39 mawar

39 Mawar # 1


Ini tentang kisah bunga mawar
Harumnya semerbak di balik tirai putih
Warnanya pudar tak seindah bunga mawar di taman

Setangkai bunganya sehari harumnya
Menerpa hati seuntai kasih

Di kala sepi di mana malam menjadi raja
Aromanya menerpa senja
Di ujung mimpi gelisah
Berpijak pada rasa lama

Ini kisah setangkai mawar
Yang harumnya menusuk jiwa
Kasih lama terlarut duka
Ada gelisah secara pelan

Bunga pertama dan kisahnya
Di ujung jalan mencari cinta
Menunggu gelisah sebatas mimpi
Menanti hati di ujung sepi




39 Mawar # 2


Harumnya semerbak di balik tirai putih
Menunggu resah batasnya pagi
Di mana kelakar sahabat adalah cinta
Di mana aku hanya kaku menanti
Memegang erat dua tangkau berdurimu

Bujuk aku dengan senyumm simpulmu
Rayu aku dengan bisikan sayang
Dan untaikan seraut wajah lama untuk tidurku


Biarkan aku resah
Dengan sayang semu itu
Biarkan aku resah dengan suara merdumu
Lalu katakan ada setangkai wawar lagi untukku



39 Mawar # 3


Menunggu resah batasnya pagi
Mananti sepi hadir kembali
Untuk ketiga kalinya berbaris sepi

Sudah kutau ada tiraimu
Sudah kutau ada kasihmu
Namun aku masih menunggu
Diantara gelisah untuk kau hadir
Dengan senyum dan pelukan hangat
Dengan desah lembut dan keringat
Satu menit saja untuk setahunnya

Cukup dengan itu
Aku tersenyum lurus
Menanti cinta terpana
Bersama tangkai ketiga mawar merah yang kau bawa
Katakan padaku tentang resahmu
Katakan padaku tentang hatimu

Di mana ada mimpi di sana ada pagi
Menunggu resah batasnya pagi
Untuk ketiga kalinya berbaris sepi





39 Mawar # 4


Mananti sepi hadir kembali
Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi
Katakan dengan irama
Ucapkan dengan nada
Bahwa aku benar-benar ada

Bisikan padaku sekali saja
Tentang tankai keempat yang kubawa

Kemana harus kuletakkan jika semua ruang tak lagi kosong
Mananti sepi hadir kembali
Di mana aku berdiri kaku menanti dirimu
Di bait ranjangku yang kaku membisu



39 Mawar # 5


Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi
Menanti pagi di ujung mimpi

Lima malaikat pembawa bunga
Menyapaku dengan gelisah
Berkata kalau aku masih salah

Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi
Menunggu senja hadir kembali
Untuk gelisah mimpi yang terlupa tadi pagi
Kemana ada senyum gelisah


Tangkai kelima mengantar senyum kedua
Tangkai ketiga di mana letaknya
Dan di mana aku harus mencium aromanya
Ketika bunga membawaku tak tersadar

Aku masih disini
Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi




39 Mawar # 6

Menanti pagi di ujung mimpi
Bersama kabut tak berujung
Apakah berguna untuk bunga keenam itu
Masih mampukah aku menahan diri
Untuk tidak gelisah bersama bayang

Kemana batas sepi
Kemana batas sepi
Menantiku ataukah menantinya
Bayang sepi berujung duri
Menggores hati seperti mimpi
Lalu katakan untuk dia
Akan hadirku yang tersenyum




39 Mawar # 7

Bersama kabut tak berujung
Menggetarkan jiwa usang
Menatap tajam gelisah hati
Barisan ketujuh mawar merah
Menati sentuhan lembut

Ini mawar ke tujuh yang aku letakkan di jambangan hatiku
Ini mawar ketujuh yang aku hirup bunganya dalam mimpi
Ini mawar ketujuh yang aku sentuh dengan hatiku

Semoga harummu sampai ke ranjangku
Dengan selimut kabut
Dengan sentuhan lembut



39 Mawar # 8

Menggetarkan jiwa usang
Dengan hati gelisah dan aroma wangi
Menggetar kelopak rasa dengan kelembutan jiwa

Diam
Diam
Tersenyum kecut di ranjang bambu
Menanti kedatanganmu
Lalu mendekapmu dengan seuntai kelembutan
Menyentuhmu dengan kehangatan

Menggetarkan jiwa usang
Adalah pilihan
Menggetarkan jiwa usang
Adalah keputusan
Menggetarkan jiwa usang
Antara bisikan letih









39 Mawar # 9

Dengan hati gelisah dan aroma wangi
Kutunggu gelisahmu di sudut kabut
Di bawah tiang resah menatap bintang
Bintang tinggi yang tersepi

Dengan hati gelisah dan aroma wangi
Aku terdiam sendiri
Di bawah cakrawala merah
Yang kemuadian menghitam pekat
Di bawah kilatan rindu terpendam



39 Mawar # 10

Kutunggu gelisahmu di sudut kabut
Kutunggui hingga pagi nanti
Kutunggu hingga mentari tenggelam lagi

Sudah kubilang ini rindu
Su dah kukatakan ini gelisah
Karenamu
Karenanya
Karena tangkai kesepuluh belum juga kusntuh




39 Mawar # 11

Kutunggui hingga pagi nanti
Harummu bunga wangi

Kutunggui hingga pagi nanti
Dahan keseblas yang belum mekar

Kutunggui hingga pagi nanti
Detak gelisah jiwa

Kutunggui hingga pagi nanti
Kehadiranmu dengan senyum



39 Mawar # 12


Harummu bunga wangi
Menjerumuskanku dalam kehampaan diri
Ketika detak keduabelas jam dinding terlihat sepi

Harummu bunga wangi
Adalah pesona bawah sadar
Menggelisahkanku dalam lamunan lama

Asaprokokku yang kushisap dalam
Tak membuang aroma itu
Harummu masih wangi
Menusuk hati





39 Mawar # 13


Menjerumuskanku dalam kehampaan diri
Kerentanan cinta dan hembusan rasa

Terkapar aku menghirup aroma tubhmu
Tersudut aku oleh halus lembut kapas kulitmu
Dan
Senyummu itu
Menjerumuskanku dalam kehampaan diri



39 Mawar # 14

Kerentanan cinta dan hembusan rasa
Membawaku pulang kembali pada senyum
Senyum simpul empat belas bidadari kesepian

Ada gelisah untuk memilih
Antara sepi dan kebisingan hati





39 Mawar # 15

Membawaku pulang kembali pada senyum
Mengantarku pada kegelisahan panjang
Sepanjang ketersesatan jiwa lama
Sepanjang kegelisahan terpajang

Sekali lagi kukatakan
Ada kerentanan jiwa
Ada ketakukan
Ada sepi
Yang mengantaku pada satu titik

Titik rindu
Untuk dekapanmu




39 Mawar # 16


Mengantarku pada kegelisahan panjang
Menggetarkanku pada sunyi senyap
Menunggumu datang kembali
Siapa yang datang dalam mimpimu malam ini
Itu bukan aku
Karena aku tak jua tidur malam tadi





39 Mawar # 17

Malam datang lagi
Membawa aroma mistis paling menusuk hati
Ada duri kecil menusuk ujung jari
Membawa kabar genbira dari riuhnya kota Surabaya

Sudah ah....
Aku diam saja
Masih menunggumu disini
Masih menantimu di sini
Semoga bahagia sengkau selalu
Dengan kesibukanmu
Dengan bunga mawar di tamanmu
Yang wanginya hanya bisa kuhirup lewat mimpi
Mimpi tadi pagi




39 Mawar # 18

Mimpi tadi pagi hadir kembali
Membawa senyum seuntai kasih
Terdekap lara mengendap sunyi
Sunyi yang berbunyi
Sunyi yang terdiam
Sunyi yang terdalam




39 Mawar # 19

Semilan belas kelopak mawar
Terajduh dalam resah gundah
Membawa angin membawa serbut
Layukah dia kelak
Sebelum kering ada hujan
Sebelum hujan ada tangis

Aku masih menanti dalam gelap
Menunggu asa menjadi satu
Menanti mimpi yang takterbeli




39 Mawar # 20

Sudah genap 20 usiamu
Setahun lalu kamu sendiri
Membisu disudt kamar
Membawa penyesalan dalam

Sudah genap 20 tahun usiamu
Membawa bunga di tangan kanan
Pemberian pangeran tampan
Yeng kelak meminangmu




39 Mawar # 21

Bunga mawar itu tumbuh subur
Di taman belakang dekat perpustakaan
Aad cerita yang taktelupakan
Ketika kecupan mesra datang menghujam




39 Mawar # 22

Aku masih memandang
Kelopak indah dibalik kerangjang
Ada merah ada putih

Bunga bakung terbawa juga
Walau tak beraroma ada rasa

Biarkan aku sendiri
Membawa mimpi di ujung kabut




39 Mawar # 23

Kenapa masih lama
Masih alam dari sebagian kisah
Tuhan masih tetap sama
Adil kepada semua umat_Nya


Engkau menatap langit
Ketika bunga gugur ke bumi
Tanah merah menajdi resah
Ketika hujan tak jua datang




39 Mawar # 24

Bunga
Bunga
Masih saja menyoal bunga
Apa engkau tidak jenuh?
Bila lelah, tidurlah.
Hidupmu terlalu banyak menyimpan rahasia.

Sudahlah
Kamu benar dengan mimpimu
Kamu benar dengan pilihanmu

Bunga
Bunga
Jujur sajalah, agar hidup kita tidak sia-sia

Kamu benar dengan bunga itu?




39 Mawar # 25

Ini bukan sekedar mimpi tentang bunga
Ini kisah nyata tentang mawar
Yang hanya di suka bunganya
Bukan durinya


Ini kisah bukan sekedar cerita wanginya
Tapi soal bunag kering di vas bunga




39 Mawar # 26

Siapa yang tau matinya
Siapa yang sadar dia cepat lalu
Kenapa di potong juga

Siapa yang sadar mimpi
Ketika mata terpejam dia datang sendiri

Siapa yang mempertmukan kita?
Ketika dunia terpisah jauh




39 Mawar # 27

Aku yakin
Kamu tak yakin
Bunga itu wanginya sampai ke sini

Aku sadar
Kamu tak sadar
Durinya menusuk hati
Bukan cuma tangan dan ujung jari



39 Mawar # 28

Aku terdiam membisu
Menatap langit yang semakin kelabu
Disana ada dia
Di sini ada mereka
Kita sama
Terdiam dalam gelisah



39 Mawar # 29

Hampir usai kisah
Ketika malam menjelang
Hampir usai mimpi ketika pagi hadir lagi

Datang lagi cerita ketika matahari mulai muncul
Datang lagi mimpi kertika matahari di ujung barat



39 Mawar # 30

Aku sadar
Aku yakin
Aku salah
Aku resah

Tapi ini hati
Hati kecil yang resah menanti
Senyum keibuan yang menusuk
Penuh sayang di dekat palung resah

Aku sadar kita jauh
Aku mimpi engkau dekat



39 Mawar # 31

Satu demi satu kelopak jatuh
Menyentuh tanah kering dan rumput basah

Satu persatu kelopak tumbuh
Membawa harum


Satu persatu kumbang datang
Menghisap madu menebar serbuk

Akukah kumbang jalang
Memungut sisa kumbang lainnya
Tapi aku suka itu



39 Mawar # 32

Kosong
Tak satupun kata bisa terucap
Sepi


39 Mawar # 33

Sepertiga malam sebelum pagi
Aku menulis sebait puisi
Untukku yang di sana
Menanti suamimu pulang kerja

Sepertiga malam aku datang
Membawa pulang bunga setaman



39 Mawar # 34

Empat ketukan lebih pelan
Etntang nyanyi bunga

Empat ketukan lebih menyayat
Tentang mimpi kesiangan

Siapa diam dai menang
Memang tidak mungkin

Tapi aku yakin



39 Mawar # 35

Susah hampir selesai
Aku senang sekali
Tersenyum lepas
Memnti mata jernihmu
Di ujung kebisuan lama
Demi kisah lama
Atau malah kisah baru itu



39 Mawar # 36

Memang tidak mungkin
Menyelesaikan bait kata dalam semalam

Tapi mimpi itu benar
Dia mampu terdiam
Untuk duduk kembali di sampingmu
Membacakannya berulang-ulang
Sambil emnatap taman mawar
Tiga buah lagi kelopak tumbuh
Semua semakin harum
Dengan kupu-kupu yang datang dari jauh
Berdendang dengan malaikat di sampingmu



39 Mawar # 37

Kutunggu
Satu demi satu
Kupu-kupu itu

Tapi ke mana engkau pergi

Kutunggu malaikat itu
Tapi ke mana bunga mimpi itu

Sudah pagikah ini?



39 Mawar # 38

Ternyata belum usai
Masih ada bait terakhir yang harus aku tulis
Di mana engaku menyandarkan kepala
Saat engkau letih?



39 Mawar # 39

Ya...genap sudah puisi ini
Genap sudah 39 bunga mawar itu aku tanam
Aku terdiam
Untuk siapa ini semua?

Langit mengingatkanku
Rembulan menyadarkanku
Puisi ini kutulis untukmu

Seseorang yang bebahagia
Di sana
Bersama keluarga dan bunga hatinya
Bersama mimpi dan bunga-bunganya

Hanya salam hangat
Untukmu dan keluarga
Hanya salam hangat
Untukmu dan orang-orang tercinta di hatimu


CATATAN PENULIS: Puisi di tulis khusus untuk hadiah ulang tahun Mbak Ditha yang ke 39. Selamat panjang umur, semoga banyak rejeki dan berbahagia bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Amien...Djogjakarta 2007
Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Scriptwriter. Freelance Writer. Indonesian Author. Novel. Buku. Skenario. Film. Tv Program. Blogger. Vlogger. Farmer

Posting Komentar untuk "39 mawar"


Endik Koeswoyo

SimpleWordPress

 

SimpleWordPress