twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Jumat, 23 Juli 2010

Secangkir Kopi di Antara Gerimis

Secangkir Kopi di Antara Gerimis
#Bukti Cinta#

Bontang, kota ke dua aku mengadu nasib! Di kota ini berdiri tiga perusahaan besar di bidang yang berbeda-beda, Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak),dan Indominco Mandiri (batubara) serta memiliki kawasan industri petrokimia yang bernama Kaltim Industrial Estate. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan di bidang industri, jasa serta perdagangan.Bontang, sebuah kota dengan dua kota besar di dalamnya. Pertama, kota PKT dan kota Badak. Yang menarik adalah Badak, atau lebih tepatnya PT. BadakNGL. Kenapa nama itu begitu unik? Apakah banyak badak di sana? Tidak, bahkan kepanjangan juga tak ada, hanya Badak. Konon kota Badak dihuni oleh orang-orang dengan dompet tebal, bahkan ada yang bilang, jika mereka kekluar dari lingkungan Badak, mereka akan bilang “Jalan-jalan ke kampung dulu!” Awawawaw…segitunyakah mereka menganggap lingkungan luar Badak adalah kampung? Kumuh? Tapi itu masih katanya, kata masyarakat Bontang yang tinggal di luar Badak?
Ah jadi penasaran aku dengan kota ini. Kutelisik lagi lebih dalam, kugali informasi lagi lebih mendalam, semakin dalam hingga aku menemukan sebuah kisah yang cukup unik tentang sejarah kota ini. Begini kisahnya; Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng, dan Haji Amir Baida alias Bedang. Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administratif, sejak 1920, Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai. Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekat dalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman, dan Kiyai Saleh. Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timur dengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.
Dari mana asal kata kota Bontang? Dalam perbendaharaan asli Kalimantan, tidak dikenal kata "bontang". Menurut cerita turun-temurun, "bontang" merupakan akronim Bahasa Belanda “bond” yang berarti kumpulan atau Bahasa Inggris yang artinya ikatan persaudaraan, serta “tang” dari kata pendatang. Sebutan ini diberikan, karena cikal bakal kampung Bontang tidak lepas dari peran pendatang.
Ah sudahlah, bukan soal asal-usul atau sejarah kota ini yang ingin aku tuliskan. Aku hanya ingin curhat sedikit tentang secangkir kopi yang ada di sampingku dan kini sudah mulai beku. Sudah 5 hari ini, makanpun rasanya tak enak. Sudah 5 hari ini kulihat tatapan hampa pedagang buku dan pedagang UKM yang berkumpul penuh harapan datangnya rejeki di lapangan Parikesit yang dulu dibangung untuk MTQ. Sepi, mungkin itu yang kalimat yang tepat, apalagi jika hujan datang, setanpun seakan ikut menghilang. Bahkan kuntilanak juga tak menampakkan batang hidungnya. Betapa tidak, mau makan apa jika omset itu Nol Rupiah? “Tidak!” teriakku tapi dalam hati.
“Piye iki mas?” (Gimana ini mas?) pertanyaan itu begitu menohok, menuduk hingga ketulang sumsum paing dalam. Dingin. Mencabik-cabik hati, mengiris jantung dan merobek semua rasa yang ada. Aku yang mendapat sodoran pertanyaan itu hanya bisa tersenyum dengan senyum paling pahit yang bisa terlontar. “Siapa yang mengantar kami kesini?” tidak ada yang bisa dipersalahkan, tidak juga kau!? Kau siapa? Entahlah….
Hari ke lima, tagihan-tagihan mulai mengalir, tagihan tenda yang bocor sana-sini, tagihan venue yang kata Wakil Walikota Gratis, tagihan genset, tagihan perijinan, tagihan listrik pln yang mota-mati itu, tagihan air yang sebentar saja habis sampai-sampai kalau pagi bingung cari masjid terdekat untuk buang hajad, tagihan flooring dan tagihan yang lain-lain yang totalnya 40jutaan. Aku yang ditagih, sekali lagi hanya tersenyum sepahit madu, karena aku belum mampu menagih peserta pameran. Jangan menagih, menyapa merekapun aku tak mampu. Aku sudah laiknya orang gila yang berjalan hilir mudik diantara gerimis yang tak henti-hentinya mengancam dagangan.
Ponsel kecil yang aku beli 200ribu itu bordering, ya, kekasih hatiku menghubungiku. Dialah kekuatan terbesar untuk tetap bertahan dan tidak pulang. Ahh tidak juga, masih banyak hal yang membuatku bertahan di sini, di kota unik yang menyiman sejuta pertanyaan. Ke mana perginya orang PKT? Ke mana hilangnya orang Badak yang konon pesangonnya mencapai 2 Milyar itu? Aku memilih diam seribu kata, diam membisu tanpa sebait kalimat. Kurebahkan tubuhku di lantai keramik yang hanya beralaskan kain-kain bekas spanduk dan tumpukan kardus Aqua yang panjangnya hanya sampai pinggang. Di luar hujan masih turun, diluar kilat masih menyambar sesekali, diluar masih ada gelisah. Gelisah takut di marahi Pak Bos, gelisah mikirin anak istri dirumah, dan gelisah-gelisah lainnya masih bergelayutan di hati masing-masing, tidak juga kau!
Secangkir kopi yang mulai dingin itu aku teguk sekali, lalu aku letakkan lagi. Kulupakan semua masalah ini, aku ingin tidur walau tanpa bantal, tanpa kasur, apalagi guling empuk. Sebenarnya aku ingin beli bantal cinta (bantal panjang untuk berdua itu) tapi apa daya? Uang di domper tinggal selembar Satu Riyal dan selembar Dua Ribu Rupiah, dan itupun asli uang dari tanah Arab. Ala Mak Jang! Sudah dua kali aku makan dengan cara cashbon pada warung Mak’e disebelah bascam ini.
“Ya Rabb… kutulis ini bukan sebagai sebuah keluhan, bukan sebuah protes, tapi aku tulis ini sebagai sebuah harapan. Harapan dan doa untuk Kau datangkan para pecinta buku dan produk-produk UKM yang saat ini sedang berdoa agar dagangan mereka lalu Ya Rabb…. Terimakasih atas semua yang Engkau berikan ke pada kami…”
Sekali lagi kuteguk secangkir kopi dingin itu di antara gerismis.

Bontang 23 Juli 2010 pada saat Dini dalam hujan yang tak kunjung reda….

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Secangkir Kopi di Antara Gerimis

Secangkir Kopi di Antara Gerimis
#Bukti Cinta#

Bontang, kota ke dua aku mengadu nasib! Di kota ini berdiri tiga perusahaan besar di bidang yang berbeda-beda, Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak),dan Indominco Mandiri (batubara) serta memiliki kawasan industri petrokimia yang bernama Kaltim Industrial Estate. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan di bidang industri, jasa serta perdagangan.Bontang, sebuah kota dengan dua kota besar di dalamnya. Pertama, kota PKT dan kota Badak. Yang menarik adalah Badak, atau lebih tepatnya PT. BadakNGL. Kenapa nama itu begitu unik? Apakah banyak badak di sana? Tidak, bahkan kepanjangan juga tak ada, hanya Badak. Konon kota Badak dihuni oleh orang-orang dengan dompet tebal, bahkan ada yang bilang, jika mereka kekluar dari lingkungan Badak, mereka akan bilang “Jalan-jalan ke kampung dulu!” Awawawaw…segitunyakah mereka menganggap lingkungan luar Badak adalah kampung? Kumuh? Tapi itu masih katanya, kata masyarakat Bontang yang tinggal di luar Badak?
Ah jadi penasaran aku dengan kota ini. Kutelisik lagi lebih dalam, kugali informasi lagi lebih mendalam, semakin dalam hingga aku menemukan sebuah kisah yang cukup unik tentang sejarah kota ini. Begini kisahnya; Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng, dan Haji Amir Baida alias Bedang. Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administratif, sejak 1920, Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai. Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekat dalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman, dan Kiyai Saleh. Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timur dengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.
Dari mana asal kata kota Bontang? Dalam perbendaharaan asli Kalimantan, tidak dikenal kata "bontang". Menurut cerita turun-temurun, "bontang" merupakan akronim Bahasa Belanda “bond” yang berarti kumpulan atau Bahasa Inggris yang artinya ikatan persaudaraan, serta “tang” dari kata pendatang. Sebutan ini diberikan, karena cikal bakal kampung Bontang tidak lepas dari peran pendatang.
Ah sudahlah, bukan soal asal-usul atau sejarah kota ini yang ingin aku tuliskan. Aku hanya ingin curhat sedikit tentang secangkir kopi yang ada di sampingku dan kini sudah mulai beku. Sudah 5 hari ini, makanpun rasanya tak enak. Sudah 5 hari ini kulihat tatapan hampa pedagang buku dan pedagang UKM yang berkumpul penuh harapan datangnya rejeki di lapangan Parikesit yang dulu dibangung untuk MTQ. Sepi, mungkin itu yang kalimat yang tepat, apalagi jika hujan datang, setanpun seakan ikut menghilang. Bahkan kuntilanak juga tak menampakkan batang hidungnya. Betapa tidak, mau makan apa jika omset itu Nol Rupiah? “Tidak!” teriakku tapi dalam hati.
“Piye iki mas?” (Gimana ini mas?) pertanyaan itu begitu menohok, menuduk hingga ketulang sumsum paing dalam. Dingin. Mencabik-cabik hati, mengiris jantung dan merobek semua rasa yang ada. Aku yang mendapat sodoran pertanyaan itu hanya bisa tersenyum dengan senyum paling pahit yang bisa terlontar. “Siapa yang mengantar kami kesini?” tidak ada yang bisa dipersalahkan, tidak juga kau!? Kau siapa? Entahlah….
Hari ke lima, tagihan-tagihan mulai mengalir, tagihan tenda yang bocor sana-sini, tagihan venue yang kata Wakil Walikota Gratis, tagihan genset, tagihan perijinan, tagihan listrik pln yang mota-mati itu, tagihan air yang sebentar saja habis sampai-sampai kalau pagi bingung cari masjid terdekat untuk buang hajad, tagihan flooring dan tagihan yang lain-lain yang totalnya 40jutaan. Aku yang ditagih, sekali lagi hanya tersenyum sepahit madu, karena aku belum mampu menagih peserta pameran. Jangan menagih, menyapa merekapun aku tak mampu. Aku sudah laiknya orang gila yang berjalan hilir mudik diantara gerimis yang tak henti-hentinya mengancam dagangan.
Ponsel kecil yang aku beli 200ribu itu bordering, ya, kekasih hatiku menghubungiku. Dialah kekuatan terbesar untuk tetap bertahan dan tidak pulang. Ahh tidak juga, masih banyak hal yang membuatku bertahan di sini, di kota unik yang menyiman sejuta pertanyaan. Ke mana perginya orang PKT? Ke mana hilangnya orang Badak yang konon pesangonnya mencapai 2 Milyar itu? Aku memilih diam seribu kata, diam membisu tanpa sebait kalimat. Kurebahkan tubuhku di lantai keramik yang hanya beralaskan kain-kain bekas spanduk dan tumpukan kardus Aqua yang panjangnya hanya sampai pinggang. Di luar hujan masih turun, diluar kilat masih menyambar sesekali, diluar masih ada gelisah. Gelisah takut di marahi Pak Bos, gelisah mikirin anak istri dirumah, dan gelisah-gelisah lainnya masih bergelayutan di hati masing-masing, tidak juga kau!
Secangkir kopi yang mulai dingin itu aku teguk sekali, lalu aku letakkan lagi. Kulupakan semua masalah ini, aku ingin tidur walau tanpa bantal, tanpa kasur, apalagi guling empuk. Sebenarnya aku ingin beli bantal cinta (bantal panjang untuk berdua itu) tapi apa daya? Uang di domper tinggal selembar Satu Riyal dan selembar Dua Ribu Rupiah, dan itupun asli uang dari tanah Arab. Ala Mak Jang! Sudah dua kali aku makan dengan cara cashbon pada warung Mak’e disebelah bascam ini.
“Ya Rabb… kutulis ini bukan sebagai sebuah keluhan, bukan sebuah protes, tapi aku tulis ini sebagai sebuah harapan. Harapan dan doa untuk Kau datangkan para pecinta buku dan produk-produk UKM yang saat ini sedang berdoa agar dagangan mereka lalu Ya Rabb…. Terimakasih atas semua yang Engkau berikan ke pada kami…”
Sekali lagi kuteguk secangkir kopi dingin itu di antara gerismis.

Bontang 23 Juli 2010 pada saat Dini dalam hujan yang tak kunjung reda….

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 01 Juli 2010

AGENDA ROAD SHOW PAMERAN BUKU KALIMANTAN TIMUR

No : 52/ IZZ-Mkt/ VII/ 2010
Hal : Permohonan Partisipasi

Kepada:
Di tempat

Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur kehadirat Allah atas karunia iman, Islam dan kesehatan, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk tetap berkarya dan berkreasi.
Sebagai upaya untuk menumbuhkan budaya baca sekaligus syiar Islam IZZA Organizer insyaAllah akan menyelenggarakan pameran buku Islam di Provinsi Kalimantan Timur dengan jadwal road show sbb:
1. Pesta Buku Islam Samarinda
Tanggal : 2-14 Juli 2010 (12 hari)
Tempat : Perpustakaan Propinsi Kaltim
Jl. Juanda No.4 Samarinda
2. Pesta Buku Islam Bontang
Tanggal : 17 – 25 Juli 2010 (9 hari)
Tempat : Lapangan Parikesit Bontang (eks. Area MTQ)
3. 5th Istiqomah Islamic Book Fair
Tanggal : 29 Juli – 8 Agustus 2010 (11 hari)
Tempat : Masjid Istiqomah Kompleks Pertamina Balikpapan
Oleh karenanya bersama ini kami menyampaikan permohonan partisipasi kepada para penerbit dan distributor buku Islam untuk bergabung dan ikut memriahkan acara pameran buku Islam di atas. Adapun layout dan harga stand terlampir.
Demikian penawaran ini kami sampaikan atas perhatian dan kerjasamanya yang baik kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Samarinda, 16 Juni 2010
Hormat kami,

Endik Koeswoyo
IZZA Organizer
0817323345




Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Jadwal Acara Pesta Buku Samarinda

JADWAL ACARA PESTA BUKU ISLAM SAMARINDA
2-14 Juli 2010. Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur. Jl. Ir.H Juanda 04 Samarinda.

Jum'at, 2 Juli 2010 : Pameran hari pertama
Sabtu, 3 Juli 2010 :
(10.00-12.00) : Pembukaan.
- Penampilan anak-anak KUBACA KALTIM
- Tausiah bersama MUI Kalimantan Timur
-Sambutan Izza Organizer
-Sambutan Kepala Badan Perpustakaan Provisi Kalimantan Timur, H Syafruddin Pernyata
-Sambutan dan pembukaan Pesta Buku Islam Samarinda oleh Wagub Kaltim H Farid Wadjdy
- Pentas Nasyid Nuansa Voice
(16.00-18.00) : Bincang bincang sore “Seribu Kata Seribu Cerita, dibalik kesibukan seorang bankir masih saja beliau bisa menulis buku” Bersama Androecia Darwis, Pimpinan Bank Indonesia Samarinda.
Minggu, 4 Juli 2010 :
(14.30-16.30) : Lomba Adu Cepat Rubik untuk umum
(16.30- 18.00) : Talkshow “Melejitkan Kecerdasan Anak dan Mengungkap Rahasia Otak Tengah” Bersama Dokter Spesialis Saraf Otak dan AJI (Anak Jenius Indonesia)
(19.30-21.00) : Bedah Buku “Ternyata ada 100 Asma' Al-Husna' “ Bersama Jaffar Siddiq, penulis buku dari Kota Samarinda
Senin, 5 Juli 2010 :
(19.30-21.00) : Bedah Buku “Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara” Bersama Penulis : Endik Koeswoyo dan Penerbit Diva Press
Selasa, 6 Juli 2010 :
(16.00-18.00) : Talkshow Kewirausahaan "Mengenal Enterprenuer Sejak Dini" bersama Komunitas TDA Samarinda.
(19.30-21.00) : Talkshow “Pengenalan Metode Membaca Pada Anak Balita” bersama KUBACA KALTIM
Rabu, 7 Juli 2010 :
(16.00-18.00) : Bedah Buku “Mengapa Anakku Harus Mengidap LUPUS?” Bersama Inni Indarpuri (Penulis buku kisah nyata, tentang penyakit langka 'Lupus')
(19.30-21.00) : Bedah Novel “Doa Untuk Dinda” Bersama Penulis : Endik Koeswoyo dan Penerbit Diva Press
Kamis, 8 Juli 2010 :
(08.00-12.00) : Pelatihan dan Simulasi Metode “KUBACA” bersama Diah Litasari S.Pd. Penemu Metode membaca cepat balita minimal usia 3 tahun. Info Pendaftaran 0541-9033338 (Farah)
(19.00-21.00) : Tablig Akbar “The Magic Of Cange, Cara Mudah Jadi Kaya” bersama Ustad. H.Raden Ahmad Affandy, S.Psi (Psikolog, Konselor Keluarga Bahagia, Jakarta)
Jum'at, 9 Juli 2010 :
(19.30-21.00) : Talkshow “Memanfaatkan Zakat Agar Lebih Produktif” Bersama Slamet Tjahyadi, Rumah Zakat Samarinda
Sabtu, 10 Juli 2010
(16.00-18.00) : Pentas Nasyid Nuansa Voice
(19.00-21.00) : Talkshow Pendidikan “Sukses Tidak Harus Kuliah?” Bersama Rifyanto Bakri, Direktur El Rahma Samarinda
Minggu, 11 Juli 2010
(09.00-10.00) : Penampilan anak-anak berkebutuhan khusus “Senam Bola” Pusat Terapi Pelita Bunda Samarinda.
(09.00-12.00) : Lomba Mewarnai TK didukung oleh El Rahma Samarinda (Snack, Piagam, Piala 1,2,3, H1,H2)
(13.00-15.00) : Lomba Menggambar SD didukung oleh El Rahma Samarinda (Snack, Piagam, Voucer Komputer For Kids, Piala 1,2,3, H1,H2,)
(19.30-21.00) : Talkshow “Karakter Building” bersama lembaga Manajemen Terapan TRUSTCO
Senin, 12 Juli 2010
(16.00-18.00) : Pelatihan menulis Bersama Jaringan Penulis Indonesia, untuk Guru, Pengajar dan Umum Bersertifikat.
Selasa, 13 Juli 2010
(19.30-21.00) : Talkshow Keluarga “Kenapa kami menikah dini?” bersama Slamet Tjahyadi dan Fajarwati
Rabu, 14 Juli 2010
(19.30-21.00): Pengumuman Lomba, Penyerahan Hadiah, Pentas Nasyid Nuansa Voice, Penyerahan sumbangan buku dari penerbit peserta pameran kepada Badan Perpustakaan Kalimantan Timur dan Penutupan.


Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN