twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Selasa, 30 Maret 2010

TAFSIR MISTIK SYEKH SITI JENAR

TAFSIR MISTIK SYEKH SITI JENAR

Menurut Syekh Siti Jenar, bahwa al-Fatihah adalah termasuk salah satu kunci sahnya orang yang menjalani laku manunggal (ngibadah). Maka seseorang wajib mengetahui makna mistik surat al-Fatihah. Sebab menurut Syekh Siti Jenar, lafal al-Fatihah disebut lafal yang paling tua dari seluruh sabda-Sukma. Inilah tafsir mistik al-Fatihah Syekh Siti Jenar. .

Bis………………………… kedudukannya…………. ubun-ubun.
Millah………………………kedudukannya….. ………rasa.
Al-Rahman-al-Rahim…….kedudukannya……………penglihatan (lahir batin).
Al-hamdu…………………kedudukannya………… …hidupmu (manusia).
Lillahi………………………kedudukannya…. ……….cahaya.
Rabbil-‘alamin…………….kedudukannya…………..n yawa dan napas.
Al-Rahman al-Rahim…….kedudukannya……………leher dan jakun.
Maliki……………………..kedudukannya…… ………dada.
Yaumiddin………………..kedudukannya……… ……jantung (hati).
Iyyaka……………………kedudukannya…….. …….hidung.
Na’budu…………………..kedudukannya…….. …….perut.
Waiyyaka nasta’in………kedudukannya…………….dua bahu.
Ihdinash………………….kedudukannya…….. ……..sentil (pita suara).
Shiratal…………………..kedudukannya……. ………lidah.
Mustaqim…………………kedudukannya……… ……tulang punggung (ula-ula).
Shiratalladzina…………..kedudukannya……… …….dua ketiak.
An’amta…………………..kedudukannya…….. ……..budi manusia.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ………tiangnya (pancering) hati.
Ghairil…………………….kedudukannya…… ……….bungkusnya nurani.
Maghdlubi………………..kedudukannya……… …….rempela/empedu.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ……….dua betis.
Waladhdhallin……………kedudukannya………. ……mulut dan perut (panedha).
Amin………………………kedudukannya……. ………penerima.

Tafsir mistik Syekh Siti Jenar tetap mengacu kepada Manunggaling Kawula-Gusti, sehingga baik badan wadag manusia sampai kedalaman rohaninya dilambangkan sebagai tempat masing-masing dari lafal surat al-Fatihah. Tentu saja pemahaman itu disertai dengan penghayatan fungsi tubuh seharusnya masing-masing, dikaitkan dengan makna surahi dalam masing-masing lafadz, maka akan ditemukan kebenaran tafsir tersebut, apalagi kalau sudah disertai dengan pengalaman rohani/spiritual yang sering dialami.

Konteks pemahaman yang diajukan Syekh Siti Jenar adalah, bahwa al-Qur’an merupakan “kalam” yang berarti pembicaraan. Jadi sifatnya adalah hidup dan aktif. Maka taksir mistik Syekh Siti Jenar bukan semata harfiyah, namun di samping tafsir kalimat, Syekh Siti Jenar menghadirkan tafsir mistik yang bercorak menggali makna di balik simbol yang ada (dalam hal ini huruf, kalimat dan makna historis).


SYEKH SITI JENAR (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.

Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

SUMPAH BUDAYA

SUMPAH BUDAYA

Selasa Pon, 27 Oktober 2009


Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).
Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.
Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:
1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN.
3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL.
4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA.


MOTTO :
THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!
SUMPAH BUDAYA
BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA
BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA
KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA
Indonesia, 28 Oktober 2009


Tertanda:
1. KI WONG ALUS
http://wongalus.wordpress.com/
2. KI MAS KUMITIR
http://alangalangkumitir.wordpress.com/
3. KI SABDALANGIT
http://sabdalangit.wordpress.com/
4. KI AGUNG HUPUDHIO
5.GUS ENDIK
http://endik.seniman.web.id/
6. .....
7. (SILAHKAN MENGISI SENDIRI REKAN-REKAN BLOGGER YANG INGIN MENERUSKAN PERJUANGAN BUDAYA INI).




Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Senin, 29 Maret 2010

Sebilah Sayab Bidadari



Judul: Sebilah Sayab Bidadari.
Memorilibia 7,9 SR. Kumpulan Cerpen dan Puisi mengenang Gempa 7,9 SR Sumatra Barat.
Penerbit: Pustaka Fahima
Penulis: Dwi Januanto Nugroho, Nursalam AR, Fira Basuki, Abdullah Khusairi, Dyra Hadi, Nuril Annissa, Igoy el Fitra, Dea Anugrah, Benny Arnas, Asep Sambodja, Irawan Aji, Zelfeni Wimra, Timra Madana Pitri, Mariska Anggraini, Endik Koeswoyo, Yandigsa, Muhammad Sholihin, Raudhatul Usnami, Karina Anggara, Irawan Senda, Sulfiza Ariska, Akhyar Fuadi, Zandika Alexander, Silfia Hanani, Feryanto Heady, Darwis Ramadhan, Galuh Parantri, Arif Puji G. Luckty Giyan Sukarno, Bejo Halumajaro, Pamungkas WH, Gayatri Parikesit, Monica Petra Karunia, Sulistyawati, Rahmad Ibrahim, Haerul Ibrahim, Haerul Said, Addiarahman, Salman Aristo, Dewi "dee" Lestari, Muhammad Nasir, Muhammad Zikri.
ISBN: 978-979-1355-64-3
Harga: Rp. 40.000,-
Sebuah Proyek Amal Untuk Korban Gempa


PROLOG
Meraut Larik-larik Kisah di Balik Gempa

“Untuk apa lagi prosa diproduksi? Ketika dunia sesungguhnya telah menjelma menjadi prosa. Ketika logika hidup, imaji publik, atau peristiwa-peristiwa rutin sudah begitu prosaik.”
--Radhar Panca Dahana: 2005 --1

“Ini adalah malam ketika hukum alam berkeliaran dengan matanya menyinarkan balas dendam. Langit pucat dan dingin. Air mata terus mengalir seperti sungai yang tak mau dikeringkan. Jeritan alam melolong bagaikan serigala kelaparan di waktu malam.”
--Sindhunata: 2007 --2

