonesia

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Sabtu, 14 Agustus 2010

KEMBANG TIGA WARNA


KEMBANG TIGA WARNA
Malam Ketika Aku Ulang Tahun…


Aku masih terdiam, dalam sudut kamar kesayangan ini. Bentuk kamar ini unik, tidak kotak seperti kamar oada umumnya, ada salah satu sisi yang mempunyai sudut 45 derajat, 75 derajat dan 15 derajat, unik. Tapi tidak susah di bayangkan. Sedari sore aku memilih memejam mata karena beberapa hari ini gigi kesayangangku rasanya kurang bersahabat. Untung masih ada puyer 16 yang mampu meredakan nyeri dan mengantarku ke alam mimpi, sebelum aku terbangun kembali entah karena apa.
Aku jadi teringat masa lalu, yang sudah lama sekali. Dulu, ketika aku hendak ulang tahun, Mak Tua Almarhum selalu menyuruhku berpuasa, beliau menyebutnya “Poso Hari Lahir,” hukumnya wajib. Diawali sejak Subuh sehari sebelum aku ulang tahun, hingga Magrib setelah aku ulang tahun. Lama memang, sekitar 30 jam aku tidak boleh makan, minum dan tidak boleh membunuh seekor binatangpun. Tapi itu dulu, sebelum malaria akut menyerangku. Setelah malaria itu, aku tak lagi kuat berpuasa selama itu. Lambung bengkak, dan jika tak terisi makanan sakitnya bukan kepalang. Aku juga taktau apakah penderita malaria lain mengalaminya sepertiku? Tapi ini bukan soal malaria atau tentang ulang tahun, aku ingin menceritakan tentang pengalaman masakecilku yang selalu ingin meniup lilin, seperti anak-anak tetanggaku yang lain. Tapi sekalipun aku takpernah mendapatkan lilin, dengan sebuah alas an dari Mak Tua “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan,” kata Mak Tua setiap kali aku meminta lilin. Dan bukan lilin yang aku dapatkan keesokan harinya. Melainkan kembang telon dua bungkus yang dibungkus daun pisang, lalu ketika Magrib tiba, mak tua mengajakku ke sudut halaman rumah kecilnya. Dia membuka kembang itu, mengucapkan doa-doa dalam bahasa jawa dan arab yang campur aduk. Dan hingga kini aku tak tau pasti apa doa yang beliau ucapkan. Aku tak pernah mencatatnya sampai Mak Tua dipanggil Tuhan.
Dulu, sempat sekali ketika aku masih duduk di bangku SMU, kakaku merayakan ulang tahunnya di rumah, itupun ketika Mak Tua tidak di rumah. Alih-alih tiupan lilin, kami malah berpesta dengan minum Bir bersama-sama. Rasanya pahit, aku tidak suka. Tentu saja, keesokan harinya Mak Tua Marah-marah pada kakakku itu. Kakaku hanya tersenyum kecut, sambil ngedumel.”Pacen awake dewe iki wong kere! Ra kuat tuku kue tar! Dadi nek ulang tahun yo mung di tukokne kembang 500! Cukup!” omel kakaku yang memang orangnya agak kaku itu. Aku menghela nafas jika ingat kalimat kakaku itu. Ya, memang kita lahir di kuarga miskin, tak mampu beli kue tar, jadi kalau ada yang ulang tahun Mak Tua yang sebenarnya adalah nenekku itu hanya membelikan kami bunga tiga warna seharga 500 rupiah.
Tapi ini bukan soal kecewa pada keadaan, aku selalu bersyukur dengan apa yang kami terima, kehidupan masa lalu adalah satu hal yang memacuku untuk selalu menjadi yang terbaik, lebih baik, lebih baik dan selalu menjadi lebih baik. Bukan soal kemiskinan yang ingin aku ceritakan, tapi hikmah di balik pesta ulang tahun. Benar, aku setuju dengan kalimat Mak Tua, “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan.” Jadi salah jika kita merayakan berkurangnya umur, memang sebaiknya kita merenung, apa saja yang telah kita lakukan selama ini? Dan apa yang terjadi sejak aku kecil itu menjadi kebiasaan, bahkan ketika Mak Tua telah tiada, ketika aku benar-benar harus hidup sendiri tanpa ada petuah dari beliau. Ketika hari ulang tahunku tiba, aku menyambutnya dengan renungan. Mak tua benar dengan petuahnya, “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan.”
Seperti halnya malam ini, bunga tiga warna, aroma dupa dan lantunan tembang Sinom Parijotho menjadi sebuah aroma mistis, menjadi sebuah suasana romantis menyambut malam, menyambut pagi ketika aku dilahirkan 28 tahun yang lalu. Buat sahabat, teman, saudara, rekan-rekan dan siapa saja yang mengenal saya. Mohon maaf jika hari ini tidak ada pesta meriah, tidak ada kue tar, tidak ada makan-makan. Bukan saya pelit, tapi karena itu sudah menjadi kenangan masa lalu. Bahwasanya “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan.” So, makan-makannya besok ya… jika ada moment yang lebih tepat. Bukan moment ulang tahun. Terimakasih untuk semua yang telah sudi dan berkenan memberi ucapan itu. Terimaksih untuk doa-doa yang anda kirimkan, semoga Allah membalas doa-doa anda dengan kabaikan, kebahagian dan kesuksesan kita bersama. Amien.
Ketika aku menyelesaikan tulisan ini, kakaku yang tertua mengirim sebuah sms dari kota Sampit. Begini sms itu “Met Ultah adikku…Tiada apa yang dapat aku berikan untukmu selain Doa tulusku yang kukirim bersama merdunya Tadarus di Surau tua. Moga Dia yang di atas sana melimpahkan rahmadNya padamu. Walau raga tak selalu bersama, tapi hati kita kan selalu bersama dalam suka maupun duka. Dan sabarlah di dalam keluarga yang langka akan kebersamaan.Moga sukses…”


NB: Kini, aku tidak sendiri, ada sahabat-sahabat yang selalu mendukung, berdiskusi, bercerita, bekerja dan mereka adalah keluargaku. Tapi kebiasaan itu masih sama, tidak ada pesta. Karena bulan ini bulan puasa, maka agenda yang tepat adalah sahur bersama. Yang mau sahur bersama, silahkan datang ke Lookout Picture Indonesia Jl. Swadaya 604 MJ/I Gedong Kiwo, ketika waktu menunjukkan pukul 02.30 WIB. Akan ada makanan yang di sediakan di sana oleh panitia.




Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 12 Agustus 2010

Ketika laut surut " Sebuah Cerpen"

Ketika laut surut " Sebuah Cerpen"
#Bukticinta

Gelombang laut mulai menyurut dengan dengan pelan namun pasti. Batu-batu karang mulai kelihatan pelan-pelan semakin jelas. Secangkir kopi masih menjadi sahabat setia pagi ini. Kangen. Mataku jauhmemandang, kea rah sebuah pulau kecil dengan pohon-pohon yang lebat, sendiri, dan aku tak pernah mengetahui apa nama pohon itu. Sepertinya dia sendiri, sepertinya juga tidak. Ada pohon lain di pulau itu. Langit biru membentul landscape yang indah, dengan sesekali pesawat melintas dengan deru yang cukup kencang. Sesekali gelombang itu membesar dengan tiba-tiba dengan melintasnya sebuah kapan nelayan. Mataku berganti arah, menuju ke seorang pria dengan jala yang disandangnya dibahu. Sedari tadi belum juga dia melemparkan jalanya ke laut. Matanya masih nanar, entah melihat apa. Mungkin dia masih malas untuk melemparkan jalanya, atau dia masih takut dingin air laut pagi ini. Dia masih berdiri di tepi pantai ini.
Masih terus aku amati pria nelayan yang tak juga bergerak itu. Pelan namun pasti aku mendekat, mencoba mencari celah untuk menyepanya. Rasa penasaran di hati membuatku mau-tak mau ikut mendekatkan diri ke air yang memang dingin itu. Angin membelaiku semakin penuh nafsu, dingin membuat bulu-bulu tanganku meregang tegang.
“Dapat banyak Pak?” tanyaku tiba-tiba dan itu membuatnya terkejut.
“Belum Mas, basah saja belum,” sahutnya sembari mengangkat sepatu Boot-nya.
Gaya bicaranya kalem namun tegas dan penuh wibawa. Senyumnya tulus. Aku memperhatikannya sekali lagi. Lalu membalas senyum itu. Aku bingung harus bicara apa lagi, tak ada tema yang menarik untuk dibahas. Tidak mungkin aku membahas soal Bank Century, tidak mungkin juga aku dengan tiba-tiba membahas soal bencana Lapindo apalagi soal video prono Luna dan Ariel.
“Pernah dapet keong racun nggak pak?” tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutku.
“Hahahhaha… kamu bisa saja mas! Kalau kerang racun ada!” sahutnya sembari tertawa lepas.
Garin. Obrola kami yang belum sempet memperkenalkan diri masing-masing itu semakin garing. Tak ada tema yang bisa aku luncurkan. Bahkan keong racun yang lagi menjadi pembicaraan hangat hanya disahutnya dengan tawa.
“Sudah lama jadi nelayan?” tanyaku garing.
“Belum lama, setahun yang lalu.” Sahutnya.
“Sebelumnya?” tanyaku lagi.
“Saya 18 tahun menjadi anggota Polri, dari Prajurit Dua, Sersan Dua, Sersan Satu hingga jabatan saya Ajun Inspektur Polisi Satu.” sahutnya sembari menghela nafas.
“Wow,” sahutku kagum namun tak percaya begitu saja.
“Dan 18 tahun itu saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini.” Lanjutnya sembari mengembalikan pandangannya ke laut.
“Biaya untuk masuknya dengan gaji yang saya dapat selama 18 tahun tidak balik modal! Walau saya tau itu kesalahan saya sendiri. Betapa tidak bodohnya saya? Harus membayar mahal untuk mendapatkan seragam coklat itu! Lalu melakukan aktifitas yang sama, berangkat pagi, duduk-duduk, pulang sore. Telat sedikit langsung dihardik atasan, walau kadang-kadang atasan saya jauh lebih sering telat ketimbang saya. Bodohkan saya? Sudah bayar mahal-mahal eh masih saja diperintah sana-sini. Enak jadi nelayan, liat laut, berangkat sesuka hati, pulang sesuka hati. Siapa yang mau marah? Dan nelayan tidak pernah mendapat tatapan sinis dan penuh kecurigaan dari tetangga sebelah rumah. Beda dengan menjadi polisi, beli tv baru saja tetangga sudah menyindir lebih seratus kali, itu yang membuat saya mengundurkan diri.” Ceritanya panjang lebar.
Betul juga penjelasannya. Aku juga takbegitu suka polisi, berbicarapun malas, apalagi motorku yang hilang dulu juga takpernah kembali walau sudah aku laporkan ke kepolisian terdekat.
“Jangan mau jadi PNS! Kerjanya pagi, pulang sore, melakukan hal yang sama setiap hari! Mending bikin usaha sendiri!” lanjutnya sambil tetap tekbergerak.
Aku diam, taklagi mampu berkata-kata apalagi. Laut masih surut, gelombang masih susul-menyusul beriringan membelai pasir yang membisu. Batu-batu karang masih menyimpan setuja misteri. Sepasang kepiting masih berkejaran di atas pasir dekat batu karang. Aku tak bisa menolak apa yang dikatakannya, dan aku juga tak bisa menerima begitu saja dengan kalimatnya. Aku diam, meliriknya sekali lagi.
“Aku memilih ini karena aku ingin lebih sering bersama orang-rang yang aku cintai!” Pelan lelaki yang mengaku mantan anggota Polri itu melangkahkan kakinya menuju air lain, masuk semakin dalam. Aku masih terdiam pada posisi yang sama ketika dia mulai melemparkan jala. Lemparan demi lemparan membuahkan hasil walau satu atau dua ekor saja ikan yang dia dapatkan. Terus, terus dia menuju ke arah selatan, menelusuri tepi pantai yang masih surut. Aku terdiam, membisu pada titik yang sama.
Tak ada lagi sahabat untuk berbagi cerita, dia sudah menjauh. Tak ada lagi teman untuk bicara, dia telah menjauh. Namun kalimat terakirnya begitu menusuk ke dalam hatiku. “Aku memilih ini karena aku ingin lebih sering bersama orang-rang yang aku cintai!”
“Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku. Saat ku harus bersabar dan trus bersabar. Menantikan kehadiran dirimu. Entah sampai kapan aku harus menunggu. Sesuatu yang sangat sulit tuk ku jalani. Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu. Kadang ku berfikir cari penggantimu. Saat kau jauh disana.” Aku tersenyum mendengar lirik lagu Aishiteru itu. Kubiarkan saja ponsel kecil di saku celana pendekku itu terus berbunyi berkali-kali. Tak ingin aku menerima panggilan masuk yang entah dari siapa. Malas aku kalau harus berbicara tak jelas pagi-pagi gini. Pagi hari enaknya itu menikmati secangkir kopi.
Besok aku akan kembali ke Jogja lagi setelah 2 bulan berada di pulau Kalimantan bagian timur ini. Banyak sudah yang aku dapatkan, pelajaran hidup dan tentu saja rasa kangen yang begitu menggebu. Kangen itu mahal harganya, kangen itu tak bisa ternilai. Bahkan samudra luas ini tak mampu membayar rasa kangenku. Kuamati sekali lagi pulau kecil dengan pohon lebat di atasnya. Kuamati sekali lagi batu karang dan gelombang yang membelai pasir dengan tulus. Apakah cinta itu sepeti gelombang laut yang akan selalu pasang dan surut pada waktunya? Apakah cinta itu seperti seperti batu karang? Yang akan kelihatan ketika surut dan akan terendam air laur ketika pasang? Apakah cinta itu setulus pasir pantai, yang akan dibelai sang air ketika pasang dan ditinggalkan begitu saja ketika surut? Entahlah…
Jika aku bisa memilih aku akan memilih menjadi air, yang bisa pasang dan surut. Tidak menjadi karang yang diam mebisu, tidak juga menjadi pasir yang didatangi dan ditinggalkan begitu saja oleh gelombang. Tapi semua punya pilihan, seperti apa yang dilakukan nelayan itu, tak salah jika dia memilih menjadi nelayan ketimbang menjadi ‘PNS tak jelas’. “Kau benar dengan pendapatmu pak!” aku berbalik arah, menuju tempatku semula. Kursi plastik di belakang rumah dan secangkir kopi yang mulai dingin. Kembali kunikmati pemandangan indah ketika laut surut.
“Oh ya, jangan salahkan pasanganmu ketika cintanya tiba-tiba begitu menggebu, atau ketika cintanya tiba-tiba menyurut. Ini hidup kapan, waktu berpengaruh terhadap apa yangada di hati. Selamat pagi!”



Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 08 Agustus 2010

Hari ke 51 di tanah perantauan

Hari ke 51 di tanah perantauan
#Bukti Cinta

Lama, bahkan bisa dikatakan lama sekali dan layak pula disebut lama banget rasanya. Walau kata banget sebenarnya tidak aku suka. 15 Juni aku meninggalkan Jogja dengan segala keindahannya, sahabat, teman, kekasih hingga mobil kesayangan itu harus ditinggalkan begitu saja. Tanpa persiapan yang matang, tanpa perhitungan yang jeli, langsung berangkat begitu saja meninggalkan semua yang tercinta. Apa yang terjadi? Terjadilah. Semua kejadian, baik itu indah, pahit, sedih dan emosi muncul silih berganti. Dari kehujanan malam hari, sampe kebanjiran menjelang subuh hingga laptop, bb dan handphone mati total. But…. Oyeah… itulah hidup kawan, itu dilakukan demi cinta. Tidak hanya aku sendiri yang mengalami hal itu, banyak sahabatku di sini yang sering kusebut sebagai ‘pejuang cinta’ mengalami hal yang sama. Memendam rindu untuk keluaraga tercinta, untuk anak tercinta, untuk ibu tercinta, keluarga tercinta bahkan tetangga tercinta. Oh ya satu lagi, ada yang meninggalkan Tiga istri tercintanya, aw aw aw….
Samarinda sebulan penuh, dari tanggal 15 Juni hingga tanggal 15 Juli, tanpa kenangan indah, kecuali 5 menit di depan ATM BNI (Lihat catatan sebelumnya. Red). Bontang dari tanggal 16 Juni hingga 27 Juni, pahit baik dari segi lahir dan batin. Balikpapan, kota ketiga ini sudah mulai menyenangkan ada pantai di belakang rumah kontrakan walau kalau pagi kadang-kadang takut karena ombaknya sampai di bawah rumah ketika pasang. Ya indah, lampu-lampu kapal begitu indah dengan pantulannya ke air laut yang bergelombang kecil. Bintang, rembulan dan matahari sore tak perlu lagi aku melukiskan keindahannya.
Tiket pulang ke Jogja belum jadi terpegang hari ini karena uang yang masuk baru malam hari dan aku tidak sempat ke Bank. Tentang cinta? Ah masih sama, hanya rasa rindu yang menjadi raja dalam hati. Oh maaf, saya kok malah curhat? OK OK, kita mulai kisah ini dengan tema sebuah kaos putih. Ada apa dengan kaos putih itu? Begini kisahnya….
Mal Matahari Balikpapan, aku berjalan dengan tenang, dengan senyum dan tatapan mata ramah. Tapi aku tidak sendiri, ada lelaki tegap yang layaknya Bodyguard berjalan di sampingku. Bukan-bukan, dia bukan Bodyguardku kok, aku bukan artis atau pejabat yang butuh pengawalan. Hem coklat, celana kain hitam itu aku padu dengan spatu kulit coklat baru yang aku dapat dari seorang ‘penggemar’ novelku. Mungkin karena tubuh sahabatku itu atletis yang membuat dirinya layak disebut bodyguard.
“Asem, aku koyok bodyguardmu wae!” kata temanku tiba-tiba sambil mempercepat langkahnya dan kini benar-benar sejajar denganku.
Aku diam, hanya meliriknya sambil tersenyum. Tujuan kami hanyalah melepas penat setelah seharian di lokasi pameran. Cuci mata, atau barangkali memang ingin jalan-jalan biar tau kota Balikpapan lebih jauh. Mal menjadi tujuan utama karena yang kami tau hanya mall itu yang terdekat. Escalator demi escalator kami naiki, hingga sampai ke Matahari yang entah itu lantai berapa.
Aneh memang malam ini, tiba-tiba saja aku ingin membeli celana jeans, rompi pesanan kekasih dan entah juga tiba-tiba aku menjuhut dua buah kaos putih bertuliskan LO dan VE jadi kalau digabung jadi LOVE. “Pret!” gumanku dalam hati ketika menyandingkannya dan membentuk kalimat LOVE. Bukan kalimat itu yang membuatku tertarik membelinya, tapi karena harganya hanya 19.000,- perpotong. Bukan soal LOVE atau apalah artinya. “Loh ke mana ‘Bodyguard-ku’? Eh …Kemana temanku tadi? Hilang ke mana dia?” aku tengok kanan dan kiri. Sementara wanita cantik di depanku masih sibuk melayani seorang pembeli lagi.
“Maaf kak, bayarnya pakai kartu atau cash?” suara itu mengagetkanku.
“Kartu debit bisa?” gayaku berlagak walau saldo atmku tinggal 150.000.
“Maaf kak, sudah ofline karena 5 menit lagi kita sudah tutup,” sahutnya meminta maaf sambil melontarkan sisa-sisa senyum manisnya yang sudah mulai getir. Capek seharian tersenyum dengan ratusan orang, dan itu senyum tak tulus.
“Oh… cash juga taka pa-apa, tapi kalau cashnya ga cukup, ga papakan kalau tidak dibeli semua?” aku menunjuk 5 item yang sudah mulai dihitungnya.
“Iya Kak,” sahutnya ramah, sekali lagi ramah yang dibuat-buat.
Aku masih celingukan mencari sahabatku yang tak kelihatan batang hidupnya. Di mana? Ke mana? Ngapain sih?
Oh itu dia datang, dengan langkah tegapnya menghampiriku. Tubuhnya atletis, otot-ototnya kelihatan macho dengan kaos ketat yang pakainya. Kalau dari jauh dia mirip-mirip Fauzi Baadilah. Sumpah.
“Koas?” tanyaku padanya.
Sahabatku tak menjawab, dia memilih-milih kaos yang harganya 19.000,- tadi. Sebuah kaos dipilihnya lalu diberikan padaku dan aku teruskan ke kasir yang sama. “Satu lagi mbak,” lanjutku.
Gadis itu menatapku tajam, seperti mengingat-ingat seseorang, atau dia lebih tertarik dengan sahabatku yang pendiam itu? Entahlah. Kini aku tinggal berhadapan dengannya sendiri, sahabatku sudah mundur beberapa langkah, menepi pada jarah yang pas untuk tetap mengamatiku.
“Itu pengawalnya ya mas?” Tanya mbak kasir itu tiba-tiba.
Aku menoleh kanan kiri, tidak ada orang lain. Masak dia memangilku mas? Bukankah matahari identi memanggil kosumen mudanya dengan panggilan ‘Kakak’. Sekali lagi aku memastikan.
“Ehmm saya?” aku menunjuk diriku sendiri.
“Iya mas, kayaknya wajah mas ga asing deh,” lanjutnya mulai berani.
Aku sekali lagi menengok kanan-kiri. Sepi, mungkin sudah mulai diusir oleh security mall. Karena jam tangan TEC bajakan yang aku kenakan sudah menunjukkan puluk 22.02 WITA. Mall seharusnya sudah tutup. Dan wajar jika mbak kasir berani memanggilku ‘mas’ kami sekarang sudah diluar jam kerja.
“Teman, bukan bodyguard,” sahutku pelan sembari menatapnya sesaat. Cantik.
Senyumnya kini lebih tulus, wajah lelahnya mulai merona merah ketika mata kami beradu pandang.
“Itu dari tadi mengamati mas terus,” katanya sekali lagi.
“Oh… ya ga papa to?” sahutku sekenanya.
“460.500 mas, adakan cashnya?” dia memastikan sekali lagi sebelum menekan tombol enter sebagai tanda setuju.
“Insyaallah,” aku membuka tas notebook kecilku, lalu menjuhut uang sekenanya, lalu menyodorkan padanya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima. Limaratus ya mas uangnya,” katanya penuh pasti.
Tombol enter ditekannya dengan pasti. Bunyi mesin printer khas mall itu menjadi penanda usainya transaksi kami.
“Maaf mas, kembaliannya tidak ada!” dia tampak bingung karena uang yang tersisa semuanya pecahan 50 dan 100 ribuan.
“Letsgo Broo, kita pulang!” kata shabatku yang mungkin sudah tak sabar menunggu.
Aku tak menjawab, langsung saja kusahut tas palstik warna hijau tua itu. Dan aku ikuti langkah sahabtku yang mirip bodyguard itu.
“Kak? Kak?”
Panggilan itu tidak aku hiraukan, kami terus melangkah menuju pintu keluar, menuruni escalator hingga sampai dilantai bawah. Melangkah menuju ke jalan raya, menunggu angkutan.
“Melawai Pak?” Tanya sahabatku pada sopir angkot yang berhenti karena kami melambaikan tangan. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan.
Tak lebih dari 10 menit kami sudah tiba di tujuan.
“Ngopi dulu deh!” gumanku pelan setelah turun dari angkot.
“Boleh,” sahutnya antusias.
Sudut agak remang, kursi plastik dan alunan musik agak keras melantun dari gerobak kecil di trotoar jalan itu. Rame juga, cukup untuk hiburan tambahan. Kopi dan capucino kami pesan. Belum datang pesanan itu, seorang gadis berseragam putih tulang tiba-tiba berdiri tepat disampingku. Menyodorkan sesuatu padaku. Belum sempat hilang rasa kagetku, sahabtku yang tadi sudah mendahuli untuk menerima sodoran gadis itu.
“Apa ini?” Tanya sahabatku.
“Uang kembalian yang tadi, maaf mengganggu, saya permisi.” Dia langsung menjauh, menuju sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempat duduk kami.
“Apa tuh?” tanyaku setela mobil Avansa hitam itu menghilang pada tikungan berikutnya.
“Nota sama uang kembalian, memang tadi kurang kembaliannya?” Tanya sahabatku memastikan.
“Iya,” sahutku sembari menghitung uang kembalian itu. “Satu, dua… 39.500.-“ kemudian kuletakkan uang itu di meja plastik.
“Hei, ada nomer HP!” sahabatku menjuhut nota belanja itu.
Di balik nota itu ada sebait nama dan sebaris angka-angka, nomer handphone. Kuamati sekali lagi, benar, nama dan nomer handphone. Pasti ini milik gadis itu. Perang batin berkecamuk, jika aku ambil ponsel dan aku menelphonenya, pasti lumayan bisa buat teman ngobrol. Dan tidak menutup kemungkinan aku bisa makan malam dengannya, atau malah…. Ah tidak. Aku punya kakekasih hati. Aku tadi membelikannya kaos putih dan rompi sebagai oleh-oleh. Tidak-tidak, aku tidak boleh mendua. Walau aku tau, mencintai bukan berarti tak menduakan. Mencintai itu mudah, tapi yang sulit itu menjadi setia. Mencintai itu gampang, tapi yang sulit adalah tidak tertarik kepada wanita lain. Aku remas nota itu, lalu melemparnya ke laut.
Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN