twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Selasa, 30 November 2010

SEPATU OH SEPATU

SEPATU OH SEPATU

Pagi ini, 10.30 WIB akhir bulan November 2010 tepatnya tanggal 30 seorang sahabat saya, TIM SAR GARDA DEPAN Merapi curhat soal sepatunya yang sudah jebol dan tidak bisa dipakai lagi. Ada sesuatu yang membuat saya terharu, bukan soal sepatu atau curhatnya dia sang sahabat itu. Tapi karena saya merasa ada ketulusan di hatinya dan banyak relawan lain yang berjibaku dengan awan panas sampai lahar dingin. Mereka adalah orang-orang Garda Depan yang menyisir Merapi bahkan sebelum letusan tanggal 26 terjadi.
Berikut ini pertanyaan yang mebuat saya terdiam beberapa lama:
“Sepatu Bootnya Paijo yang hitam sama kamu ya? Tak Ambil bisa nggak ya? Sepatuku sudah jebol je! Tak ambil bisa ga?”
Kenapa saya terdiam? Karena sepatu yang di maksud adalah sepatu jaman kuliah dulu atau sekitar 3-4 tahun, tepatnya saya sudah lupa bentuknya seperti apa. Lalu kenapa saya tulis cerita pagi ini? Ya hanya sekedar ingin memberitahukan saja bahwasanya banyak sepatu relawan yang rusak karena hujan, debu vulkanik yang panas dan faktor lain yang mebuat sepatu kesayangan mereka para relawan itu rusak. Dan siapa yang akan membelikan mereka? Pemerintahkah? Ataukah beli sendiri?
Dan apa jawaban sahabat saya itu? “Tenang aja Tuhan pasti kasih jalan buat kita!” jawaban itu membuat hati saya pribadi tertohok.
“Aku tidak punya sepatu Traking atau sepatu boot, adanya sepatu gaul! Beli saja di pasar Klitikan,” jawabku sekenanya.
“Wah lagi pailit iki, kemarin sudah lihat harganya 300.000,-“ jawabnya.
“Oh…, “ sahutku pelan sambil membuka dompet uang isinya hanya 3 lembar 100 ribuan, “Kalau baru berapa harga sepatunya?” lanjutku pelan.
“Sekitar 450.000,-“ jawabnya lirih.
Ya, begitulah kira-kira obrolan pagi ini. Dan para sahabatku yang mungkin ada keinginan untuk membelikan sahabat saya sepatu baru atau bekas silahkan sms ke 0817323345 itu nomer saya (Endik Koeswoyo), nanti akan saya kasih nomer sahabat saya yang sepatu jebol. Harga sepatku bekas Rp.300.000,- sepatu baru 500.000. Kenapa saya posting tulisan ini? Saya berharap ada 100 orang yang terketuk hatinya dan ingin memberikan KADO ISTIMEWA Untuk para TIM SAR GARDA DEPAN MERAPI berupa sepatu baru dan agar kita setidaknya tau kondisi mereka para Relawan yang tulus itu. Dan kita juga harus tau, mungkin tidak hanya satu relawan yang sepatu rusak. Selamat siang, salam #Jogja Istimewa.





Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Selasa, 23 November 2010

Novel Terbaru -- Cinta Di Ujung Hati

Judul: Cinta Di Ujung Hati
Penerbit: Roemah Buku
SEVEN SOUTH ASIA, CO.LTD
Penulis: Endik Koeswoyo

:Pengantar Penerbit:


Dengan mengucap syukur ke hadirat Tuhan penguasa Alam, akhirnya kami bisa menerbitkan novel dengan judul “Cinta Di Ujung Hati”. Di kemas dan dipersembahkan khusus untuk pembaca setia. Lincah, sederhana dan dialeg yang puitika memang menjadi ciri khas dari penulis muda yang satu ini. Dan kesedarhanaan dalam bertutur itu yang membuat karyanya digemari dan selalu dinantikan.

Novel ini mengisahkan perjuangan cinta dan perjuangan hidup dua anak manusia, Raid dan Aisah. Mampukah Aisah dan Raid menjaga ketulusan cinta keduanya? Nasib dan keadaan memaksa mereka harus berjuang pada jalan masing-masing. Benarkah hubungan itu akan kekal sementara orang ketiga datang begitu saja tanpa diundang? Sebuah kisah inspiratif, membuat kita harus menarik nafas dalam-dalam, memaksa kita untuk menjadi manusia yang akan selalu bersyukur atas nikmat-Nya, bahkan mungkin akan memaksa kita berurai air mata. Selamat membaca.

“Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui tentang apa yang akan terjadi kepada umat-Mu. Dalam lantunan doa ini, aku meminta-Mu untuk menjaga hatiku, jaga hatinya. Jagalah hati kami agar selalu dalam ikatan cinta yang suci. Walau jarak dan waktu memisahkan kami, kuharap tak ada yang mengingkari rasa indah di dalam hati ini. Ya Rabb…, kuatkan cinta kami seperti Engkau menancapkan gunung yang tak tergoyahkan itu. Biarkan cinta kami selalu berjalan dan bergerak seperti gelombang yang tak pernah berhenti…

CARA PESENNYA GAMPANG:

Kirim sms pesanan dengan format:
CDH nama alamat lengkap
Contoh: (CDH ENDIK KOESWOYO 3F,NO.88, FU DE ROAD,XINDIAN CITY,TAIPEI COUNTY)
Kirim ke no hp 0973412388 (Vibo Telecom)

Setelah sms kami terima, pesanan dipaketin via pos. Kiriman sampai bisa dibayar ke pak pos. Khusus buku Cinta Diujung Hati, 300nt suda bisa nyampe ke pelanggan. Mudah kan?

info:
www.roemahbuku.com


Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 24 Oktober 2010

SI KECIL BERHATI BESAR


SI KECIL BERHATI BESAR

Mulai 25 Oktober 2010, setiap hari Senin-Minggu pukul 17.30 WIB

RCTI sebagai stasiun TV swasta pertama di Indonesia senantiasa berupaya menyuguhkan program menarik untuk memanjakan pemirsa setianya. Kali ini RCTI akan menghadirkan sebuah program reality show yang menampilkan aksi anak-anak yang berhati besar. Program yang bertajuk "Si Kecil Berhati Besar" dan akan tayang setiap hari Senin-Minggu mulai 25 Oktober 2010 pukul 17.30 WIB ini mengangkat kisah anak-anak yang harus bekerja keras untuk dapat bertahan hidup demi keluarganya. Keterpurukan dan keterbatasan ekonomi membuat anak tersebut menjadi tumpuan keluarga

Reality show berdurasi 30 menit ini mengangkat kisah perjuangan dan ketegaran mereka untuk menyambung hidup demi mencari sesuap nasi dengan cara yang halal meski mereka harus bercucuran keringat dan air mata. Mungkin bagi orang lain mereka hanyalah anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan bahkan acapkali diremehkan. Tetapi keterpurukan serta kerasnya hidup tidak lantas menjadikan hati dan jiwa mereka kerdil. Keterpurukan justru membuat hati dan jiwa mereka kuat dengan tetap peduli kepada sesamanya.

"Si Kecil Berhati Besar" setiap episodenya akan mengangkat kisah yang berbeda-beda, tetapi tetap bertumpu pada kisah anak-anak yang berhati baja menghadapi pahit dan kerasnya kehidupan. "Melalui program reality show ini kami berharap agar keteladanan mereka dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak dan keluarga Indonesia, supaya mereka tidak mudah menyerah dalam menghadapi beragam tantangan kehidupan, demi masa depan yang lebih baik", ujar Rudy Ramawy, Programming and Production Director RCTI.

Beberapa episode yang akan disajikan adalah sebagai berikut:

1. Kisah Bagas, Pencari Bawang Sisa

Sejak kelas 5 SD, Bagas sudah ditinggal ayahnya. Dia hidup serba kekurangan bersama ibu dan kakak perempuannya. Ibunya bekerja mengumpulkan bawang yang tercecer di lorong pasar untuk dijual kembali. Tiap pulang sekolah, Bagas selalu membantu mengumpulkan bawang, lalu bersama kakaknya menjual bawang-bawang tersebut.

1. Kisah Adi, Penyadap Karet

Adi adalah anak tertua dan baru kelas 5 SD. Dia sudah ditinggal pergi ayahnya dan setiap pulang sekolah menyadap karet untuk dijual. Ibunya adalah seorang buruh cuci.

1. Kisah Wulan, Penjual Koran

Wulan sekarang duduk di bangku SD kelas 5. Dia menjual koran di perempatan lampu merah.

1. Kisah Arum, Pengojek Payung

Arum yang masih kelas 5 SD ini mempunyai seorang ibu yang berjualan nasi di pinggir jalan, sedangkan ayahnya adalah seorang pekerja serabutan. Karena dia ingin membantu menambah rezeki keluarganya, dia mengojek payung di waktu musim hujan datang.

1. Kisah Bagong, Penari Kuda Lumping

Bagong, kelas 5 SD, dia tinggal bersama ayah, ibu dan kedua adiknya. Ayahnya mencari nafkah sebagai penari kuda lumping keliling. Setiap pulang sekolah, Bagong selalu membantu ayahnya mencari rezeki untuk kebutuhan sehari-hari mereka dengan menari kuda kepang.

Penasaran ingin melihat seperti apa perjuangan anak-anak kecil berhati besar ini? Jangan lewatkan reality show "Si Kecil Berhati Besar" mulai 25 Oktober 2010, setiap hari Senin sampai dengan Minggu pukul 17.30 WIB hanya di stasiun kebanggaan bersama milik bangsa RCTI OKE



Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Selasa, 14 September 2010

Cerpen: "Teringat lebaran 20 tahun yang lalu ketika aku merajuk dan umurku masih 8 tahun lebih sedikit"

Cerpen: "Teringat lebaran 20 tahun yang lalu ketika aku merajuk dan umurku masih 8 tahun lebih sedikit"




Malam Takbiran aku habiskan di Masjid, aku adalah penabuh bedug cilik paling handal di kampungku walau ngajiku tak pernah nambah dari Iqro 2. Malam itu, seperti biasanya, hanya sandal jepit yang sudah beberapa kali putus namun aku sambung lagi dengan peniti di bagian sampratnya yang aku kenakan. Maklum, selain jalan setapak menuju ke rumah itu itu licin, aku memang jarang beli sandal baru. “Lebih baik beli beras,” kata Mak Tua.

Malam Takbiran itu aku habiskan di Masjid, walau sebelumnya aku menyempat diri untuk memanen rambutan milik Pak Rajak beberapa jam sebelumnya. Oh ya, Pak Rajak itu pensiunan Jenderal yang punya tanah yang luas di kampungku. Walau jaraknya lebih dari satu kilo dari Masjid, rambutan itu jadi sasaran kami. Maksudnya kami adalah aku dan beberapa sahabatku yang nakalnya sudah takketulungan lagi. Salak, Rambutan, Duren semua pernah kami sikat habis. Oh ya, bahkan aku sering kali memetik buah jeruknya Pak Rajak untuk aku jual di sekolahan… wakakkaka…. Keren ya…. Atau ironis?

Malam itu, kutabuh bedug dengan suka cita walau hatiku menangis, aku belum punya baju baru dan sandal baru. Besok lebaran. “Besok Mak belikan sandal di pasar, sama klanting ya Le….” (Klanting itu jajanan pasar kesukaanku). Begitulah Mak Tua mengatakannya beberapa hari yang lalu. Aku sempat ngamuk-ngamuk, mecah piring dan melempar gelas gara-gara sandal dan baju baru itu takkunjung datang.

Malam itu kutabuh bedug dengan keras, amarah dan iri kepada teman-teman kampungku yang sudah punya sandal baru. Mereka sudah pada pamer sandal dan baju baru. Beberapa hari yang lalu, kutagih lagi janji Mak Tua. Mak Tua tak memberi jawaban dia tau kalau aku adalah sosok pendendam. Diam namun punya kemauan yang keras. Jika yang dijanjikan Mak Tua tak kunjung datang, bisa-bisa perabotan rumah habis aku buang.

Malam itu aku tak pulang, dan aku memang tak ingin pulang. Rumahku jauh dari Masjid, 15 menit jalan kaki via jalan setapak, licin, tanpa lampu dan begitu sepi. Tak ada rumah-rumah di sepanjang jalan. Konon, di dekat pohon kelapa itu angker. Apalagi rimbunnya pohon bambu, sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Jika malam mulai menjelang, phon-pohon cengkeh yang tingginya di atas 6 meter itu menjulang melambai laiknya gendruwo yang sedang berbaris. Bahkan jika aku pulang kemalaman aku akan berlari sekencang mungkin karena takut. Sering kali aku terpeleset jatuh, pantatku sakitnya bukan kepalang, tapi aku tak menangis.

Malam itu kutabuh bedug dengan keras, setiap pukulan demi pukulan selalu aku nikmati sebagai sebuah dendam kesumat melumatkan dendam di hati. “Aku harus bisa punya kebun buah seperti milik Pak Rajak, aku harus punya mobil seperti mobilnya Pak Son, aku harus punya sepeda motor seperti punya Mas Agung!” begitulah umpatku dalam hati.

Malam itu kutabuh terus bedug itu. tanganku mulai kaku, lecet dan mulai terasa perih. Tapi aku takperduli. Aku muak dengan semua bentuk kemiskinan ini. Aku protes pada Tuhan yang namanya dikumandangkan sejak sore tadi. “Jika Engkau ada, kenapa tak mengirimkan sandal dan baju baru buatku?”

“Le, pulang yuk… Mak sudah belikan sandal dan baju buatmu. Ayo pulang,”
Aku menoleh, wajah lelah Mak Tua membuatku berhenti memukul bedug. Mak Tua menyeka keringat di jidatku. Tangannya dengan lembut meraih pemukul bedug dan meletakkannya begitu saja di lantai. Aku masih merajuk walau aku dengan pelan mengikuti langkah Mak Tua menuju jalan pulang. Obor dinyalakan setelah kami cukup jauh dari Masjid Baitul Mukmin milik Haji Nandar itu. Hening, Mak Tua tak bicara, akupun memilih diam sebelum melihat sandal dan baju baru itu.

Gema Takbir masih kudengar dengan jelas walau semakin lama semakin lirih suaranya. Jalanan menurun itu kami telusuri dengan mata terpicing yang bergelut dengan pekatnya malam. Cukup lama, bahkan lebih dari 15 menit kami baru sampai rumah tua, reyot, tiang-tiangnya dari bamboo apus, dindingnya juga dari bambu. Bahkan penerangan kami pulang adalah obor dari bambu juga. Mak Tua mematikan obornya setelah membuka pintu rumah yang digembok dan diikat dengan rantai itu. Bunyi rantai besi memecah kesunyian malam.

Rumah itu kecil, hanya ruang tamu dengan meja kayu, sebuah kursi tamu dari kayu yang panjang dan sebuah dipan cukup besar di sudut yang lainnya. Lampu minyak dari kaleng Tiodan itu dinyalakan oleh nenek dengan korek Kempu kuno yang entah sudah berapa tahun umurnya. Lampu menyala redup, kulihat bungkusan plastik kresek warna hitam di atas meja. Mak Tua menepati janjinya, sebuah baju dengan celana jeans panjang, sandal jepit baru. Sesuai dengan janjinya. Aku suka. Kau tersenyum lalu mencobanya.

Aku memeluk bungkusan itu, bukan memeluk nenek. Bahkan tidurpun aku memeluknya sembari membayangkan besok aku akan keliling kampung, ke rumah Mbak Joyo, Mbah Sati, Mak Nah, Pak Sarmin dan tentu saja rumah Pak Yit. Merekalah yang selalu member uang jika ada anak-anak datang berkunjung. Tak peduli berapa jauh rumah-rumah itu, aku akan mendatanginya dengan segera. Ya, begitulah rencanaku esok hari. Mencari uang sebanyak-banyaknya untuk bisa beli buku baru. Aku harus jadi pinter, aku harus jadi pinter.

“Tidur Le, kamu harus sekolah yang rajin, biar besok jadi orang pinter. Orang pinter itu temannya juga orang pinter.” Pesan Mak Tua sembari memelukku.

***

Kini aku terdiam di sudut ruangan, tepatnya dapur. Di rumah megah calon istriku. Rumah dengan keramik di sana-sini, bukan gubuk bambu seperti milik Mak Tua yang kini telah menjadi satu dengan tanah. Gema Takbir berkumandang lantang, bunyi petasan bertalu-talu. Aku terdiam, menangis… aku ingat Mak Tua yang sudah meninggal 7 tahun yang lalu. Ingin sekali aku mengajaknya keliling kampung dengan mobilku itu. Ingin rasanya aku membelikan kalung emas untuknya.


“Mak, umurku sudah 28 tahun, walau kuliahku belum bisa beres tapi aku sudah kenal banyak orang Pinter seperti cita-citamu. Aku pernah ketemu Mamik Prakoso, yang dulu sering kita lihat di tivinya Mbak Santik, aku pernah ketemu Gogon yang dulu juga sering kita lihat di televisi hitam putih itu. Oh ya Mak, aku juga sering BB-man sama Enno Lerian, yang dulu setiap hari minggu kita lihat di televisinya Mbak Santik juga. Aku juga pernah syuting bareng Jenderal S. Parman yang itu lo Mak, yang di Film G30 S/PKI. Yang kita lihat di televisinya Mbak Santik juga. Mak… aku sekarang sudah gemuk, pipiku tembem, bahkan calon mantumu itu sering memanggilku Ndut… Mak…Mak…. Aku punya laptop, punya handphone 2 buah. Handphone canggih Mak, bisa buat chating. Tadi aku sempat Chating sama Monty Tiwa, Agung Sentausa, Fajar Nugross… Ah Mak Pasti ndak kenal, mereka sutradara Mak. Mak… aku juga pernah sms-an sama Fira Basuki, penulis buku Mak, yang dulu bukunya pernah aku tunjukkan ke Mak. Mak…. Aku kangen…. Di sini aku mulai bahagia… semoga Mak Juga bahagia di Surga sana…. Oh ya Mak, aku pernah ke rumahnya Pak Manthous, yang lagunya Mak senengin itu, Yati Pesek juga pernah ketemu loch Mak, malah dulu sempat makan di rumahnya Bu Yati Pesek itu. Mak… maafkan kenalakanku ya Mak, maafkan aku cucumu ini…. Aku selalu berdoa untukmu Mak… tanpamu mungkin aku tak akan jadi sekarang ini… hanya terimakasih dan lantunan doa yang selalu aku kirimkan untukmu… ”

--Kebumen 11 September 2010--


Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 02 September 2010

Bukti Cinta :: Unduh Gratis Kumpulan Cerpen


Sebuah kumpulan cerpen yang begitu jujur, dikemas dengan gaya tersendiri. Unik laiknya seseorang yang sedang curhat. Jika kita tidak jeli, bisa jadi kita terjebak ke dalam alam kenyataan bahwasanya itulah kenyataan. Fiksi yang unik dan ekspresif ini terkadang begitu kaku, lugu namun acapkali muncul sastra yang menggebu. Jika anda belum yakin dengan pasangan anda, sebaiknya anda segera membaca kumpulan cerpen ini, bagaimana penulis membuktikan cintanya? Benarkan ketika seseorang mencintai pasangannya dia tidak akan mendua?

KLIK LINK BERIKUT INI UNTUK BACA DAN DOWNLOAD GRATIS...


http://evolitera.co.id/themes/main/product.php?product_id=352&language=en


Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Rabu, 01 September 2010

Sebuah Cerpen: Ketika kamu ulang tahun, dan aku tak mampu memberimu apa-apa.

Sebuah Cerpen:
Ketika kamu ulang tahun, dan aku tak mampu memberimu apa-apa.

Aku masih terdiam pada sudut kamar yang sama, kamar di mana aku biasa menyendiri merenungi nasib yang perlahan mulai berubah jika memang itu dikatakan berubah atau statis, jika memang itu dikatakan statis. But is Yeah…. Apapun yang terjadi live must go on kata mbak bule-bule itu… cas cis cus….
Live mus go on…. Tak semudah membalik telapal tangan, waktu terus berlalu… berllau dan terus saja berlalu… begitu juga dengan usia yang selalu bertambah dan umur tentunya berkurang… Oh ya… ngomong-ngomon soal umur, hari ini Kekkasihku ultah… apa yang hendak aku berikan ke dia? Cinta? Kayaknya sudah basi deh ngasih cinta… semua isi hati telah aku kasih ke dia sejak beberapa tahun yang lalu… pagi tadi aku bertanya… “Bagaimana perasanmu?” aku yakin jawabanmu “Aku tidak bahagia!” ya ya… aku tau… aku tau kau masih menginginkan Onix yang waktu itu kita lihat di Mall. Atau kau ingin kado BB terbaru yang kau tunjukkan padaku fotonya tadi pagi… yang harganya selangit itu ya?
Aku ingin protes pada Tuhan, kenapa uang yang aku minta belum juga di kasih… tapi aku ga berani protes, takut Tuhan Marah… hatiku hanya bisa merintih sedih, belum mampu membelikanmu Onix… Sayang, sayang. Ketika mimpimu yang begitu indah tak bisa terwujud Ya Sudahlah…. Eheehehhehmmmmm Appaun yang terjadi kukan slalu ada untukmu…. Janganlah kamu bersedih…. Ah lagu itu masih mengalun semakin menyayat….
Aku tersiksa dengan semua ini… Saat kau berharap… keramahan cinta…. Yeach… Dengar ku Bernyanyi…. Du didam di dudam…. Semua ini belum berakhir…. Janganlah kau bersedih…. Aku memang tak mampu membelikanmu kado seperti yang kau harap… ya sudahlah… Yang aku tau kamu begitu special di hatiku dengan jutekmu yang membuatku langsung shock! Special adalah merajukmu yang membuat batinku teriris-iris kayak irisan kubis kecil-kecil yang di padu dengan salad lezat Ciken Mozarela khas Solaria kelangenanmu itu… Spesial adalah ketulusanmu mencitaiku apa adanya… Sungguh ingin rasanya aku mengajakmu jalan-jalan ke Singapura, menikmati secangkir coklat panas di depan Esplenade, gedung tetater yang bentuknya kayak nanas itu. Sungguh di hari bahagiamu aku ingin membelikan sepsang cincin berlian yang kau tunjukkan fotonya waktu itu, untuk kau kenakan dank au tunjukkan ke pada temen-temanmu bahwa itu dariku. Sungguh…. Tapi sabar ya, belum bisa sekarang…
Sayangku… sayangku… Tuhan masih mengujiku dengan semua ini. Begitu resahnya hatiku, kamu juga tau… Tuhan memberikan anugrah indah itu berupa ketulusanmu… tak tau lagi dengan apa aku membuktikan cintaku padamu… tak tau lagi dengan apa aku akan membalas kasih sayangmu… tak tau lagi dengan apa aku mewujudkan mimpimu…
Aku jadi teringat dialog antara Bu Narko dan Pak Narko dalam film DEBT. “Kapan mas mau beli lemari es-nya? Kan enak kalo ada lemari es, semua makanan, minuman bisa kita simpan di situ, jadi bisa tahan lebih lama, kayak punyaknya Ibu Danar itu lho mas…” Celetuk Bu Narko dengan wajah sebelnya karena sudah berkali-kali dia meminta dibelikan lemari es namun tak juga dibelikan oleh suaminya.
“Iya, iya Bu, nanti saya belikan lemari es-nya, nanti kalau saya dapat uang. Sekarang saja saya masih nganggur kok!?” sahut Pak Narko singkat sambil terus menyapu lantai rumahnya.
“Terus kapan? Bulan depan? Dua bulan lagi? Atau tahun depan!?” Bu Narko berdiri, menghentakkan kakinya untuk membuang rasa mangkel di hatinya. Kemudian dengan langkah cepat dia menuju ke dalam kamar.
Pak Narko masih terus menyapu lantai, dia tidak tau kalau istrinya sudah merajuk dan masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi pada Sang Suami,” mbok ya sabar sedikit, kalau ada uangnya pasti aku belikan, pasti bu, pasti, passssssstttttt… Bu?” Pak Narko tak melanjutkan ucapannya, dia baru sadar kalau istrinya sudah tidak ada.
Dialog itu begitu menohok! Tadi pagi aku hanya bisa tersenyum kecut… semalam aku memilih untuk memejam mata dengan segera dari pada mikir kado apa yang tepat buatmu… Semalam ketika di toko baju, kulihat sebuah baju dengan tulisan IM NOTHING WHITAOUT YOU… ya… begitulah aku yang tidak akan menjadi apa-apa tanpamu… tanpa ketulusanmu dan tanpa rasa cintamu… terimakasih untuk cintamu… Selamat ulang tahun sayang, semoga Tuhan semakin sayang ma kamu… jadilah yang terbaik… jadilah seperti apa yang engkau inginkan… aku tak ingin menarikmu pada satu sisi yang engkau tak sukai… Selamat ulang tahun, semoga apa yang engkau cita-citakan bisa terwujud dan maafkan aku hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun lewat tulisan ini.. di depanmu, lidahku rasanya kelu dan aku tak mampu…

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 29 Agustus 2010

Undangan terbuka "Ngobrol Bareng Jaringan Penulis Indonesia"

Sipat: Undangan terbuka
"Ngobrol Bareng Jaringan Penulis Indonesia"

Mengerti aksara dan kepenulisan membuat manusia, sadar atau tidak, mampu menyatu dengan realitas. Mempermudah manusia menukar informasi, mencawang pengetahuan dan menjalin komunikasi. Mengingat hal ini, Jaringan Penulis Indonesia, bermaksud memperkuat gerakan kepenulisan itu, agar keberaksaraan dan kepenulisan senantiasa dapat didorong agar tetap berlansung, tidak boleh berhenti.

Begitu banyak penulis yang merasa dirinya sendiri, laksana biduk tanpa nahkoda atau bahkan laiknya nahkoda tanpa kapal. Merasa sendiri, takbisa menemukan tempat untuk berbagi, ngerumpi, rasan-rasan soal karya terbaru, atau bahkan ke mana harus mengadu? Bagimana jika tiba-tiba ide itu mati begitu saja? Ke mana harus mengirim naskah? Penerbit manakah yang bagus dan menghargai penulisnya layaknya emas batangan yang harus dijaga dengan sepenuh hati?

Karena itu, kami bermaksud mengundang penulis, calon penulis serta siapun anda yang mencintai dunia tulis menulis yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya untuk bersilahturahmi, ngobrol bareng, sharing gagasan kepenulisan pada:

Hari/Tgl: Jum'at, 03-September-2010
Tempat: Jendelo Cafee, Toga Mas Affandi. Jl. Affandi, no.5 Yogyakarta.
Pukul: 20.00 wib - Selesai.
Tema Obrolan: Mencintai Keberaksraan: Mengokohkan Kreatifitas dan produktifitas Kepenulisan
Dress Code: Putih
Fasilatator: Endik Koeswoyo

Demikian undangan ini. Berharap dengan amat mendalam, agar kawan penulis di Yogyakarta dan sekitarnya dapat bergabung dalam acara ini.

Wassalam

Pengurus
Jaringan Penulis Indonesia

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Sabtu, 14 Agustus 2010

KEMBANG TIGA WARNA


KEMBANG TIGA WARNA
Malam Ketika Aku Ulang Tahun…


Aku masih terdiam, dalam sudut kamar kesayangan ini. Bentuk kamar ini unik, tidak kotak seperti kamar oada umumnya, ada salah satu sisi yang mempunyai sudut 45 derajat, 75 derajat dan 15 derajat, unik. Tapi tidak susah di bayangkan. Sedari sore aku memilih memejam mata karena beberapa hari ini gigi kesayangangku rasanya kurang bersahabat. Untung masih ada puyer 16 yang mampu meredakan nyeri dan mengantarku ke alam mimpi, sebelum aku terbangun kembali entah karena apa.
Aku jadi teringat masa lalu, yang sudah lama sekali. Dulu, ketika aku hendak ulang tahun, Mak Tua Almarhum selalu menyuruhku berpuasa, beliau menyebutnya “Poso Hari Lahir,” hukumnya wajib. Diawali sejak Subuh sehari sebelum aku ulang tahun, hingga Magrib setelah aku ulang tahun. Lama memang, sekitar 30 jam aku tidak boleh makan, minum dan tidak boleh membunuh seekor binatangpun. Tapi itu dulu, sebelum malaria akut menyerangku. Setelah malaria itu, aku tak lagi kuat berpuasa selama itu. Lambung bengkak, dan jika tak terisi makanan sakitnya bukan kepalang. Aku juga taktau apakah penderita malaria lain mengalaminya sepertiku? Tapi ini bukan soal malaria atau tentang ulang tahun, aku ingin menceritakan tentang pengalaman masakecilku yang selalu ingin meniup lilin, seperti anak-anak tetanggaku yang lain. Tapi sekalipun aku takpernah mendapatkan lilin, dengan sebuah alas an dari Mak Tua “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan,” kata Mak Tua setiap kali aku meminta lilin. Dan bukan lilin yang aku dapatkan keesokan harinya. Melainkan kembang telon dua bungkus yang dibungkus daun pisang, lalu ketika Magrib tiba, mak tua mengajakku ke sudut halaman rumah kecilnya. Dia membuka kembang itu, mengucapkan doa-doa dalam bahasa jawa dan arab yang campur aduk. Dan hingga kini aku tak tau pasti apa doa yang beliau ucapkan. Aku tak pernah mencatatnya sampai Mak Tua dipanggil Tuhan.
Dulu, sempat sekali ketika aku masih duduk di bangku SMU, kakaku merayakan ulang tahunnya di rumah, itupun ketika Mak Tua tidak di rumah. Alih-alih tiupan lilin, kami malah berpesta dengan minum Bir bersama-sama. Rasanya pahit, aku tidak suka. Tentu saja, keesokan harinya Mak Tua Marah-marah pada kakakku itu. Kakaku hanya tersenyum kecut, sambil ngedumel.”Pacen awake dewe iki wong kere! Ra kuat tuku kue tar! Dadi nek ulang tahun yo mung di tukokne kembang 500! Cukup!” omel kakaku yang memang orangnya agak kaku itu. Aku menghela nafas jika ingat kalimat kakaku itu. Ya, memang kita lahir di kuarga miskin, tak mampu beli kue tar, jadi kalau ada yang ulang tahun Mak Tua yang sebenarnya adalah nenekku itu hanya membelikan kami bunga tiga warna seharga 500 rupiah.
Tapi ini bukan soal kecewa pada keadaan, aku selalu bersyukur dengan apa yang kami terima, kehidupan masa lalu adalah satu hal yang memacuku untuk selalu menjadi yang terbaik, lebih baik, lebih baik dan selalu menjadi lebih baik. Bukan soal kemiskinan yang ingin aku ceritakan, tapi hikmah di balik pesta ulang tahun. Benar, aku setuju dengan kalimat Mak Tua, “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan.” Jadi salah jika kita merayakan berkurangnya umur, memang sebaiknya kita merenung, apa saja yang telah kita lakukan selama ini? Dan apa yang terjadi sejak aku kecil itu menjadi kebiasaan, bahkan ketika Mak Tua telah tiada, ketika aku benar-benar harus hidup sendiri tanpa ada petuah dari beliau. Ketika hari ulang tahunku tiba, aku menyambutnya dengan renungan. Mak tua benar dengan petuahnya, “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan.”
Seperti halnya malam ini, bunga tiga warna, aroma dupa dan lantunan tembang Sinom Parijotho menjadi sebuah aroma mistis, menjadi sebuah suasana romantis menyambut malam, menyambut pagi ketika aku dilahirkan 28 tahun yang lalu. Buat sahabat, teman, saudara, rekan-rekan dan siapa saja yang mengenal saya. Mohon maaf jika hari ini tidak ada pesta meriah, tidak ada kue tar, tidak ada makan-makan. Bukan saya pelit, tapi karena itu sudah menjadi kenangan masa lalu. Bahwasanya “Ulang tahun itu bertambahnya usia berkurangnya umur, jangan engkau rayakan, tapi direnungkan.” So, makan-makannya besok ya… jika ada moment yang lebih tepat. Bukan moment ulang tahun. Terimakasih untuk semua yang telah sudi dan berkenan memberi ucapan itu. Terimaksih untuk doa-doa yang anda kirimkan, semoga Allah membalas doa-doa anda dengan kabaikan, kebahagian dan kesuksesan kita bersama. Amien.
Ketika aku menyelesaikan tulisan ini, kakaku yang tertua mengirim sebuah sms dari kota Sampit. Begini sms itu “Met Ultah adikku…Tiada apa yang dapat aku berikan untukmu selain Doa tulusku yang kukirim bersama merdunya Tadarus di Surau tua. Moga Dia yang di atas sana melimpahkan rahmadNya padamu. Walau raga tak selalu bersama, tapi hati kita kan selalu bersama dalam suka maupun duka. Dan sabarlah di dalam keluarga yang langka akan kebersamaan.Moga sukses…”


NB: Kini, aku tidak sendiri, ada sahabat-sahabat yang selalu mendukung, berdiskusi, bercerita, bekerja dan mereka adalah keluargaku. Tapi kebiasaan itu masih sama, tidak ada pesta. Karena bulan ini bulan puasa, maka agenda yang tepat adalah sahur bersama. Yang mau sahur bersama, silahkan datang ke Lookout Picture Indonesia Jl. Swadaya 604 MJ/I Gedong Kiwo, ketika waktu menunjukkan pukul 02.30 WIB. Akan ada makanan yang di sediakan di sana oleh panitia.




Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 12 Agustus 2010

Ketika laut surut " Sebuah Cerpen"

Ketika laut surut " Sebuah Cerpen"
#Bukticinta

Gelombang laut mulai menyurut dengan dengan pelan namun pasti. Batu-batu karang mulai kelihatan pelan-pelan semakin jelas. Secangkir kopi masih menjadi sahabat setia pagi ini. Kangen. Mataku jauhmemandang, kea rah sebuah pulau kecil dengan pohon-pohon yang lebat, sendiri, dan aku tak pernah mengetahui apa nama pohon itu. Sepertinya dia sendiri, sepertinya juga tidak. Ada pohon lain di pulau itu. Langit biru membentul landscape yang indah, dengan sesekali pesawat melintas dengan deru yang cukup kencang. Sesekali gelombang itu membesar dengan tiba-tiba dengan melintasnya sebuah kapan nelayan. Mataku berganti arah, menuju ke seorang pria dengan jala yang disandangnya dibahu. Sedari tadi belum juga dia melemparkan jalanya ke laut. Matanya masih nanar, entah melihat apa. Mungkin dia masih malas untuk melemparkan jalanya, atau dia masih takut dingin air laut pagi ini. Dia masih berdiri di tepi pantai ini.
Masih terus aku amati pria nelayan yang tak juga bergerak itu. Pelan namun pasti aku mendekat, mencoba mencari celah untuk menyepanya. Rasa penasaran di hati membuatku mau-tak mau ikut mendekatkan diri ke air yang memang dingin itu. Angin membelaiku semakin penuh nafsu, dingin membuat bulu-bulu tanganku meregang tegang.
“Dapat banyak Pak?” tanyaku tiba-tiba dan itu membuatnya terkejut.
“Belum Mas, basah saja belum,” sahutnya sembari mengangkat sepatu Boot-nya.
Gaya bicaranya kalem namun tegas dan penuh wibawa. Senyumnya tulus. Aku memperhatikannya sekali lagi. Lalu membalas senyum itu. Aku bingung harus bicara apa lagi, tak ada tema yang menarik untuk dibahas. Tidak mungkin aku membahas soal Bank Century, tidak mungkin juga aku dengan tiba-tiba membahas soal bencana Lapindo apalagi soal video prono Luna dan Ariel.
“Pernah dapet keong racun nggak pak?” tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutku.
“Hahahhaha… kamu bisa saja mas! Kalau kerang racun ada!” sahutnya sembari tertawa lepas.
Garin. Obrola kami yang belum sempet memperkenalkan diri masing-masing itu semakin garing. Tak ada tema yang bisa aku luncurkan. Bahkan keong racun yang lagi menjadi pembicaraan hangat hanya disahutnya dengan tawa.
“Sudah lama jadi nelayan?” tanyaku garing.
“Belum lama, setahun yang lalu.” Sahutnya.
“Sebelumnya?” tanyaku lagi.
“Saya 18 tahun menjadi anggota Polri, dari Prajurit Dua, Sersan Dua, Sersan Satu hingga jabatan saya Ajun Inspektur Polisi Satu.” sahutnya sembari menghela nafas.
“Wow,” sahutku kagum namun tak percaya begitu saja.
“Dan 18 tahun itu saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini.” Lanjutnya sembari mengembalikan pandangannya ke laut.
“Biaya untuk masuknya dengan gaji yang saya dapat selama 18 tahun tidak balik modal! Walau saya tau itu kesalahan saya sendiri. Betapa tidak bodohnya saya? Harus membayar mahal untuk mendapatkan seragam coklat itu! Lalu melakukan aktifitas yang sama, berangkat pagi, duduk-duduk, pulang sore. Telat sedikit langsung dihardik atasan, walau kadang-kadang atasan saya jauh lebih sering telat ketimbang saya. Bodohkan saya? Sudah bayar mahal-mahal eh masih saja diperintah sana-sini. Enak jadi nelayan, liat laut, berangkat sesuka hati, pulang sesuka hati. Siapa yang mau marah? Dan nelayan tidak pernah mendapat tatapan sinis dan penuh kecurigaan dari tetangga sebelah rumah. Beda dengan menjadi polisi, beli tv baru saja tetangga sudah menyindir lebih seratus kali, itu yang membuat saya mengundurkan diri.” Ceritanya panjang lebar.
Betul juga penjelasannya. Aku juga takbegitu suka polisi, berbicarapun malas, apalagi motorku yang hilang dulu juga takpernah kembali walau sudah aku laporkan ke kepolisian terdekat.
“Jangan mau jadi PNS! Kerjanya pagi, pulang sore, melakukan hal yang sama setiap hari! Mending bikin usaha sendiri!” lanjutnya sambil tetap tekbergerak.
Aku diam, taklagi mampu berkata-kata apalagi. Laut masih surut, gelombang masih susul-menyusul beriringan membelai pasir yang membisu. Batu-batu karang masih menyimpan setuja misteri. Sepasang kepiting masih berkejaran di atas pasir dekat batu karang. Aku tak bisa menolak apa yang dikatakannya, dan aku juga tak bisa menerima begitu saja dengan kalimatnya. Aku diam, meliriknya sekali lagi.
“Aku memilih ini karena aku ingin lebih sering bersama orang-rang yang aku cintai!” Pelan lelaki yang mengaku mantan anggota Polri itu melangkahkan kakinya menuju air lain, masuk semakin dalam. Aku masih terdiam pada posisi yang sama ketika dia mulai melemparkan jala. Lemparan demi lemparan membuahkan hasil walau satu atau dua ekor saja ikan yang dia dapatkan. Terus, terus dia menuju ke arah selatan, menelusuri tepi pantai yang masih surut. Aku terdiam, membisu pada titik yang sama.
Tak ada lagi sahabat untuk berbagi cerita, dia sudah menjauh. Tak ada lagi teman untuk bicara, dia telah menjauh. Namun kalimat terakirnya begitu menusuk ke dalam hatiku. “Aku memilih ini karena aku ingin lebih sering bersama orang-rang yang aku cintai!”
“Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku. Saat ku harus bersabar dan trus bersabar. Menantikan kehadiran dirimu. Entah sampai kapan aku harus menunggu. Sesuatu yang sangat sulit tuk ku jalani. Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu. Kadang ku berfikir cari penggantimu. Saat kau jauh disana.” Aku tersenyum mendengar lirik lagu Aishiteru itu. Kubiarkan saja ponsel kecil di saku celana pendekku itu terus berbunyi berkali-kali. Tak ingin aku menerima panggilan masuk yang entah dari siapa. Malas aku kalau harus berbicara tak jelas pagi-pagi gini. Pagi hari enaknya itu menikmati secangkir kopi.
Besok aku akan kembali ke Jogja lagi setelah 2 bulan berada di pulau Kalimantan bagian timur ini. Banyak sudah yang aku dapatkan, pelajaran hidup dan tentu saja rasa kangen yang begitu menggebu. Kangen itu mahal harganya, kangen itu tak bisa ternilai. Bahkan samudra luas ini tak mampu membayar rasa kangenku. Kuamati sekali lagi pulau kecil dengan pohon lebat di atasnya. Kuamati sekali lagi batu karang dan gelombang yang membelai pasir dengan tulus. Apakah cinta itu sepeti gelombang laut yang akan selalu pasang dan surut pada waktunya? Apakah cinta itu seperti seperti batu karang? Yang akan kelihatan ketika surut dan akan terendam air laur ketika pasang? Apakah cinta itu setulus pasir pantai, yang akan dibelai sang air ketika pasang dan ditinggalkan begitu saja ketika surut? Entahlah…
Jika aku bisa memilih aku akan memilih menjadi air, yang bisa pasang dan surut. Tidak menjadi karang yang diam mebisu, tidak juga menjadi pasir yang didatangi dan ditinggalkan begitu saja oleh gelombang. Tapi semua punya pilihan, seperti apa yang dilakukan nelayan itu, tak salah jika dia memilih menjadi nelayan ketimbang menjadi ‘PNS tak jelas’. “Kau benar dengan pendapatmu pak!” aku berbalik arah, menuju tempatku semula. Kursi plastik di belakang rumah dan secangkir kopi yang mulai dingin. Kembali kunikmati pemandangan indah ketika laut surut.
“Oh ya, jangan salahkan pasanganmu ketika cintanya tiba-tiba begitu menggebu, atau ketika cintanya tiba-tiba menyurut. Ini hidup kapan, waktu berpengaruh terhadap apa yangada di hati. Selamat pagi!”



Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 08 Agustus 2010

Hari ke 51 di tanah perantauan

Hari ke 51 di tanah perantauan
#Bukti Cinta

Lama, bahkan bisa dikatakan lama sekali dan layak pula disebut lama banget rasanya. Walau kata banget sebenarnya tidak aku suka. 15 Juni aku meninggalkan Jogja dengan segala keindahannya, sahabat, teman, kekasih hingga mobil kesayangan itu harus ditinggalkan begitu saja. Tanpa persiapan yang matang, tanpa perhitungan yang jeli, langsung berangkat begitu saja meninggalkan semua yang tercinta. Apa yang terjadi? Terjadilah. Semua kejadian, baik itu indah, pahit, sedih dan emosi muncul silih berganti. Dari kehujanan malam hari, sampe kebanjiran menjelang subuh hingga laptop, bb dan handphone mati total. But…. Oyeah… itulah hidup kawan, itu dilakukan demi cinta. Tidak hanya aku sendiri yang mengalami hal itu, banyak sahabatku di sini yang sering kusebut sebagai ‘pejuang cinta’ mengalami hal yang sama. Memendam rindu untuk keluaraga tercinta, untuk anak tercinta, untuk ibu tercinta, keluarga tercinta bahkan tetangga tercinta. Oh ya satu lagi, ada yang meninggalkan Tiga istri tercintanya, aw aw aw….
Samarinda sebulan penuh, dari tanggal 15 Juni hingga tanggal 15 Juli, tanpa kenangan indah, kecuali 5 menit di depan ATM BNI (Lihat catatan sebelumnya. Red). Bontang dari tanggal 16 Juni hingga 27 Juni, pahit baik dari segi lahir dan batin. Balikpapan, kota ketiga ini sudah mulai menyenangkan ada pantai di belakang rumah kontrakan walau kalau pagi kadang-kadang takut karena ombaknya sampai di bawah rumah ketika pasang. Ya indah, lampu-lampu kapal begitu indah dengan pantulannya ke air laut yang bergelombang kecil. Bintang, rembulan dan matahari sore tak perlu lagi aku melukiskan keindahannya.
Tiket pulang ke Jogja belum jadi terpegang hari ini karena uang yang masuk baru malam hari dan aku tidak sempat ke Bank. Tentang cinta? Ah masih sama, hanya rasa rindu yang menjadi raja dalam hati. Oh maaf, saya kok malah curhat? OK OK, kita mulai kisah ini dengan tema sebuah kaos putih. Ada apa dengan kaos putih itu? Begini kisahnya….
Mal Matahari Balikpapan, aku berjalan dengan tenang, dengan senyum dan tatapan mata ramah. Tapi aku tidak sendiri, ada lelaki tegap yang layaknya Bodyguard berjalan di sampingku. Bukan-bukan, dia bukan Bodyguardku kok, aku bukan artis atau pejabat yang butuh pengawalan. Hem coklat, celana kain hitam itu aku padu dengan spatu kulit coklat baru yang aku dapat dari seorang ‘penggemar’ novelku. Mungkin karena tubuh sahabatku itu atletis yang membuat dirinya layak disebut bodyguard.
“Asem, aku koyok bodyguardmu wae!” kata temanku tiba-tiba sambil mempercepat langkahnya dan kini benar-benar sejajar denganku.
Aku diam, hanya meliriknya sambil tersenyum. Tujuan kami hanyalah melepas penat setelah seharian di lokasi pameran. Cuci mata, atau barangkali memang ingin jalan-jalan biar tau kota Balikpapan lebih jauh. Mal menjadi tujuan utama karena yang kami tau hanya mall itu yang terdekat. Escalator demi escalator kami naiki, hingga sampai ke Matahari yang entah itu lantai berapa.
Aneh memang malam ini, tiba-tiba saja aku ingin membeli celana jeans, rompi pesanan kekasih dan entah juga tiba-tiba aku menjuhut dua buah kaos putih bertuliskan LO dan VE jadi kalau digabung jadi LOVE. “Pret!” gumanku dalam hati ketika menyandingkannya dan membentuk kalimat LOVE. Bukan kalimat itu yang membuatku tertarik membelinya, tapi karena harganya hanya 19.000,- perpotong. Bukan soal LOVE atau apalah artinya. “Loh ke mana ‘Bodyguard-ku’? Eh …Kemana temanku tadi? Hilang ke mana dia?” aku tengok kanan dan kiri. Sementara wanita cantik di depanku masih sibuk melayani seorang pembeli lagi.
“Maaf kak, bayarnya pakai kartu atau cash?” suara itu mengagetkanku.
“Kartu debit bisa?” gayaku berlagak walau saldo atmku tinggal 150.000.
“Maaf kak, sudah ofline karena 5 menit lagi kita sudah tutup,” sahutnya meminta maaf sambil melontarkan sisa-sisa senyum manisnya yang sudah mulai getir. Capek seharian tersenyum dengan ratusan orang, dan itu senyum tak tulus.
“Oh… cash juga taka pa-apa, tapi kalau cashnya ga cukup, ga papakan kalau tidak dibeli semua?” aku menunjuk 5 item yang sudah mulai dihitungnya.
“Iya Kak,” sahutnya ramah, sekali lagi ramah yang dibuat-buat.
Aku masih celingukan mencari sahabatku yang tak kelihatan batang hidupnya. Di mana? Ke mana? Ngapain sih?
Oh itu dia datang, dengan langkah tegapnya menghampiriku. Tubuhnya atletis, otot-ototnya kelihatan macho dengan kaos ketat yang pakainya. Kalau dari jauh dia mirip-mirip Fauzi Baadilah. Sumpah.
“Koas?” tanyaku padanya.
Sahabatku tak menjawab, dia memilih-milih kaos yang harganya 19.000,- tadi. Sebuah kaos dipilihnya lalu diberikan padaku dan aku teruskan ke kasir yang sama. “Satu lagi mbak,” lanjutku.
Gadis itu menatapku tajam, seperti mengingat-ingat seseorang, atau dia lebih tertarik dengan sahabatku yang pendiam itu? Entahlah. Kini aku tinggal berhadapan dengannya sendiri, sahabatku sudah mundur beberapa langkah, menepi pada jarah yang pas untuk tetap mengamatiku.
“Itu pengawalnya ya mas?” Tanya mbak kasir itu tiba-tiba.
Aku menoleh kanan kiri, tidak ada orang lain. Masak dia memangilku mas? Bukankah matahari identi memanggil kosumen mudanya dengan panggilan ‘Kakak’. Sekali lagi aku memastikan.
“Ehmm saya?” aku menunjuk diriku sendiri.
“Iya mas, kayaknya wajah mas ga asing deh,” lanjutnya mulai berani.
Aku sekali lagi menengok kanan-kiri. Sepi, mungkin sudah mulai diusir oleh security mall. Karena jam tangan TEC bajakan yang aku kenakan sudah menunjukkan puluk 22.02 WITA. Mall seharusnya sudah tutup. Dan wajar jika mbak kasir berani memanggilku ‘mas’ kami sekarang sudah diluar jam kerja.
“Teman, bukan bodyguard,” sahutku pelan sembari menatapnya sesaat. Cantik.
Senyumnya kini lebih tulus, wajah lelahnya mulai merona merah ketika mata kami beradu pandang.
“Itu dari tadi mengamati mas terus,” katanya sekali lagi.
“Oh… ya ga papa to?” sahutku sekenanya.
“460.500 mas, adakan cashnya?” dia memastikan sekali lagi sebelum menekan tombol enter sebagai tanda setuju.
“Insyaallah,” aku membuka tas notebook kecilku, lalu menjuhut uang sekenanya, lalu menyodorkan padanya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima. Limaratus ya mas uangnya,” katanya penuh pasti.
Tombol enter ditekannya dengan pasti. Bunyi mesin printer khas mall itu menjadi penanda usainya transaksi kami.
“Maaf mas, kembaliannya tidak ada!” dia tampak bingung karena uang yang tersisa semuanya pecahan 50 dan 100 ribuan.
“Letsgo Broo, kita pulang!” kata shabatku yang mungkin sudah tak sabar menunggu.
Aku tak menjawab, langsung saja kusahut tas palstik warna hijau tua itu. Dan aku ikuti langkah sahabtku yang mirip bodyguard itu.
“Kak? Kak?”
Panggilan itu tidak aku hiraukan, kami terus melangkah menuju pintu keluar, menuruni escalator hingga sampai dilantai bawah. Melangkah menuju ke jalan raya, menunggu angkutan.
“Melawai Pak?” Tanya sahabatku pada sopir angkot yang berhenti karena kami melambaikan tangan. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan.
Tak lebih dari 10 menit kami sudah tiba di tujuan.
“Ngopi dulu deh!” gumanku pelan setelah turun dari angkot.
“Boleh,” sahutnya antusias.
Sudut agak remang, kursi plastik dan alunan musik agak keras melantun dari gerobak kecil di trotoar jalan itu. Rame juga, cukup untuk hiburan tambahan. Kopi dan capucino kami pesan. Belum datang pesanan itu, seorang gadis berseragam putih tulang tiba-tiba berdiri tepat disampingku. Menyodorkan sesuatu padaku. Belum sempat hilang rasa kagetku, sahabtku yang tadi sudah mendahuli untuk menerima sodoran gadis itu.
“Apa ini?” Tanya sahabatku.
“Uang kembalian yang tadi, maaf mengganggu, saya permisi.” Dia langsung menjauh, menuju sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari tempat duduk kami.
“Apa tuh?” tanyaku setela mobil Avansa hitam itu menghilang pada tikungan berikutnya.
“Nota sama uang kembalian, memang tadi kurang kembaliannya?” Tanya sahabatku memastikan.
“Iya,” sahutku sembari menghitung uang kembalian itu. “Satu, dua… 39.500.-“ kemudian kuletakkan uang itu di meja plastik.
“Hei, ada nomer HP!” sahabatku menjuhut nota belanja itu.
Di balik nota itu ada sebait nama dan sebaris angka-angka, nomer handphone. Kuamati sekali lagi, benar, nama dan nomer handphone. Pasti ini milik gadis itu. Perang batin berkecamuk, jika aku ambil ponsel dan aku menelphonenya, pasti lumayan bisa buat teman ngobrol. Dan tidak menutup kemungkinan aku bisa makan malam dengannya, atau malah…. Ah tidak. Aku punya kakekasih hati. Aku tadi membelikannya kaos putih dan rompi sebagai oleh-oleh. Tidak-tidak, aku tidak boleh mendua. Walau aku tau, mencintai bukan berarti tak menduakan. Mencintai itu mudah, tapi yang sulit itu menjadi setia. Mencintai itu gampang, tapi yang sulit adalah tidak tertarik kepada wanita lain. Aku remas nota itu, lalu melemparnya ke laut.
Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Jumat, 23 Juli 2010

Secangkir Kopi di Antara Gerimis

Secangkir Kopi di Antara Gerimis
#Bukti Cinta#

Bontang, kota ke dua aku mengadu nasib! Di kota ini berdiri tiga perusahaan besar di bidang yang berbeda-beda, Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak),dan Indominco Mandiri (batubara) serta memiliki kawasan industri petrokimia yang bernama Kaltim Industrial Estate. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan di bidang industri, jasa serta perdagangan.Bontang, sebuah kota dengan dua kota besar di dalamnya. Pertama, kota PKT dan kota Badak. Yang menarik adalah Badak, atau lebih tepatnya PT. BadakNGL. Kenapa nama itu begitu unik? Apakah banyak badak di sana? Tidak, bahkan kepanjangan juga tak ada, hanya Badak. Konon kota Badak dihuni oleh orang-orang dengan dompet tebal, bahkan ada yang bilang, jika mereka kekluar dari lingkungan Badak, mereka akan bilang “Jalan-jalan ke kampung dulu!” Awawawaw…segitunyakah mereka menganggap lingkungan luar Badak adalah kampung? Kumuh? Tapi itu masih katanya, kata masyarakat Bontang yang tinggal di luar Badak?
Ah jadi penasaran aku dengan kota ini. Kutelisik lagi lebih dalam, kugali informasi lagi lebih mendalam, semakin dalam hingga aku menemukan sebuah kisah yang cukup unik tentang sejarah kota ini. Begini kisahnya; Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng, dan Haji Amir Baida alias Bedang. Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administratif, sejak 1920, Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai. Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekat dalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman, dan Kiyai Saleh. Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timur dengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.
Dari mana asal kata kota Bontang? Dalam perbendaharaan asli Kalimantan, tidak dikenal kata "bontang". Menurut cerita turun-temurun, "bontang" merupakan akronim Bahasa Belanda “bond” yang berarti kumpulan atau Bahasa Inggris yang artinya ikatan persaudaraan, serta “tang” dari kata pendatang. Sebutan ini diberikan, karena cikal bakal kampung Bontang tidak lepas dari peran pendatang.
Ah sudahlah, bukan soal asal-usul atau sejarah kota ini yang ingin aku tuliskan. Aku hanya ingin curhat sedikit tentang secangkir kopi yang ada di sampingku dan kini sudah mulai beku. Sudah 5 hari ini, makanpun rasanya tak enak. Sudah 5 hari ini kulihat tatapan hampa pedagang buku dan pedagang UKM yang berkumpul penuh harapan datangnya rejeki di lapangan Parikesit yang dulu dibangung untuk MTQ. Sepi, mungkin itu yang kalimat yang tepat, apalagi jika hujan datang, setanpun seakan ikut menghilang. Bahkan kuntilanak juga tak menampakkan batang hidungnya. Betapa tidak, mau makan apa jika omset itu Nol Rupiah? “Tidak!” teriakku tapi dalam hati.
“Piye iki mas?” (Gimana ini mas?) pertanyaan itu begitu menohok, menuduk hingga ketulang sumsum paing dalam. Dingin. Mencabik-cabik hati, mengiris jantung dan merobek semua rasa yang ada. Aku yang mendapat sodoran pertanyaan itu hanya bisa tersenyum dengan senyum paling pahit yang bisa terlontar. “Siapa yang mengantar kami kesini?” tidak ada yang bisa dipersalahkan, tidak juga kau!? Kau siapa? Entahlah….
Hari ke lima, tagihan-tagihan mulai mengalir, tagihan tenda yang bocor sana-sini, tagihan venue yang kata Wakil Walikota Gratis, tagihan genset, tagihan perijinan, tagihan listrik pln yang mota-mati itu, tagihan air yang sebentar saja habis sampai-sampai kalau pagi bingung cari masjid terdekat untuk buang hajad, tagihan flooring dan tagihan yang lain-lain yang totalnya 40jutaan. Aku yang ditagih, sekali lagi hanya tersenyum sepahit madu, karena aku belum mampu menagih peserta pameran. Jangan menagih, menyapa merekapun aku tak mampu. Aku sudah laiknya orang gila yang berjalan hilir mudik diantara gerimis yang tak henti-hentinya mengancam dagangan.
Ponsel kecil yang aku beli 200ribu itu bordering, ya, kekasih hatiku menghubungiku. Dialah kekuatan terbesar untuk tetap bertahan dan tidak pulang. Ahh tidak juga, masih banyak hal yang membuatku bertahan di sini, di kota unik yang menyiman sejuta pertanyaan. Ke mana perginya orang PKT? Ke mana hilangnya orang Badak yang konon pesangonnya mencapai 2 Milyar itu? Aku memilih diam seribu kata, diam membisu tanpa sebait kalimat. Kurebahkan tubuhku di lantai keramik yang hanya beralaskan kain-kain bekas spanduk dan tumpukan kardus Aqua yang panjangnya hanya sampai pinggang. Di luar hujan masih turun, diluar kilat masih menyambar sesekali, diluar masih ada gelisah. Gelisah takut di marahi Pak Bos, gelisah mikirin anak istri dirumah, dan gelisah-gelisah lainnya masih bergelayutan di hati masing-masing, tidak juga kau!
Secangkir kopi yang mulai dingin itu aku teguk sekali, lalu aku letakkan lagi. Kulupakan semua masalah ini, aku ingin tidur walau tanpa bantal, tanpa kasur, apalagi guling empuk. Sebenarnya aku ingin beli bantal cinta (bantal panjang untuk berdua itu) tapi apa daya? Uang di domper tinggal selembar Satu Riyal dan selembar Dua Ribu Rupiah, dan itupun asli uang dari tanah Arab. Ala Mak Jang! Sudah dua kali aku makan dengan cara cashbon pada warung Mak’e disebelah bascam ini.
“Ya Rabb… kutulis ini bukan sebagai sebuah keluhan, bukan sebuah protes, tapi aku tulis ini sebagai sebuah harapan. Harapan dan doa untuk Kau datangkan para pecinta buku dan produk-produk UKM yang saat ini sedang berdoa agar dagangan mereka lalu Ya Rabb…. Terimakasih atas semua yang Engkau berikan ke pada kami…”
Sekali lagi kuteguk secangkir kopi dingin itu di antara gerismis.

Bontang 23 Juli 2010 pada saat Dini dalam hujan yang tak kunjung reda….

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Secangkir Kopi di Antara Gerimis

Secangkir Kopi di Antara Gerimis
#Bukti Cinta#

Bontang, kota ke dua aku mengadu nasib! Di kota ini berdiri tiga perusahaan besar di bidang yang berbeda-beda, Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak),dan Indominco Mandiri (batubara) serta memiliki kawasan industri petrokimia yang bernama Kaltim Industrial Estate. Kota Bontang sendiri merupakan kota yang berorientasikan di bidang industri, jasa serta perdagangan.Bontang, sebuah kota dengan dua kota besar di dalamnya. Pertama, kota PKT dan kota Badak. Yang menarik adalah Badak, atau lebih tepatnya PT. BadakNGL. Kenapa nama itu begitu unik? Apakah banyak badak di sana? Tidak, bahkan kepanjangan juga tak ada, hanya Badak. Konon kota Badak dihuni oleh orang-orang dengan dompet tebal, bahkan ada yang bilang, jika mereka kekluar dari lingkungan Badak, mereka akan bilang “Jalan-jalan ke kampung dulu!” Awawawaw…segitunyakah mereka menganggap lingkungan luar Badak adalah kampung? Kumuh? Tapi itu masih katanya, kata masyarakat Bontang yang tinggal di luar Badak?
Ah jadi penasaran aku dengan kota ini. Kutelisik lagi lebih dalam, kugali informasi lagi lebih mendalam, semakin dalam hingga aku menemukan sebuah kisah yang cukup unik tentang sejarah kota ini. Begini kisahnya; Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang. Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng, dan Haji Amir Baida alias Bedang. Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administratif, sejak 1920, Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai. Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekat dalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman, dan Kiyai Saleh. Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timur dengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.
Dari mana asal kata kota Bontang? Dalam perbendaharaan asli Kalimantan, tidak dikenal kata "bontang". Menurut cerita turun-temurun, "bontang" merupakan akronim Bahasa Belanda “bond” yang berarti kumpulan atau Bahasa Inggris yang artinya ikatan persaudaraan, serta “tang” dari kata pendatang. Sebutan ini diberikan, karena cikal bakal kampung Bontang tidak lepas dari peran pendatang.
Ah sudahlah, bukan soal asal-usul atau sejarah kota ini yang ingin aku tuliskan. Aku hanya ingin curhat sedikit tentang secangkir kopi yang ada di sampingku dan kini sudah mulai beku. Sudah 5 hari ini, makanpun rasanya tak enak. Sudah 5 hari ini kulihat tatapan hampa pedagang buku dan pedagang UKM yang berkumpul penuh harapan datangnya rejeki di lapangan Parikesit yang dulu dibangung untuk MTQ. Sepi, mungkin itu yang kalimat yang tepat, apalagi jika hujan datang, setanpun seakan ikut menghilang. Bahkan kuntilanak juga tak menampakkan batang hidungnya. Betapa tidak, mau makan apa jika omset itu Nol Rupiah? “Tidak!” teriakku tapi dalam hati.
“Piye iki mas?” (Gimana ini mas?) pertanyaan itu begitu menohok, menuduk hingga ketulang sumsum paing dalam. Dingin. Mencabik-cabik hati, mengiris jantung dan merobek semua rasa yang ada. Aku yang mendapat sodoran pertanyaan itu hanya bisa tersenyum dengan senyum paling pahit yang bisa terlontar. “Siapa yang mengantar kami kesini?” tidak ada yang bisa dipersalahkan, tidak juga kau!? Kau siapa? Entahlah….
Hari ke lima, tagihan-tagihan mulai mengalir, tagihan tenda yang bocor sana-sini, tagihan venue yang kata Wakil Walikota Gratis, tagihan genset, tagihan perijinan, tagihan listrik pln yang mota-mati itu, tagihan air yang sebentar saja habis sampai-sampai kalau pagi bingung cari masjid terdekat untuk buang hajad, tagihan flooring dan tagihan yang lain-lain yang totalnya 40jutaan. Aku yang ditagih, sekali lagi hanya tersenyum sepahit madu, karena aku belum mampu menagih peserta pameran. Jangan menagih, menyapa merekapun aku tak mampu. Aku sudah laiknya orang gila yang berjalan hilir mudik diantara gerimis yang tak henti-hentinya mengancam dagangan.
Ponsel kecil yang aku beli 200ribu itu bordering, ya, kekasih hatiku menghubungiku. Dialah kekuatan terbesar untuk tetap bertahan dan tidak pulang. Ahh tidak juga, masih banyak hal yang membuatku bertahan di sini, di kota unik yang menyiman sejuta pertanyaan. Ke mana perginya orang PKT? Ke mana hilangnya orang Badak yang konon pesangonnya mencapai 2 Milyar itu? Aku memilih diam seribu kata, diam membisu tanpa sebait kalimat. Kurebahkan tubuhku di lantai keramik yang hanya beralaskan kain-kain bekas spanduk dan tumpukan kardus Aqua yang panjangnya hanya sampai pinggang. Di luar hujan masih turun, diluar kilat masih menyambar sesekali, diluar masih ada gelisah. Gelisah takut di marahi Pak Bos, gelisah mikirin anak istri dirumah, dan gelisah-gelisah lainnya masih bergelayutan di hati masing-masing, tidak juga kau!
Secangkir kopi yang mulai dingin itu aku teguk sekali, lalu aku letakkan lagi. Kulupakan semua masalah ini, aku ingin tidur walau tanpa bantal, tanpa kasur, apalagi guling empuk. Sebenarnya aku ingin beli bantal cinta (bantal panjang untuk berdua itu) tapi apa daya? Uang di domper tinggal selembar Satu Riyal dan selembar Dua Ribu Rupiah, dan itupun asli uang dari tanah Arab. Ala Mak Jang! Sudah dua kali aku makan dengan cara cashbon pada warung Mak’e disebelah bascam ini.
“Ya Rabb… kutulis ini bukan sebagai sebuah keluhan, bukan sebuah protes, tapi aku tulis ini sebagai sebuah harapan. Harapan dan doa untuk Kau datangkan para pecinta buku dan produk-produk UKM yang saat ini sedang berdoa agar dagangan mereka lalu Ya Rabb…. Terimakasih atas semua yang Engkau berikan ke pada kami…”
Sekali lagi kuteguk secangkir kopi dingin itu di antara gerismis.

Bontang 23 Juli 2010 pada saat Dini dalam hujan yang tak kunjung reda….

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Kamis, 01 Juli 2010

AGENDA ROAD SHOW PAMERAN BUKU KALIMANTAN TIMUR

No : 52/ IZZ-Mkt/ VII/ 2010
Hal : Permohonan Partisipasi

Kepada:
Di tempat

Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur kehadirat Allah atas karunia iman, Islam dan kesehatan, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk tetap berkarya dan berkreasi.
Sebagai upaya untuk menumbuhkan budaya baca sekaligus syiar Islam IZZA Organizer insyaAllah akan menyelenggarakan pameran buku Islam di Provinsi Kalimantan Timur dengan jadwal road show sbb:
1. Pesta Buku Islam Samarinda
Tanggal : 2-14 Juli 2010 (12 hari)
Tempat : Perpustakaan Propinsi Kaltim
Jl. Juanda No.4 Samarinda
2. Pesta Buku Islam Bontang
Tanggal : 17 – 25 Juli 2010 (9 hari)
Tempat : Lapangan Parikesit Bontang (eks. Area MTQ)
3. 5th Istiqomah Islamic Book Fair
Tanggal : 29 Juli – 8 Agustus 2010 (11 hari)
Tempat : Masjid Istiqomah Kompleks Pertamina Balikpapan
Oleh karenanya bersama ini kami menyampaikan permohonan partisipasi kepada para penerbit dan distributor buku Islam untuk bergabung dan ikut memriahkan acara pameran buku Islam di atas. Adapun layout dan harga stand terlampir.
Demikian penawaran ini kami sampaikan atas perhatian dan kerjasamanya yang baik kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Samarinda, 16 Juni 2010
Hormat kami,

Endik Koeswoyo
IZZA Organizer
0817323345




Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Jadwal Acara Pesta Buku Samarinda

JADWAL ACARA PESTA BUKU ISLAM SAMARINDA
2-14 Juli 2010. Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur. Jl. Ir.H Juanda 04 Samarinda.

Jum'at, 2 Juli 2010 : Pameran hari pertama
Sabtu, 3 Juli 2010 :
(10.00-12.00) : Pembukaan.
- Penampilan anak-anak KUBACA KALTIM
- Tausiah bersama MUI Kalimantan Timur
-Sambutan Izza Organizer
-Sambutan Kepala Badan Perpustakaan Provisi Kalimantan Timur, H Syafruddin Pernyata
-Sambutan dan pembukaan Pesta Buku Islam Samarinda oleh Wagub Kaltim H Farid Wadjdy
- Pentas Nasyid Nuansa Voice
(16.00-18.00) : Bincang bincang sore “Seribu Kata Seribu Cerita, dibalik kesibukan seorang bankir masih saja beliau bisa menulis buku” Bersama Androecia Darwis, Pimpinan Bank Indonesia Samarinda.
Minggu, 4 Juli 2010 :
(14.30-16.30) : Lomba Adu Cepat Rubik untuk umum
(16.30- 18.00) : Talkshow “Melejitkan Kecerdasan Anak dan Mengungkap Rahasia Otak Tengah” Bersama Dokter Spesialis Saraf Otak dan AJI (Anak Jenius Indonesia)
(19.30-21.00) : Bedah Buku “Ternyata ada 100 Asma' Al-Husna' “ Bersama Jaffar Siddiq, penulis buku dari Kota Samarinda
Senin, 5 Juli 2010 :
(19.30-21.00) : Bedah Buku “Kisah Raja-Raja Legendaris Nusantara” Bersama Penulis : Endik Koeswoyo dan Penerbit Diva Press
Selasa, 6 Juli 2010 :
(16.00-18.00) : Talkshow Kewirausahaan "Mengenal Enterprenuer Sejak Dini" bersama Komunitas TDA Samarinda.
(19.30-21.00) : Talkshow “Pengenalan Metode Membaca Pada Anak Balita” bersama KUBACA KALTIM
Rabu, 7 Juli 2010 :
(16.00-18.00) : Bedah Buku “Mengapa Anakku Harus Mengidap LUPUS?” Bersama Inni Indarpuri (Penulis buku kisah nyata, tentang penyakit langka 'Lupus')
(19.30-21.00) : Bedah Novel “Doa Untuk Dinda” Bersama Penulis : Endik Koeswoyo dan Penerbit Diva Press
Kamis, 8 Juli 2010 :
(08.00-12.00) : Pelatihan dan Simulasi Metode “KUBACA” bersama Diah Litasari S.Pd. Penemu Metode membaca cepat balita minimal usia 3 tahun. Info Pendaftaran 0541-9033338 (Farah)
(19.00-21.00) : Tablig Akbar “The Magic Of Cange, Cara Mudah Jadi Kaya” bersama Ustad. H.Raden Ahmad Affandy, S.Psi (Psikolog, Konselor Keluarga Bahagia, Jakarta)
Jum'at, 9 Juli 2010 :
(19.30-21.00) : Talkshow “Memanfaatkan Zakat Agar Lebih Produktif” Bersama Slamet Tjahyadi, Rumah Zakat Samarinda
Sabtu, 10 Juli 2010
(16.00-18.00) : Pentas Nasyid Nuansa Voice
(19.00-21.00) : Talkshow Pendidikan “Sukses Tidak Harus Kuliah?” Bersama Rifyanto Bakri, Direktur El Rahma Samarinda
Minggu, 11 Juli 2010
(09.00-10.00) : Penampilan anak-anak berkebutuhan khusus “Senam Bola” Pusat Terapi Pelita Bunda Samarinda.
(09.00-12.00) : Lomba Mewarnai TK didukung oleh El Rahma Samarinda (Snack, Piagam, Piala 1,2,3, H1,H2)
(13.00-15.00) : Lomba Menggambar SD didukung oleh El Rahma Samarinda (Snack, Piagam, Voucer Komputer For Kids, Piala 1,2,3, H1,H2,)
(19.30-21.00) : Talkshow “Karakter Building” bersama lembaga Manajemen Terapan TRUSTCO
Senin, 12 Juli 2010
(16.00-18.00) : Pelatihan menulis Bersama Jaringan Penulis Indonesia, untuk Guru, Pengajar dan Umum Bersertifikat.
Selasa, 13 Juli 2010
(19.30-21.00) : Talkshow Keluarga “Kenapa kami menikah dini?” bersama Slamet Tjahyadi dan Fajarwati
Rabu, 14 Juli 2010
(19.30-21.00): Pengumuman Lomba, Penyerahan Hadiah, Pentas Nasyid Nuansa Voice, Penyerahan sumbangan buku dari penerbit peserta pameran kepada Badan Perpustakaan Kalimantan Timur dan Penutupan.


Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Rabu, 30 Juni 2010

5 Menit di ATM BNI Samarinda


5 menit di ATM BNI Samarinda

#BuktiCinta

Aku menghambur secepat kilat dari Mobil Strada merah yang aku parkir tiba-tiba di tepi Jl. Juanda Samarinda. Hujan rintik-rintik membuatku begitu takut akan hujan yang tentunya akan membasahi rambutku yang baru saja aku Bonding di salon kesayanganku. Oh ya, ngomong-ngomong soal Strada Merah, mobil itu milik Kakakku yang lagi entah kemana? Kusamber aja, karena aku emmang suka mobil itu, keren, gagah kayak kuda poni. Misthubisi L200 itu mobil kakakku dari kantor, maklum kakaku salah satu petinggi tambang batu bara di kota ini. Ganteng kalo kakakku yang memakainya kala pagi. Keren, sampe-sampe kalo dia bukan kakakku aku akan mengucapkan I Lope You Bang! Tapi dia kakaku dan aku sering menciumnya karena dia emang keren, pendiam dan suka senyum, walau banyak yang bilang dia biasa aja, ga cakep-cakep banget, tapi senyumnnya itu lochhhh! Ya ampyun tuhan…bikin keblinger, bikin ngiler saking kangennya kalo seminggu aja ga liat senyum itu. Sayang seribu sayang dia kakaku, dan satu lagi, dia cukup unik dan menarik, kadang diem, kadang bawelnya minta keramas!
Kembali ke hujan gerimis dan ATM BNI.

Aku harus beli baju baru, di distro yang namanya kalo ga salah Orin, ga jauh dari ATM BNI depan Swalayan Pelangi ini. Aku harus ambil uang karena distro di sini tak ada yang bisa gesek, jadi harus ambil uang banyak-banyak biar bisa beli baju yang kemarin sudah aku incer-incer pake keker. Aku berlari secepat kilat, walau ga pake nyambar-nyambar. Ampyun, ujan-ujan gini masih ada pada ngantri ambil uang. “Dasar!” Gumanku sembari melanjutkan langkahku mencari sudut paling aman. Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima! Haduh ada lima orang didepanku, mana sempit lagi tempatnya. Aduh nasib.
Aku menunduk, melihat kearah kakiku yang mengenakan sandal merek ternama yang dibelikan Papi waktu di Singapura sebulan yang lalu, kotor deh kena lumpur dan air hujan. Tapi ga apa, nanti sampe rumah biar disikat sama Bi Inem.

‘Deg’ Jantungku terhenti sesaat, bahkan beberapa saat. Di hadapanku, ya, di hadapanku tiba-tiba muncul seorang lelaki muda, rompi parasitnya, ada penutup kepala pelindung hujan. Di dadanya tersangkut sebuah tas besar yang seharusnya itu naruhnya di punggung. Ah… siapa lagi ini manusia? Cuek bebek, senyumpun tidak, menatapkupun tidak, dia malah menatap lurus kedepan, tepat kearah roda Stradaku yang aku ceritakan tadi. Dasar cowok bego! He, lihat sini, yang punya di sini. Bilang cinta padaku, aku kasih deh jiwa ragaku ke kamu plus nanti tak pinjemin mobil kakakku itu. “Gila!” gerutuku sendiri dengan suara hatiku yang tiba-tiba. Bagaimana aku tak gila, itu pemuda manis, aku tak mau mengatakan ganteng, karena lebih gantengan Nikolas Saputra, Ariel juga lebih ganteng tapi sebelum aku mendownload Videonya yang dengan Luna Maya dan Cut Tari. Seteleh mendownload video itu, aku meresa Ariel jadi jelek. Cemburu kali ya, kenapa bukan aku saja yang jadi aktor wanitanya. Eh belum selesai tuh Luna Maya dan Cut Tari, seorang teman di Manado kirim link download Ariel VS BCL…. Hufff….. Jadi jelek deh Ariel, gantengan mas yang ini. Cool Coy! Sumpah, pria segede ini dengan pedenya nyedot sekotak susu coklat, lucunya lagi merknya Ultra Milk, enak Susu Bendera Mas! Dodol! Guman hatiku untuk kesekian kalinya. Sayang ini cowok tak mau melihat kearahku, padahal kalau dia melirik saja ketubuhku, pasti deh ga mau lepas. Rok mini ini aku pakai untuk dilihat pahanya Mas! Bukan untuk makan nyamuk pahaku ini. Dasar cowok bego! Umpatku sekali lagi. Ah sudahlah, antrian tinggal seorang lagi. Tapi aku masih menyempatkan diri untuk melihatnya lebih lama, lumayan, cool dan pasti orang ini menyenangkan. Satu yang aku belum mengerti, kok dia suka susu kotak itu ya? Aneh, itu kanminuman anak-anak. Adikku yang sd aja malu minum itu, eh dia dengan cueknya menikmati.

“Mbak,” sapa pria itu tiba-tiba.

Gubrak! Malu!Malu! Aku Maluuuuuu! “eh iya mas!” sahutku gagab sambil buru-buru masuk ke ruang ATM BNI itu. Gila, menunggu, satu hal yang paling aku benci menjadi begitu cepat kali ini. Menunggu diantara gerimis mala mini menjadi begitu hangat dengan keunikan pria itu. Menunggu membuatku menjadi malu. Aku belum mengeluarkan dompetku, aku mengintipnya dari dalam bilik ATM ini, sekilas dia tersenyum tadi. Oh My Gooooood! Seyum kakakku lewat!

“Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan!” ucapku sembari memasukkan kartu ATM.
Kuambil uang sejuta, bercermin sejenak, merapikan rambut, lalu aku buru-buru keluar. Pria itu belum pindah posisi, tatapan matanya masih menuju arah yang sama. Roda Mobilku.

“Silahkan Mas,” ucapku sembari melempar senyum paling manis.

Dia mengangguk, lalu tersenyum padaku. Manis nian. Aku mengamatinya hingga dia menghilang dibalik pintu dan terlihat bayangannya saja samar-samar. Aku tak ingin beranjak, aku ingin menunggunya, lalu mengajaknya kenalan. Itu kalau aku tak punya rasa malu.

***
Hujan tiba-tiba saja turun, kutup kepalaku dengan kerudung rompi parasit yang baru aku beli kemarin. Aku terdiam sejenak di depan Swalayan pelangi. Kuambil sekotk susu Ultra Milk yang barusan aku beli, lalu aku menikmatinya. Alhamdulilah, nikmat sekali susu ini. Tubuhku begitu letih, seharin ini berjalan ngalor-ngidul untuk mengurusi event di kota ini. Sudah hamper dua minggu aku disini, sendiri tanpa teman, kehujanan dan tentunya malariaku kambuh. Menggigil kedinginan, hingga tulang belulang dan isi perut. Tapi takapalah, aku harus bekerja keras, aku ingin segera menikah.

Aku melangkah agak cepat menuju ke ATM BNI yang ada di depan Swalayan. Ngantri, satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Ya enam orang yang ngantri, satu orang yang menjadi tumpuan pandanganku, tak berkedip aku dibuatnya. Bening, cantik, wangi aroma tubuhnya tercium khas dari jarak 2 meter. Anak siapa gerangan itu? Sibuk dia mengamati kaki yang juga aku amati, astagfirrullah…. Ku gigit sedotan susu ini untuk menahan semua rasa yang ada di hati. “Dasar pria” aku mengalihkan pandangan, mengamati roda mobil Strada L200 yang aku impikan sejak dulu. Bagus, keren dan menyenangkan tentunya. Tapi tak apalah jika kini aku belum memilikinya, toh aku sudah punya Corona TT 81 yang sangat keren itu. Sesekali aku masih menyempatkan diri melirik kearah gadis itu sembari menikmati wangi tubuhnya.

Aku tersenyum dalam hati, ingat kata-kata sahabatku di Jogja. “Gadis Samarinda cantik-cantik loch, apalagi yang asli Dayak, Luna Maya? Lewat Bro! Tapi awas jangan main-main! Tak bisa pulang kau ke Jogja!” sekali lagi aku tsernyum mendengar kalimat itu dua minggu yang lalu.
Antrian telah berlalu, aku mendongak, melihat kearahnya. Ya ampun, memang cantik. Tapi bengong saja! “Mbak!” aku menyapanya, bermaksud member tau kalau antrian sudah sampai padanya. Tanpa senyum dia buru-buru masuk ke bilik ATM BNI. Aku manrik nafas panjang-panjang. Kalau saja aku tidak punya pacar! Sudah langsung kususul dia ke bilik ATM. Aku bisa pinjam HP, Bolpoin, atau aku bisa pinjam Obeng sebagai alasan. Aku menghembuskan nafas panjang sekali lagi, lalu kembali mengamati roda mobil Strada itu. Membuang semua pikiran mesum di hati.
“Silahkan Mas,” ucapnya sembari melempar senyum paling manis.

Aku mengangguk, lalu tersenyum padanya. Manis nian. Aku mengamatinya sejenak lalu berpaling masuk ke bilik ATM BNI. Mengambil uang, lalu keluar. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap dia masih ada disekitarku. Ah sudah menghilang dia. Kembali kusedot pelan sisa susu yang ada di kotak kecil ini, aku melangkah menembus gerimis. Masih sempat sekali kulemparkan pandangan pada modil Strada merah yang masih terparkir di tempat yang sama. Kuambil BB kesangan hadiah dari kekasihku tercinta. “Klik!” ku ambil sedikit bagian depan mobil itu. Lalu aku pulang ke Wisma di mana aku menginap malam ini.



Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Selasa, 22 Juni 2010

Lirik dan chord, Zifhilia Aishiteru

Lirik dan chord, Zifhilia Aishiteru

Aishiteru – (menunggumu)

[intro] A E F#m E A

A E
Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
F#m
saat ku harus bersabar dan trus bersabar
C#m
menantikan kehadiran dirimu
A
entah sampai kapan aku harus menunggu
E
sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani
F#m
hidup dalam kesendirian sepi tanpamu
E
kadang kuberpikir cari penggantimu
A
saat kau jauh disana
wooooowoo

A E
Gelisah sesaat saja tiada kabarmu kucuriga
F#m
entah penantianku takkan sia-sia
C#m
dan berikan satu jawaban pasti
A
entah sampai kapan aku harus bertahan
E
saat kau jauh di sana rasa cemburu
F#m
merasuk kedalam pikiranku melayang
E
tak tentu arah tentang dirimu
A
apakah sama yang kau rasakan

***
A E
walau raga kita terpisah jauh
F#m
namun hati kita selalu dekat
E
bila kau rindu pejamkan matamu
dan rasakan a a a aku
A E
kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh
F#m
terhapus ruang dan waktu
E
percayakan kesetiaan ini
A
akan tulus a a ai aishiteru

***

B G#m
Saatku sendiri pikiran melayang terbang
F#
perasaan resah gelisah
E
jalani kenyataan hidup tanpa gairah oooo

B G#m
lupakan segala obsesi dan ambisimu
F#
akhiri semuanya cukup sampai di sini
E
dan buktikan pengorbanan cintamu untukku
kumohon kau kembali

***

A E
Gelisah sesaat saja tiada kabarmu kucuriga
F#m
entah penantianku takkan sia-sia
C#m
dan berikan satu jawaban pasti
A
entah sampai kapan aku harus bertahan
E
saat kau jauh disana rasa cemburu
F#m
merasuk kedalam pikiranku melayang
E
tak tentu arah tentang dirimu
A
apakah sama yang kau rasakan




[chorus]
B F#
walau raga kita terpisah jauh
G#m
namun hati kita selalu dekat
F#
bila kau rindu pejamkan matamu
dan rasakan a a a aku
B F#
kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh
G#m
terhapus ruang dan waktu
F#
percayakan kesetiaan ini
B
akan tulus a a ai aishiteru
F#
wooou wo wooo
G#m F# B
wooou wo wooo




Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Jumat, 11 Juni 2010

Sekilas Tentang Temu Penulis 5 Juni 2010

Sekilas Tentang Temu Penulis 5 Juni 2010


Sederhana, acara itu digagas dengan begitu tergesa-gesa dan tanpa persiapan serta tanpa panitia khusus. Hanya lewat FB dan Twiter plus undangan via sms. Namun sayang, tak banyak penulis khususnya daerah Jakarta yang merespon undangan “Temu Penulis” padahal dari segi agenda dan acara, Temu Penulis adalah sebuah hal yang lebih dari –cukup menarik- bagi kita yang memang menekuni dunia penulisan. Tetapi itulah sebuah perjuangan. “Jangan pernah menyerah dan jadikan moment ini sebagai sebuah awal” kira-kira begitulah kalimat yang mampu saya ingat dari penulis paling senior yang hadir, Roso Daras.
Diskusi dan obrolan berlangsung cukup seru dan menarik walau tak begitu banyak penulis yang hadir, sekitar 20 orang dari berbagai profesi, penulis, editor, pembaca dan calon penulis. Sebagai sebuah langkah awal moment ini akan menjadi sebuah batu pondasi yang cukup kuat. Adapaun beberapa hal yang berhasil kami rangkum dalam diskusi tersebut adalah.
1. Penulis membutuhkan payung hukum yang jelas sehingga penulis bisa berkarya dengan lebih maksimal tanpa takut di-Dzolimi penerbit. Payung hokum itu lebih kepada sebuah lembaga yang mampu memberikan –kekuatan- untuk bisa membela hak-hak penulis secara umum
2. Penulis membutuhkan media untuk bisa bertemu dan berdiskusi sesama penulis untuk sekedar memebicarakan idea atau permasalahan yang ada.
3. Penulis harus mau mempromosikan karyanya sendiri jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.
4. Menulis bisa dijadikan mata pencaharian utama jika kita serius menekuninya, dan menulis itu menyenangkan.
5. Akan diadakan acara ’Munas Penulis’ yang akan di gagas lebih lanjut.
6. Jaringan Penulis Indonesia, akan dijadikan wadah pertama sebagai media untuk berdiskusi dan menggagas acara Munas Penulis.
7. Jaringan Penulis akan menungumpulkan 100 penulis untuk membuat sebuah buku bunga rampai tentang ide-ide dan pemikiran untuk Indonesia. (Info bisa dilihat di http://jaringanpenulisindonesia.blogspot.com/2010/06/kolaborasi-100-penulis-jaringan-penulis.html )
8. Jangan pernah takut untuk terus menulis
Demikian rangkuman kecil yang berhasil kami himpun, mohon koreksi buat temen-temen yang hadir jika ada kesalahan dan kurangan. Rangkuman ini bersifat sementara dan bisa diganggu gugat jika ada visi dan misi yang belum tersampaikan.

JPI. Jakarta 5 Juni 2010

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Rabu, 02 Juni 2010

8th Malang Islamic Book Fair 2010 30 Juli - 5 Agustus 2010

Layout dan Daftar Peserta Sementara






8th Malang Islamic Book Fair 2010
30 Juli - 5 Agustus 2010
Aula Skodam, Bundaran Tugu Malang



Sekilas Kota Malang

Jumlah penduduk Kota Malang 768.000 (2003), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun.

Sebagian besar adalah suku Jawa, serta sejumlah suku-suku minoritas seperti Madura, Arab, dan Tionghoa.

Agama mayoritas adalah Islam, diikuti dengan Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri semenjak zaman kolonial antara lain Masjid Jami (Masjid Agung), Gereja Hati Kudus Yesus, Gereja Kathedral Ijen (Santa Maria Bunda Karmel), Klenteng di Kota Lama serta Candi Badut di Kecamatan Sukun dan Pura di puncak Buring. Malang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan dengan banyaknya Pesantren, yang terkenal ialah Ponpes Al Hikam pimpinan KH. Hasyim Muhsyadi, dan juga adanya pusat pendidikan Kristen berupa Seminari Alkitab yang sudah terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara.

Bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Kalangan minoritas Suku Madura menuturkan Bahasa Madura.

Malang dikenal memiliki dialek khas yang disebut Boso Walikan, yaitu cara pengucapan kata secara terbalik, misalnya Malang menjadi Ngalam, bakso menjadi oskab, dan contoh lain seperti saya bangga arema menang-ayas bangga arema nganem. Gaya bahasa masyarakat Malang terkenal egaliter dan blak-blakan, yang menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi.



Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Selasa, 01 Juni 2010

Samarinda Book Fair 2-11 Juli 2010, Masjid Islamic Center 2010

Layout Dan Daftar Peserta Sementara (Update 1 Juni)



Info Pedaftaran Peserta:

Samarinda Book Fair 2-11 Juli 2010, Masjid Islamic Center 2010

SYAKAA Organizer

Suryodiningratan MJ II/ 755 B Yogyakarta

Telp. (0274) 7495054, 6805666, Fax. (0274) 387120

email: syakaa_organizer@yahoo.com, syakaaorganizer@gmail.com

www.syakaa.webs.com





Islamic Center Samarinda adalah masjid yang terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, yang merupakan masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal. Dengan latar depan berupa tepian sungai Mahakam, masjid ini memiliki menara dan kubah besar yang berdiri tegak.

Masjid ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi. Lokasi ini sebelumnya merupakan lahan bekas areal penggergajian kayu milik PT Inhutani I yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Bangunan masjid ini memiliki sebanyak 7 menara dimana menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Sementara itu, anak tangga dari lantai dasar menuju lantai utama masjid jumlahnya sebanyak 33 anak tangga. Jumlah ini sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.

Selain menara utama, bangunan ini juga memiliki 6 menara di bagian sisi masjid. Masing-masing 4 di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan 2 menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai 6 rukun iman[1].

Pembangunan Islamic Center diharapkan dapat pula membangkitkan semangat kebersamaan dalam upaya menghadapi era global, selain merupakan tuntutan masyarakat untuk Samarinda memiliki sebuah sarana tempat ibadah yang memadai.


Foto-foto lokasi bisa di lihat di:
http://www.masjidkita.org/2009/08/masjid-islamic-center-samarinda/

http://islamiccentersamarinda.blogspot.com/

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Ketika Hujan dan Panas Dipertmukan di Kota Bogor

Ketika Hujan dan Panas Dipertemukan di Kota Bogor

Tengah hari baru saja terlewatkan. Aku masih terdiam, mengamati hujan yang tiba-tiba dating tak di Undang. Nyelonong tanpa permisi. Aku terdiam, duduk disudut masjid, mengamti titik hujan dan gemericiknya yang begitu indah secara tiba-tiba. Langit tak mendung, tak juga pekat apalagi hitam. Langit indah kebiruan, tepat di tanggal 1 Juni. Aku jadi teringat, pidato Soekarno, bukan soal pancasila yang aku ingat, tapi soal perkawinan, begini petikan pidato itu:
-----Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbeaan antara Sovyet Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dan lain-lain tentang isinya: tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis. Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negaranya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, saudara-saudara, semua siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk Merdeka. (Tepuk tangan riuh)
Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji f500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi, yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.
Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu “meja makan”, lantas satu sitje, lantas satu tempat tidur.
Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: kawin.
Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat-tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dn Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, saudara-saudara! (tepuk tangan, dan tertawa).
Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet, buat 3 tahun lamanya! (tertawa)
Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: kita ini berani merdeka atau tidak? Inilah, saudara-saudara sekalian. Paduka tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian PT Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekan Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka! (tepuk tangan riuh)----
Di depan sidang BPUPKI, Sang Proklamator muda itu menyinggung tentang perkwaninan, mengibaratkannya dengan begitu indah. Aku suka gaya bicaranya. Aku suka tutur katanya, dan kadang kala aku tersenyum membaca teks-teks pidato Bung Karno yang begitu menggelitik, menusuk dan kadang kala menohok namun sering kali bikin tersenyum. Kenapa saya suka bagian perkawinan ketimbang pidoto tentang Pancasila? Entahlah, yang jelas hati ini sedang rindu. Merindukanmu.
Hujan masih sama, turun rintik-rintik. Hati ini begitu gelisah, menggebu untuk segera bertemu. Ah sudahlah… aku mencintaimu, kamu tau itu. Aku sayang padamu, kamu juga tau. Jaga cinta ini jauh di dalam hatimu karena aku juga menjaga cinta ini rapat di dalam hati, tak perlu aku ungkapkan karena engkau telah tau. Tak perlu aku ucapkan karena engkau telah mendengar hati kecilku mengataknnya padamu. Terkadang cinta tak jauh berbeda dengan hujan, bisa saja dia bersanding dengan panas. Terkadang cinta seperti rubik, bisa begitu mudah menemukan rumus-rumus pada setiap sisi, namun kadang begitu sulit jika kita tak mau belajar tentang rubik itu sendiri. Jangan takut kehilangan, karena cintaku tak jauh beda dengan rubik, walau kadang tak sama warnanya, engkau sudah bisa merubahnya dan engkau telah tau rumus rubik itu. Cintaku padamu tak beda dengan hujan, walau panas datang hujan masih juga tetap bisa turun dank au tau? Ketika hujan dan panas bersamaan? “Ohhhh begitu indahnya alam ini”
Kembali aku kutip pidato Bung Karno ---Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu “meja makan”, lantas satu sitje, lantas satu tempat tidur.--- sekali lagi bukan tentang rumusan Pancasila, tapi lebih kepada perkawinan yang diungkapkannya. Unik bukan? Tapi aku lebih berani dari Marhaen, aku akan menikahi tanpa harus menunggu punya gubuk dan tikar satu dan periuk. ---Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin.--- Tanpa gubug, tanpa tikar dan tak perlu periuk, cukuplah sudah modal aku untuk menikahimu dengan apa yang dianugrahkan tuhan kepada kita sebagai umat, tak perlu periuk karena kita bisa beli makan di luar… tak perlu gubuk karena bisa beli rumah yang indah seperti apa yang kita impikan. Tak perlu tikar, karena sekarang sudah ada Spring Bed 4 x 4 yang empuk mendut-mendut walau kadang berisik. Tapi aku suka kasur kapuk, ga berisik. (Hahhahahahah)





Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 30 Mei 2010

UNDANGAN TERBUKA UNTUK PENULIS INDONESIA

UNDANGAN TERBUKA UNTUK SEMUA PENULIS DI INDONESIA
Ngobrol Bareng Penulis

Anda penulis?
Kami undang untuk berdiskusi tentang masa depan kita sebagai penulis.
Hari/Tanggal: Sabtu / 5 Juni 2010
Tempat: MP Book Point Jakarta: Gedung MP Book Point
Jl. Puri Mutiara Raya No. 72 (Jeruk Purut-Cipete) Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430
Pukul: 16.00 - Selesai (Setelah Bedah Novel "Rindu" Sefryna Kharil)


Begitu banyak penulis yang mengeluhkan tentang naskah, kecurangan penerbit hingga tidak terbayarnya royalti. Lalu bagaimana kita sebagai penulis bisa mendapatkan hak-hak kita? Taukah kita bahwasanya begitu banyak penulis yang merasa tidak terpenuhi hak-haknya? Atau bagaimana kita bisa memutuskan untuk menulis apa? Tema apa?

Jika penerbit punya lembaga IKAPI yang melindungi mereka? Penulis punya siapa? Siapa yang akan melindungi penulis jika seorang penulis tersangkut masalah? Jika royalti tidak terbayar, kepada siapa penulis akan mengadu?

Bagaimana kita bisa mengetaui trend bacaan masa depan sehingga kita bisa menulis sesuatu yang benar-benar menjadi bacaan yang dibutuhkan?

Bagaimana kita bisa menjalin hubungan dengan peberbit secara baik dan menyenangkan? Bagaimana? Bagaimana? Begitu banyak pertanyaan yang belum bisa kita temukan jawabannya.

Untuk itu, kami mengundang anda untuk hadir dalam acara NGOBROL BARENG PENULIS, bincang-bincang santai dan diskusi. Sukur-sukur kita merumuskan terbentuknya sebuah lembaga perlindungan penulis? Aatau apapun itu namanya nati....

Info:
Galuh Paranti: 081329664272
Sefryna Kharil: 0817860796
Endik Koeswoyo : 0817 323 345
Senda Irawan : 08568873515

Yang Bisa Hadir dalam acara tersebut balas pesan ini dengan mencatumkan nama dan nomer telpon. Patungan 10.000 atau Seiklasnya per-Orang untuk beli Snack atau minuman.Terimakasih

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

Minggu, 16 Mei 2010

Bogor Islamic Book Fair

Rangkaian acara Bogor Islamic Book Fair
28 mei - 4 juni 2010
di gd. PPIB (masjid raya bogor)



Jum'at, 28 Mei 2010 :

- (09.00-11.00) : seremonial Pembukaan acara secara resmi oleh walikota bogor
Hiburan dari Tim Nasyid Na'am

- (13.30-15.30) : Bedah Novel "BUMI CINTA" Bersama Habbiburahman El Shirazy (kang abik)*

- (16.30-18.00) : Parade Tim Nasyid (pelita hati, kurma voice dan MUV)

- (19.30-21.00) : Kajian Kitab Minhajul Abidin bersama KH. Abdul Kholik



Sabtu, 29 Mei 2010 :

- (09.00-12.00) : Dialog Tokoh "BEDAH BOGOR" bersama BEM Se-BOGOR

- (13.00-15.00) : Bedah Novel "RINDU", penulis : Sefryana Khairil,

- (16.00-18.00) : Talkshow Iqro dan -Qur'an Braille

- (20.30-21.30) : Kajian Kurikulum Rabbani


Minggu, 30 Mei 2010 :

- (09.00-12.00) : Talkshow bersama Hizbut Tahrir Indonesia

- (13.00-15.00) : Seminar Pra nikah ("siapkan dirimu untuk nikah dini")

- (15.30-16.00) : Perform Tim Nasyid Na'am (Bogor nasheed Centre)

- (16.00-18.00) : 2 Jam lebih dekat bersama EDCOUSTIC dan EDFriend

- (19.30-21.00) : Parade Nasyid 1 (Fillah dan Sendapa Voice)


Senin, 31 Mei 2010 :

- (10.00-12.00) : Kajian Tafsir Al-Qur'an bnersama Ust. Rofi

- (16.00-18.00) : Talkshow "Antara DKM (Dakwah, Kulaih Menikah)" bersama LDK univ. Pakuan (bogor)

- (19.30-21.00) : Parade Nasyid 2 (Sekawan)


Selasa, 1 Juni 2010 :

- (09.00-12.00) :Seminar Guru dan Pelajar se-JABODETABEK bertajuk " Indonesia Bisa Tanpa Bunga" bersama Fossei (forum Studi Syariah Ekonomi indonesia) sesi 1

- (13.00-15.00) : Seminar Guru dan Pelajar se-JABODETABEK bertajuk " Indonesia Bisa Tanpa Bunga" bersama Fossei (forum Studi Syariah Ekonomi indonesia) sesi 2

- (16.00-18.00) : Talkshow bertajuk "Pendidikan Masa Kini : Antara Realitas dan Identitas" ,
pembicara : Ust. Agus Handaka

- (19.30-21.00) : Parade Nasyid 3 (Aura NAsheed dan Solid Voice 4)


Rabu, 2 Juni 2010 :

- (09.00-12.00) : Talkshow “ Bisnis Islami : Berbisnis penuh ‘Berkat” & Berkah” bersama Ir. Muhammad Karebet Wijayakusuma, MA (Pendiri Komunitas Pengusaha Rindu sya’riah). Host : Ir. Purnomo (Pengasuh Pesantren Entrepreneur Miftahul Fallah)

- (13.00-15.00) : Talkshow 'parenting' bersaama Yayasan Eldiina (yayasan peduli Ibu dan Anak). Pembicara : Dra (psi) Hj.Zulia Ilmawati (Direktur Eldiina Center).

- (16.00-18.00) : Bedah Buku “Cewek Ngomongin Virgin”, penulis : Asri, penerbit : BPI

- (19.30-21.00) : Parade nasyid 4 (Yaya Nuryasin (solo religi), dan As-syujaa)


Kamis, 3 Juni 2010 :

- (09.00-12.00): Talkshow ke-Muslimah-an

- (13.00-15.00) : Audiensi 10 lagu terbaik Voice Of Islam

- (16.00-18.00) : Talkshow bersama " Komunitas Gaul Sehat "

- (19.00-21.00 ) : Ngobrol bareng komunitas penulis
Pembicara :
1. Galuh Paranti (the hermes).
2. Irawan Senda (Komunitas Baca Buku).
3. Endik Koeswoyo (Jaringan penulis Indonesia).


Jum'at, 4 Juni 2010 :

- (09.00-11.00 ) : Tabligh Akbar “Membangun potensi umat dengan meneladani kehidupan Rasulullah”
bersama Ust. Hepi Andi Bastoni (penulis 101 sahabat nabi, redaktur majalah al-mujtama')

-(13.00-15.00) : Talkshow “Agar Zakat Semakin Bermanfaat” bersama BAZ (Badan Amil Zakat) Kota Bogor,
-(20.00-21.00) : Seremonial Penutupan 1st IBF 2010



media partner :
Radar bogor, radio wadi fm,mars fm (bogor), nuris fm, sabili on air

didukung oleh :
pemkot bogor, DKM masjid raya bogor, PPIB, Bogor Nasheed Center, Komunitas Penulis Jogjakarta, eldinaa centre, bem se-bogor, Fossei jabotabek, BKIM IPB, DKM alhuriyah IPB, DKM univ.Pakuan, BAZ kota Bogor, dan Leaf Garden (lancape decoration)




informasi :
1. informasi pendaftaran stand dapat menghubungi :0812 269 8331 (mb tuti)
2. informasi pengisi acara dan publikasi dapat menghubungi :085219812117 (citra)
3. informasi seputar dekorasi dan tempat kegiatan dapat menghungi : 085697738808 (aria)

Salam Budaya:Endik KoeswoyoJl. Swadaya 604 Yogyakarta.email: endik_penulis@yahoo.comPhone: 0817 323 345Mari Mencintai Indonesia Apa AdanyaMANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER

KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN