twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Jumat, 21 Desember 2007

ANGIN PAGI...

Angin Pagi...
Oleh: Endik Koeswoyo



Angin pagi kali ini memaksa Ranto untuk segera membetulkan selimut tipis kumalnya. Kamar kost pengapnya membuat Ranto beberapa kali harus terbatuk-batuk. Sejak dini hari tadi, pikirannya jauh melayang ke kota asalnya. Jogja, lalu ke Bantul. Sejak tadi pagi hampir semua radio dan televisi yang ditontonnya menyiarkan tentang bencana itu. Gempa dasyat dan ribuan korban. Kini, ketika malam menjelang pagi yang ada dalam benaknya hanya doa untuk Bapak, Ibu dan seorang adiknya.
Rasa rindu yang mencekam, rasa gelisah ingin segera pulang menengok keluarga tercinta yang telah hampir dua tahun ini ditinggalkannya. Ekonomi yang semakin sulit membuatnya harus rela meninggalkan keluarga tercinta untuk merantau dan mengadu nasip di Jakarta. Sebuah kota paling kejam menurutnya. Belum lagi majikannya yang sangat pelit itu. Kemarin, ketika Ranto meminta ijin pulang bukan ijin yang diberikan tapi malah makian. Namanya juga buruh, jadi Ranto harus menunggu sehari lagi agar bisa pulang kedesanya.


* * *



Hiruk pikuk para calo stasiun Tanah Abang tidak dihiraukannya pagi itu. Langkahnya pasti, gerbong lokomotif ekonomi. Sepi, lengang dengan aroma pesing yang menyengat. Sepertinya Ranto orang pertama yang naik ke-gerbong tersebut. Rasa gelisah karena belum adanya kabar, jelas terlihat diwajahnya. Sebatang rokok dijuhutnya dengan pelan ketika seorang pengemis kecil mengulurkan tangan lemasnya. Setelah menyalakan rokok tersebut Ranto memasukkan tangannya kesaku celana untuk mencari uang kecil. Ranto tersenyum membalas senyum si-pengemis kecil yang baru saja menerima uang seribu perak.
Cukup lama bagi Ranto untuk menunggu kereta itu menderu kencang. Setelah sebatang rokok itu habis, barulah ada beberapa penumpang lain yang masuk ke gerbong tersebut. Panas dan pengap mulai dirasakannya ketika pengasong dan pengemis mulai berjejal.
“Gempa Jogja! Gempa Jogja! Gempa paling dasyat! Sampai hari ini sudah lebih 3.000 jiwa meninggal dan akan terus bertambah!” suara penjaja koran itu sayup-sayup terdengar dan semakin lama semakin jelas. Sebaris kalimat itu terus terngiang seperti seorang anak kecil yang menghapalkan teks Pancasila. Selalu seperti itu hingga Ranto menghentikannya.
“Korannya Mas!” ucap Ranto cepat.
Dengan senyum senang, koran yang diminta ranto Ranto langsung disodorkan. Ranto menghela nafas panjang. Korban mencapai 3.000 jiwa dan akan terus bertambah karena proses evakuasi banyak mengalami kendala. Terutama kurangnya alat-alat berat dan tenaga relawan.
“Ini Mas kembaliannya!” sipenjual koran menyodorkan beberapa lembar uang kertas pada Ranto.
“Gempa Jogja! Gempa Jogja! Gempa paling dasyat! Sampai hari ini sudah lebih 3.000 jiwa meninggal dan akan terus bertambah!” Dengan langkah ringan dan suara yang sama, penjual koran itu menelusuri gerbong demi gerbong lainnya hingga suaranya menghilang.
Cahaya redup pagi itu menembus cendela berdebu yang retak disana-sini. Rasa panas dan pengap kota jakarta membuat Ranto gelisah didalam kereta. Sesaat kemudian, hanya gambar bangunan runtuh yang dipandanginya kemudian, huruf-huruf itu belum bisa dicernanya dengan benar. Dilipat olehnya koran itu menjadi lebih kecil dan dimasukan kedalam tasnya. Terselip diantara baju dan sekedar oleh-oleh untuk keluarga tercinta. Nafasnya pelan terhembus seiring gerak pelan kereta yang telah didahului oleh lantunan peluit penjaga stasiun. Dengan doa panjangnya, Ranto menyandarkan tubuh lemasnya. Wajah-wajah disekelilingnya tampak lesu, tidak jauh berbeda dengannya. Mungkin pikiran mereka sama, keluarga yang di Jogja.
Entah telah berapa kali kereta berhenti sejenak distasiun-stasiun kota yang dilaluinya. Ranto hanya bisa tidur sesaat lalu bangun lagi, tidur sesaat lalu bangun kembali. Selalu saja seperti itu. Hingga akhrinya sebuah stasiun yang cukup dikenalnya menjadi perhentian kereta malam ini. Puku 21:54, satu jam lebih lama dari jadwal sebenarnya.
Langkah tergegas dengan sebuah tas ransel besar menggelayut di pundaknya. Keringat yang sedari tadi menetes pelan disekanya dengan cepat ketika dia menghampiri sebuah taksi.
“Malam Pak! Bisa diantar ke Bantul?” Ranto mengamati alroji imitasinya sesaat.
“Bantulnya mana Mas?” sahut si-sopir dengan pelan pula.
“Daerah Panggang!” sahut Ranto lirih.
“Saya hanya bisa mengantar sampai Jalan Wonosari saja. Kilo meter 8 atau 9.”
“Kenapa Pak?” sahut ranto cepat sambil mengamati kalau-kalau ada tukang ojek atau angkutan lain.
“Masalahnya di sana rawan Mas! Banyak maling, takut-takut nanti salah paham,” jawab lelaki itu memberi sebuah penjelasan.
Ranto menghela nafas panjang. Menghembuskannya pelan lalu membuka pintu taksi dengan pelan pula. Mobil sedan kuning itu melaju dengan kecepatan tinggi dijalan yang memang sepi itu. Ranto hanya bisa gelisah.
Kini dalam kegelapan malam yang mencekam Ranto hanya bisa mengusap peluh berkali-kali yang membasi hampir seluruh wajahnya. Kakinya sudah terasa sangat pegal-pegal. Bayangan hitam puing-puing yang runtuh membuat dadanya semakin sesak malam itu. Beberapa kali pula pemuda itu harus mengeluarkan KTP-nya saat bertemu dengan warga.
Lebih dari Dua jam pemuda itu berjalan, menanjak dan menurunnya jalan seakan tidak terasa olehnya. Sepi sekali malam itu, angin membawa dingin dari mendung yang sebentar lagi akan turun. Diujung jalan terlihat olehnya beberapa cahaya yang datang dari obor mendekat kearahnya.
“Malam Mas! Ada apa malam-malam begini masih keluyuran?” bentak seorang pmuda yang baru saja mendekat kearahnya.
Ranto tersenyum simpul sambil membuka topinya. Pemuda yang tadi terlihat kasar langsung memeluk Ranto. Hilang sudah wajah amarah yang sesaat terlintas. Pemuda yang lain juga mendekat kearah Ranto sambil mejabat tangannya yang masih sedikit bergetar lelah.
“Bagaimana keadaan desa kita Mar!?” tanya Ranto pata Marji sahabatnya.
“Hancur Ran! Semua rumah hancur! Banyak warga yang belum jelas keberadaannya setelah dua hari ini. Tapi Ran? Ehm... Sama siapa kamu malam-malam begini?”
“Sendiri Mar! Keluarga saya bagimana?” ucap Ranto segera sambil berjalan sedikit tergesa mengikuti cahaya obor-obor itu.
“Hanya Ranti Adikmu yang aku tau.” Marji mengucapnya dengan lirih.
Ranto menghentikan langkahnya sesaat. Sementara Marji masih terus berjalan mengikuti pemuda-pemuda yang lain. Sesaat kemudian Ranto setengah berlari mengejar rombongan itu.
“Mar! Marji! Apa Ranti baik-baik saja?”
“Alhamdulilah! Hanya lecet-lecet. Kuharap dia akan senang dengan kedatanganmu!”
Langkah robongan itu seamkin cepat menelusuri jalan gelap yang menanjak. Di tanah lapang uung jalan itu terlihat beberapa tenda yang tertata tidak rapi. Lampu-lampu sentir minyak tanah kelap-kelip tertiup angin. Udara dingin berbaur dengan tangsi bayi yang memilukan. Pemuda-pemuda itu kemudian masuk kesebuah tenda yang paling besar. Sementara Marji menarik tangan Ranto dengan cepat.
“Ayo kita temui Ranti!” Marji bergegas menuju kesebuah tenda yang ada ditengah lapangan.
Lampu petromak menyala terang menerangi tenda itu. Ranto menarik nafas panjang melihat beberapa orang ibu-ibu yang terbaring dengan perban seadanya. Suara rintihan kadang-kadang terdengar sangat jelas malam itu.
“Itu Ranti!” Marji menunjuk seorang gadis yang terbaring lemas disudut ruangan.
Ranto mendekatinya. Nafasnya semakin sesak. Diamatinya Ranti yang terkulai lemas dengan perban yang hampir memenuhi wajah pucatnya.
“Dek! Dek Ranti...” sapa Ranto lirih sambil memegang tangan adiknya dengan lembut.
Ranti membuka mata, menguceknya pelan. Matanya memandang tajam pemuda yang ada didepannya, ya...dia adalah kakaknya. Ranto.
“Mas...” hanya kata itu yang bisa diucapkannya. Ranto lalu memeluk adiknya seerat mungkin. Isak tangis keduanya memecah keheningan malam itu. Diluar sana, huan gerimis mulai turun. Kilat yang sesekali menyambar membuat susana semakin mencekam.

* * *
“Kita harus bersatu! Kita harus bangkit! Tidak ada gunanya kita menunggu sesuatu yang tidak Pasti! Kita harus bangkit dan bergerak dengan kekuatan yang ada! Pemerintah sekarang tidak bisa diharapkan kepastiannya! Kalian yang masih muda dan punya tenaga, marilah kita mencari keluarga yang hilang. Sebagian lagi yang masih punya KTP, segeralah meminta dan mencari bantuan logistik! Kalau kita hanya duduk menunggu disini, niscaya kita akan mati satu persatu!” suara Ranto memecah keheningan tenda utama yang sedari tadi hanya dihuni oleh pera lelaki yang terduduk pasarah.
“Tapi Mas Ranto! Apa kita mampu mencari korban yang tertimbun reruntuhan? Sementara kita tidak punya pengalaman dan kurangnya alat-alat.” ucap seorang warga yang duduk paling belakang.
“Kita harus bisa! Yang kita butuhkan hanya kemauan dan kebersamaan!” Ranto diam sejenak. “Sekarang siapa yang keluarganya belum ditemukan!?” lanjutnya sesaat kemudian.
Marji maju sambil menyerahkan selembar ketas pada Ranto. Ranto lalu membacanya sebentar.
“Baiklah saudara-saudara sekalian! Kita mulai pencarian hari ini dari rumahnya Pak Ahmad! Bawa peralatan seperlunya dan seadanya.”
“Maaf Mas! Keluarga saya juag belum ketemu!? Kenapa harus Rumah Pak Ahmad dulu? Bukankah keluarganya sekarang tidak ada yang disini?” celetuk seorang watga yang sedari tadi hanya tertunduk lesu.
“Buang jauh-jauh perasaan iri itu Pak! Kita mulai dari yang terdekat dari kita saat ini! Baru kemudian kearah timur! Bila Bapak tidak mau silahkan bapak berada ditenda ini selamanya! Oh ya...kang Yanto dan empat orang yang lain, yang masih punya sepeda motor segeralah menuju ke kota! Pak Rt tolong warga yang lain dikoordasi dan didata ulang.” dengan seujta perasaan yang berkecamuk dihatinya, Ranto melangkah menuju keluar tenda. Sepi, hanya beberapa anak-anak yang berlarian mengejar bola plastik.
Angin pagi yang membawa kabar duka dan dubu sesak bertiup pelan. Ketika itu masih dengan sebuah pertanyaan tentang Bapak dan Ibu tercinta. Kemana mereka saat ini? Puing-puing hanya tetap mejadi puing ketika orang-orang tercinta menghilang entah kemana. Matahari diujung timur masih bersinar seperti biasa, sebenatar lagi panas akan menyengat. Mengingatkan pada kita Tuhan masih tetap Yang Maha Kuasa atas segalanya...

SERATUS HARINYA BAPAK

SERATUS HARINYA BAPAK
Oleh Endik Koeswoyo


Sungguh saya tidak menyangka, kalau akan datang tamu sebanyak ini. Apalagi Emak, hanya bisa jalan-jalan dari dapur keruang tamu, begitu saja dari tadi, bolak-balik seperti orang bingung.
“Mak, kenapa?’’
“Entahlah Le, Emak bingung!” sambil nyelonong lagi keruang tamu, menyalami ibu-ibu yang baru datang.
Tamu yang datang semakin banyak, saya sudah dua kali mengambil tikar di mushola Haji Nandar. Didapur, Yu Jum dan Lek Katiran juga kebingungan, nasi yang ada di dandang sudah hampir habis. Untung ada Kang Poniman dan Istrinya yang membuat dapur dari tumpukan bata merah dibelakang rumah. Terlihat juga Kang To dan anaknya sedang menyembelih beberapa ekor ayam.
“Le…cepat belikan beras, Kang Pon sudah selesai bikin dapurnya!” istrinya Kang Poniman tergopoh-gopoh sambil menyincing jariknya.
Saya mencari-cari Emak kedapur tapi tidak ketemu, lalu keruang tamu juga tidak ada. “Ah…kemana emakku ini” gumanku dalam hati saat itu. Saya berlari kekamar mengambil uang, tapi uangku saat itu hanya lima ribu perak. Saya lari lagi kedapur, mencari Kang Poniman.
“Berapa kilo Kang?”
“Sepuluh kilo!” sambil memasukkan kayu bakar kedalam dapur daruratnya.
Saya lalu berlari lewat samping rumah menuju warungnya Yu Jah, saya tau wanita itu pasti akan menggerutu bila aku ngutang. Tapi kemana lagi, hanya warung itulah yang terdekat. Sebenarnya dalam hati ini takut juga.
Setibanya didepan warung, saya melihat Yu Jah sudah mau menutup warungnya.
“Yu, saya ngutang berasnya dulu ya!”
“Berapa kilo?”
“Sepuluh kilo Yu, tapi ngutang dulu soalnya saya mencari-cari Emak tidak ketemu, nanti kalau sudah ketemu saya kesini lagi”
Wanita itu mengambil setengah karung beras dari bawah meja dagangannya. Dia tersenyum manis, tidak seperti biasanya yang selalu ngomel bila ada orang yang ngutang. Bahkan beberapa kali Emak tidak jadi ngutang diwarungnya gara-gara omongannya yang terlalu pedas.
“Ini, bawa saja dulu!”
“Banyak sekali Yu, kata Kang Poniman hanya sepuluh kilo?”
“Sudah tidak apa-apa, bawa saja dulu siapa tau nanti kurang?”
Tanpa berpikir panjang, saya memanggul beras setengah karung itu. Beratnya mungkin lebih dari dua puluh kilo.
“Le, tamunya sudah banyak belum?”
“Sudah Yu”
Saya juga heran kenapa Yu Jah menanyakan itu, lebih heran lagi ketika dia bilang kalau mau datang juga. Padahal wanita yang satu ini tidak pernah mau datang kerumah orang lain dalam acara hajatan walaupun diundang. Dia memilih tetap berada di warungnya.
“Cepat dibawa pulang nanti kehabisan nasi lho, saya juga mau pergi kerumahmu!”
Wanita itu masuk kedalam mengambil tasnya, menutup pintu dan berjalan kearah saya.
“Lho malah bengong ki piye to? Ayo!”
Wanita ini menarik tanganku, saya seperti orang kaget. Aku hanya mengikuti Yu Jah dari belakang, setelah dekat rumah, saya belok kearah kebun singkongnya Lek Man.
“Saya lewat sini saja Yu!”
“Ya”
Wanita itu menjawab tanpa melihat kearahku. Saya langsung menuju kedapur belakang. Kang Poniman membatu menurunkan beras itu dari pundakku.
“Banyak sekali Le?”
“Iya Kang, habis Yu Jah memaksa saya untuk membawa semuanya”
“Tumben wanita itu baik hatinya ya?”
Kang Poniman mengeluarkan komentar itu sambil membuka karung beras itu. Dia lalu memanggil istrinya dan menyuruh mencuci setengah ember beras disumur.
Masih dalam suana kebingungan saya mencari emak lagi. Belum juga kutemukan, mungkin Emak ada di depan.
Rumah kayu peninggalan Almarhum Bapak ini memang cukup luas, beberapa tamu yang duduk diruang tamu itu juga cukup banyak , hampir memenuhi ruangan. Ibu-ibu memilih duduk dikursi kayu yang berjajar di teras depan. Sambil mencari-cari Emak saya sempat memperhatikan bapak-bapak yang duduk diruang tamu itu, kira-kira lebih dari delapan puluh orang, sedangkan diruang tengah yang bersekat dinding tripek dari ruang tamu, ada sekitar empat puluh orang. Saya masih juga keheranan, sepertinya hampir seluruh warga kampung ini datang kerumah. Terlihat juga Pak lurah dengan baju safarinya, pak RW. Pak RT. Juga pemuda-pemuda karang taruna semua hadir. Disamping rumah juga ada Haji Nandar dengan beberapa santrinya yang sedang asyik bercanda.
Saya kembali kedapur lagi, menemui Kang Poniman dan Istrinya, tapi kali ini Kang Poniman tidak sendiri, ada dua orang santrinya Haji Nandar yang membantu menuang kopi. Juga beberapa Ibu-ibu yang sibuk menata gelas di baki. Lek Jum dan Kang Poniran juga sibuk menata piring-piring yang berisi nasi. Dua orang anak pak RT. membantunya, mereka membawa piring-piring berisi nasi itu kedepan.
“Kang Pon, Emak dimana?”
“Baru saja dari sini, katanya dipanggil Bu Lurah, mungkin didepan!”
Saya tenang, setidaknya Emak tidak menghilang. Saya membatu Kang Poniman mengambil kayu bakar di bekas kandang ayam belakang rumah. Setelah cukup lama, saya melihat Emak datang sambil membawa bungkusan besar.
“Apa Mak?” sambil membantu melatakkannya di atas meja.
“Kue dari Bu Lurah”
“Mak…saya tadi mencari-cari Emak, kamana?”
“Ini, mengambil kue dirumah Bu Lurah”
“Beli Mak?”
“Tidak, di kasih cuma-cuma sama beliau”
Saya kemudian mengambil piring-piring di almari, sudah cukup lama piring-piring itu tidak pernah dipakai. Setelah mencucinya saya kembali lagi kepada Emak yang sibuk mengeluarkan macam-macam kue itu.
“Mak, saya tadi ngutang beras di warungnya Yu Jah!”
“Oh…saya sudah ketemu kok sama dia’’ emak sepertinya tidak memperhatikan omongan saya, masih saja sibuk menata kue-kue itu di atas piring. Seorang ibu menghampiri saya dan Emak di meja itu. Memberikan bungkusan, lalu menyalami Emak, sambil berbicara sebentar setelah itu keluar lagi.
“Itu siapa Mak?”
“Itu teman kecil Mak, tapi sekarang tinggal di kampung sebelah”
“Mak, Yu Jah tadi marah nggak?”
“Kenapa?”
“Masalah beras?”
“Tidak, bahkan dia tidajk mau menerima ungnya saat mau Emak bayar”
Saya terdiam, kenapa semua orang di kampung ini berubah baik, benar-benar seratus delapan puluh derajat perubahan mereka. Dulu saat kematian Bapak, tak seorang pun yang mau melayat, sampai-sampai beberapa wartawan yang meliput-lah yang memakamkan Bapak. Saya benar-benar heran, mungkin kalau tidak dibantu Haji Nandar dan santrinya serta para wartawan, Bapak tidak dikubur saat itu.
Saya jadi teringat saat itu, saat tiba-tiba saja nama Bapak menjadi sangat terkenal, beberapa Koran menuliskan berita tentang Bapak, Radio menyiarkan tentang Bapak bahkan televisi memuat foto-foto Bapak. Tapi berita-berita itu membuat kampung ini geger, membuat Emak menangis setiap hari dan membuat saya hampir bunuh diri. ‘Empat dari tujuh kawanan teroris tertangkap’ itu koran pertama yang saya baca saat itu. Kemudian ‘Tiga diantaranya tertembak mati saat kontak senjata dengan petugas kepolisian setempat’. Saat itu saya hanya bisa menangis karena foto yang terpajang jelas-jelas Bapak, nama dan tempat asalnya-pun sama. Saya tidak yakin saat itu, Bapak pergi merantau memang sebagai TKI illegal, tapi apa mungkin Bapak menjadi teroris? Pertanyaan itu sampai sekarang belum terjawab.
“Ini dibawa kedepan!”
Saya sangat terkejut oleh uacapan Emak, lalu saya cepat-cepat mengambil piring itu dari tangan Emak. Oh…Emak, baru kali ini senyum bahagia itu kulihat lagi. Entah kenapa tiba-tiba saja aku mencium pipinya, mungkin ini ucapan syukurku. Emak hanya tertawa sambil mengusap rambutku.
“Sudah sana!”
Saya membawa kue itu keluar. Lagi-lagi saya kaget, dinding penyekat itu kini telah hilang. Ruangan itu kini telah menjadi satu, rumah joglo itu kini seolah-olah menjadi aula yang kokoh dengan delapan tiang besar kayu jati berdiri kokoh ditengahnya, bahkan lebih luas dari aula kelurahan. Saya juga melihat ada dua buah pengeras suara didekat Pak Lurah. Ada seseorang yang sedang mengabadikan acara itu, tapi siapa lelaki muda yang beberapakali menjepretkan kameranya kearahku. Apalagi seingat saya kami tidak mengundang juru foto.
“Le..sini!”
Sepertinya Pak RT. memanggil saya, saya menghapirinya, menyalaminya dan juga beberapa orang disekitar Pak RT. itu. Saya duduk disampingnya.
“Pak Lurah, inilah putra satu-satunya almarhum”
Saya menjabat tagan Pak Lurah sekali lagi, lelaki setengah umur itu tersenyum kepada saya.
“Tidak pernah kelihatan kemana?”
“Anu Pak, masih study”
“Kuliah?”
“Iya Pak”
Saat saya sedang berbicara dengan Pak Lurah, beberapa kali lelaki yang membawa kamera itu menjepret saya. Dia lalu menghampiri saya. Saya baru tau kalau dia itu wartawan setelah membaca tulisan kecil didada kanannya. Sebenarnya saya ingin mengusir lelaki itu, saya tidak suka nama Bapak diusik-usik lagi, dijadikan berita lagi.
Acara akan segera dimulai karena sudah hampir setengah delapan. Haji Nandar, memegang mikrofon, membukanya dengan bacaan Basmalah dan ucapan syukur. Emak yang baru datang mengambil tempat duduk diantara aku dan Haji Nandar, benar Emak memang bahagia saat itu. Beliau terlihat sangat cantik dengan kerudung merah jambunya.
“Sebelum acara kita mulai, marilah kita mendengarkan sebentar saja apa yang akan di katakana Pak Lurah”
Haji Nandar memberikan mikrofon itu pada Pak Lurah. Semua tamu duduk bersila, mata mereka memandang kearah Pak Lurah semua. Tak henti-hentinya wartawan itu memotret, tamu, Pak Lurah, Haji Nandar, Emak dan hampir semua yang ada didalam ruangan itu tidak luput dari lensanya. Sementara Pak Lurah mulai membuka kata-katanya dengan ucapan syukur dan terima kasih atas kehadiran para tamu dalam acara seratus harinya Bapak itu. Pak Lurah mengeluarkan secarik kertas dari dalam dalam kantong safarinya.
“Begini saudara-saudara sekalian, ada satu lagi berita yang mungkin akan menggegerkan kita sekali lagi”
Saat mendengar ucapan Pak Lurah itu, suasana tiba-tiba saja hening, tidak satupun ada yang berbicara bahkan ada beberapa yang menahan batuknya. Saya terdiam, memikirkan apa yang akan diucapkan Pak Lurah. Pak Lurah memandang kearah saya dengan senyum lebar, kamudian memandang Emak, juga masih dengan senyum yang sama.
“Saya baru saja mendapat surat dari kantor kepolisian, ceritanya panjang saudara-saudara sekalian, surat ini asalnya dari Karto”
Pak Lurah menghentikan kata-katanya, seolah memberikan kesempatan memikirkan siapa Karto itu, termasuk saya yang juga berpikir keras mengingat nama Karto. Ya…saya ingat, Karto adalah lelaki yang mengajak Bapak kerja keluar negeri, tapi saya lupa wajahnya karena saya bertemu terakir sekitar tiga tahun lalu. Saya memandang Emak, matanya berkaca-kaca lalu saya menggenggam tanganya. Sepertinya Emak teringat Bapak, lalu kulihat Haji Nandar membisikkan sesuatu pada Emak, mungkin ucapan supaya tetap tabah.
“Mungkin diantara kita lupa siapa Karto, tapi saya hanya sekedar mengingatkan. Tiga tahun lalu Karto berangkat bersama Almarhum. Dan isi surat itu sangat mengejutkan seluruh perangkat desa serta pihak kepolisian yang mengantarnya pada saya tadi siang”
“Isinya apa Pak?”
Seorang lelaki tua sepertinya tidak sabar menunggu ucapan Pak Lurah selanjutnya.
“Iya, saya akan membacakan surat yang sebenarnya ditujukan kepada istri almarhum. Kepada yang terhormat Mbak Yu Marto. Asalamuallaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mbak Yu yang terhormat, Pertama-tama yang saya ucapkan adalah, Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, sekali lagi maafkan saya Mbak Yu!”
Saya melihat kearah Enak yang duduk disamping saya, matannya meneteskan air mata. Saya ikut bersedih dan dada ini tersa sangat sesak, ingin rasanya sanya meninggalkan tempat itu. Namun saya tahan semuanya. Apalagi tangan Emak menggenggam tangan saya dengan erat.
“Mbak Yu, saya baru beberapa hari yang lalu mendengar berita mengenai Kang Marto, dan saya merasa sangat terpukul. Saya langsung tidak bisa tidur beberapa hari. Mbak Yu yang terhormat, yakinkan kepada semua orang bahwa suami MbakYu bukan teroris”
Pak lurah tidak melanjutkan membaca surat itu, lagi-lagi beliau memberikan kesempatan kepada semua yang datang untuk saling berbisik. Setelah semua kembali tenang dari kegaduhan spontan itu Pak Lurah melanjutkan membaca surat itu. Mungkin yang paling penasaran adalah Emak dan Saya.
“Mbak Yu yang terhormat, kejadiannya sangatlah panjang. Hari itu kami sedang bekerja di ladang sawit, namun ada operasi penertiban, saya dan beberapa teman lalu lari kehutan agar tidak tertangkap. Tapi Kang Marto menghilang, mungkin Beliau tersesat. Baru kemarin saya membaca dikoran bekas bungkus pakaian seorang teman dan melihat berita itu. Mbak Yu yang terhormat, tabahkanlah hatimu, suamimu adalah orang terbaik yang pernah kukenal. Dan sekali lagi saya meminta maaf. Dalam minggu ini saya akan segera kembali kekampung dengan beberapa teman yang lain. Mungkin kami bisa menjadi saksi bahwa Kang Marto bukanlah seorang teroris seperti yang ada dalam berita. Sekali lagi tabahklanlah hati Mbak Yu, dan maafkan saya. Hormat saya. Karto.”
Emak langsung menagis tersedu, lalu bersujud. Dada saya tersa sesak, mungkin terlalu bahagia dan tidak terasa saya meneteskan air mata.
“Bapak, maafkan kami” ucapan lirih keluar dari bibir ini tanpa terasa diantara riuhnya para tamu. Saya membangunkan Emak dari sujud syukurnya, lalu memeluknya dengan erat. Beberapa ibu-ibu mendekat pada Emak dan memeluknya. “Terima kasih Ya Allah, Terima kasih Ya Allah” berkali-kali Emak mengucapkan kata-kata itu sambil mengusap air matanya.




Sanggar Misteri Darikem, Blitar Desember 2004.









UNTUK NONA

BIDADARI YANG MATI
Oleh: Endik Koeswoyo


Kenapa kita harus saling menikam
Bila suatu saat nanti kita akan tertikam
Kenapa kita harus membunuh
Bila suatu saat nanti kita akan mati

Lihatlah matahari yang mulai tenggelam
Adalah gambaran nyata
Usia kita yang tak-kan pernah kembali
Senandung merdu itu…adalah doa lama

Kekejaman nyata yang kusaksikan telah terlalu lama
Mengoyak-ngoyak mata batin dan jiwa
Menyisakan tetesan merah yang terasa hangat
Diantara mataku yang sudah terlalu pedih

Kenapa kita harus saling menikam
Bila suatu saat nanti kita akan mati

Kabut tipis menutupi alur cerita
Menyamarkannya menjadi bait-bait yang indah
Sehingga kita lupa masih ada dongeng lama
Kesombongan yang berlindung dibalik tajamnya
Pedang-pedang imitasi memaksa kita harus merintih

Bunga bijak tak lagi tumbuh dihalam kumuh
Dimana aku dilahirkan dulu

Kenapa kita harus membunuh
Bila suatu saat nanti kita akan tertikam

Prasasti dari tumpahan darah
Telah dilupakan
Dilupakan oleh megahnya keangkuhan
Pekik perjuangan telah sirna
Bersama akhir sebuah persetubuhan

Bidadari kecil yang menari
Bukan sekedar saksi dari mereka yang terlupakan
Kenapa kita harus menikam
Bila kita tidak bisa mengulang kisah
Kenapa kita harus membunuh
Bila kita tidak pernah tau ada kisah yang tersembunyi

Alur sejarah yang tidak teratur
Menyisakan sebuah pertanyaan
Diantara mata yang dibutakan
Kenapa kita harus saling menikam dan membunuh
Bila kita adalah sama
Kenapa kita harus menari bila kita akan mati…

Kemana perginya seorang sahabat lama
Saat topi baja mulai dikenakannya…

Mati bersama gugurnya bunga kamboja
Diiringi isak tangis bidadari kecil ditepian senja

…adalah imbalan bakti…



DIBAWAH JENDELA HOTEL YAMATO
Oleh: Endik Koeswoyo

Cerita lama telah sirna bersama embun senja
Saat siang enggan menyapa malam yang selalu dingin
Dimana lagu Padamu Negeri yang dulu kerap bergema
Dimana tetesan darah yang dulu mengalir bersama pekik ‘merdeka’

Masih adakah doa lama yang sampai ke-telinga kita
Masih berkibarkah Merah Putih kala malam benar-benar hadir…

Dibawah jendela ini dulu mereka berteriak
Tapi…
Kini…
Peluit nyaring dari yang lapar
Mengalun pilu…

Lelaki tua itu
Berbaju kuning
Dulu dia sangat gagah dengan senapan panjang
Dan bambu runcing yang siap menikam siapa saja yang mendekat
Selendang sutra dengan sutra emas
Melilit kepalanya

Sebuah gambar garuda lekat didada kanannya
Kini hanya peluh dan terik matahari yang selalu ingat padanya

Mungkin terlalu lama dia berdiri disana…
Sehingga dia lupa dari mana asalnya
Lupa pada perjuanganya

Lembar demi lembar lusuh dilipatnya bersama kepulan asap rokok pekat
Bila senja nanti datang,
Dia akan pulang mengulang mimpinya yang selalu sama
Mengulang dentuman meriah yang suaranya merdu
Mengulang pekik tangis istrinya yang suaranya merdu
Mengulang jerit tawa seorang sahabat yang tangannya tersayat kawat berduri
Dibawah jendela ini dulu mereka berteriak…

Mengharap Merah Putih berkibar
Ditiang yang menjulang tinggi dan kokoh
Dibawah jendela ini mereka kini juga berteriak…




SEDIKIT SAJA I
Oleh: Endik Koeswoyo

Sudah lelah…
Saat tiba hujan lebat…
Saat usap keringat

Sudah lelah…
Saat kabut pekat…
Mencari jejak yang tertinggal



SEBELUM AKU TIDUR
Oleh: Endik Koeswoyo

Sudah terlalu lelah aku berdiri diantara berjuta dusta
Melepas helai demi helai mimpiku tadi malam

Adakah sejuta doa yang mengalun merdu seperti satu abad yang lalu
Atau masih adakah senyum yang merekah
Diantara bunga kamboja jingga yang tumbuh subur ditengah makam pahlawan
Atau kita akan mati untuk yang kedua kali

Kala langkah ini semakin berat
Pada siapa aku berpegangan
Sedangkan lumpur telah mengikatku dengan bumi ini
Panas matahari telah menikamku dengan sinarnya yang hangat

Adakah ucapan selamat tidur darimu
Saat hari benar-benar senja…
Kemana kamu saat itu, aku rindu
Haruskah aku minta pada-Nya agar kau kembali
Dan…
Menemaniku seperti dulu
Sebelum aku tidur

Sudah terlalu lamakah kamu pergi
Hingga aku lupa akan senyummu
Lupa akan rambutmu yang selalu teruari saat angin menyapamu

Berlarilah…
Mengejar senja
Sebelum aku datang padamu
Lupakan aku
Ingatlah aku
Lupakan saja
Biar kita berdendang nanti
Sebelum aku tidur
Lagu tentang cinta lama yang terkubur
Bersama tertancapnya dua buah butir peluru
Bersama tetesan darah berjuta umat
Bersama aku yang tersisa
Mengais sisa mimpi
Sebelum aku benar-benar tidur

Mungkin menemuimu
Mungkin juga
Menemanimu dibatas mimpi yang tertunda lama
Tapi kapan…



SEDIKIT SAJA II
Oleh: Endik Koeswoyo

Dimana mimpiku menghilang saat kau datang
Dimana lamunanku saat kau menghilang
Resahkah aku malam tadi
Menjemput kabut…
Diatap gedung kaca
Diantara bunga mawar biru muda….



PROYEK KEKERASAN
Oleh: Endik Koeswoyo

Kubangun sebuah panggung megah dari tulang-tulang bayi yang baru lahir
Kudirikan dengan tiang tubuh-tubuh renta

Kuletakkan nisan-nisan diantara sudut-sudut panggung
Lalu kutanam bunga-bunga kamboja Merah dipelataran rumah tua

Kuteriakkan ancaman perang…
Kukorbankan wanita-wanita malam
Kusedekahi para koruptor dengan darah amis anak-anak jalanan

Kubangun tembok kokoh dari tubuh-tubuh kekar kuli bangunan
Kudirikan sebuah kuil megah ditengan kota usang
Kukibarkan bendera hitam diatasnya
Kugantungkan sesesok tubuh renta telanjang

Kusiksa semua orang yang tertidur dimalam hari
Kugantung anak dan istriku dipintu gerbang kota
Agar semua tau…
Aku sangat kejam

Lalu setelah semua orang mati
Kutikamkan sebuah bambu
Didadaku…



KUDETA MORAL III
Oleh: Endik Koeswoyo

Dari panjangnya jalan panjang yang kutempuh
Singgahlah aku dikamar mandi
Bukan mencuci muka atau mandi
Menyusun rencana gila
Bersama kecoak dan kutu-kutu
Untuk berontak pada nafsu

Dimana batas mimpiku
Kemana…
Rona jingga cahaya senja
Perang…
Perang…
Untuk jiwa…
Perang…
Perang…
Untuk siapa?
Damai..
Satu kali saja
Untuk semua




RIUHNYA PEMBERONTAKAN
Oleh: Endik Koeswoyo

Masih saja selalu bergema…
Menemani kita semua yang terpuruk dalam dingin angin surga

Maya itu kini nyata…
Bersama lahirnya gadis cantik yang telah jadi dewasa dalam seperempat menit
Mereka mati dalam duka lama yang tersimpul oleh tali pelepah pisang raja

Mati…
Tak terkubur ditepi jalan berlumpur
Banjir malam tadi, menyisakan sebuah mimpi bagi semua
Lumpur yang mengalir mengikis rasa aman
Damai kini tak ada lagi
Sirna bersama dendam untuk saling menikam

Riuhnya pemberontakan didusun pewayangan
Membawa kita kearena perang yang tiada batasnya
Mungkinkah semuanya berubah menjadi hitam
Tanpa ada warna putih yang tercium oleh mata rapuh


Sudut itu penuh pemberontak
Menuntut hak untuk hidup dalam getir

Sudahkah kita dendangkan lagu damai…
Sudahkah kita hancurkan matahari yang bersinar
Hancurkan …



MENANGISLAH SEBELUM PAGI TIBA
Oleh: Endik Koeswoyo

Negriku yang damai…
Menagislah engkau sebelum pagi tiba
Dendang lagu merdu setelah itu
Kibarkan Merah Putih dalam cakrawala birumu

Biarkan mereka menggoyahmu dengan doa
Biarkan mereka menari diatas lukamu

Tapi…
Kubur mereka dalam-dalam dalam bumimu
Tenggelamkan mereka dalam lautmu
Hempaskan dengan gelombang dasyat kearah batu karangmu

Negriku yang menangis…
Biarkan mereka menikam dari belakang
Biarkan mereka bernyanyi dalam dongengmu
Biarkan mereka bersetubuh dengan air matamu

Tapi…
Kirimkan cacing dan belatung kemeja makan mereka
Kirimkan racunmu yang paling ganas kecangkir kopi mereka
Kirimkan burung-burung bangkai kekamar tidur mereka

Bila pagi nanti tiba…
Tertawalah bersama kami
Bersama sekelompok anak kecil ditepi jalan
Selimuti mereka dengan kabutmu yang sejuk
Hangatkan mereka dengan mentari yang berpijar



POHON BIRU DIBELAKANG RUMAH
Oleh: Endik Koeswoyo

Kekasihku yang cantik…
Ingatkah kamu pada sebatang pohon yang kutanam dibelakang rumahmu

Masihkah kau sirami sebelum kamu tidur

Jangan biarkan dia mati, lalu kering dan roboh
Petiklah bunganya bila kamu rindu


Jangan biarkan rumput liar tumbuh dibawahnya
Letakkan batu-batu putih disekita pohon itu
Goreskan nama kita dbatangnya yang kokoh
Ambillah rantingnya yang kering

Simpanlah daun-daunnya yang berguguran kerena angin
Letakkan secawan anggur merah, dan selembar kertas
Aku akan datang bila malam tiba, menuliskan sebait puisi tentang kita
Sebait puisi tentang cinta yang indah
Atau barangkali sepenggal kisah lama
Yang terkurung keangkuhan…

Lalu
Ambillah bila pagi tiba
Bacalah bila suamimu telah berangkat kerja…
Pohon biru dibelakang rumah itu
Adalah kenangan dari aku yang mati…



SECANGKIR KOPI PAHIT

Oleh: Endik Koeswoyo

Adalah kisah…
Saat senjata masih tergenggam oleh tangan-tangan kokoh
Berjiwa bersih…

Saat darah yang tertumpah masih untuk bumi tercinta
Saat Ibu Pertiwi masih bangga dengan jerit kesakitan para Pejuangnya yang mati

Adalah sebuah kisah lama…
Saat semua adalah sama, berjuang untuk merdeka
Berjuang untuk tanah kelahiran yang tersiksa
Untuk sekedar menikmati secangkir kopi pahit bersama

Adalah kisah…
Saat senjata tergenggam tangan-tangan kokoh
Berjiwa kotor…

Saat darah yang tertumpah hanya untuk menguasai sesamanya
Saat ibu pertiwi menangis sedih dengan jeritan yang tertindas

Adalah sebuah kisah…
Saat lusuhnya bendera yang berkibar diantara rintihan pilu
Saat keju terasa pahit digedung megah
Saat secangkir anggur merah diminum sendiri

Adalah sebuah kisah nyata…
Saat semua adalah sama, berjuang untuk dirinya sendiriberjuang untuk keangkuhan
Untuk bisa meneguk anggur merah…
Bertemankan malam yang hangat





ARYO GESENG
Oleh: Endik Koeswoyo

Pemimpin peradaban pedalangan yang mati bunuh diri
Lupa jati diri yang mulia
Meniti waktu dan masa tanpa saudara

Raden Mas Haryo Geseng III
Dimana letak jiwa besarmu?
Dimana kau kubur jenasah penamu
Dimana kau tanam tinta emas dariku

Sudah membusukkah jasadmu didalam sana…
Ataukah kamu masih berdendang
Melantunkan lagu cinta yang hilang entah kemana
………………………………………………………..






TANPA HALAMAN
Oleh: Endik Koeswoyo


Sepenggal kalimat pengantar tidur panjang para pujangga lama yang dilupakan begitu saja
Sepucuk surat cinta untuk kekasih yang jauh, yang mungkin juga telah melupa
Sebungkus nasi untuk teman tercinta yang sedang sakit deman dan terkapar dilantai marmer
Rerumputan yang tumbuh dibawah jendela rumah tanpa halaman

Isak tangis perempuan penjaja cinta yang sedang dicumbu dikamar madi
Teriak lantang perempuan tua penjaja sayur dipasar sre dibawah gerimis
Peluit panjang pak polisi yang lapar…

Sedangkan kamu…
Berdiri mematung mengantar teman yang pergi di stasiun saat kereta menuju surganya
Masihkah ada dendang tentang teman setia
Masihkah ada sebait kata indah dalam doa, ataukah hanya umpatan pada Tuhan…

Kita…
Menunggu belaian sayang dari cucu pertama saat hujan lebat ditepi kali

Kalian…
Berdendang tentang kekejaman jaman yang belum juga usai
Tentang parade lalat-lalat tua yang bergelut dengan asap beracun
Berjemur dibawah terik matahari senja yang belum juga tenggelam saat azan berkumandang

Resahkah kita akan datangnya banjir bandang yang datang takdiundang
Dimana kebebasan kita sebagi makluk yang sama

Bila saja ada angin yang berhembus padamu
Katakan padaku…
Aku akan berlari menyongsongnya bersama peri kecil teman tidurku…

Saat kubangun sebuah istana indah
Walau tidak megah
Pasti ada yang singgah dan mebiarkan kudanya memakan rerumputan hijau yang tumbuh liar



PESTA SUNYI
Oleh: Endik Koeswoyo

Ribuan mata memandang dalam remangnya malam itu
Jutaan tangan ingin menjamahnya…
Malukah dia yang menari




PAGI HARI SEBELUM MANDI
Oleh: Endik Koeswoyo

Menanti secangkir teh hangat, tidak begitu manis
Mengusap wajah yang masih terselimuti mimpi
Menyalakan rokok sisa tadi malam yang masih lima setengah centi
Lalu pergi kekamar mandi mengabdi pada Dewa bumi

Membasuh muka dan menyiapkan baju kerja
Membangunkan seorang teman yang masih terlena dalam mimpi kesiangannya
Mungkin juga menanti secangkir kopi manis dari tetangga sebelah
Menanti anak gadisnya datang membawakan keju dan coklat panas

Kapan…
Saat seribu jarum menusuk lambung…
Saat kerongkongan kering dan meradang…
Saat kulit ini penuh dengan lumpur…
Saat aku menjerit minta makan…

Datangkah dia…
Dengan sepiring nasi goreng dan telur setengah matang
Dibawakannyakah aku setumpuk pakaian dan handuk untukku mandi pagi ini

Sebelum mandi…
Masihkah bisa menikmati sedikit mimpi
…………………………………………….



KURSI GOYANG
Oleh: Endik Koeswoyo

Tua memang sudah…
Akalnya keruh, keringatnya asin
Kursi goyang tetap bergoyang
Walau dia malas
…………………………………….

Siapa yang bergoyang
Belum tentu dia malas
Siapa yang malas
Hanya duduk dikursi goyang



PESTA SUNYI III
Oleh: Endik Koeswoyo

Belum usai…
Saat pagi tiba…
Dimana rumah mereka?
Siapa anak mereka?
Cantikkah malam itu…



SEMBOYAN PARA DURJANA
Oleh: Endik Koeswoyo

Kita adalah kita, tanpa tau ada apa dibelakang sana
Menikmati sedikit waktu
Sebelum kelahiran malaikat maut
Sebelum musnahnya patung dewa perang
Kehancuran sebuah bangunan kokoh
Bukan berarti kita kalah
Itu adalah titik awal
Titik awal
Titik awal
Jalan terang
Untuk sebuah kehancuran dalam permusuhan nyata
Menari dikolong waktu
Menyanyi tanpa rumah…



PITA MERAH DIATAS KAIN HITAM
Oleh: Endik Koeswoyo

Sepertinya aku salah…
Mengharap dia yang dekat dengan bidadari malam
Mungkin dia juga seorang ratu
Dari kegelapan yang taubatnya terlambat

O …
Dunia ini semakin pahit dengan bertambahnya usia
Semakin samar, semakin suram
Kala senja benar-benar datang

Salahkah
Bila aku datang padamu
Saat hari belum gelap benar…
Atau bahkan masih pagi

Adakah sedikit waktu
Sebelum kamu mati…
Adakah sedikit waktu
Sebelum aku mati…
Adakah sedikit waktu
Sebelum kita mati…

Desember 04



DOSA LAMA XXV
Oleh: Endik Koeswoyo


Masih seperti dulu saat kita berdiri diatas rumput hijau

Ada kepincangan dari mimpiku tadi pagi, setelah kamu pergi

Tersisakah isak tangismu untukku yang menjadi semakin aneh

Keraskah teriakmu saat pagi tiba dan kita terbangun

Pedihnya luka bisu yang kontras oleh dosa-dosa

Riuhnya malaikat kematian yang ingin menjemputmu

Bertarung denganku yng juga ingin membawamu…

Jauh……………………………………………………..

Sejauh malam yang gelap

Sejauh dirimu saat ini…

Dimana?

Aku belum juga menemukanmu

Kecuali Tuhan Maha Adil

Menghukumku…
Desember 04





UNTUK GADIS BERPITA…
Oleh: Endik Koeswoyo


Tunjukkan padaku, resahmu yang dulu tersimpan dalam
Peluklah aku saat kau merintih dalam irama takdir
Katakan saja
Jangan ragu, akulah takdir baru untukmu
Membawa racun termanis dalam sejarah cinta
Jalan yang samar adalah sama
Tanpa rasa rindu
Diantara sesaknya dunia baru yang menantimu
Kan kudendangkan asmarandana menjelang tidurmu
Kan kulantunkan tembang asmara jingga
Lama…



Desember 04





UNTUK NONA…
Oleh: Endik Koeswoyo

Usia yang berlalu begitu saja…
Sudahkah kau menoleh dan menemukannya?
Sebuah kebahagiaan nyata

Dari balik letik bulu matamu
……………………………….
Dari pijar bening yang terkikis waktu
………………………………………….

Melangkahlah…
Jalan awal bukan lagi pilihan
Titilah tangga demi tangga
Jangan terlalu lama menoleh
Dibelakangmu sepi…

Raihlah bintang pijar…
Tapi jangan terlu lama kau genggam
Ambillah rembula purnama itu
Tapi jangan kau letakkan dipangkuanmu

Nona…
Titilah jalan panjangmu
Dengan doa…
Kejarlah mimpi lamamu
Dengan senyum bangga…

Tujuh belas tahun sudah kau hirup udara pagi
Panas terik mentari dan debu usang menantimu
Udara senja akan datang padamu
Lalu…
Masihkah kau ingat teman bercandamu
Atau mungkin kamu lupa
Hari itu akan datang…

Berteriaklah dengan lantang
Sambutlah matahari
Dengan kedua tangan menengadah
Panas memang…
Namun jangan kau usap peluh didahimu…
Jalan itu masih panjang dan bercabang…




ADELWEIS UNTUK DINDA
Oleh: Endik Koeswoyo

Apakah malam itu embun turun bersama senyummu yang dingin
Bulan hitam diatas kabut itu adalah cerminku yang pilu
Malam dan bintang senja yang pijar adalah raut wajah kusam

Jejak kaki itu selalu saja pedih, Seiring layunya bunga batu
Bukankah kita belum saling melihat saat matahari terbit
Tapi aku tau…
Itu adalah kamu yang lelap didekap angin dingin
Bunga batu pagi itu terjemur mentari
Terbatas kabut sejuk yang dingin menusuk jiwa luka
Menguak jerit perih yang rindu adinda
Mungkinkah pada saat dini…
Dan malam semakin dingin, kau kaitkan kakimu diantara tali-tali hati
Kekangan jiwa lama menguap bersama harumnya aroma dari keringatmu yang kan mengucur empat tahun lagi…

Secawan anggur merah yang kuteguk malam ini belum juga membakwu terbang bersamamu
Saat jiwa-jiwa berontak mencari setes cinta yang bening

Malam…
Biarkan jiwaku melayang jauh mencari adindaku yang lama tak sua
Ini bukan tentang rindu
Bukan pula tentang cinta lama yang terkenang
Ini adalah tentang suatu janji disuatu sore
Dimana senyummu seindah kulit putihmu
Tersentuh jemari lembut yang hanya bisa kubayangkan dalam mimpi

Oh…
Dinda yang menyelinap dalam resah
Datanglah dalam hatiku
Jadilah ratu dalam jiwaku yang luka
Jadilah pengobat dahaga yang takpernah hilang bersama cintamu
Yang mulai kau tabur walau semu dan bahkan samar tanpa bekas
Namun aku tau, ada kabut yang akan membuatku merasa dingin
Dan aku butuh belaianmu pada dirimu

Bualan jiwa luka tentang seorang teman yang pembual
Berkata merah adalah biru

Pada saatnya nanti, kamu akan datang padaku…
Tapi aku tetap diam dengan secangkir racun yang siap kuteguk bila malam tiba…

Jangan kau tutup pintu itu…
Biarkan aroma anggur bersatu dengan pekatnya kabut yang sejuk

Puncak lawu…
Bunga edelweiss
Kabut pagi
Dinginnya malam
Dan sebait puisi kocak
Hanya untukmu…
Bidadari dari bulan yang jatuh tapi bukan dipangkuanku

Kau curi segala pandanganku dengan lenggang indah dan gerai rambut sebahumu
Senyum wanita asing yang muntah darah dipagi hari
Mencari obat rindu padaku…

Dinda…
Teriaklah padaku saat malam benar-benar datang
Dinda…
Aku akan datang padamu dengan membawa seikat mawar
Walau berduri, aromanya sangat harum
Seharum air matamu yang menetes diantara detak jantungku yang tak menentu

Dinda…
Kan kubawakan edelweis sebagai tanda kasih yang lama tersimpan
Kan kuceritakan indahnya dunia malam saat teguk demi teguk jiwa ini mengembara

Lemparkan saja senyummu dari atas bukit itu
Aku akan datang dan berlari menjemputnya kala pagi tiba…

Dinda…
Katakana pada teman mimpimu
Aku dalam milikmu…
Aku dalam kabutmu
Aku dalam rintihanmu
Aku dalam desah lama yang kau ucapkan
Aku selalu menanti mimpiku walau pahit

Dinda…
Katakan itu adalah benar saat malam tiba
Katakan itu adalah benar saat kita terbuai dalam mimpi




DALAM RESAH III
Oleh: Endik Koeswoyo

Sudahkah lupa pada janji lama
Sudahkah lupa pada kisah lama
Sudahkah ada luka lama

Dalam resah yang nyata menggelayuti hati
Detak rindu lama yang menguap bersama secangkir kopi hangat
Atau mungkin akan datang pada saat pagi tiba




SAAT MALAM…
Oleh: Endik Koeswoyo

Saat malam telah berlumur dengan cahaya merah dari timur
Ayam jantan enggan berkokok
Mengibas sayapnya
dan aku belum juga bisa tidur
seakan ada duka yang mengalir sampai ujung rambutku yang memerah

saat malam…
aku kecewa?
Tidak juga
Namun mata ini sedang melukiskan sebuah senyum manis

Saat malam berharap…
Terbelai kabut samara
Aku berlari…
Berlari mengejar angina yang enggan berhembus
Saat malam…
Ada rona merah dimata saat berkedip
Seakan tidak ingin mati


Saat malam…
Gelombang tak jua pasang
Hanya angin kencang yang mengantar pulang



KADO ULANG TAHUN
Oleh: Endik Koeswoyo

Aku takpernah lupa
Hari ini tanggal dua maret
Saat itulah senyum simpulmu kuharap
Saat ini pula aku berkata kepada angin
Maafkan aku…

Biarpun mata kasatku takmampu melihatmu lagi
Tapi ada setyetes embun hangat
Yaitu air mataku
Yang terpercik dan membuat matahatiku yang tertidur seketika terjaga
Dan berlahan-lahan terbuka
Bersamaan dengan wajah ayumu disana

Hanya jarak yang membuatmu jauh
Hanya waktu yang membuatmu resah
Saat nafasmu taklagi didadaku
Hanya tempat yang takmampu membawa isak tangismu dipelukanku
Tapi masih ada angina
Yang membawa kado ulang tahun ini…

Itu dulu…
Sebelum kamu medua
Sebelum kamu terlena…
Oleh rayu dan dusta
Sebelum kamu memelukku dan berkata
Maafkan aku…

Kini bukan lagi dadaku tempatmu mengadu
Bukan lagi tanganku yang menidurkanmu
Bukan lagi aku…

Catatan usang sang penyair…
Basah oleh air mata dan keringat
Menginagtmu yang jauh…
Sejauh surga…

Kini saat itu tiba lagi
Saat aku hanya setangkai mawar…
Lalu mencium keningmu…
Dan…
Berlarilah padanya
Aku bukan milikmu
Aku milik malaikat kematian yang membawa sepasang merpati
Jalinan itu telah terbakar keangkuhan
Semua musnah seiring banjir bandang
Semua tenggelam seiring tenggelamnya
Rumah megahmu
Semua hancur terbawa lumpur desember





SUDAH PUASKAH IBU?
Oleh: Endik Koeswoyo

Sudah puaskah ibu menyusuiku
Hingga kini engkau pergi
Pergi jauh, walau belum mati

Sudah puaskah ibu menemani mimpiku
Hingga kini engkau hilang
Hilang walau nanti akan kembali

Sudah puaskah ibu?



MINGGU PAGI
Oleh: Endik Koeswoyo

Sepagi ini…
Matahari…
Telah…
Berada…
Diufuk…
Barat…
Hampir…
Pulang…
Keperaduan…
Kiamatkah…
Minggu…
Pagi…
Itu…
Murkakah…
Dia…
Minggu…
Pagi…
Itu…





UNTUK DINDA IV
Oleh: Endik Koeswoyo

Dari perjalanan mimpi panjang yang melintasi palung-palung jiwa resah
Meniti gelisah yang belum juga bertepi dikala pagi menjadi teman dalam sepi yang benar-benar sepi dan sunyi

Masihkah indah rasa lelah itu saat kamu tiba nanti
Saat pelacur-pelacur menyapaku dengan senyumnya yang pahit
Atau saat nyonya-nyonya kaya mati meninggalkan warisannya berupa dosa lama
Yang dilemparkannya padaku saat aku memimpikanmu

Dosakah bila aku meneriakkan namamu kala pagi
Bila matahari telah diatas jari
Saat rembulan menangisi bidadarinya yang terjatuh dari langit
Ingatkah kamu akan tulus sebuah janji semu

Yang terucap dua puluh tahun lalu
Atau aku telah terlupa dari hatimu

Bila rindu ini tidak lagi bertepi, masihkah ada peluhmu yang terseret angin pekat berkabut darah
Masihkan ada dendang rindu…
Kala aku merajut mimpi…



TEMBANG BIMBANG V
Oleh: Endik Koeswoyo

Saat gelombang datang…
Hanya tangis samar dari sepertiga manusia yang terdengar
Lalu…
Kenapa kita harus bertanya tentang siapa dalangnya
Ajarkan sebuah kisah berbagi
Tentunya kisah sedih minggu pagi
Saat semua sirna

Nyanyian bimbang tersa indah
Bagi mereka yang jauh
Naluri kecil anak kecil terbagi
Oleh…
Sebungkus nasi basi
Diantar seratus limapuluh ribu mayat
Saudara, rekan, sahabat, semuanya…
Tersenyum disurga
Yang tersisa
Hanya langit yang menangis
Diiringi kidung bimbang…
Kidung bimbang
…………………
sebimbang hati yang bimbang



KENAPA KITA BERTANYA VII
Oleh: Endik Koeswoyo

Sudah…
Biarkan saja semua berlalu dengan deru ombak yang pilu
Biarkan saja
Jangan bertanya siapa?
Kita adalah berikutnya
Saat Tuhan meminta
Meminta kita atas kerinduan yang bisu
Pedulikah…

Kenapa kita bertanya
Bila melam sebentar lagi sirna
Bangunlah…
Kami disini
Hanya bisa menulur salam dalam jabat erat
Aceh…
Kita sudah dekat
Teriakkan pada kami
Teriakkan jerit tsngismu pada kami
Ya…
Kami adalah saudaramu
Bangunlah….
Sebelum fajar tiba



DIUJUNG BARAT II
Oleh: Endik Koeswoyo

Disana…
Walau tidak jauh, kenapa kita tidak meraih…
Saat lumpur menjadi sangat amis
Dengan aroma khas nyawa-nyawa tersiksa
Mencari jalan kesurga…

Disana…
Mereka menangis lirih
Mengiringi sarapan pagi kita
Mengiringi persetubuhan kita
Mengiringi bualan kita

Disana…
Jauh memang
Namun kenapa kita masih bisa tertawa bangga
Meniup aroma dusta yang terlempar
Jauh dari sana
Serambi mekahku yang lantak
Bangkitlah bersama doa
Dan tangis kami
Dari sini
Kami peduli
Walau hanya dengan setets peluh
Dan suara parau diantara gerimis hujan

Disana…
Kami datang walau hanya lewat mimpi

Disana…
Doa mengiring sepanjang lengkah
Langkah kami yang tertatih
Resah…
Disana…
Diujung barat………………………


Di Ujung Luka…


…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………

……………………….Tidak
…………………………………………………………………………………………………………apa aku harus mati?


……………….
……………..
………………………….belum
Kamu belum datang dengan senyummu
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………Menangis lagi?
Sudah…sudah…
Pagi telah tiba.......



…………………………datanglah…………………………………………………………………..sebelum gelap…
Aku rindu…………………………….
Ya……..
Sebelum malam…………….
Sebelum gelap…………..
…………………………………………………………………………..aku sendiri………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
……………….
…………..
……………..
………………
……………..
……………….
………………
………………………………………………..
………………………………
……………………………………………………………………………dalam kosong………………………………………
Diujung kabut yang luka………………………….

Desember 04

39 mawar

39 Mawar # 1


Ini tentang kisah bunga mawar
Harumnya semerbak di balik tirai putih
Warnanya pudar tak seindah bunga mawar di taman

Setangkai bunganya sehari harumnya
Menerpa hati seuntai kasih

Di kala sepi di mana malam menjadi raja
Aromanya menerpa senja
Di ujung mimpi gelisah
Berpijak pada rasa lama

Ini kisah setangkai mawar
Yang harumnya menusuk jiwa
Kasih lama terlarut duka
Ada gelisah secara pelan

Bunga pertama dan kisahnya
Di ujung jalan mencari cinta
Menunggu gelisah sebatas mimpi
Menanti hati di ujung sepi




39 Mawar # 2


Harumnya semerbak di balik tirai putih
Menunggu resah batasnya pagi
Di mana kelakar sahabat adalah cinta
Di mana aku hanya kaku menanti
Memegang erat dua tangkau berdurimu

Bujuk aku dengan senyumm simpulmu
Rayu aku dengan bisikan sayang
Dan untaikan seraut wajah lama untuk tidurku


Biarkan aku resah
Dengan sayang semu itu
Biarkan aku resah dengan suara merdumu
Lalu katakan ada setangkai wawar lagi untukku



39 Mawar # 3


Menunggu resah batasnya pagi
Mananti sepi hadir kembali
Untuk ketiga kalinya berbaris sepi

Sudah kutau ada tiraimu
Sudah kutau ada kasihmu
Namun aku masih menunggu
Diantara gelisah untuk kau hadir
Dengan senyum dan pelukan hangat
Dengan desah lembut dan keringat
Satu menit saja untuk setahunnya

Cukup dengan itu
Aku tersenyum lurus
Menanti cinta terpana
Bersama tangkai ketiga mawar merah yang kau bawa
Katakan padaku tentang resahmu
Katakan padaku tentang hatimu

Di mana ada mimpi di sana ada pagi
Menunggu resah batasnya pagi
Untuk ketiga kalinya berbaris sepi





39 Mawar # 4


Mananti sepi hadir kembali
Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi
Katakan dengan irama
Ucapkan dengan nada
Bahwa aku benar-benar ada

Bisikan padaku sekali saja
Tentang tankai keempat yang kubawa

Kemana harus kuletakkan jika semua ruang tak lagi kosong
Mananti sepi hadir kembali
Di mana aku berdiri kaku menanti dirimu
Di bait ranjangku yang kaku membisu



39 Mawar # 5


Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi
Menanti pagi di ujung mimpi

Lima malaikat pembawa bunga
Menyapaku dengan gelisah
Berkata kalau aku masih salah

Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi
Menunggu senja hadir kembali
Untuk gelisah mimpi yang terlupa tadi pagi
Kemana ada senyum gelisah


Tangkai kelima mengantar senyum kedua
Tangkai ketiga di mana letaknya
Dan di mana aku harus mencium aromanya
Ketika bunga membawaku tak tersadar

Aku masih disini
Di batas senyum gelisah terbakar api sunyi




39 Mawar # 6

Menanti pagi di ujung mimpi
Bersama kabut tak berujung
Apakah berguna untuk bunga keenam itu
Masih mampukah aku menahan diri
Untuk tidak gelisah bersama bayang

Kemana batas sepi
Kemana batas sepi
Menantiku ataukah menantinya
Bayang sepi berujung duri
Menggores hati seperti mimpi
Lalu katakan untuk dia
Akan hadirku yang tersenyum




39 Mawar # 7

Bersama kabut tak berujung
Menggetarkan jiwa usang
Menatap tajam gelisah hati
Barisan ketujuh mawar merah
Menati sentuhan lembut

Ini mawar ke tujuh yang aku letakkan di jambangan hatiku
Ini mawar ketujuh yang aku hirup bunganya dalam mimpi
Ini mawar ketujuh yang aku sentuh dengan hatiku

Semoga harummu sampai ke ranjangku
Dengan selimut kabut
Dengan sentuhan lembut



39 Mawar # 8

Menggetarkan jiwa usang
Dengan hati gelisah dan aroma wangi
Menggetar kelopak rasa dengan kelembutan jiwa

Diam
Diam
Tersenyum kecut di ranjang bambu
Menanti kedatanganmu
Lalu mendekapmu dengan seuntai kelembutan
Menyentuhmu dengan kehangatan

Menggetarkan jiwa usang
Adalah pilihan
Menggetarkan jiwa usang
Adalah keputusan
Menggetarkan jiwa usang
Antara bisikan letih









39 Mawar # 9

Dengan hati gelisah dan aroma wangi
Kutunggu gelisahmu di sudut kabut
Di bawah tiang resah menatap bintang
Bintang tinggi yang tersepi

Dengan hati gelisah dan aroma wangi
Aku terdiam sendiri
Di bawah cakrawala merah
Yang kemuadian menghitam pekat
Di bawah kilatan rindu terpendam



39 Mawar # 10

Kutunggu gelisahmu di sudut kabut
Kutunggui hingga pagi nanti
Kutunggu hingga mentari tenggelam lagi

Sudah kubilang ini rindu
Su dah kukatakan ini gelisah
Karenamu
Karenanya
Karena tangkai kesepuluh belum juga kusntuh




39 Mawar # 11

Kutunggui hingga pagi nanti
Harummu bunga wangi

Kutunggui hingga pagi nanti
Dahan keseblas yang belum mekar

Kutunggui hingga pagi nanti
Detak gelisah jiwa

Kutunggui hingga pagi nanti
Kehadiranmu dengan senyum



39 Mawar # 12


Harummu bunga wangi
Menjerumuskanku dalam kehampaan diri
Ketika detak keduabelas jam dinding terlihat sepi

Harummu bunga wangi
Adalah pesona bawah sadar
Menggelisahkanku dalam lamunan lama

Asaprokokku yang kushisap dalam
Tak membuang aroma itu
Harummu masih wangi
Menusuk hati





39 Mawar # 13


Menjerumuskanku dalam kehampaan diri
Kerentanan cinta dan hembusan rasa

Terkapar aku menghirup aroma tubhmu
Tersudut aku oleh halus lembut kapas kulitmu
Dan
Senyummu itu
Menjerumuskanku dalam kehampaan diri



39 Mawar # 14

Kerentanan cinta dan hembusan rasa
Membawaku pulang kembali pada senyum
Senyum simpul empat belas bidadari kesepian

Ada gelisah untuk memilih
Antara sepi dan kebisingan hati





39 Mawar # 15

Membawaku pulang kembali pada senyum
Mengantarku pada kegelisahan panjang
Sepanjang ketersesatan jiwa lama
Sepanjang kegelisahan terpajang

Sekali lagi kukatakan
Ada kerentanan jiwa
Ada ketakukan
Ada sepi
Yang mengantaku pada satu titik

Titik rindu
Untuk dekapanmu




39 Mawar # 16


Mengantarku pada kegelisahan panjang
Menggetarkanku pada sunyi senyap
Menunggumu datang kembali
Siapa yang datang dalam mimpimu malam ini
Itu bukan aku
Karena aku tak jua tidur malam tadi





39 Mawar # 17

Malam datang lagi
Membawa aroma mistis paling menusuk hati
Ada duri kecil menusuk ujung jari
Membawa kabar genbira dari riuhnya kota Surabaya

Sudah ah....
Aku diam saja
Masih menunggumu disini
Masih menantimu di sini
Semoga bahagia sengkau selalu
Dengan kesibukanmu
Dengan bunga mawar di tamanmu
Yang wanginya hanya bisa kuhirup lewat mimpi
Mimpi tadi pagi




39 Mawar # 18

Mimpi tadi pagi hadir kembali
Membawa senyum seuntai kasih
Terdekap lara mengendap sunyi
Sunyi yang berbunyi
Sunyi yang terdiam
Sunyi yang terdalam




39 Mawar # 19

Semilan belas kelopak mawar
Terajduh dalam resah gundah
Membawa angin membawa serbut
Layukah dia kelak
Sebelum kering ada hujan
Sebelum hujan ada tangis

Aku masih menanti dalam gelap
Menunggu asa menjadi satu
Menanti mimpi yang takterbeli




39 Mawar # 20

Sudah genap 20 usiamu
Setahun lalu kamu sendiri
Membisu disudt kamar
Membawa penyesalan dalam

Sudah genap 20 tahun usiamu
Membawa bunga di tangan kanan
Pemberian pangeran tampan
Yeng kelak meminangmu




39 Mawar # 21

Bunga mawar itu tumbuh subur
Di taman belakang dekat perpustakaan
Aad cerita yang taktelupakan
Ketika kecupan mesra datang menghujam




39 Mawar # 22

Aku masih memandang
Kelopak indah dibalik kerangjang
Ada merah ada putih

Bunga bakung terbawa juga
Walau tak beraroma ada rasa

Biarkan aku sendiri
Membawa mimpi di ujung kabut




39 Mawar # 23

Kenapa masih lama
Masih alam dari sebagian kisah
Tuhan masih tetap sama
Adil kepada semua umat_Nya


Engkau menatap langit
Ketika bunga gugur ke bumi
Tanah merah menajdi resah
Ketika hujan tak jua datang




39 Mawar # 24

Bunga
Bunga
Masih saja menyoal bunga
Apa engkau tidak jenuh?
Bila lelah, tidurlah.
Hidupmu terlalu banyak menyimpan rahasia.

Sudahlah
Kamu benar dengan mimpimu
Kamu benar dengan pilihanmu

Bunga
Bunga
Jujur sajalah, agar hidup kita tidak sia-sia

Kamu benar dengan bunga itu?




39 Mawar # 25

Ini bukan sekedar mimpi tentang bunga
Ini kisah nyata tentang mawar
Yang hanya di suka bunganya
Bukan durinya


Ini kisah bukan sekedar cerita wanginya
Tapi soal bunag kering di vas bunga




39 Mawar # 26

Siapa yang tau matinya
Siapa yang sadar dia cepat lalu
Kenapa di potong juga

Siapa yang sadar mimpi
Ketika mata terpejam dia datang sendiri

Siapa yang mempertmukan kita?
Ketika dunia terpisah jauh




39 Mawar # 27

Aku yakin
Kamu tak yakin
Bunga itu wanginya sampai ke sini

Aku sadar
Kamu tak sadar
Durinya menusuk hati
Bukan cuma tangan dan ujung jari



39 Mawar # 28

Aku terdiam membisu
Menatap langit yang semakin kelabu
Disana ada dia
Di sini ada mereka
Kita sama
Terdiam dalam gelisah



39 Mawar # 29

Hampir usai kisah
Ketika malam menjelang
Hampir usai mimpi ketika pagi hadir lagi

Datang lagi cerita ketika matahari mulai muncul
Datang lagi mimpi kertika matahari di ujung barat



39 Mawar # 30

Aku sadar
Aku yakin
Aku salah
Aku resah

Tapi ini hati
Hati kecil yang resah menanti
Senyum keibuan yang menusuk
Penuh sayang di dekat palung resah

Aku sadar kita jauh
Aku mimpi engkau dekat



39 Mawar # 31

Satu demi satu kelopak jatuh
Menyentuh tanah kering dan rumput basah

Satu persatu kelopak tumbuh
Membawa harum


Satu persatu kumbang datang
Menghisap madu menebar serbuk

Akukah kumbang jalang
Memungut sisa kumbang lainnya
Tapi aku suka itu



39 Mawar # 32

Kosong
Tak satupun kata bisa terucap
Sepi


39 Mawar # 33

Sepertiga malam sebelum pagi
Aku menulis sebait puisi
Untukku yang di sana
Menanti suamimu pulang kerja

Sepertiga malam aku datang
Membawa pulang bunga setaman



39 Mawar # 34

Empat ketukan lebih pelan
Etntang nyanyi bunga

Empat ketukan lebih menyayat
Tentang mimpi kesiangan

Siapa diam dai menang
Memang tidak mungkin

Tapi aku yakin



39 Mawar # 35

Susah hampir selesai
Aku senang sekali
Tersenyum lepas
Memnti mata jernihmu
Di ujung kebisuan lama
Demi kisah lama
Atau malah kisah baru itu



39 Mawar # 36

Memang tidak mungkin
Menyelesaikan bait kata dalam semalam

Tapi mimpi itu benar
Dia mampu terdiam
Untuk duduk kembali di sampingmu
Membacakannya berulang-ulang
Sambil emnatap taman mawar
Tiga buah lagi kelopak tumbuh
Semua semakin harum
Dengan kupu-kupu yang datang dari jauh
Berdendang dengan malaikat di sampingmu



39 Mawar # 37

Kutunggu
Satu demi satu
Kupu-kupu itu

Tapi ke mana engkau pergi

Kutunggu malaikat itu
Tapi ke mana bunga mimpi itu

Sudah pagikah ini?



39 Mawar # 38

Ternyata belum usai
Masih ada bait terakhir yang harus aku tulis
Di mana engaku menyandarkan kepala
Saat engkau letih?



39 Mawar # 39

Ya...genap sudah puisi ini
Genap sudah 39 bunga mawar itu aku tanam
Aku terdiam
Untuk siapa ini semua?

Langit mengingatkanku
Rembulan menyadarkanku
Puisi ini kutulis untukmu

Seseorang yang bebahagia
Di sana
Bersama keluarga dan bunga hatinya
Bersama mimpi dan bunga-bunganya

Hanya salam hangat
Untukmu dan keluarga
Hanya salam hangat
Untukmu dan orang-orang tercinta di hatimu


CATATAN PENULIS: Puisi di tulis khusus untuk hadiah ulang tahun Mbak Ditha yang ke 39. Selamat panjang umur, semoga banyak rejeki dan berbahagia bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Amien...Djogjakarta 2007

MIMPUMU KEPAGIAN

Mimpimu Kepagian…


Oleh Endik Koeswoyo



Aku benar-benar tidak menyangka gadis itu akan datang lagi. Akan tersenyum lagi padaku, akan tertawa lagi padaku. Dalam hati kecilku ada sedikit kebencian atau sesuatu yang mengganjal bila aku melihat senyumnya...
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?”
“Tran…sudah berapa kali aku bilang tentang semua itu padamu? Aku pernah melihatmu sebelum kita kenal!’’
“Sebaiknya aku memperkenalkan diriku lagi padamu, namaku Betran Andrianno, umur delapan belas tahun, suku jawa dengan kulit agak hitam!”
“Pleace dong Tran, aku serius?”
“Apanya yang serius, aku bosan dengan ucapanmu itu. Mau De javu, mimpi atau apalah itu namanya. Aku tidak percaya! Yang jelas itu bukan aku, aku tidak merasakan hal yang sama denganmu.”
“Kenapa kamu tidak mau mengakuinya, aku yakin kamu mengalimi hal yang sama sama!”
“Ah…itu hanya mimpimu yang kepagian!”
Aku memilih meninggalkanya dan melangkah keluar dari kantin. Menikmati sebatang rokok yang kuhisap dengan cara-sembunyi-sembunyi. Benar-benar aneh, aku bisa bertemu dengan Clara setelah sekian tahun. Mungkin sudah empat tahun aku tidak pernah melihat batang hidungnya.



* * *


Dulu saat aku kelas tiga SLTP, aku memang marasa ada yang aneh saat kami pertama kali berkenalan. Seprtinya memang aku pernah melihatnya sebelumnya. Aku mungkin orang pertama yang tersenyum padanya saat gadis kecil itu memperkenalkan dirinya di depan kelas. Sebelum lulus Clara sudah pindah sekolah, maklum Ayahnya seorang pejabat pemerintah yang harus berpindah-pindah.
Sebenarnya aku meyukai keluguannya, hanya yang aku sayangkan adalah keinginannya. Ingin banyak teman seakan adalah ambisi terbesarnya. Tapi aku benar-benar tidak suka kalau dia memaksa aku untuk menerima pendapatnya. Kalau kami pernah bertemu dengannya. Sumpah aku tidak pernah bertemu dengan Clara sebelum itu, apalagi saat kutanya tentang daerah asalnya yang dari Surabaya. Seumur hidupku aku beleum pernah menginjakkan kaki di Kota pahlawan itu. Jangankan kesana, batas antara Jawa Timur dan Jawa Tengah saja, aku belum pernah lihat.
Dia seakan sering mendekatiku, mengejar-ngejar aku. Padahal aku ini siapa? Ganteng enggak, kaya juga enggak, Aku juga bukan orang romatis. Aku kaku dan egos saat berhadapan dengan seorang gadis, ada semacam ketakutan tersendiri yang selalu mengganjal di hatiku.
Aku masih ingat, saat itu aku sedang duduk-duduk di kantin sendiri. Tiba-tiba saja Clara menghampiriku.
“Clara,” gadis itu tersenyum dan mengulurkan tangan lembutnya.
“Betran,” tentu saja aku cepat-cepat menyambut uluran tangan itu.
Dia memandangku lama sekali, aku juga melakukan hal sama. Mengingat wajah yang serupa dengannya. Sepertinya aku juga pernah mengenalnya sebelum itu. Aneh.
“Sepertinya kita pernah ketemu deh!”
“Dimana?” ucapku sedikit tergagap.
“Entah, tapi wajahmu tidak asing lagi.”
“Mungkin aku mirip dengan seseorang, tetanggamu, temanmu atau mungkin juga artis, ha…ha…”
Mata bening itu tidak pernah lepas mengamati wajahku. Mungkin dengan tatapan matanya yang menyidik itulah aku jadi tidak begitu suka padanya. Seakan dia ingin masuk kedalam tubuhku dan mengoyak-ngoyak isi hatiku.
“Tran…apa kamu oercaya tentang De Javu?”
‘Aduh, apa lagi itu? Aku baru kali ini mendengar tentang kata yang aneh itu. Atau barangkali aku yang terlalu kuper ya?’
“Tidak!” jawabku sekenanya dan tidak ingin menanyakan De Javu itu apa?
“Kenapa?”
“Karena setiap orang mendevinisikan De Javu itu dengan macam-macam pendapat. Kalau kamu mengartikannya apa?’’
Sebenarnya aku menjawab itu, agar dia mau mengatakan padaku tentang apa itu De Javu. Nggak mungkin bangetkan aku menanyakannya secara langsung. LAgian aku tidak mau dia menyebutku kuper secara langsung.
“De Javu itu menurutku adalah sebuah pengalaman seperti mimpi tapi bukan mimpi, seperti aku pernah melihatmu tapi aku lupa diamana dan kapan.”
“Oh…jadi menurutmu seperti itu? Aku lebih menganggap De Javu itu sama saja dengan mimpi, dan biasanya orang jawa mengatakannya cenayang. Pernah melihat sesuatu tapi tidak tau itu siapa dan apa?”
“Jadi kamu percaya?”
“Tidak, karena De Javu dan Mimpi tidaklah jauh beda. Sama-sama terjadi tanpa sadar, tanpa kita sadari.”
Entah dari mana aku bisa ber-asumsi seperti itu. Aku tetap kokoh dengan jawabanku yang pertama. Tidak percaya. Setidaknya dengan pancinganku tadi dia mau mengatakan tentang De Javu, sekali lagi, entah itu benar atau tidak aku juga tidak tau.
“Tapi aku pernah melihatmu sebelumnya, wajahmu tidak asing buat aku!”
“Emangnya kamu orangmana?”
“Surabaya, baru kali ini Papa dinas ke Jogja. Kamu?”
“Ha…ha…aku asli sini, belum pernah ke Surabayaatau wilayah lain di jawa timur. Apa kamu pernah ke Jogja sebelumnya?”
“Belum, aku baru datang kemarin dan langsung masuk sekolah ini!”
“Nah…itu artinya kita belum pernah ketemu.”
“Tapi aku yakin kalau itu kamu!”
“Itu urusanmu, aku juga tidak akan mara bila kamu mengatakan kalau kita sering bertemu. Tapi yang jelas aku tidak percaya kalau kita bertemu hanya dalam bayangan.”
Sejak obrolan pertama itu aku sedikit menjauh darinya. Ada sesuatu yang terpendam di hatinya, entah itu apa. Saat itu aku merasa kalau belum begitu dewsa, aku masih remaja kecil dengan ceala diatas lutut warna biru. Kesan angkuh selalu saja aku hadirkan pada Clara bila dia mendekat padaku. Aku akan menjauhinya, aku tidak begitu suka ada seorang gadis yang menurutku bertingkah aneh. Terlalu mempercayai mistik.


* * *

Aku benar-benar tidak menyangka gadis itu akan datang lagi. Akan tersenyum lagi padaku, akan tertawa lagi padaku. Dalam hati kecilku ada sedikit kebencian atau sesuatu yang mengganjal bila aku melihat senyumnya...
*SEKIAN*

TENTANG SEBUAH RASA

TENTANG SEBUAH RASA


Oleh Endik Koeswoyo




Perjalanan waktu tidaklah secepat dengan apa yang aku pikirkan, semua terasa lambat dan teramat sangat membingunkan. Apalagi rasa itu tidak pernah berubah untuk sedetikpun. Rasa pada orang yang sama, dimana dia selalu hadir dan menepikan semua yang aku rasakan. Sepertinya memaksaku untuk selalu teringat padanya. Sebuah rasa tulus yang selalu hadir, detik demi detik…cinta.
……………………………

Aku masih selalu ingat tanggal itu. 16 Juli. Dengan keberanianku yang memuncak, aku melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam sebuah ruang kelas. Tangan kananku yang sedikit gemetar memegang sebuah kotak kecil. Tatapan mataku lebih tertuju pada lantai dari pada gadis yang sedang duduk di bangku paling depan itu..
“Dita…met ultah ya!”
Aku tidak berani menatap wajah itu, aku berpaling secepat-cepatnya. Melangkah meninggalkan ruang itu dengan cepat. Aku hampir saja menabrak Pak Bon yang menyapu lantai di depan ruang itu.
“Eh…maaf Pak!”
“Kok tumben Mas, pagi-pagi sudah datang!”
“Ha…ha…,” hanya tawa kecilku yang kuberikan untuk Pak Bon dan sapu lidinya.
Aku sempat melirik Dita yang ada di dalam ruang itu. Dia masih menatapku dengan tatapan aneh. Seakan tidak percaya kalau yang memberikan kado untuknya adalah aku, Gogi Siahaan yang tidak begitu di kenalnya. Seorang remaja yang di kenal banyak orang karena kenakalannya. Sedangkan Dita Natasya banyak di kenal karena dia memang gadis yang cantik dan sempurna menurutku.
Mungkin saat aku memberikan kado ulang untuknya tadi, dia begitu terkejut dan mungkin juga takut melihatku yang sepagi ini telah menghampirinya. Tapi aku rasa tidak ada momen yang tepat untuk mendekat padanya selain hari ulang tahunnya. Aku terlalu takut…
Dita…Aku mungkin hanya salah seorang pemujamu. Tapi aneh apa yang aku rasakan, semua tidak pernah berubah. Selalu saja jantungku berdetak kencang saat aku melihatnya. Aku bukanlah orang yang muafik, aku banyak menyukai gadis lain selain Dita, tapi entah kenapa yang ini teramat sangat lain. Sejak melihatnya pertama kali saat Masa Orientasi Siswa, aku sudah merasakan sesuatu yang lain. Dari balik kerudung putihnya aku seakan melihat sesuatu yang benar-benar sempurna. Begitu sempurnanya hingga aku tidak berani untuk memperkenalkan diriku. Matanya, hidungnya, bibirnya, ah…semuanya begitu mendebarkan untuk dilihat satu demi satu.
Aku hanya berani memandanginya dari jauh, mengamati setiap langkah kecilnya yang pelan, menikmati senyumnya walau itu bukan untukku. Aku sekarang lebih suka duduk di kantin dan menikmati secangkir kopi dipagi hari. Menikmati sebatang rokok yang kemarin kusembunyikan di celah-celah meja kantin. Hanya seperti itu setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan entah sampai kapan kegagumanku padanya akan berakhrir.
“Gi…kamu akhir-akhir ini agak aneh! Kenapa?”
“Eh…kamu Rik! Baru datang?” aku terkejut dengan pertanyaan Riki yang tiba-tiba itu.
“Pertanyaanku saja belum kamu jawab, kok kamu malah bertanya padaku! Ya jelas saja aku baru datang!”
“He…he…tidak ada apa-apa kok, wajarlah orang seperti aku ini banyak pikiran.”
Aku lebih suka menyembunyikan perasaanku pada Dita. Aku tidak ingin orang lain tau kalau aku menyukai gadis itu setengah mati. Waau aku jarang bicara dengannya, walau aku hanya berani melihatnya dari jauh, tapi itu lebih dari cukup. Ada perasaan aneh bila sehari saja aku tidak melihatnya, sepertinya aku kelhilangan sesuatu yang aku sayangi.


* * *


“Dita…met ultah ya!”
Sebenarnya aku ingin membalikkan tubuhku cepat-cepat. Tapi niat itu segera aku batalkan. Ada sesuatu yang menarik tanganku pelan.
“Gi…tank’s ya!” Dita tersenyum ramah padaku.
Aku tidak berani menatap mata itu terlalu lama, lalu kualihkan tatapan mataku kearah tangan lembutnya yang memegang pergelangan tangaku.
“Sorry, hanya itu yang bisa aku berikan sebagi hadiah ulang tahunmu.”
Dita melepaskan tangannya, lalu sedikit menyinsing lengan baju panjangnya. Sebuah gelang perak melingkar di pergelangan tangan itu. Aku terdiam untuk beberapa saat, aku ingat gelang itu aku berikan padanya dua tahun lalu, saat aku peertama kali memberikan hadiah ulang tahun untuknya pada tanggal 16 Juli. Sebentar kemudian dia mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam tasnya. Lagi-lagi aku terkejut bercampur senang karena buku kecil itu juga hadiah dariku setahun yang lalu. Dalam benakku, sebenarnya aku tidak menyangka kalau Dita menyimpan semua yang aku berikan.
“Gi…aku cuma mau nanya satu hal sama kamu dan aku berharap kamu mau menjawabnya!”
Hanya anggukan kecil yang bisa aku lakukan. Kaki-kakiku seakan bergetar, jantungku berdebar begitu hebatnya. Semua tetap sama seperti tiga tahun lalu, saat aku pertama kali melihatnya.
“Kenapa kamu begitu baik padaku?”
“Entahlah, tapi yang jelas aku ingin melakukan sesuatu yang akan kamu ingat selamanya.”
“Hanya itu?”
Suaranya seakan bergema indah dalam ruang kelas yang masih sepi itu.
“Iya. Sekali lagi met ultah ya, semoga apa yang kamu inginkan tercapai!”
Debaran hebat di seluruh tubuhku, memaksa aku untuk segera meninggalkan ruang itu. Aku benar-benar tidak mampu untuk berada begitu dekat dengannya aku berpaling dan melangkahkan kakiku menuju kantin belakang. Enikmatisecangkir kopi dan lagi-lagi sebatang rokok yang baru aku ambil dari dalam dompetku. Berulang kali aku mencoba untuk menghilangkan rasa takutku padanya. Berulangkali aku berusha mendekatkan diri padanya. Tapi teta saja aku tidak bisa. I don’t…
Aku berusaha menghilangkan sedikit keringat di dahiku pagi itu saat Riki datang menghampiri.
“Gi…Entar malem main di café biasa, jangan telat ya!”
“Perlu latihan nggak?”
“Nggak usah, anak-anak yang lain lagi pada sibuk!”
Tumben kali ini Riki tidak bertanya tentang hal-hal yang aneh. Aku jadi sedikit lebih lega karena dialangsung meninggalkan aku dalam kesendiriankupagi itu. Pada akhirnya aku hanya menikamati kabut pagi yang mebawa embun kembali keatas lagit.
Sebagai anak band, seharusnya aku tidak boleh takut menghadapi seorang gadis. Tapisekalilagi aku harus mengatakan kalau Dita memang mempunyai sesuatu yang lain, sesuatu yang hanya dimiliki olehnya saja. Tidak pada wanita lain. Dan aku belum menemukan itu apa.
Bagiku kota Bangka adalah tempat terindah, tempat aku dilahirkan, tempat aku di besarkan dan tempat aku melihat Dita untk yang pertama kali. Terkadang ada sedikit ketakukan yang aku rasakan bila mengingat sebentar lagi aku akan lulus SMU. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana hari- hariku nanti tanpa melihat senyum Dita. Apa aku mampu untuk melepas itu semua?
Dulu semasa aku SMP, aku ingin sekali cepat lulus. Masuk SMU dan lulus secepat kilat agar aku bisa secepatnya kuliah di Jogja. Mengambil jurusan musik di Institut Seni Indonesia. Tapi kini rasa-rasanya aku terlalu takut keluar dari Pulau Bangka. Terlalu takut untuk kehilangan senyum ayu Dita. Aku ingin berlama-lama di sekolah ini.


* * *


Malam itu aku telah berada di samping panggung kecil. Aku mengamati wajah-wajah cerah para pengunjung café yang sedang meikmati hidangan di atas meja mereka masing-masing. Seperti biasanya aku, aku duduk di atas kursi blat dan memegang dua buah kayu kecil yang cukup panjang. Ya…aku ahli menggebuk Drum. Sejak kecil akumenyukai alat musik itu, suaranya yang keras bisa membuatku terbebas dari segala beban yang menyesakkan. Lagu demi lagu mengalun pelan, menuruti permintaan dari pengunjung. Setiap lagu selesai kami bawakan, selalu saja tepuk tangan riuh yang kami dapat. Sesekali aku meneguk minuman beralkohol dari dalam gelas yang ada di dekatku. Lagu-lagu berirama klasik semacam The Beates, Rolling Stone hingga Nirvana melantun satu-demi satu.
Seorang pelayan, menghampiri kami sambil membawa secarik kertas yang cukup lebar. Riki menerimanya lalu menyerahkan padaku. Aneh biasanya dia akan langsung memenuhi permintaan lagu dari pengunjung. Tapi kali ini dai lebih memilih agar aku yang menyanyi.
“Nih…ada yang memintamu membawakan sebuah lagi,” Riki setengah berbisik padaku.
Aku mengamati kertas itu.
Dari meja tiga, meminta sebuah lagu Since I Don’t Have You. GnR. Tapi yang nyanyi harus Gogi.
Aku tersenyum lalu mengamati meja nomer tiga yangberda cukup dekat dari panggung. Ada beberapa gadis yang duduk ditempat itu. Tapi karena lampu hanya remang-remang aku tiak tau siapa-siapa saja yang ada di sana. Memang kata teman-temanku, karakter vocal yang aku punya mirip sekali dengan Exel Rose, dan aku juga seringmenyanyikan lagu itu. Dengan cepat Riki mengambil alih tempat dudukku. Aku berdiri, walau sedikit agak goyah.
Melodi dari gitar yang dimainkan Toni sungguh menyanyat hatiku, aku paling suka lagu ini. Dimanapun aku selalu mendendangkannya. Dan mulailah aku dengan vokal andalanku. I~ Don’t have…
Setelah lagu itu selesai, aku benar-benar terkejut dengan sambutan yang aku dapat. Aku termasuk orang yang teramat sangat percaya diri bila sudah diatas panggung, apa lagi dengan sedikit alkholol di dalam tubuhku. Aku masih sempat mengamati bangku nomor tiga yang tadi memesan lagu itu. Belum sempat aku menemukan wajah-wajah asli dari gadis-gadis itu, seseorang berteriak cukup keras.
“November Rain!” suaranya menggema dan diikuti oleh yang lain.
“Novemberr rain, November rain…”
Saat itu aku merasa diriku benar-benar Exel Rose, aku mekangkah ke ketepi panggung, saat denting-denting piano pelan yang dimainkan Rudi mulai melantun.
“This for you honey! I Love you!’’
Aku menunjuk kerumunan gadis yang duduk melingkar mengelilingi meja. Aku sepertinya mengenal mereka. Yang yang kutau mereka adalah teman-teman sekolahku, tapi aku tidak tau persis siapa mereka itu.
“When I Lokking your Eyes, Ican’t see…” Lagu itu melantun pelan, lampu-lampu kerlap-kerlip menambah suasana semakin romatis bagi mereka yang datang bersama pasangannya. Aku melangkah turun dari atas panggung, berusaha menyapa siapa saja yang ada disana.
Dengan langkah pelan aku melankah dari meja ke meja. Kini aku sudah sangat dekat dengan meja nomer empat. Jantungku berdebar cukup keras, dan aku cepat-cepat naik kembali ke atas panggung. Dita…ya Dita ada diantara mereka, diantara gadis-gadis yang duduk di meja bulat itu.
Setelah lagu yang aku bawakan selesai, aku tidak lagi menuruti permintaan pengunjung yang masih meneriakkan beberapa judul lagu lainnya. Cepat-cepat aku membungkukan badanku, lalu berpaling kembali bersembunyi di balik susunan Drum yang cukup banyak di belakang. Sedikit menyembunyikan wajahku di sana.
Aku masih sempat melirik beberapa kali kearah Dita yang seakan memandang tajam ke arahku. Sepertinya, gerakan tangan dan kakiku terasa berat. Ada semacam ketakukan yang tiba-tiba saja datang, Riki sempat menoleh kearahku sekali. Aku tau ada satu ketukan yang tertinggal. Konsentrasiku bubar, semua seakan berubah menjadi Dita. Aku tidak menyangka kalau Dita akan ada di tempat ini.
Berkali-kali aku melirik arloji kesanganku, angka-angka digitalnya msih menunjukkan angka delapan lebih empat puluh enam, berarti aku harus menggebuk drum ini selama empat belas menit lagi. Huh…empat belas menit itu terasa sangat lama dengan ketakutan yang aku alami.
Akhirnya semua berakhir, tepuk tangan riuh menyambut anggukan kepala kami. Beberapa teman yang lain membantu merapikan alat-alat. Group Band selanjutnya telah siap dengan lagu-lagu mereka.
“Gi…tuh ada Dita!”
“Iya, aku tau,” aku ingin cepat-cepat pergi keruang ganti tapi Riki menarik tanganku.
“Samperin aja, jarang lho ada kesempatan seperti ini.”
“Aku mau ganti dulu!”
“Keburu pulang!”
Aku masih tidak percaya saat Riki marik tanganku keras, dan kini aku sudah sangat dekat dengan Dita. Ada sedikit yang mengganjal dengan pakaianku, aku merasa tidak sopan dengan jean’s robek sana-sini dan kaos oblong putih tanpa lengan yang aku pakai. Apalai bau keingatku seakan racun yang ganas. Aku lebih takut lagi kalau Dita mencium bau mulutku yang beraroma alkohol.
“Dita, tumben datang kesini?”
“Iya, kan pingin lihat kalian manggung.”
“Ehmm…kalau aku gabung sama kalian mengganggu nggak?”
“Enggak kok Rik, malah kami seneng banget.”
Aku masih belum berani duduk, masih mengamati Riki yang sedang berbicara dengan Dita. Kursi yang ada di dekaku seakan sudah menyuruhku untuk duduk, tapi aku masih teramat sangat takut.
“Gogi…kenapa kamu masih berdiri?”
“Eh…iya, makasih!” setelah mendengar suara dari salah seorang teman Dita, aku menjatuhkan pantatku pelan.
Detak jantungku tidak menentu, rasa-rasanya aku masih tidak percaya kalau Dita datang ke café ini dengan beberapa temannya. Sekali lagi aku mengamati bening matanya. Kerudung biru muda yang menutupi rambutnya memantulkan cahanya kebiruan dan menjadikan waah itu semakin ayu.
“Gi…suaramu bagus juga ya?”
Aku benar-benar terkejut dengan ucapan Rini, yang duduk tepat di sebelahku. Apalagi, saat itu mataku masih memandang tajam kearah Dita yang ada di hadapanku persis. Mulutku masih terkunci rapat-rapat, belum berani membukanya sedikitpun. Mataku masih belum juga berani menatap lurus tajam kedepan, belum. Hanya detak-detak tak beraturan yang selalu saja menghiasai dadaku.
“Kenapa kamu diam saja Gi?”
“Eh…nggak apa-apa,” aku memandang kearah Dita yang tiba-tiba saja menanyakan itu padaku.
“Emang kamu sering main disini?”
“Kadang-kadang aja kok. Kebetulan aja pas kamu kesini, aku pas main sama temen-temen.”
“Oh…emang gitu Rik?”
Dita menanyakan pada Riki yang sedari hanya menikmati es jeruknya. Riki hanya tertawa sambil melihat kearahku.
“Aku ke belakang dulu ya!”
Aku langsung melangkah ke belakang, tidak mempedulikan panggilan Riki. Aku tidak kuat berlama-lama dalam keadaan ini. Aku langsung menuju ke toilet, disana kulepaskan keras nafasku. Aku berdiri bersandar dan memegang kepalaku. Sedetik kemudian aku sudah terduduk di lantai. Terlalu resah hatiku, terlalu berat rasa itu menyesakkan dadaku. Jauh didalam sana, aku berharap dita mengejarku lalu memelukku di tempat ini.

* * *

Begitulah aku, seorang lelaki yang terlalu takut mengakui semua yang ada di hatiku. Aku tidak berani mengatakan itu. Terlalu menakutkan. Kini ketika aku harus meninggalkan Pulau kelahiranku, ketika laut sudah terbentang, ketika semua menjadi biru. Aku baru menyesal, aku baru sadar kalau aku tidak mampu terlalu jauh darinya. Tidak mungkin aku kembali, Jogja sudah menungguku.


*SEKIAN*


Catatan Penulis: Sebuah Cerpen Untuk Sahabatku di Pulau Bangka. Anggi Siahaan. Piye Le, Sampun punya pacar apa belum. Hahahah.....Salam buat keluarga di Bangka ya, maaf idemu ga bisa aku jadiin Novel. Waktunya ga nutut nech. Penerbit selalu bikin tema yang ga setema sama aku ...Wekekekekek.....Klo ke Jogja kabar-kabar ya.


Kamar Kecilku

Kamar Kecilku


Oleh Endik Koeswoyo

Satu tahun yang lalu, saat hujan mulai turun…dan aku terdiam disudut kamar, memandang sebuah foto ukuran kecil, ya…sebuah foto hitam putih dengan gambar seorang pejuang dengan baju coklat sedikit kusam.
Teringat lagi saat kapal-kapal tempur tentara Jepang menghujani kota itu dengan ribuan bom. Serentetan pertempuran telah dilaluinya dengan gagah berani, tidak sebutir-pun peluru yang mampu menembus dadanya. Dari kamar kecil ukuran 120 cm kali 40 cm ini aku selalu berdoa, semoga masih ada yang tersisa diantara kita, semoga masih ada yang mampu bercerita pada anakku tentang peluru yang menembus dadaku.
Tapi kesepiannya kali ini telah sampai pada tahap paling akut. Bahkan untuk melihat bayangannya sendiri saja sudah tidak mampu. Apalagi untuk berteriak dan menceritakan tentang pertempuran itu. Kegagahannya telah dibusukkan dengan tanah pertiwinya. Tanah pertiwi yang telah disiraminya dengan darah dan keringat teman-temanya. Tanah pertiwi yang menangis dan mengamuk saat Tuhan mulai murka.
Terkadang aku bertanya, kenapa semua manusia terlihat rakus dan menjemukan? Ataukah ini budaya kita? Budanya bangsa yang melupakan pertempuran kami mengusir Jepang? Inikah budaya kalaian yang telah melupakanku bahwa di sini, dari kamar kecil ini kami menyusun rencana untuk memukul mundur tank-tank Belanda dan sekutu?
Aku pejuang yang tidak meminta balas jasa. Aku penjuang yang tidak meminta bintang jasa, aku penjuang yang sama dengan ribuan sahabatku yang tidak aku kenal semua. Aku mereka itu tulus, berjuang untuk kalian. Untuk kalian yang kini berdiri angkuh tak mau lagi hormat pada Sang Merah Putih. Aku yang berjuang untuk kesatuan kalian yang kini punya bendera sendiri-sendiri dan lebih menghormati bendera partaimu dari pada merah putihku.


Rindu Kegelapan

Rindu Kegelapan


Oleh Endik Koeswoyo


Masihkah tersisa sebatang rokok untuk kuhisap malam ini? Untuk menemaniku menanti kedatangan bidari cantik pembawa salam dari jauh, dari seseorang yang kini telah pergi…
Sudah terlalu lama aku tidak mendengar teriakan lantang darimu, sudah lama pula aku berdiri disini, ditempatmu biasa bersamaku. Mungkin kamu telah lupa janji kita dulu, mungkin pula kamu telah mempunyai teman baru. Sering kita menatap bintang bersama, sering pula kita menari saat bulan tertutup awan. Menemanimu dalam sepi dan mendengar ceritamu tentang panen tiba, tentang nyanyian asing diantara bekas luka-luka yang masih berarah. Tentang pertempuran di Soerabaja, tentang sepenggal kisah bantuan dari barat, juga tentang uang rakyat yang masih bertuliskan ‘dai nippon teiko seiuhu’. Tentang dentuman meriam dan pekik merdeka masa perjuangan. Juga tentang gadis cantik berbaju putih yang selalu kau ceritakan sebelum pagi tiba.
Dimana bendera kebanggaanmu, kucari-cari setiap saat tapi tidak pernah kutemukan? Dimana kotak senjatamu? Masih ingatkah kamu tentang ledakan dasyat saat Jembatan Merah hancur? Masih ingatkah kamu tentang perebutan bendera di hotel Yamato?
Sudah bosankah kamu dengan canda kita tentang persetubuhan diantara gerimis, dibawah atap alang-alang ditengah sawahnya ‘kang Karto’? Mungkin kini kamu mempunyai kekasih baru, kekasih idaman yang menemani setiap langkahmu. Atau barangkali terlalu dalam aku menggali kuburmu? Sehingga tidak pernah mengirim berita padaku. Sudahkah kau menemukan keadilan didalam sana? Merdukah dendangan peri-peri cantik itu? Bila malam tiba, apakah kamu masih suka menulis surat cinta?
Menatap langit gelap tidak seindah dulu saat kita selalu bersama, berdendang rasanya tidak semerdu saat kamu mengajariku dulu. Mau kah kamu menjemputku nanti? Ya…saat aku mati nanti, aku ingin selalu bersama denganmu, mungkin kita bisa mengulang kisah setengah abad lalu, tentang ikat kepala putih dan bambu runcing, juga tentang kucing hitam yang kamu takuti. Masih bisakah kita merebus singkong dan memakannya dengan sambal saat hujan tiba.
Sobat…sepertinya aku rindu kegelapan, disini tidak ada seorangpun yang mau menjadi temanku, semua telah berubah, semua telah berubah menjadi indah, tidak ada lagi deru tank-tank sekutu, tidak ada lagi senjata-senjata berat, tidak ada lagi dentuman meriam seperti dulu. Bahkan tidak ada lagi persahabatan yang indah. Tapi aku sangat esepian, aku tidak punya teman, semua lupa akan amis darah kita yang tercecer diantara rerumputan. Semua lupa akan bambu runcing yang menjadi teman tidur kita, semua sudah dilupakan. Berganti keangkuhan dan senyum sinis para penguasa. Pekik merdeka kita dulu, kini telah berganti menjadi teriakan pengobral janji. Menjadi garis mimpi diantara letihnya manusia-manusia tua yang tersisa, menjadi batas bayangan dari perempuan-perempuan tua yang kehilangan suaminya. Menjadi bunga tidur anak-anak yang bangga pada bapaknya yang katanya ‘Pejuang’.




Saat Cermin Tidak Lagi Jujur II

Saat Cermin Tidak Lagi Jujur II

Oleh Endik Koeswoyo

Ada keinginan untuk menjadi pemberontak saja dari pada menjadi pahlawan, atau menjadi penghianat saja agar bisa tertawa tanpa harus memikirkan orang lain. Alangkah munafiknya jiwaku ini, hanya cermin yang tidak akan bohong, hanya saja sungguh tidak enak menjadi seseorang laksana cermin. Saat seorang gadis berkaca, menari, membuka pakainya dan menggantinya dengan yang lebih indah, kita akan tau semua, saat dia tersenyum atau menangis kita juga akan tau. Tapi cermin tidak akan bisa memiliki sang gadis, setelah dia bersolek dan berubah menjadi cantik dia tidak akan berada didepan cermin, dia akan segera pergi keluar dan menemui kekasihnya yang telah menunggunya di ruang tamu..
Bila malam telah larut, ingin rasanya aku segera terbang dan menemani bintang-bintang yang kesepian, atau sekedar mengintipmu dari balik awan. Bersama kicau burung hantu dan sayup-sayup suara serangga yang bercengkrama dengan seribu katak yang congkak. Sebatang rokok yang kuhadirkan sebagai teman perlahan-lahan menghisap jiwaku kedalam lamunan yang tak pernah klimaks, menyeretku kedalam persetubuhan dengan setan-setan dalam otakku. Tokoh-tokoh yang tercipta antara hitam dan putih saling bertengkar berebut cermin retak, meludahi sesamanya karena mereka sebenarnya kecewa.
Bila pagi nanti tiba, aku tidak tau harus pulang kemana? Mencari setitik api yang mungkin bisa kujadikan penghangat dan pengusir embun, atau barangkali untuk membakar setangkai mawar biru yang dulu pernah diberikan kekasihku.Saat kugoyahkan sebatang pohon lalu kutiup daunnya yang berguguran aku teringat sesuatu yang menyengat yang kemudian membuatku menangis. Jiwaku benar-benar berontak, mencari tempat untuk berlabuh walau hanya sedetik saja, tapi dimana? sedangkan cermin selalu menampakkan jalan yang berlawanan, sedangkan teman selalu menunjukkan jalan yang bercabang, sedangkan sahabat hanya memberi sedikit lilin untuk penerang jalanku, sedangkan saudara hanya membekaliku dengan doa. Lalu…bila aku rindu kepada kusandarkan kepalaku untuk mengadu, kepada Tuhankah? Tidak aku belum pantas untuk melakukannya. Aku terlalu banyak dosa, terlalu seringaku menjadi penghianat terhadap hati kecilku.
Cermin benar-benar diam, memaksaku untuk berbalik arah dan kembali sebelum aku benar-benar pergi bersama setangkai mawar biru dengan aroma khas yang dulu pernah kuhirup sebelum aku terlelap…














KREDIVO

Popular Posts

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

IKLAN