Antologi ini ibarat anyaman dari bambu, yang diraut oleh tangan-tangan telaten. Tangan-tangan yang tidak hanya menarikan kata-kata, tapi juga melukis rasa yang membara, terkoyak-koyak rengkah dari ratapan yang meraung di sepanjang malam di patahan sesar semangka, Minangkabau. Menyala bagaikan bohlam yang bersinar remang-remang di bawah parlak pada tanah gempa. Tangan-tangan ini digerakkan oleh rasa bersigesak dari histeris tangis, dramaturgis, dan romantisme yang terhampar dari luluh puing-puing tanah andalas, yang retak.
Di sini, sangat terasa larik-larik kalimatnya yang diraut dari kisah dari tanah gempa, aroma yang menarikan pelbagai sesak. Bagaikan mendaki ke puncak Gunung Merapi. Di puncak itu akan dirasakan udara-udara pengharapan yang menipis. Namun ketika mata dilayangkan, panjang, melihat alamnya yang masih hijau, kembali nafas pulih dalam genta-genta harapan yang masih berbunyi dari langit. Walau sebagian tepi alamnya retak-retak, akibat geliat bumi yang terjaga dari tidur panjangnya. Lempeng-lempeng itu, rengkah. Memuntahkan banyak kisah. Menjadi larik-larik yang dramatis. Menjadi narasi bisu, ketika tangis menggelantung di ufuk jingga keperak-perakan pada rembang petang. Telah menjadi benang-benang yang direntangkan kepada langit. Membawa sejuta doa kepada Tuhan, yang menampar ciptaan-Nya, dengan tamparan penuh hikmah. Ini kemudian yang dijadikan larik-larik cerita pendek dan puisi oleh tangan-tangan yang selalu menarikan kata-kata. Mereka yang menulis dalam antologi ini.
Dari tanah gempa, narasi-narasi menjadi cerita. Dari tanah gempa, tangis menjadi prosa. Dari rengkah tanah itu, harapan mencuatkan kata-kata puitika. Bagaikan sebilah sayap bidadari. Sayap yang dikepakkan, menjadi sebilah duka. Dari desiran sayap itu, ada sejuta bidadari menarikan hikmah. Bagaikan tarian dalam semerbak doa, pada hamparan melati putih di atas pusara yang masih basah. Rerangkai cerita dan puitika dalam antologi “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter”, menjadi telinga yang dilekatkan pada bumi, mendengarkan hikmah yang bergetar dan denyut pesan dari tanah gempa. Lalu dijadikan narasi bisu. Tidak sekadar ekspresi kata, tapi telah menjadi ekspresi hati ketika getar dan ditingkahi gegar, bergoncang.
Hanya hati putih, yang bisa mengukir duka, menjadi lukisan cantik. Secantik mata Monalisa. Membuat mata tak bisa lepas mengeja garis-garis teks bertinta hitam di carik-carik kertas putih ini. Rangkaian cerita pendek dengan topangan puitika ini, akan menjadi memorilibia di rentang zaman. Ia akan menjadi kamar, tempat manusia berkaca dari bandul peristiwa. Menjadi ruang, di mana sepasang mata akan selalu berkaca-kaca ketika memori diputar kembali oleh lorong-lorong peristiwa, melewati labirin-labirin duka.
Antologi ini tidak sekadar untuk menggalang dana kemanusiaan dari royaltinya. Tapi juga menjadi monumen peristiwa di atas gempa yang berkekuatan 7,9 Scala Richter, di sana, di bumi Minangkabau. Bagi penulis yang berhimpun dalam antologi ini, merapatkan jari, lalu menarikan kata hati. Kertas-kertas ini menjadi kanvas, tempat melukis haru yang tumbuh dari butir-butir air mata. Kemudian mengharapkan tumbuh menjadi harapan, yang meningkahi ufuk Sumatera Barat. Ya, lihatlah langit Sumatera Barat masih hijau. Di sana malaikat masih melukis rahmat. Masih ada sejuta senyum bidadari yang mengintip di balik awan ketika melihat bocah-bocah bermain di atas rerumputan, penuh embun, mengejar capung di pagi dan petang hari. Walau phobia atas getar bumi, mengusili mereka, lalu terbirit-birit, menyeruduk ketiak umi dan mandeh mereka. Namun semangat untuk pulih tidak akan pernah dipatahkan oleh gentar dan akan menjadi tunas-tunas hidup yang masih terus tumbuh. Dan mereka yang bertahan adalah bukti, tunas itu masih tumbuh.
Membaca antologi ini, seperti mengeja puing-puing yang masih berserakan di atas bumi yang oleng. Bagaikan merapal mantra. Ia menjadi pengsarahan ketika kisi-kisi hidup berhenti sejenak, tergagap melihat ratanya tiang-tiang kehidupan dengan tanah. Membaca antologi ini, seperti memetik kecapi di tengah malam, ketika hati gelisah dilumat gegar menyaksikan ratapan anak-anak, manusia kehilangan peraduannya. Seperti cecetan burung tandahasih, yang kehilangan pasangan hidupnya. Maka bacalah, agar meraut hikmah dari kisah-kisah dituangkan dari curup tanah gempa yang kami namai “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter.

Pada Rembang Petang
Di Uripsumoharjo, 21 November 2009

1. Dari Kumcer Radhar Panca Dahana (2005), Cerita-cerita Negeri Asap, Jakarta: Kompas, hal. ix
2. Dikutip dari Sindhunata (2007), Anak Bajang Mengiring Angin, Jakarta: Gramedia, hal. 71


Rapalan Terima Kasih

“Gerrrrrrrrrrrrrrrrrrr…”
Bumi berguncang, tanah menari bagaikan seekor naga yang baru saja terbangun dari tidurnya. Melontarkan tanah dan lumut di batang badannya. Berhamburan meningkahi udara, dengan raungan dari inti bumi yang bergerak, bersigesak. Di rembang petang 30/S/2009, tanah Minangkabau, meraungkan getar 7,9 scala richter. Menjadi lonceng bagi para laron, mengarak bantuan; uang, obat-obatan, dan selimut serta pakaian. Lalu mereka dirikan sarang, berbentuk rumah-rumah darurat dari terpal yang berwarna warni. Sementara dari arah Jambi, di jalan Lintas Sumatera, raung sirene ambulance mengoyak tudung malam dan menyentil hati untuk melakukan sesuatu. Hendak menjadi laron ataukah yang lainnya. Meramu bala bantuan kemanusiaan.
Jedah dari getar 7,9 scala richter itu.
Pergulatan mencuat. Akankah menjadi laron, mengusungi tenaga membawa keranda atau menjadi lebah, hanya meneteskan sedikit madu, tapi sama-sama menjadi obat laiknya kepakan sayap para laron yang menjadi payung teduh. Ya, akhirnya diputuskan untuk meramu kata dari penulis-penulis di Nusantara. Lalu mencoba menghubungi sastrawan yang tercenung di pusara tanah gempa.
“Bang, kita akan menyusun antologi 7,9 Scala Richter. Dan royaltinya kita himpun buat dana kemanusiaan. Bisakah, abang menyumbangkan selarik cerpen atau puisi?”
“Kami ini adalah korban. Tapi biarlah akan saya sisihkan nyali untuk menuliskan ratap hati.”
Kira-kira demikian Abdullah Khusairi merespon permintaan seorang pengurus JPI (Jaringan Penulis Indonesia), ketika itu berada di Sumatera Barat. Sedikit jedah, pada tanggal 31 September 2009, Iggoy el-Fitra, cerpenis dan wartawan di Padang, turut bersedia menyumbangkan cerpennya. Walau ia jerih dalam perburuan mencari kabar-kabar yang terus membumbung, meningkahi udara di retak-retak tanah. Namun ekspresi hatilah yang mendorongnya turut berbagi kisah.
Besar dan teramat membantu adalah kebesaran hati Bapak Bambang Alfath, direktur kelompok Penerbit Pustaka Fahima, menyatakan siap membantu menerbitkan antologi ini. Seperti kepakan sayap bidadari, “Baik, kita akan bantu. Dan semoga ini mengurangi penderitaan saudara-saudara kita di sana.” Demikian bunyi send short message dari Bapak Bambang Alfath. Ada juga siraman semangat dari Endik Koeswoyo, bagaikan oase di tengah gurun, send short messagenya mencuatkan harapan untuk menghimpun penulis-penulis di seantero Nusantara, “JPI (Jaringan Penulis Indonesia) siap mengalang penulis. Akan kita coba hubungi Fira Basuki, dan Dewi “Dee” Lestari.” Dari titik ini kemudian, undangan terbuka ditorehkan di dunia maya, lewat Facebook. Hasilnya, bagaikan memanen padi dari tanah yang subur. Puluhan penulis mengirim cerpen dan puisi lewat email kepada JPI. Berbagai macam genre, ekspresi kata-kata berbuhul menjadi satu “Untuk mereka yang di Sumatera Barat”. Mereka-mereka ini adalah Dwi Januanto Nugroho, Nursalam AR, Fira Basuki, Abdullah Khusairi, Dyra Hadi, Nuril Annissa, Iggoy el Fitra, Dea Anugrah, Benny Arnas, Asep Sambodja, Irawan Aji, Zelfeni Wimra, Timra Madana Pitri, Mariska Anggraini, Endik Koeswoyo, Yandigsa, Muhammad Sholihin, Raudhatul Usnami, Karina Anggara, Irawan Senda, Sulfiza Ariska, Akhyar Fuadi, Zadika Alexander, Silfia Hanani, Feryanto Heady, Darwis Ramadhan, Galuh Parantri, Arif Puji G, Luckty Giyan Sukarno, Bejo Halumajaro, Pamungkas WH, Gayatri Parikesit, Monica Petra Karunia, Sulistyawati, Rahmad Ibrahim, Haerul Said, Addiarahman, Salman Aristo, Dewi ‘Dee’ Lestari. Muhammad Nasir, Muhammad Zikri. Apalagi kata yang tersisa untuk dirapalkan pada mereka, melainkan selarik kata “terima kasih”, semoga ini menjadi jenjang-jenjang amal jariyah bagi mereka, penulis.
Rapalan terima kasih pada mereka yang berada di belakang layar penerbitan “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter”. Mas Dean Syah, yang bersedia mengeja satu per satu kalimat dari naskah ini. Mas Aryamuslim, seorang ilustrator yang bersusah payah menjarah ide tata letak antologi ini. Dan yang tak kalah berharga dan penting adalah Bapak Budi, barangkali bergulat dengan malam, mencari ide atas desain cover antologi ini. Juga pada mereka, para karyawan dan segenap kru kelompok penerbit Pustaka Fahima, yang berkerja dengan hati. Tanpa mereka, tanpa tetes peluh, maka tidak akan mungkin cerita dan puisi ini menjadi buku yang cantik dan layak pembaca geluti.
Pada masyarakat Sumatera Barat, tak ada kata yang layak dirapalkan melainkan doa “Tabahlah. Mari kita sama-sama bergandengan tangan menjarah harapan yang masih menyembul di balik-balik celah langit. Kami, juga dunia masih akan terus menjadi saudaramu, tak akan putus oleh lintasan SARA ataupun rentang jarak.” Mereka yang menjadi korban, doa senantiasa dirapalkan “Semoga para malaikat membawa keranda-keranda syahid pada-Mu dan kalian.” Tak luput, tak terbilang terima kasih pada hal dan mereka yang menjadi inspirasi bagi para penulis untuk menarikan cerita dan puisi. Matur suwun. Kepada para pembaca yang budiman, tanpa kalian apalah arti karya ini. Tanpa kalian tak akan berguna larik-larik ini menjadi obat peluruh sakit di tanah gempa. Dengan sepuluh jari kami haturkan terima kasih, tiada tara.
Terakhir sebagai ekspresi paling utama, kepada Allah ’Azza wa Jalla, kami mohon ampun. Semoga tetaplah dijinakkan bumi ini, dengan lembut kasih-Nya. “Dan pada-Mu, kami titipkan hidup dan curahkan pinta. Rawatlah kami seperti rembulan yang merawat malam. Aliri kami dengan rahmatmu. Seperti sungai yang mengaliri samudera. Dan ini semua, kami haturkan pada-Mu. Ya..rabbana ’izzah wa maula. Inilah rapalan terima kasih untuk semua pihak tanpa kecuali. Semoga menjadi amal, yang mendekatkan pada Allah. Amin.

EM. Sholihin

Catatan: Bagi Semua Penulis yang terlibat dalam penulisan ini akan mendapatkan Buku Sebilah Sayab Bidadari. Silahkan Menghubungi M. Sholikin silahkan menghubungi LINK di FB berikut ini: http://www.facebook.com/profile.php?v=photos&so=0&id=1052062341#!/note.php?note_id=408906859611&comments atau fia email Mshoy84@yahoo.com

Bagi penulis yang di Kota Yogyakarta silahkan langsung mengambil di Pustaka Fahima: Jl. Munggur No 7 Yogyakarta. 0274 - 58537

Di Harapkan Untuk Semua Penulis Yang Terlibat, menjadikan Cover Buku Sebilah Sayab Bidadari untuk Foto Profile selama 1 bulan, terhitung sejak 1. April hingga 1 Mei 2010 untuk membantu promosi


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakar
ta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Sebuah Cerpen Berjudul TERSERAH

Sebuah Cerpen Berjudul TERSERAH
Oleh: Endik Koeswoyo


Lagu dangdut Koplo itu mengalun lantang dari speaker laptop 12 inci. Tidak kedengaran memang khas kendangnya. Tapi lumayan, telingaku sudah begitu hafal dengan nada-nada khas musik yang katanya pinggiran itu, musik ndeso itu. Tapi aku suka, terserah kata orang. Aku lebih suka Dangdut, aku lebih suka Koplo, aku lebih suka Roma Irama, apalagi Ridho, wah musiknya keren. Jazz Ndut banget. Penggabungan antara gedongan kelas atas dengan musik dangdut yang katanya ndeso itu. Ah terserahlah orang mau bilang apa. Toh itu hanya masalah selera dalam pendengaran saja. Mungkin saja selera yang lain sama. Masih suka nasi rawon yang sama, ayam goreng yang sama, nasi yang sama. Lebih mending dangdut dari pada lagu barat yang cas, cis, cas, cus ndak jelas itu.
Pagi menjelang, subuhpun telah berkumandang. Aku membuka twitter setelah menyalakan sebatang Sampoerna Mild. Sampoerna Mild adalah rokoknya tidak enak menurutku, aku biasa menghisap Djarum soalnya, tapi kata dokter aku harus mengurangi nikotin. Aku disarankan mencari rokok Herbal yang resepnya dari kerajaan Majapahit, rendah nikotin bahkan hamper tanpa tembakau, tapi itu rokok MLM. Tidak apa-apa, aku suka MLM kok. Santai saja, saya orang cerdas yang mau membuka pikiran untuk semua jenis usaha. Apalagi ini menyangkut kesehatan dan nikotin, apalacur orang kata MLM, saya akan mencarinya. Dokter lagi yang bilang rokoknya bagus. Apalagi resepnya dari Majapahit. Wuih… keren Man! Oh ya, soal nikotin nanti dibahas lagi. Ini soal twitter dan musik dangdut dulu. Aku buka twitter, dan pukul 4.33 pagi ini, satu status yang aku baca berbunyi seperti ini (Copy Paste 3/29/2010 Red) “montytiwa Entering Cikampek. On our way. Pantura ahead. Koplo blasting from the speakers. Jarpul is on the wheel. I smell trouble. Goodbye Jakarta. 12 minutes ago via UberTwitter “
“Wah wah, Sutradara kenamaan saja mendengarkan lagu Koplo, dangdut man! “ gumanku dalam hati pagi ini.
“Ah yang bener? Salah mengartikan kali kamu! Bahasa ingrismu kan dapat 6 ga genep!” kata hatiku yang lain.
“Enggak bener kok, sudah aku google translate! Gini kata Mbah google -Entering Cikampek. On our way. Pantura ahead. Koplo blasting from the speakers. Jarpul is on the wheel. I smell trouble. Goodbye Jakarta. – (Copy Paste dari google transalte. Red.)” hardikku meyakinkan.
“Ah sudahlah! Terserah! Ndak usah ribut! Gitu aja Kok repot!” kataku lagi sembari menaruh batang rokok di atas asbak itu.
“Loch? Kamu sudah pindah NU?” tanya hatiku yang lain.
“Sudah!” jawabku singkat dan mantab.
“Kapan?” tanya hatiku yang lain sekali lagi.
“Sejak Muhammadyah mengharamkan rokok!” sahutku yakin.
“Caranya?” tanya hatiku semakin penasaran.
“Tinggal mengucapkan kalimat ‘Gituh Aja Kok repot!’ udah deh pindah aliran dan rokok tetap hahal!”
“Terserah deh!” hatiku tampaknya putus asa.
“Menyerah?” tanyaku sinis.
“Nggak penting, mending ngomongin hati man! Ngomongin cinta! Ngomongin pacar!” kata hatiku memberikan sebuah alternatif tambahan.
“Hahhaha… bosen ah! Tiap hari cinta-cinta melulu. Ayat-ayat Cinta, Cinta Fitri, Cinta Mati, Cinta 2 hati, Cinta apalagi? Oh itu yang novel judulnya Hijrahnya Cinta! Huhh apaan tuh?’’ ucapku pelan.
“Ya namanya juga tren man! Sudah jamak di negeri ini, negerinya para pengikut!”balas hatiku.
“Terserah kamu deh!” Sahutku malas.
“Menyerah?” tanya hatiku sinis.
“Sory Man, gue kagak bakalan mau menyerah, palagi cuman sama elo?” sahutku sok Jakartaentris.
Aku diam, sepi. Hatiku tak lagi mau menjawab ataupun menyela ucapanku. Dia menyerah, memilih untuk tidur tengkurap, memeluk entah apa yang dipeluknya. Aku diam sekali lagi, tak juga membuka twitter apalagi pesbuk! “Ah aku benci sendiri! Aku ingin berlari! Kemana?” kataku lagi.
Tiba-tiba lagu di laptop Ausus ini berubah, dari koplo menjadi melo. Dari Palapa menjadi Kangen Band. Haduh, -Pujaan Hati- mendayu lirih, menyayat hati-hati yang tak bahagia. Loch, itu tagline novel dunk? Doa Untuk Dinda, penyejuk Hati-hati yang tak bahagia. “Ah Ah Ah” sudahlah. Yang kangen biarkan kangen, toh nantinya juga hilang. Masak seumur hidup mau kangen? Dulu aja kayaknya Koes Plus ga ada gantinya, sekarang juga lebih seneng sama ST 12, Dewa 19, terus band apa lagi ya yang pake angka?
Pagi semakin menusuk, aku sudah lama tak menulis. Aku bingung mau menulis apa lagi. Sejarah sudah, novel juga sudah, cinta sudah, perjuangan hidup juga sudah. Terserah nanti mau di bawa ke mana. Aku tidak suka Armada, karena lagunya ga jelas, -mau di bawa kemana hubungan kita?- hahhahaha…. Bawa saja kemana kau suka membawanya. Bawa saja sema lalu dekap erat, tapi jangan selamanya. Dia ada yang punya. Yang punya, yang bertanya… yang manis, siapa yang punya? Yang punya yang bertanya…. Aku milikMU….
Jogjakarta, 4.52 Subuh. 3/29/2010
(Jangan salah mengartikan, bukan cinta, bukan politik, bukan pula SARA. Ini hanya tentang rasa)
Di tulis sambil tiduran, dengan Back Sound: Ora Prawan Ora Rondho, aku kowe sopo!? Ora Jok Ora Dudo, aku kowe jane Podho! (Brodin: Arjosari Denpasar: Live OM: Palapa)




Endik Koeswoyo

Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 25 Maret 2010

Nonton Film Gratis

setelah sukses roadshow di 10 kota..kali ini film "DEBT" akan mengulang kesuksesannya di Dreamlight Jogjakarta, datang & saksikan film "DEBT" karya LOOKOUT PICTURE INDONESIA hari Sabtu 27 Maret 2010 mulai pukul 19.00 di Ketandan Kulon No. 4 .Belakang Ramayana Malioboro Jogjakarta..GRATIS!!!


Berikut salah satu berita tentang film DEBT di Kedaulatan Rakyat

PESAN TERSIRAT FILM DEBT ; Hikmah Memanusiakan Orang Lain

08/02/2010 08:31:40

SAAT memudahkan jalan orang lain. Maka, jalan kita, juga akan terasa lebih mudah. Selain itu, rasa saling memahami dan menghargai orang lain, tetap perlu dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Meskipun begitu, rasa putus asa juga mampu menghancurkan mimpi dan kebahagiaan.

Itulah sekelumit makna, dari beberapa penggalan dialog dalam film indie Debt yang diputar di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (6/2). Film ini hasil produksi Lookout Picture Indonesia, besutan sutradara muda Khusnul Khitam.
Produser Pelaksana Endik Koeswoyo mengungkapkan, secara keseluruhan produksi film indie ini memakan waktu hampir 2 minggu. Syuting perdana pada 14 Januari lalu, dengan mengambil lokasi di Yogyakarta.
"Persoalan yang saya angkat, berkaitan dengan kecenderungan masyarakat saat ini yang mengumbar konsumerisme, tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi mereka. Masyarakat begitu mudah tergiur iming-iming iklan, sehingga mereka kemudian ingin mendapatkan semua produk itu dengan cara kredit. Ternyata keputusan itu bukan menjadi solusi atas masalah hidupnya. Namun justru menjadi sumber masalah baru," jelas Khusnul Khitam yang juga penulis skenario ini.
Film ini, lanjutnya, dilakukan berdasarkan riset selama beberapa bulan. Mampu menjadi sebuah pesan tentang mentalitas masyarakat yang cenderung menjadi korban zaman. Di tengah kian terbukanya pasar bebas, tentu kondisi masyarakat ini, nantinya, akan menjadi masalah besar.
"Bisa saja ketika pasar bebas dijalankan, masyarakat kita hanya akan menjadi objek bagi produk luar yang masuk ke Indonesia. Namun, dengan semua masalah tersebut, sebagai makhluk sosial, mampukah kita berbagi dengan orang lain?" ungkapnya.
Film indie Debt ini, tambah Khusnul, mengisahkan nasib seorang debtcollector bernama Sugeng. Uniknya dia juga terjerat pada masalah yang sama. Ada dilematis yang selalu dialami Sugeng sebagai tukang tagih. (*-3) -g

Sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=208617&actmenu=40



Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 18 Maret 2010

-Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'- GRATIS

Sebelum mengaplikasikan -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'-
Kami dari Jaringan Penulis Indonesia akan melakukan Uji Coba Materi : -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'-

Kesempatan terbatas. Bagi anda yang berdomisili di Yogyakarta silahkan mengikuti program Uji Materi -Workshop Penulisan '1 Hari Jadi Penulis'- dengan mendaftarkan melalui SMS ke 0817 323 345 Ketik: Daftar (Spasi) Nama (Spasi) Tahun Lahir

Progam ini Gratis, Tidak di pungut Biaya.
Peserta yang mendaftar akan mendapatkan Modul dan Upadate Alamat Penerbitan Terbaru.

Materi:
1. Motivasi Menulis
2. Tips Menulis
3. Tips dan Trik Menembus Penerbitan

Pemateri: Endik Koeswoyo
KARYA CETAK
1-Cowok Yang Terobsesi Melati (Penerbit: Diva Press Yogyakarta. www.divapress-online.com)
2- Cinta Selebar Kerudung (Penerbit: Sketsa Yogyakarta)
3-Siapa Memanfaatkan Letkol Untung? (Penerbit: Media Pressindo Yogyakarta)
4-Tersesat Di Surga (Penerbit: Sketsa Yogyakarta)
5- Pak Gempa (AruzzKata Jakarta)
6- Hijrahnya Cinta (Penerbit: Pustaka Fahima Yogyakarta. www.pustakafahima.com)
7. Kaldera: Ketika Cinta Bicara Cinta (Bisnis 2030 Jakarta. www.bookoopdia.com)
8. Doa Untuk Dinda (Penerbit: Garailmu. Diva Press Yogyakarta.www.divapress-online.com)
9 Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara (Penerbit: Garailmu. Diva Press Yogyakarta.www.divapress-online.com)



Tempat: Dapur Creative Lookout Picture Indonesia
Alamat: Jl. Swadaya 604 / MJ I. Gedong Kiwo Pojok Benteng Barat.
Waktu : Sabtu 20 Maret 2010: Pukul 9.00 WIB s/d 11. 00 WIB


Acara ini di Dukukung Oleh:
Lookout Picture Indonesia
Penerbit Kembang Pustaka
Izza Publisher
Jaringan Penulis Indonesia


Manfaatkan kesempatan langka ini. Gratis. Peserta mendapatkan Modul.


INFO TAMBAHAN:
Manfaatkan Blog Ada dengan mengikuti KUMPUL BLOGER> Daftar Gratis di http://kumpulblogger.com/textlink_desc.php?refid=6018



Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Rabu, 10 Maret 2010

Sebuah Cerpen Berjudul Keris

Sebuah Cerpen Berjudul Keris


Malam semakin mejelang, para Gus itu mulai muncul dengan senyum masing-masing. Kalimat salam muncul lalu diikuti dengan jabat erat dilanjut dengan jabat tangan dan peluk erat. Tujuh remaja itu sepertinya telah lama tak bersua, rasa rindu membuncah untuk melepas dahaga perkasa yang mejelma dalam hati masing-masing pria muda itu. Jarak telah memisahkan persahabatan mereka.

Kisah-kisah lama teruri dalam bingkai malam yang menusuk dengan dinginnya. Mereka berjibaku dalam pengalaman lama yang belum terungkap satu sama lain. Mengalir dingin dengan cangkir-cangkir kopi yang panas mengepul dalam bisikan semilir angin.
“Hahahha… Kenapa? Putus cinta lagi? Haram bagimu mencitai yang bukan istrimu!”
“Loch.. ini jaman modern Gus! Sudah tidak jaman menikah dengan wanita yang belum kita kenal!” sahut Gus satunya dengan argumen sepihaknya.
“Ya Ampyun, kalian kok ngomongin agama lagi to? Sudah ganti topik, bosan aku dengan itu! Seiap hari sudah bosan aku di jekoki Kitab Kuning!” sahut Gus yang lain tiba-tiba protes.
“Lalu kita harus ngapain lagi kalau tidak membicarkan cinta? Kita masih muda!”
Diam, masing-masing seakan tertohok oleh sepatah kalimat itu. Aneh, remja-remaja itu seakan menjadi patung.
“Aku mau menikah!” ucap salah Gus yang sedari tadi hanya diam.
“Oh ya? Kapan?”
“Secepatnya! Terlalu lama aku sembunyi dari kenyataan!”
“Pake adat apa?” Tanya salah satunya lagi.
“Jawa, karena aku orang jawa!”
“Di mana kamu akan menikah?” Tanya yang lain pula.
“Jawa Tengah! Di sana aku memilih untuk menikah dan melanjutkan sisa usiaku!”
“Adat jawa? Pake keris ya?” Tanya seorang Gus yang paling ujung.
“Iya, aku suka keris sejak dulu, ingin aku menyandangnya di kala pernikahan nanti!” sahutnya pelan namun mampu memecah keheningan malam.
“Oh ya, mari kita ambilkan sebilah keris untuk pesta pernikahannya nanti!”
“Di mana?”
“Di Majapahit!” sahutnya mantab.
“Hahhahaha….” Lanjut yang lain tertawa.

***

Tujuh pemuda itu kini duduk bersila pada satu tempat diantah berantah. Dingin membeku, -mencekam sepi hening. Mulut mereka tampak komat-kamit.
“Bismillahirrahmannirrahim. Gedonge sukma pasebani sukma. Nur sukma mulya talirosoku tunggal. Nguling-nguling kapangeran” Mantra Ghaib itu terdengar hamper bersamaan dan berulang.

Angin malam masih mengalun membawa kerinduan. Semacam reuni akbar mereka menjadi satu dalam ketenangan dan doa. Angin berhembus semakin kencang, aroma mistis muncul dengan tiba-tiba.

Seorang Gus berdiri dengan cepat, tangannya merapat di depan dada
“Bismillaahirramaanirrahiim. Shalallaahualaihi wasallam. Allahumma kulhuaallah. Zat gumilang tanpa sangkan, liyep cut-prucut sukmaningsun metu saka raga gampang sarining gampang sak niatku, slamet saka kersane Allah. Laailallaillallah Muhammadarrasuulullah…"

Lalu angina berhembus semakin kencang. Dia terhuyung-huyung lalu memasang kuda-kuda untuk menaha diri. Gus yang lain masih komat-kamit, duduk bersila membaca doa, seakan memberi bantuan kekuatan pada sahabatnya. Cahaya kebiruan mucul dengan tiba-tiba. Direngkuhnya dengan cepat dan dia kembali bersila.
“Ini hadiah dari kami untuk kau gunakan dalam acara pernikahanmu, keris Nogo Sosro Sabuk Inten,” lanjutnya sambil menjulurkan tangannya yang sudah memegang sebuah keris usang Tangguh Majapahit.

Hening, semua kembali diam melanjutkan sebuah ritual yang entah apa namanya. Ada senyum yang mengembang dinatara mereka, ada persahabatan serat diantara mereka da nada banyak kenangan lama yang mereka ualng kembali setelah sekian lama tak bersua. Persahabatan mereka unik, tak terbatas waktu dan usia. Walau jika mereka berjumpa, secangkir kopi seakan menyatukan mereka.


(Foto Keris yang di ambil malam itu, Konon bernama Keris Nogososro Sabuk Inten karya besar Empu SUpo dari jaman Majapahit)




Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER
http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Selasa, 09 Maret 2010

Sebuah Cerpen Berjudul Anjing

Sebuah Cerpen Berjudul Anjing

Entah telah berapa lama aku tidak menulis cerpen…. Dan hari ini seseorang memintaku menulis cerpen untuk hadih ulang tahunnya… Selamat ulang tahun sobat…. Hanya sebait kalimat ini yang aku berikan untuk ulang tahunmu, dan semoga apa yang engkau cita-citakan tercapai dan hidup bahagia dengan kelurga tercintamu….

Ku awali dengan kalimat Bismillah….

Mendung itu tampak majemuk, ada warna biru, kekuningan jingga dan sedikit pekat. Mungkin sama dengan cinta, cinta juga majemuk seperti mendung terkadang ada hitam terkadang ada putih. Namun ada juga yang mengatakan cinta itu biasa saja, dan wajar-wajar saja. Sudahlah, ini bukan soal cinta, ini bukan soal mendung, ini hanya soal anak anjing.
“Haram katanya memakan daging Anjing, najis katanya jika terkena liur anjing. Lalu kenapa anjing itu ada ke muka bumi?”
“Mungkin sama dengan penciptaan nyamuk oleh Sang Tuhan. Nyamuk itu menjijikkan dan mengganggu tidur plus membawa banyak penyakit. Kenapa Sang Tuhan menciptakan nyamuk? Sederhana saja jawabnya, dari adanya nyamuk ribuan pekerja bisa menghidupi keluarganya dari pabrik-pabrik yang membuat obat nyamuk, dokter dan ratusan pekerja lainnya, memnghidupi keluarganya dengan menjadi musuh nyamuk,”
Aku diam, menatap jauh ke depan, kepada seekor anak Anjing yang masih menyusu pada induknya yang lelap. Anjing memang majemuk, terutama warnanya. Ada yang putih, pink, orange dan jenisnya juga majemuk, besar, kecil, dan jenisnya juga majemuk dari jenis anjing Shih Tzu, Rottweiler , Pug, Pomeranian hingga anjing hutan yang tidak jelas jenisnya apa. Tapi ini bukan soal warna, jenis atau apapun. Ini soal hala dan haramnya anjing dan sebuah pertanyaan kenapa Sang Tuhan mengharapkan ciptaan-Nya?
“Sebaliknya, seandainya tuhan bilang air liur anjing itu tidak najis, suci, baik buat kesehatan, menambah tenaga, penuh berkah, bisa menambah rejeki dan melariskan dagangan, atau bisa mengobati kadas, kudis, kurap dan seterusnya, apakah kita akan minum air liur anjing ?“
Sekali lagi aku tertohok oleh argument itu.
“Entahlah!”
Aku lebih memilih menikmati secangkir kopi dari pada membahas soal anjing. Aku lebih suka memandang langit yang majemuk dari pada membahasa anak anjing jadi maaf, aku tidak tertarik untuk membahasa soal anjing itu, karena aturannya sudah jelas. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali.(HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.(HR Muslim dan Ahmad).
Dan sudahlah, sebaiknya aku tidak membawa masalah anjing ini ke dalam mimpi, biarkan dia menjadi anjing dan aku menjadi manusia. Biarkan saja banyak nyamuk dan aku tetap manusia.
Sore semakin menjelang, warung di pinggir pantai itu sunyi. Hanya ada aku sendiri, yang telah di tinggal pergi oleh sobatku yang tadi. Mungkin dia kecewa karena aku tidak menanggapi komentarnya soal anjing. Tapi aku memang tidak suka dan aku punya tidak mau. Kubiarkan dia pergi dengan rasa dongkol dihatinya, kubiarkan dia pergi dengan kecewa di hatinya. Aku egosi kok. Semua orang tau itu.
Anak-anak anjing itu masih saja terus menyusu, mencari isi perut dari isi perut ibunya yang lelap dalam tidurnya, tidak terganggu. Walau aku melihatnya dari sebrang jalan, aku bisa melihatnya dengan jelas, mereka bahagia. Mereka hidup rukun dan mereka bahagia. Walau aku hanya melihatnya dari jauh, aku tau kalau mereka tidak sadar ada jutaan umat yang membenci mereka namun ada juga jutaan mansia yang mengukai anjing. Hidup memang tidak seperti nasib anjing, di sukai kadang juga di benci. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Cieettt…..Bruak!
“Anjing! Apa kamu ndak punya mata?”
Hardik seorang pria yang terjatuh dari motornya.
“Astagfirullah!” aku segera berlari mendekati pria itu.
“Anda tidak apa-apa?” sapaku sembari membantunya berdiri lebih tegak.
“Tidak apa-apa!” sahutnya ketus.
Tempat yang sepi itu tiba-tiba menjadi gaduh dengan kemunculan banyak warga. Aku menatap sekelilingku, apa sebenarnya yang terjadi? Mataku terlalu focus pada anak-anak anjing yang tadi.
Pada sudut yang lain, sekerumuman warga tampak gelisah dan mulai gaduh. Aku mendekat, seorang anak kecil tampak terkulai pada pelukan seorang pria tua. Siapa dia? Apakah pria itu tadi menabrak anak kecil itu dengan motornya? Bisa jadi demikian.
“Tidak apa-apa, dia tidak apa-apa, hanya lecet saja.” Sahut pria itu menjawab pertanyaan bertubi dari warga yang entah datang dari mana.
“Maafkan cucu saya, dia tidak melihat jalan saat menyebrang,” ucap pria tua kepada pengendara motor yang berdiri tak jauh darinya.
Pria itu tak menjawab, dia berdiri dengan angkuhnya, layaknya manusia tanpa dosa yang begitu mudah mengup kata ‘anjing’. Sudahlah, anak itu juga tidak apa-apa, menangispun tidak karena dia hanya kaget lalu terjatuh di jalan aspal sore itu.
Kembali hening, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. Tidak ada yang menarik sore ini, hanya anak-anak anjing yang menyusu pada ibunya, hanya seorang teman yang ingin sekali membahas soal anjing, dan hanya seorang pria yang mengumpat dengan kata ‘anjing’.
Hidup ini tidaklah kaku, hidup ini felsibek seperti air, di masukkan ke mana saja, di tempatkan ke mana saja toh bentuknya juga akan mengikuti wadahnya. Sang Tuhan selalu punya rencana untuk umat-Nya, seperti Dia telah menciptakan nyamuk dan anjing, dua binatang yang berbeda yang dianggap hina namun juga punya manfaat. Begitu juga dengan cinta, kata itu ada karena memang mempunyai makna, begitu juga dengan mendung, kemajemukan warnanya juga punya makna. Begitu juga dengan kita, manusia hadir dengan segala bentuk dan keunikannya juga punya makna….

Endik Koeswoyo
Yogyakarta, 9 Maret 2009





Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER



http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=6018

Selasa, 02 Maret 2010

Jawa Pos Radar Yogya: Film Tukang Kredit yang Juga Pengkredit

Radar Yogya
[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Film Tukang Kredit yang Juga Pengkredit

JOGJA - Lookout Picture Indonesia mempersembahkan film pendek yang berjudul Debt dengan mengangkat kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Untuk sosialisasi film ini, Debt akan diputar di beberapa tempat di Jogja.

"Pemutaran film Debt ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan komunitas-komunitas pecinta film di kota-kota di mana film tersebut akan diputar," ujar Endik Koeswoyo, produser film Debt pada pemutaran perdananya di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu (6/2) lalu.

Endik melanjutkan, dengan adanya pemutaran film Debt ini, pihaknya ingin merangkul semua komunitas film, baik itu film indie dan production house lain.

"Dengan merangkul lebih banyak komunitas film, sehingga ke depannya bisa membuat film yang lebih kompleks. Sehingga tidak hanya masalah sosial saja," ungkap Endik.

Film Debt sendiri hanya berdurasi sekitar 20 menit. Mengisahkan tentang seorang debtkolektor, Sugeng, yang baru saja menikah. Pekerjaan hariannya adalah debtkolektor, ia harus menarik cicilan dari tiga orang yang menunggak bayar cicilan, yaitu, Pak Narko, Pak Darmo dan Bu Jamilah. Sedang, Sugeng sendiri memiliki hutang dengan sahabatnya, Boim, karena biaya untuk pernikahannya.

Demi membuat film ini, ia juga melakukan penelitian dengan mengkredit di sebuah perusahaan pengkreditan. Sehingga film produksinya ini bukan cuma karangan semata.

"Sebelum membuat film ini, saya melakukan penelitian dulu tentang debt collector. Saya sengaja membeli laptop dengan cara mengkredit, dan memang setiap bulan para debt collector ini rajin menagih," cerita Endik.

Ternyata, kata Endik, ia menemukan hal yang menarik dari para debtcollector ini. Debt collector bukan berarti orang yang selalu menarik utang dari para pengkredit, mereka juga memiliki masalah yang sama.

"Itu yang saya gambarkan pada tokoh Sugeng, sang debtcollektor. Sugeng sendiri juga punya utang dengan temannya," kata Endik.

Pemutaran film Debt akan berlangsung mulai dari tanggal 8 Februari 2010 hingga 25 Februari 2010. Tidak hanya di Jogja saja, tetapi akan diputar di kota-kota besar lain seperti Semarang, Surabaya dan Malang. (isa)

Sumber: http://jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=142115


Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER

Senin, 01 Maret 2010

Kedaulatan Rakyat: Debt Collector Bisa Terlilit Utang

Debt Collector Bisa Terlilit Utang
Senin, 08 Pebruari 2010 00:03:00






Cuplikan Film Debt (Foto:Fira Nurfiani)

YOGYA (KRjogja.com) - Debt collector atau penagih utang piutang menjadi sosok menakutkan bagi masyarakat saat ini. Tampang seram dan terkadang mengeluarkan sumpah serapah bagi orang yang terbelit utang menambah keangkeran profesi satu ini.

Namun, tidak dalam film pendek Debt yang dirilis Lookout Picture Indonesia. Betapa tidak, sang debt collector pun terkena masalah serupa. Rencananya, film berdurasi 20 menit akan diputar di beberada tempat di Yogya. Selain itu di Semarang, Surabaya dan Malang. Film ini bercerita tentang seorang debtkolektor, Sugeng, yang baru saja menikah. Pekerjaan hariannya menarik cicilan dari tiga orang yang menunggak bayar cicilan, yaitu, Pak Narko, Pak Darmo dan Bu Jamilah. Sedang, Sugeng sendiri memiliki hutang dengan sahabatnya, Boim, karena biaya untuk pernikahannya.

Produser film Debt, Endik Koeswoyopada mengatakan film ini berdasarkan penelitian dan pengalaman pribadi ketika membeli satu unit laptop di salah satu lembaga pembiayaan. “Sebelum membuat film ini, saya melakukan penelitian dulu tentang debt collector. Saya sengaja membeli laptop dengan cara mengkredit, dan memang setiap bulan para debt collector ini rajin menagih,” cerita Endik.

Ternyata, kata Endik, menemukan hal yang menarik dari para debtcollector ini. Debt collector bukan berarti orang yang selalu menarik utang dari para pengkredit, mereka juga memiliki masalah yang sama. “Itu yang saya gambarkan pada tokoh Sugeng, sang debtcollektor. Sugeng sendiri juga punya utang dengan temannya,” kata Endik.

Lebih lanjut Dia menjelaskan pemutaran film ini bermaksud merangkul semua komunitas film, baiK, indie ataupun production house lain “Dengan merangkul lebih banyak komunitas film dan bisa membuat film yang lebih kompleks yang tidak hanya bercerta tentang masalah sosial saja,” ungkapnya. (Fir)




Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER

Kedaulatan Rakyat: PESAN TERSIRAT FILM DEBT ; Hikmah Memanusiakan Orang Lain

PESAN TERSIRAT FILM DEBT ; Hikmah Memanusiakan Orang Lain

08/02/2010 08:31:40

SAAT memudahkan jalan orang lain. Maka, jalan kita, juga akan terasa lebih mudah. Selain itu, rasa saling memahami dan menghargai orang lain, tetap perlu dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hidup. Meskipun begitu, rasa putus asa juga mampu menghancurkan mimpi dan kebahagiaan.

Itulah sekelumit makna, dari beberapa penggalan dialog dalam film indie Debt yang diputar di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (6/2). Film ini hasil produksi Lookout Picture Indonesia, besutan sutradara muda Khusnul Khitam.
Produser Pelaksana Endik Koeswoyo mengungkapkan, secara keseluruhan produksi film indie ini memakan waktu hampir 2 minggu. Syuting perdana pada 14 Januari lalu, dengan mengambil lokasi di Yogyakarta.
"Persoalan yang saya angkat, berkaitan dengan kecenderungan masyarakat saat ini yang mengumbar konsumerisme, tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi mereka. Masyarakat begitu mudah tergiur iming-iming iklan, sehingga mereka kemudian ingin mendapatkan semua produk itu dengan cara kredit. Ternyata keputusan itu bukan menjadi solusi atas masalah hidupnya. Namun justru menjadi sumber masalah baru," jelas Khusnul Khitam yang juga penulis skenario ini.
Film ini, lanjutnya, dilakukan berdasarkan riset selama beberapa bulan. Mampu menjadi sebuah pesan tentang mentalitas masyarakat yang cenderung menjadi korban zaman. Di tengah kian terbukanya pasar bebas, tentu kondisi masyarakat ini, nantinya, akan menjadi masalah besar.
"Bisa saja ketika pasar bebas dijalankan, masyarakat kita hanya akan menjadi objek bagi produk luar yang masuk ke Indonesia. Namun, dengan semua masalah tersebut, sebagai makhluk sosial, mampukah kita berbagi dengan orang lain?" ungkapnya.
Film indie Debt ini, tambah Khusnul, mengisahkan nasib seorang debtcollector bernama Sugeng. Uniknya dia juga terjerat pada masalah yang sama. Ada dilematis yang selalu dialami Sugeng sebagai tukang tagih. (*-3) -g

Sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=208617&actmenu=40

Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER

Berita Film DEBT Koran Kedaulatan Rakyat

Malam Ini, Pemutaran Film ’Debt’

06/02/2010 08:09:40

KOMUNITAS film Lookout Picture Indonesia menggelar Road show pemutaran film indie berjudul ‘Debt’, di Miami Bistro Kafe, Sabtu (6/2), pukul 20.00 WIB. Film karya dan arahan sutradara muda Khusnul Khitam ini, secara keseluruhan mengambil lokasi di Yogyakarta. Produser Endik Koeswoyo mengungkapkan, film ini akan diputar di 9 kota, seperti Yogyakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Malang, Surabaya, Solo, dan Pangkalpinang, selama bulan Februari-Maret 2010. Bercerita tentang persoalan yang kerap terjadi dalam masyarakat sekarang, yakni kecenderungan mereka yang mengumbar konsumerisme tanpa menimbang kemampuan pendapatan ekonomi. “Kami ingin agar film ini bisa mendapat apreasi dari seluruh elemen masyarakat. Mengingat, tema yang coba kami angkat memang syarat pesan moral. Selain itu, kami juga ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman di berbagai daerah tentang pembuatan film ini,” ungkap Endik. Film ini, lanjutnya, melibatkan para pemain seperti, Wahyu Novianto, Indah KW, Broto Wijayanto, Naufal Zen Harist, Mootri Purnomo, Bagus Jeha, Dra Dyah Ruliyati, Yayuk Kesawamurti, Dewi Wulandari C, Riyanto Tan Ageraha, Amir Wiratama, Woy Iwan, Sriyono, dan Agung. (*-3)-c Sedangkan pelaku di balik layar seperti, Muhammad Sulaiman Wibowo (Executive Producer), Endik Koeswoyo (Producer), Khusnul Khitam (Sutradara/Penulis Naskah), Reno Agung, Dona Roy, dan Gerry Rahmano (Asisten Sutradara), Fajar MS (Cameraman), serta Dona Roy (Editor).

Sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=208458&actmenu=40


Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER

Seminar Kepenulisan Bersama Endik Koeswoyo

TERM OF REFERENCES

Nama Kegiatan : Seminar Kepenulisan
Tema Kegiatan : Lejitkan Potensi Menulismu
Materi : Kiat Sukses, Suatu Karya Menembus Berbagai Penerbit
Pembicara : Endik Koeswoyo
Waktu : Kamis, 4 Maret 2010. Pukul 10.00-11.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang Utama, Lantai 3, Gedung Student Center UNY
Sasaran : Mahasiswa UNY, dan mahasiswa luar UNY, serta
masyarakat umum.
Target
Kuantitatif : 50 orang
Kualitatif :
1. Peserta mengetahui kriteria suatu karya, misal buku
atau novel yang dapat diterbitkan.
2. Peserta dapat memperoleh informasi bagaimana
prosedur dan tata cara mengirimkan suatu karya
ke penerbit.
3. Peserta mengetahui strategi yang jitu untuk meloloskan
karyanya ke berbagai penerbit.

Deskripsi Acara : Acara ini diisi oleh dua pemateri, dengan dipandu oleh satu moderator. Di akhir pemaparan materi diadakan sesi tanya jawab atau diskusi.

CP panitia yang bisa dihubungi (085725016307)
Fasilitas yang tersedia, LCD, Layar LCD, Sound System


SUSUNAN ACARA
SEMINAR KEPENULISAN

Waktu Acara
08.30-08.45 Registrasi peserta
08.45-09.00 Pembukaan dan Sambutan:

1. Riza Purnawan W. (Koordinator Perpustakaan Masjid Al Mujahidin UNY)
2. Apriansyah A. Md. (Ketua Divisi Kemasjidan Takmir Masjid Al Mujahidin UNY)

09.00-10.00 Materi I:
Bagaimana Mendapatkan Inspirasi dan Motivasi Menulis
Oleh : Kusmarwanti, M. Hum (Penulis dan Dosen FBS UNY)

10.00-11.00 Materi II:
Kiat Sukses Suatu Karya (buku atau novel) Menembus Berbagai Penerbit
Oleh : Endik Koeswoyo (Penulis)

11.00-11.45 Diskusi dan tanya jawab
11.45-12.00 Penutup






Salam Budaya:
Endik Koeswoyo
Jl. Swadaya 604 Yogyakarta.
email: endik_penulis@yahoo.com
Phone: 0817 323 345

Mari Mencintai Indonesia Apa Adanya


Manfaatkan Blog Anda Dengan Mengikuti : KUMPUL BLOGER

KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN